Gadis bernama Fania yang rela menikah dengan sahabat kakaknya,tapi sayangnya hanya pernikahan settingan karna kesepakatan antara ricko dan reza yang sama sama menguntungkan bagi keduanya
Ricko dan reza adalah sahabat baik dari kecil,n mereka berhasil menjadi pengusaha sukses, dan suatu hari ricko mengalami masalah di perusahaannya dan butuh suntikan dana yang cukup besar.
Dan di sisi lain masalah juga menerpa Reza ibunya masuk rumah sakit dan koma,penyakitnya kambuh yang ternyata selalu memikirkan Reza yang tidak kunjung menikah ,karna hanya sibuk dengan pekerjaannya.
lalu bagaimana kisah selanjutnya..
yuks simak..
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon wawaarda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab, 07.kejadian di dapur
Setelah selesai mandi dan sudah sudah memakai pakaiannya Fania keluar dari walk in closed.gadis itu tiba tiba berteriak sambil menutup wajahnya"
"Aaaaaaa",kenapa kak Reza tidak pakai baju" ternyata Fania mendapati Reza tengah membuka kaosnya, jangan lupakan otot sixpack yang terlukis indah di perut Reza. Fania belum pernah melihat lelaki bertelanjang dada di depannya.
"kenapa sih kamu, dari tadi pagi teriak teriak,ini kamar ku aku bebas melakukan apa aja",
Reza langsung bergegas masuk ke kamar mandi
Ya,, ya,,,aku tau ini kamarmu,aku berteriak juga karnamu, tapi kan sekarang ini juga jadi kamarku, jadi janganlah melakukan hal yang membuat jantungku seakan mau meledak,
gadis itu menggerutu di dalam hatinya,jatungnya yang tadinya berdetak kurang ajar, sudah mulai normal kembali.
"lebih baik aku ke luar kamar"
Dari kejadian tadi pagi saat mendapati tidur bersama dan Reza seenakanya membuka bajunya, sudah membuat Fania setres, dan gadis itu memilih keluar kamar agar tidak ada kejadian hal aneh lagi yang membuat dirinya histeris.
Saat berada di dapur.
"Selamat pagi" ucap fania kepada para pelayan yang tampaknya sedang sibuk di dapur
"pagi nona"
mereka kompak mengucapkannya sambil membungkukkan badannya.
Aach,, Aku berasa tuan putri,, tapi aku gak enak di giniin, tapi percuma protes mereka bakal bilang kalau ini memang sudah tugasnya,, hmmm
"kalian masak apa,,boleh saya gabung, "
mereka yang berjumlah 3 orang tampak terkejut, karna pertama kalinya,baru ada majikannya yang pergi ke dapur dan mau membantu masak.
"ja,, jangan nona, biar kami yang melakukannya" jawabnya
"iya nona, ini sudah jadi tugas kami",jawab pelayan yang satunya
Terus aku kalau gak bantuin kalian aku harus apa
Fania memang sudah terbiasa melakukan pekerjaan rumah,biasanya dia akan masak bersama siska sang kakak ipar, dan selalu membagi tugas rumah seperti nyapu, ngepel dan nyiram tanaman.
"ya sudah aku mau nyapu aja"
gadis itu hendak berbalik badan dan melangkah, tapi pelayan yang bernama bik inah langsung menghadangnya, sambil membungkukan badan
"jangan lakukan Nona, jangan buat kami dalam masalah"
raut wajah bik inah sedikit hawatir, takut jika Nona mudanya melakukan tugasnya.
"Bibi,,saya hanya mau mengapu"
gadis itu sedikit sebal karna semua yang ingin dia lakukan di larang.
"Apa yang kau lakukan"
Reza sedikit berteriak,membuat bik inah dan fania kaget, ntah sejak kapan pria itu berdiri tidak jauh dari Fania. Sorot matanya sudah menatapnya tajam,
"permisi nona", bik ijah cepat melangkah pergi dan meneruskan tugasnya bersama para pelayan lainnya.
Apa dia marah
"itu semua sudah tugas mereka, aku sudah membayar mereka untuk melakukan pekerjaan rumah ini"
Langkah kakinya mendekati Fania istrinya,wajah fania sudah pucat pasi, ia berfikir suaminya akan memarahinya
jangan tatap matanya,, jangan tatap matanya
Fania menundukkan wajahnya,menghindari tatapan Reza yang menghampirinya,jangan tanya jantungnya yang sudah berdetak kurang ajar.
Tangan Reza memegang dagu wajah fania agar menatapnya, tatapan mereka bertemu baru kali ini tatapan mereka begitu dekat.
jangan tatap matanya fania, kamu jangan sampai jatuh cinta padanya, ayo bangun benteng di hatimu
"kenapa kamu gak pernah berani menatapku"
Gadis itu menepis tangan Reza dari dagunya.
"apa si kak",
Fania membalikkan badan dan lebih menuju dapur,jantungnya berdebar debar karna ulah Reza yang sudah berstatus jadi suaminya, Reza tersenyum samar.
Kenapa dia tidak pernah berani menatapku sejak awal kita bertemu
"bibik,,ada yang bisa saya bantu", gadis itu memegang pisau " Akubyang motong sayur ini ya"
"Jangan non,biar kami saja,nanti tuan bisa marah non", ucap Lela pelayan yang terlihat muda, kalau di lihat umurnya berkisar 25 thun.
"sudah,, gak papa",
Mereka tampak berebut pisau dan sayur.
"Fania".
Rehan memanggilnya dengan suara keras
Semua pelayan yang di dapur terdiam termasuk fania ,mereka menundukkan wajahnya.
Rehan melangkah cepat dan menarik tangan Fania agar mengikutinya.
"Kak Reza"kita... "
gadis itu belum menyelesaikan kalimatnya udah di saut Reza.
"Jangan banyak bicara, kita ke rumah sakit sekarang. "
Fania baru tersadar kalau Reza memang akan membawanya ke rumah sakit karna Mery ibunya Reza sudah siuman.
Mungkin karna ia ingin menghindar dari Reza tadi, sampai ia lupa kalau mau ke rumah sakit
Reza membukakan pintu mobil untuk Fania.
"Makasih kak" ucapnya lalu masuk ke mobil.
Saat perjalanan ke rumah sakit, mobil sangat hening karna tidak ada percakapan antara suami istri itu.
Dia itu kadang dingin, kadang hangat, apa dia punya kepribadian ganda
Fania tanpa sadar menatap Reza.,hingga Reza menyadarinya.
"Jangan menatapku begitu, ntar naksir"
Gadis itu tersadar kalau ia sedang menatapnya, lalu mengalihkan pandangannya ke samping jendela.
Kenapa aq selalu merasa deg degan ya,, kalau dia ada di sampingku,,apa lagi kalau mengingat kejadian tadi pagi, saat kita ada di satu ranjang,jantungku berasa mau copot.
"Kak" gadis itu menoleh ke Reza lagi
"Hemm"
"Nanti kalau mamanya kak Reza nanyak" ,Aku harus jawab apa? " Fania meminta solusi kenapa Reza
"Jawablah apa yang perlu Kau jawab"
iihh,, itu bukan solusi namanya
Lalu gadis itu terdiam sepanjang perjalanan.
up...
up....
panjang kan???🤣🤣🤣🤣