Darimu aku belajar mencintai dengan ikhlas, meski tak terbalas.
(Nama yang selalu menjadi perbincangan disepertiga malamku)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Inar Hamzah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 7
Dua pasang mata yang melihat Indara berjalan bersama bu nyai Zainab ialah Vira dan seorang lelaki yang berada dipelataran poondok santri laki-laki. Dengan segera gadis tersebut menuju pada dua wanita yang tak jauh darinya saat ini.
“Assalamualaikum bu nyai.” Salam Vira sopan.
“Waalaikumussalam.” Jawab Indara dan bu nyai Zainab.
“Oh iya nak Vira, ini Indara anaknya Bu Haya.” Ucap bu nyai memperkenalkan Indara pada Vira.
Vira yang mendengar kata “anak” dari ucapan Bu Nyai Zainab membuatnya mengerutkan dahi.
“Oh bukan mbak, saya anak dari adiknya bude’.” Jelas Indara yang membaca raut kebingungan Vira.
“Ohh gitu ta.” Jawab Vira.
“Naa itu tepatnya nak Vira.” Ucap Bu Nyai Zainab kemudian. “Oh iya Vira, ini Ara mau ikut pengajian. Kamu ikut juga kan bisa minta tolong temani dia ?” Tanya Bu Nyai Zainab.
“Oh bisa Bu Nyai.” Ucap Vira “ayo mbak.” Ucapnya kembali dan meraih tangan Indara.
“Nak Ara, nggak apa-apa kan sama nak Vira ?” Tanya Bu Nyai Zainab kembali.
“Iya bu nyai nggak apa-apa.” Ucap Indara.
“Ya sudah. Ayo mbak.” Ajak Vira, Indara hanya mengangguk dan melangkah menuju Vira.
“Assalamualaikum bu nyai.” Pamit keduanya kemudian melangkah menuju masjid tempat akan berlangsungnya pengajian.
“Tumben mbak, bu Haya nggak ikut pengajian ?” Tanya Vira pada Indara yang cukup jauh tertinggal dibelakang. “Loh orangnya mana ?” Tanyanya pada diri sendiri saat melihat kesamping tak didapati Indara. Kemudian berbalik dan melihat Indara yang berjalan pelan-pelan.
“Mbak kenapa ?” Tanya Vira yang berbalik dan menuju Indara.
“Nggak usah panggil mbak, sepertinya usia kita sama. Panggil Ara atau Dara saja.” Ucap Indara. “Iya, bude’ lagi sibuk dipabrik juga toko. Ini. beberapa hari yang lalu saya keserempet motor Vira.” Jelas Indara yang kini dipapah oleh Vira.
“Oohh, maaf ya Ara. Saya nggak tau kalau.” Ujar Vira dengan raut wajah sedih.
“Iya, nggak apa-apa. Terima kasih sudah membantuku.” Ujar Indara dan tersenyum tipis pada gadis itu.
“Iya sama-sama.”
Kedua gadis itu berjalan menuju masjid yang semakin lama semakin dekat. Hingga akhirnya sampai diteras masjid, keduanya terlihat melepas alas kaki dan mulai berkumpul dengan yang lainnya di dalam masjid.
Setelah mengikuti pengajian Indara terlihat duduk diteras masjid, ia bingung akan kemana. Apalagi dengan keadaan kaki yang sedang sakit begini. Mau pulangpun kunci rumah tidak ada padanya.
“Nak Ara.” Panggil seseorang yang memecehkan kebingungannya.
“Eh, bu nyai. Assalamualaikum.” Ucap Indara sopan namun masih dalam keadaan terduduk.
“Waalaikumussalam.” Jawab bu nyai tak kalah sopannya. “Kamu ngapain disini sendirian ?” Tanya bu nyai kemudian.
“Iya bu nyai. Saya lagi nunggu dijemput.” Jawabnya dengan nada rendah.
“Nak Arfan nggak bisa jemput kamu nak. tadi Bu Haya mengabari ibu. Minta tolong buat nyuruh kamu nunggu dirumah ibu dulu.” Tutur Bu Nyai Zainab dan berjongkok disamping Indara.
Indara hanya menghela nafas pelan “Gitu ya bu ? Tapi kok bude’ nggak ada ngabarin ya ?” Tanyanya kembali.
“Kata siapa ? Bu Haya sudah menghubungimu dan mengirim pesan buat kamu. Tapi katanya nggak ada jawaban ataupun balasan dari pesannya.” Jelas Bu Nyai Zainab.
Dengan cepat Indara membuka tas selempangnya dan mencari ponsel. “Kok nggak ada ?” Tanyanya pada diri sendiri.
Kemudian menutup mata untuk mengingat dimana ia meninggalkan ponselnya. Tak lama setelah itu “Astagfirullah, ketinggalan dikamar dong.” Ucapnya pada diri sendiri lagi, rupanya ia meninggalkan ponsel di atas nakas dalam kamar, karena terlalu bersemangat untuk ikut pengajian sore itu.
“Ya sudah, ayo kerumah ibu.” Ajak Bu Nyai Zainab.
Indara hanya mengangguk dan segera menggunakan alas kakinya, kemudian beranjak untuk kerumah Bu Nyai Zainab.
Setibanya dirumah pemilik dari pesantren tempat ia mengukuti pengajian hari itu. Terlihat begitu banyak buku yang tersusun rapi di rak. Jemarinya begitu gatal untuk sekedar melihat-lihat buku tersebut. Hingga saat ia sudah tak tahan, dengan perlahan melangkah menuju rak dan melihat-lihat.
“Assalamu alayka ya Ya Rasool Allah
Assalamu alayka ya habibi Ya Nabiyya Allah.
Yaa Rasulallah”
Pendengaran Indara menangkap suara seseorang yang sedang melantunkan sholawat dan perlahan-lahan semakin jelas. Hingga akhirnya indra penglihatannya melihat kaki kecil dan mungil berdiri dipintu pemisah antara ruang tamu dengan ruang tengah rumah Pak kyai Abu.
Ternyata pemilik kaki itu ialah seorang gadis kecil cantik yang terbalut jilbab instan hitam dan gamis berwarna biru muda. Kedua manik gadis beda usia itu saling menatap tanpa berbicara sepatah katapun.
“Nenek nyai, siapa itu ?” Tanya gadis itu pada Bu Nyai Zainab yang sedang melangkah kearah ruang tamu dengan membawa kudapan.
“Ohh itu, namanya tante Indara keponakannya Bu Haya. Ibu yang sering ngasih Ina roti.” Jelas Bu Nyai Zainab dan berjalan untuk meletakkan nampannya di atas meja.
Sementara Indara tersenyum dan kembali ke kursi tempat ia duduk tadi.
“Ayo salam dulu sama tante Indara.” Ajak bu nyai pada cucu pertamanya itu.
“Assalamualaikum tante Indara.” Sapanya kemudian mencium punggung tangan Indara.
Sementara Indara yang menerima perlakuan seperti itu tersnyum manis kearah gadis yang bernama Ina tersebut. “Waalaikumussalam Ina. Senang bertemu denganmu.” Ucap Indara.
Dengan tersenyum malu Ina segera duduk disamping Indara, hal itu membuat Bu Nyai Zainab sedikit terkejut. Mengingat cucunya itu tak akan terlalu akrab pada orang yang baru dikenal. Namun berbeda dengan Indara.
“Tante, tante kesini sama siapa ?” Tanya Ina kembali.
“Tadi tante diantar sama mas Arfan. Ina kenal mas Arfan ?” Tanya Indara pada gadis kecil itu.
“Tau tante, itu om yang sering bantu ibu Haya kalau lagi nganter roti kepesantren kan tante.” Jawab Ina dengan penuh penegasan.
Indara hanya mengangguk dan berkata “Iya benar Ina.” Meskipun sebenarnya ia tidak tahu apakah yang dimaksud oleh Ina itu mas Arfan atau mas Akmal.
“Ina sudah sekolah ?” Tanya Indara kembali.
“Sudah tante, Ina sekolah di playgroup. Disana banyak teman dan banyak mainan tante.” Jawabnya antusias dengan melebarkan tangannya untuk memperjelas bahwa mainan yang tersedia disekolahnya itu memang banyak.
“Ina suka sekolah disana ?” Tanya Indara kembali.
“Suka dong tante.” Jawabnya dengan senyum manis.
Bu Nyai Zainab yang melihat keakraban cucunya dengan Indara langsung tersenyum lebar dan ia meninggalkan keduanya di ruang tamu.
“Tante Ara nama panjangnya apa ?” Tanya Ina pada Indara. “Kalau nama panjang Ina itu Ghina Afnan Muzakki. Cantik kan tante nama Ina.” Ucapnya dan mencari pembenaran dari Indara.
“Waaah cantik sekali namanya Ina, secantik orangnya.” Setuju Indara dan menyentil dagu Ina pelan “Kalau nama tante Indara Putri Khairul. Cantik tidak nama itu ?” Tanyanya pada gadis itu seperti mempraktekkan apa yang diucapkan oleh Ina tadi.
“Iya cantik tante, tapi lebih cantik nama Ina.” Ucapnya dengan senyum lebar.
Keduanya kini terlihat semakin akrab dan beberapa kali terdengar gelak tawa. Hingga sampai ditelinga Bu Nyai Zainab yang berada didapur untuk mempersiapkan makan malam dan ditemani oleh beberapa santriwati.
Indara dan Ina terlihat begitu asyik mengobrol. Mulai dari membahas teman-teman Ina, kesukaan gadis kecil itu, Indara menceritakan kisah-kisah nabi yang bisa diingatnya, hingga bermain tebak-tebakan. Sampai tak menyadari bahwa ada dua orang laki-laki yang berdiri diambang pintu sedang memperhatikan mereka berdua.
“Assalamualaikum.” Ucap kedua laki-laki yang berada diambang pintu.
“Waalaikumussalam.” Jawab keduanya dan menghentikan obrolan. “Kakek, om Ibam.” Panggil Ina pada kedua laki-laki tersebut.
Dua orang yang dipanggil oleh Ina hanya tersebut lembut. Kemudian pak kyai Abu seolah menatap bingung pada Indara.
“Itu keponakannya Bu Haya kakek. Ibu yang sering ngasih Ina roti. Tante Ara, tadi ikut pengajian trus sekarang nunggu dijemput Bu Haya. Kaki tante Ara sakit kakek diserempet orang.” Jelas Ina pada pak kyai dan kini gadis kecil itu sedang mengambil nafas dalam-dalam karena terlalu penjang menjelaskan hingga lupa bernafas.
Pak kyai yang berjongkok didepan Ina hanya tersenyum kemudian berdiri dan melihat Indara.
“Assalamualaikum pak kyai.” Salam Indara sopan.
“waalaikumussalam.” Jawab pak kyai dengan senyum tipisnya, kemudian berjalan kearah Indara.
“Abi, Ibam, sudah pulang ternyata. Tadi umi dibelakang bantuin masak.” Ucap bu nyai yang tiba-tiba sudah berada diruang tamu.
“Sudah umi.” Jawab pak kyai yang tak lepas dari memandang Indara.
“Duduk nak. nanti kaki kamu makin sakit.” Ajak pak kyai pada Indara yang kini sudah terlihat mendudukkan diri di atas kursi.
Sementara Ibam hanya ikut tanpa berbicara sedikit pun. Inapun kembali kesamping Indara dan bersender dilengan gadis tersebut.
Pak kyai dan Ibam yang melihat hal tersebut cukup kaget. Pikiran mereka sama halnya dengan apa yang dipikirkan oleh bu nyai tadi saat pertama kali melihat Ina yang langsung akrab dengan Indara. Sementara bu nyai yang melihat raut wajah dari dua laki-laki dihadapannya hanya tersenyum simpul.
“Kalau gitu umi kebelakang lagi.” Ucap bu nyai dan akan beranjak dari ruang tamu.
“Biar saya bantu bu nyai.” Indara menawarkan bantuannya.
“Nggak usah nak, kamu disini saja, sama mereka.” Tolak bu nyai dan berlalu.
Sesaat setelah bu nyai meninggalkan mereka. Pak kyai membuka percakapan dengan Indara. Mulai dari menanyakan bagaimana kaki Indara saat ini hingga pertanyaan-pertanyaan ringan lainnya.
Tak terasa waktu sudah akan memasuki Magrib, dengan segera pak kyai dan Ibam bersiap untuk sholat berjamaah. Sedangkan Indara, Ina dan bu nyai bersiap-siap sholat dirumah. Berlalunya waktu Magrib, kini diisi oleh Indara dan Ina dengan membaca Al-Qur’an. Walaupun lebih tepatnya Indara yang membaca sedangkan Ina hanya berbaring berbantalkan paha Indara sambil mendengar bacaan merdu dari gadis tersebut.
Saat waktu Isya akan tiba, Indara menyudahi bacaan Al-Qur’annya. Hal serupa juga dilakukan oleh bu nyai yang tadi tempat sibuk untuk membaca buku masalah Fiqih wanita.
Terlihat pak kyai, bu nyai, Ibam, Indara dan Ina sedang menikmati makan malamnya tanpa ada pembicaraan apapun keluar dari mulut Ibam. Entah kenapa laki-laki itu mendadak bisu dan tak seperti biasanya.
“Nenek nyai, kapan mama jemput Ina ?” Tanya Ghina pada Bu Nyai Zainab.
“Kan mama bilangnya besok. Ina mau nginap disini sama nenek kan ?” Tanya bu nyai pada cucunya.
“Oh iya ya nek.” Jawabnya kembali. “Hehehe.”
“Bagaimana kakimu ? Apa masih sakit ?” Tanya Ibam tiba-tiba, membuat pak kyai dan bu nyai terkejut. Rupanya Ibampun tanpa sengaja mengeluarkan pertanyaan tersebut untuk Indara.
“Ehhh, sudah tidak lagi. Sudah lebih baik dari kemarin.” Jawab Indara dengan susah payah, karena ia tahu bahwa Ibam tidak menceritakan pada kedua orang tuanya.
Ternyata gadis seusia Ina sudah mulai mengerti akan pertanyaan Ibam.
“Om Ibam yang bikin tante Ara sakit ?” Tanya Ina dengan polosnya.
“Ina, habiskan makannya dulu cu.” Ucap pak kyai dan membuat Ina langsung tak berkata.
Setelah menikmati makan malam rupanya Ina mengajak Indara bermain boneka, sehingga mau tidak mau ia menemani Ina bermain. Pak kyai, bu nyai, dan Ibam masih berada dimeja makan. Rupanya kedua orang tuanya masih penasaran akan pertanyaan yang dilontarkan Ibam pada Indara.
“Kamu yang nye—” pertanyaan pak kyai terputus karena mereka mendengar seseorang memberi salam.
“Assalamualaikum.” Suara seorang wanita yang berada didepan rumah tempat Indara berada.
Dengan berlari kecil Ina diikuti oleh Indara menghampiri siapa yang bertamu malam itu.
“Waalaikumussalam, Bu Haya.” Jawab Ina kemudian menyalami, setelah itu Ina diberikan satu kantong plastik besar berisi roti oleh wanita paruh baya itu.
Dengan raut bahagia yang tak bisa disembunyikan, Ina menerima kantong plastik tersebut “Terima kasih bu.” Ucapnya dan diangguki oleh Bu’ Haya.
“Bude’.” Ucap Indara saat melihat sosok yang disinari lampu adalah Bu Haya.
“Maaf ya sayang, bude’ baru jemput kamu sekarang. Ini aja bude’ belum mampir kerumah.” Jelas bude’ Aya dengan raut wajah yang kelelahan.
“Iya nggak apa-apa bude’.” Jawab Indara.
“Bu Haya rupanya.” Ucap bu nyai Zainab dari dalam rumah. Pandangannya mengarah pada kedua tangan cucunya yang kini menenteng kantong plastik besar berisi roti, kerena luar plastik itu terdapat nama toko roti Bude’ Aya.
“Maaf bu nyai. Saya sudah merepotkan.” Ucap bude’ Aya.
“Nggak apa-apa Bu Haya.” Kata bu nyai Zainab. “Ayo masuk dulu bu.” Ajaknya kembali.
“Lain kali saja bu nyai. Kami langsung pamit saja.” Ucapnya kembali dan melihat Indara.
Tak lama Indara segera mengambil tasnya dan berjalan kearah bude’ Aya.
“Tante Ara sudah mau pulang ?” Tanya Ina yang masih menenteng plastik rotinya.
“Iya Ina sayang.” Jawab Indara.
“Besok kesini lagi nggak tante ?” Tanya Ina dengan wajah sendu.
“Insya Allah ya Ina.” Jawab Indara yang tak tega melihat Ina memasang wajah sendunya.
Ina hanya mengangguk mengerti.
“Kalau gitu kami pamit dulu bu nyai.” Ucap Bude’ Aya. “Assalamualaikum.” Salam keduanya dan berjalan bersama menuju mobil.
“Waalaikumussalam.” Jawab bu nyai dan Ina bersamaan.
“Terima kasih Bu Haya.” Ucap Bu Nyai Zainab dan mengarahkan pandangannya pada kantong roti yang berada di tangan Ina.
Ina menghampiri neneknya dan kembali kedalam rumah.