"Di mata dunia, dia adalah pangeran penyelamat. Di mataku, dia adalah sipir penjara yang kejam."
Bagi keluarga besar Aris Baskoro, Aris adalah anak berbakti dan abang idaman. Sebagai seorang Manager Regional sukses dengan gaji puluhan juta, dia tak pernah ragu melunasi cicilan mobil adiknya, membiayai kuliah saudara-saudaranya, hingga memberikan tas-tas branded untuk ibunya tercinta. Aris adalah 'pahlawan' yang selalu diagung-agungkan.
Namun, di balik pintu rumahnya sendiri, Aris adalah monster yang berbeda bagi sang istri, Maya Safira.
Di rumah mewah yang mereka tempati, Maya harus hidup dalam 'kemiskinan' yang dipaksakan. Aris memperlakukannya bukan sebagai istri, melainkan tawanan. Setiap rupiah uang belanja dicatat, setiap struk harus dilaporkan. Sementara Aris royal pada orang lain, dia pelit setengah mati pada istri dan anaknya, Dafa. Maya bahkan harus memutar otak mencari uang seratus ribu untuk SPP anaknya yang menunggak, padahal di saat yang sama, Aris baru saja mentransfer
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AwandaMw, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
**Bab 7 panggung kebenaran
___💐💐
Pagi itu, Aris berangkat kerja dengan perasaan menang. Ia merasa telah menjinakkan Maya dengan menyita laptop dan mematikan akses komunikasinya. Sebelum pergi, ia sempat berpesan dengan nada meremehkan, "Ingat, nanti sore temui Ibu. Selesaikan masalah uang renovasi itu kalau kamu masih mau hidup tenang."
Maya hanya diam. Namun, begitu mobil Aris menjauh, ia segera bergerak. Aris lupa bahwa selama bertahun-tahun Maya adalah seorang sekretaris yang ahli dalam manajemen krisis.
Maya tidak pergi ke rumah mertuanya untuk meminta maaf.
Ia justru mengambil berkas-berkas penting yang selama ini ia kumpulkan diam-diam: struk belanja bulanan yang penuh coretan "koreksi" dari Aris, catatan hutang sayur yang ia tanggung sendiri, hingga bukti transfer Aris ke Siska dan Ibunya yang jumlahnya fantastis. Semua itu ia masukkan ke dalam tas bayi Dafa.
"Kita main ke rumah Eyang ya, Sayang," bisik Maya pada Dafa.
Rumah Ibu Ratna tampak ramai. Ternyata sedang ada pengajian rutin yang dihadiri ibu-ibu sosialita kompleks. Ini adalah panggung yang sempurna. Ibu Ratna sangat memuja reputasi; ia ingin semua orang tahu bahwa ia memiliki anak sesukses Aris.
"Eh, Maya? Tumben datang pagi-pagi," sapa Ibu Ratna di depan tamu-tamunya dengan wajah yang dibuat semanis mungkin, meski matanya memancarkan kebencian. "Mau serahkan uang titipan Aris yang kamu pegang itu ya?"
Ibu-ibu di sana langsung menoleh, berbisik-bisik tentang betapa beruntungnya Ibu Ratna punya menantu yang dipercaya memegang uang renovasi puluhan juta.
Maya tersenyum, senyum yang sangat tenang namun mematikan. "Bukan, Bu. Saya ke sini justru mau minta tolong di depan Ibu-ibu semua."
Maya membuka tasnya, mengeluarkan tumpukan struk dan catatan yang sudah ia kliping rapi.
"Saya ke sini mau tanya pada Ibu, mungkin saya yang salah hitung. Ibu bilang Mas Aris titip uang renovasi ke saya?
Tapi ini catatan keuangan kami sebulan ini, Bu. Uang belanja saya cuma 500 ribu untuk sebulan.
Untuk beli susu Dafa saja saya harus hutang ke tukang sayur."
Suasana pengajian yang tadinya riuh tiba-tiba hening.
"Apa-apaan kamu ini, Maya!" bisik Ibu Ratna dengan wajah memerah karena malu.
"Jangan bicara sampah di depan tamu saya!"
"Saya tidak bicara sampah, Bu. Ini bukti transfer Mas Aris ke Siska bulan lalu: sepuluh juta untuk ganti HP.
Dan ini bukti transfer ke Ibu: dua belas juta untuk tas baru," Maya menunjukkan lembaran mutasi rekening yang ia cetak diam-diam sebelum laptopnya disita.
"Tapi di sini... ini kuitansi SPP Dafa yang nunggak tiga bulan dan hampir membuat Dafa dikeluarkan dari sekolah kalau saya tidak mencari pinjaman sendiri."
Salah seorang tamu, Bu RT yang terkenal vokal, mengambil kuitansi itu. "Ya ampun, Jeng Ratna... beneran ini? Aris kan manajer, kok SPP anak sendiri sampai nunggak, tapi beliin adiknya HP mewah?"
Wajah Ibu Ratna sudah tidak keruan warnanya. Siska yang baru keluar dari kamar langsung pucat melihat tumpukan bukti itu di atas meja tamu.
"Kamu sengaja mau mempermalukan keluarga kami, ya?!" teriak Siska emosi.
"Aku cuma mau jujur, Sis. Selama ini kalian pikir aku yang pegang uang Mas Aris, kan?
Padahal, untuk operasi katarak Bapakku saja, Mas Aris bilang tidak punya uang seribu rupiah pun.
Ternyata uangnya lari ke tas branded Ibu dan HP baru kamu," suara Maya mulai bergetar, namun ia tidak menangis. "
Jadi, kalau Ibu tanya di mana uang renovasi itu, tanya pada Mas Aris. Karena di rumah kami, bahkan untuk makan daging pun kami harus menunggu pemberian dari Bapak saya di desa."
Ibu-ibu pengajian mulai berbisik pedas. "Duh, ternyata cuma casing-nya saja yang mewah ya?" "Kasian ya istrinya, dasteran karena emang nggak dikasih uang."
Ibu Ratna merasa harga dirinya diinjak-injak di titik terendah. Ia ingin menampar Maya, tapi ia tahu itu akan semakin memperburuk citranya di depan tamu-tamu terhormatnya.
"Pergi kamu dari sini, Maya! Pergi!" usir Ibu Ratna dengan suara gemetar menahan malu.
"Saya pergi, Bu. Tapi tolong sampaikan pada Mas Aris... topengnya sudah retak. Jangan lagi jadikan saya dan Bapak saya alasan atas kekikiran yang dia buat sendiri," ucap Maya tegas
.
Maya keluar dari rumah itu dengan kepala tegak. Ia tahu, setelah ini badai besar akan datang. Aris pasti akan mengamuk hebat. Namun, ada perasaan lega yang luar biasa. Ia telah menghancurkan satu hal yang paling dicintai Aris: Pencitraan.
Di dalam taksi menuju rumah, Maya melihat ponselnya. Ternyata Raka menghubunginya lewat nomor baru yang Maya gunakan di ponsel cadangan (ponsel lama yang ia sembunyikan di boks bayi).
Raka: "May, klien gila kerja! Dia pengen lo jadi head content writer mereka. Gaji tetap, plus bonus per project. Ini kesempatan besar buat lo mandiri seutuhnya. Ambil?"
Maya menatap Dafa yang tertidur di pelukannya. Ia tidak perlu berpikir dua kali lagi.
"Ambil, Rak. Dan tolong, carikan aku pengacara yang paling berani di kota ini. Aku sudah selesai menjadi bayangan."
Malam ini, rumah itu tidak akan lagi menjadi penjara bagi Maya. Tapi akan menjadi medan tempur di mana ia akan berdiri sebagai pemenang.
____💐💐