Devi Putri Maharani memilih bekerja sebagai buruh pabrik di desanya setelah lulus. Hari-harinya diisi dengan kerja keras, hingga suatu malam, nasib sial mulai menghampirinya.
Devi harus lembur dan terpaksa pulang sendirian berjalan kaki di kegelapan malam karena sang kakak tak kunjung menjemput. Malapetaka kian terasa nyata saat hujan deras tiba-tiba mengguyur, memaksa Devi berteduh di sebuah gubuk tua dan kosong di pinggir jalan.
Namun, gubuk senyap itu ternyata menyimpan kejutan. Seorang pemuda berpenampilan acak-acakan khas preman ikut berteduh di sana.
Sialnya beberapa warga desa yang melintas salah paham.
Tudingan miring tak bisa dihindari. Di tengah guyuran hujan dan kesalahpahaman yang makin memanas, warga menuntut satu hal: Devi dan sang "preman tengil" harus segera dinikahkan!
Mampukah Devi menerima takdir mewarnai hidupnya bersama pria asing yang tak pernah ia duga sebelumnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Anjay22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Introgasi Sang Preman 2
"Nak Devan ... Kamu bilang tadi kalau kamu tidak menyentuh anakku. Tapi bagaimana bisa kamu berada di dalam gubuk yang sama di tengah sawah pada jam sebelas malam? Apa pekerjaanmu sebenarnya? Kenapa penampilanmu ... seperti orang yang biasa hidup kasar di jalanan?"
Pertanyaan Pak Suryo meluncur lurus tanpa tendeng aling-aling. Itu adalah pertanyaan wajar dari seorang ayah yang terpukul melihat anak gadisnya mendadak disunting oleh seorang pria berpenampilan liar bak preman terminal.
Devan tidak menunjukkan ekspresi tersinggung. Wajahnya tetap datar, namun matanya memancarkan kejujuran yang menenangkan. Ia menegakkan posisi duduknya, menangkupkan kedua telapak tangannya di atas paha dengan sikap yang sangat santun.
"Saya memahami sepenuhnya kecurigaan dan kekhawatiran Bapak," Devan memulai penjelasannya dengan nada suara yang tertata, rendah, dan halus, sebuah artikulasi ucapan yang sangat terlatih dan jelas bukan milik orang yang tak berpendidikan. "Penampilan saya memang menyiratkan hal-hal buruk yang wajar membuat orang tua mana pun merasa cemas. Soal tato dan baju saya ini ..."
Devan menyapu lengannya yang berotot dengan pandangan kilat. "Tato ini adalah kenangan dari masa lalu yang kelam saat saya masih berjiwa muda dan belum mengerti arah hidup, Pak. Saya tidak akan membela diri dengan alasan apa pun untuk hal itu. Namun soal keberadaan saya di gubuk tengah sawah tadi malam ..."
Devan memajukan sedikit tubuhnya, menatap lurus mata Pak Suryo agar sang tuan rumah bisa melihat ketulusan di manik matanya.
"Saya adalah seorang perantau dari kota. Saya datang ke wilayah ini untuk urusan pekerjaan dan pencarian informasi lahan. Saat jalan pulang menuju penginapan di kecamatan, sepeda motor sewaan saya mogok karena kehabisan bensin di dekat jalan desa. Tak lama kemudian, langit mendadak gelap dan hujan turun sangat lebat disertai angin kencang."
Devan menghela napas pelan, teringat kembali kejadian beberapa jam lalu yang mengubah garis takdirnya.
"Saya melihat gubuk di tengah sawah itu dan memutuskan untuk melompat masuk sekadar berteduh dari guyuran air. Sepuluh menit kemudian, saat hujan makin membabi buta, Mbak Devi berlari masuk ke dalam gubuk dalam keadaan basah kuyup. Kami berdua sama-sama kaget. Demi Allah, Pak Suryo ... begitu saya sadar dia seorang perempuan sendirian, saya langsung berniat untuk keluar dari gubuk dan berteduh di bawah pohon rindang agar tidak menimbulkan fitnah."
Devi yang menyembunyikan wajahnya di pelukan ibunya perlahan-lahan mengendurkan pelukannya. Ia memberanikan diri mencuri pandang ke arah Devan. Penjelasan pria itu persis seperti apa yang terjadi di gubuk tersebut, tak dikurangi atau dilebihkan sedikit pun.
"Tapi saat saya hendak melangkah keluar," lanjut Devan tenang, "Saat saya sedang berjalan, kaki saya kesandung apalagi tempat itu gelap, dan tubuh saya menimpa mbak Devi. Sampai akhirnya ... rombongan warga desa datang mendobrak pintu gubuk dengan obor dan kayu ronda."
Raka yang mendengar hal itu menghela napas panjang, meraup wajahnya yang kusam dengan telapak tangan. "Warga memang sudah siap memburu hal-hal begitu, Yah. Ada ronda malam yang melihat Devi lari ke arah sawah, lalu mereka memanggil warga lain untuk penggerebekan."
Pak Suryo terdiam mendengar cerita runtut itu. Kerutan di dahinya mengendur pelan, meski ketegangan di raut wajahnya belum sepenuhnya lenyap. Sikap Devan yang begitu tenang, cara bicaranya yang tertata rapi menggunakan bahasa Indonesia yang baku dan halus, serta tatapan matanya yang lurus tanpa kebohongan membuat tuduhan 'preman' yang melekat pada pria itu mulai goyah di dalam benaknya.
"Lalu ... apa pekerjaanmu sebenarnya, Nak Devan?" tanya Bu Sumi pelan, rasa penasarannya mulai memuncak. "Bagaimana kamu bisa menghidupi anak kami jika kalian sudah terlanjur menikah secara siri begini?"
Devan tersenyum tipis, sebuah senyuman kecil yang sangat sopan dan menyenangkan, membuat ketampanan tersembunyi di balik wajah kerasnya mencuat seketika.
"Saya bekerja di bidang survei lapangan dan pengawasan proyek konstruksi, Ibu," jawab Devan luwes. "Pekerjaan saya memang membuat saya sering berpindah-pindah tempat dan berada di lapangan terik, makanya penampilan saya sering kali kotor dan tidak terawat seperti ini. Tapi saya berjanji, untuk kebutuhan dasar Mbak Devi dan kehormatan keluarga ini, saya memiliki penghasilan yang cukup dan halal untuk menanggungnya."
"Dan soal status kita ..." Devan berpaling menatap Devi yang sedang menatapnya dari balik bahu Bu Sumi. "Saya tidak akan memaksa Mbak Devi untuk menganggap saya sebagai suami seutuhnya jika Mbak Devi belum siap. Pernikahan siri malam ini terjadi atas dasar darurat untuk menyelamatkan nama baik Mbak Devi dan keluarga besar Bapak Suryo dari kegilaan hukum adat warga. Saya sadar diri siapa saya, dan saya siap mengikuti keinginan keluarga ini ke depannya."
Kalimat Devan yang meluncur begitu dewasa dan tidak egois itu bagaikan siraman air sejuk di atas bara api yang berkobar di dalam ruang tamu tersebut. Pak Suryo menarik napas dalam-dalam, lalu membuangnya perlahan. Rasa sesak di dadanya berkurang drastis. Ia harus mengakui bahwa di balik topeng preman yang ditakuti dan dibenci oleh mata awam, pria bernama Devan Pratama ini memiliki jiwa yang matang, penuh rasa tanggung jawab, dan kepribadian yang sangat berbudi pekerti.
"Meskipun penjelasanmu masuk akal dan tutur katamu sangat sopan, Nak Devan ..." Pak Suryo berkata dengan suara mantap, menatap Devan penuh penekanan, "... sebagai seorang ayah, aku tetap tidak bisa menerima pernikahan dadakan yang terjadi tanpa proses yang benar ini begitu saja. Keadaan malam ini terlalu memaksakan kita semua."
"Saya sangat memahami hal itu, Pak," sahut Devan menunduk hormat.
"Untuk malam ini, karena hari sudah hampir pukul dua dini hari dan jalanan di luar tidak memungkinkan untuk dicari penginapan lagi, kamu boleh menginap di rumah ini," putus Pak Suryo tegas. "Kamu tidur di kamar Devi. Tapi Devi akan tidur di kamar bersama ibunya malam ini."
"Tapi,yah !" sahut Raka cepat, tampak keberatan dengan keputusan ayahnya membiarkan pria itu menginap di kamar adiknya.
"Sudah, Raka," potong Pak Suryo menenangkan anak sulungnya. "Lelaki ini sudah sah menjadi suaminya di mata agama, meskipun kita belum merestuinya secara utuh. Lagipula, Nak Devan sudah menunjukkan iktikad baiknya sejak pertama kali melangkah masuk ke rumah ini. Kita harus bersikap adil sebagai tuan rumah."
Devan mengangguk pelan tanpa protes sedikit pun. "Terima kasih banyak atas kebaikan dan kerelaan Bapak serta Ibu untuk menerima saya menginap malam ini. Saya sangat menghargainya."
Devi hanya bisa tergagap membisu. Matanya menatap sosok Devan yang perlahan bangkit berdiri dengan gerakan yang tegap dan anggun. Ada perasaan aneh yang mulai menyusup halus di sudut hatinya, perasaan bingung antara kebencian akibat pernikahan paksa yang menghancurkan impian masanya, atau rasa takjub pada topeng preman di hadapannya yang perlahan terkelupas, menampilkan sosok pria misterius yang begitu memikat dan penuh teka-teki.
waktu apalgi jika sudah ada tato,,
dari kecil otakku sudah di doktrin jika ada tato maka anak nakal😁😁
berarti masuk sekolah umur 9thn ya
di arak tanpa busana
dasar gila,, padahal hanya melihat berduaan
milih nikah aja