NovelToon NovelToon
Terbelenggu Dendam

Terbelenggu Dendam

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:4k
Nilai: 5
Nama Author: syitahfadilah

Kebebasan dari balik jeruji ternyata bukanlah akhir dari hukuman.
Setelah bertahun-tahun mendekam di penjara, Indri berharap dapat memulai hidup yang baru. Namun, dosa masa lalu yang telah menghancurkan kehidupan seseorang membuatnya menjadi sasaran balas dendam.
Di balik kepulangannya, Evan telah menyiapkan sebuah permainan yang dirancang dengan sempurna. Bukan untuk membunuh Indri, melainkan membuat wanita itu merasakan penderitaan yang jauh lebih menyakitkan daripada kematian. Sedikit demi sedikit, kehidupan Indri direnggut—harga dirinya, kebebasannya, hingga harapan untuk hidup bahagia.
Namun, semakin jauh Evan melangkah menjalankan rencana balas dendamnya, semakin dalam pula ia terjebak dalam perasaan yang tak pernah ia duga.
Lantas... Akankah Indri berhasil terbebas dari belenggu dendam yang mengikat hidupnya? Ataukah justru Evan yang akan terperangkap dalam rasa yang sama beracunnya dengan kebencian yang selama ini ia pelihara?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon syitahfadilah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 8

Pagi itu, Indri datang ke kantor dengan perasaan yang lebih tenang. Makan malam di rumah beberapa hari lalu membuat pandangannya terhadap Evan berubah.

Pria itu memang dingin dan pendiam, tetapi selama ini ia tidak pernah sekalipun bersikap kasar kepadanya. Bahkan beberapa kali, Evan justru membantunya.

"Aku terlalu banyak curiga," gumam Indri sambil menyalakan laptop.

Di kantor Evara Capital...

Rio berdiri di depan meja Evan. "Pak, Dimas mengirim laporan."

Evan menerima map berwarna cokelat itu.

"Bu Indri mulai mempercayai Bapak." Rio melanjutkan, "Kalau ingin melanjutkan rencana, sekarang waktu yang paling tepat."

Evan membuka map tersebut.

Di dalamnya terdapat foto-foto Indri selama beberapa minggu terakhir. Saat bekerja. Saat pulang bersama Haris. Saat bermain dengan Laura kecil.

Bahkan ada foto ketika Indri membantu seorang anak yang tersesat. Evan menatap foto-foto itu cukup lama.

"Tidak ada lagi?" tanyanya.

"Ada satu, Pak." Rio menyerahkan sebuah amplop kecil.

Begitu membukanya, wajah Evan langsung berubah. Itu adalah salinan laporan medis Laura bertahun-tahun lalu.

Evan langsung mengepalkan tangannya.bSemua keraguan yang mulai tumbuh seakan runtuh dalam sekejap.

Bayangan adiknya kembali memenuhi pikirannya. Laura menangis histeris. Laura yang akhirnya meninggal setelah melahirkan.

"Dia tidak boleh hidup tenang," gumam Evan lirih.

Rio menundukkan kepala.

"Jadi... rencana berikutnya tetap dijalankan?"

Evan menutup map itu perlahan.

"Iya. Kali ini... aku akan membuatnya benar-benar merasakan putus asa."

Sore harinya...

Indri datang ke rumah sakit untuk mengambil obat Haris.

Saat keluar dari apotek, tanpa sengaja ia melihat Evan sedang berdiri di ujung lorong.

"Pak Evan?"

Evan menoleh. "Bu Indri."

"Bapak juga ada di sini?"

"Iya. Ada urusan," ujar Evan.

Indri tersenyum. "Papa saya juga sedang kontrol."

"Bagaimana kondisi beliau?" tanya Evan.

"Sudah jauh lebih baik."

Evan mengangguk pelan. "Syukurlah."

Untuk beberapa saat mereka berjalan berdampingan menyusuri lorong rumah sakit. Langkah mereka berhenti di depan ruang bersalin.

Terdengar tangisan bayi dari dalam. Indri tersenyum kecil.

"Senang sekali mendengar suara bayi."

Evan menatap pintu ruang bersalin itu. Pikirannya melayang bertahun-tahun ke belakang.

Hari ketika Laura melahirkan seorang bayi perempuan.

Hari yang seharusnya menjadi awal kebahagiaan. Namun justru berubah menjadi hari terakhir adiknya mengembuskan napas.

Rahang Evan mengeras. Ia segera mengalihkan pandangan.

"Saya permisi. Masih ada pekerjaan."

Sebelum Indri sempat menjawab, Evan sudah melangkah pergi.

Indri memandang punggung pria itu dengan bingung. "Ada apa dengannya?"

Di dalam mobil, Evan menatap foto Laura yang selalu disimpan nya di dalam dompet.

"Mulai sekarang... aku tidak akan ragu lagi."

Di balik kemudi, Rio diam-diam mengawasi. Ia menghela napas pelan. Rio mengenal Evan selama hampir sepuluh tahun. Dan ia tahu... Setiap kali Evan menatap foto Laura, berarti sebuah keputusan besar telah diambil.

***

Dua hari kemudian, Evan kembali menjalani aktivitas seperti biasa.

Tidak ada yang berubah dari penampilannya. Ia tetap menjadi pengusaha muda yang tenang, berwibawa, dan sulit ditebak.

Namun di balik ketenangan itu, sebuah keputusan telah diambil.

Ia tidak akan lagi sekadar meneror Indri dari balik bayangan. Kini, ia akan mulai masuk ke dalam kehidupannya.

Pagi itu, Haris mengumpulkan seluruh direksi. "Ada kabar baik."

Semua menoleh.

"Untuk mempercepat proyek bersama Evara Capital, kita akan membentuk tim gabungan."

Arman mengangguk. "Itu keputusan yang tepat."

Haris kemudian menatap Indri.

"Papa ingin kamu menjadi ketua tim dari pihak kita."

Indri mengangguk mantap. "Baik, Pa."

"Lalu dari pihak Evara Capital..." Haris tersenyum. "Pak Evan akan memimpin langsung."

Indri sedikit terkejut. Artinya... Mulai hari itu, ia akan lebih sering bertemu dengan Evan.

Siang harinya...

Tim gabungan mengadakan rapat pertama di ruang konferensi Evara Capital. Ruangan itu modern dan didominasi dinding kaca.

Indri datang bersama Nisa.

Beberapa menit kemudian, Evan memasuki ruangan.

"Selamat siang."

"Selamat siang, Pak."

Rapat dimulai. Selama hampir dua jam, Evan menjelaskan strategi proyek dengan sangat rinci.

Indri beberapa kali mengajukan pertanyaan. Evan selalu menjawab dengan sabar.

Semua anggota tim mulai menyadari bahwa keduanya bekerja sama dengan sangat baik. Bahkan Arman sempat berbisik kepada Nisa, "Kalau begini, proyek pasti selesai lebih cepat."

Nisa tersenyum mengangguk.

Usai rapat. Indri masih membereskan beberapa dokumen. Tanpa sengaja, map yang dibawanya kembali terjatuh.

"Hari ini ceroboh sekali ya saya," gumamnya malu.

Evan membungkuk membantu mengambilnya.

Saat itulah sebuah foto lama terselip keluar dari map milik Evan. Foto seorang perempuan muda. Indri sempat melihat sekilas.

"Maaf." Ia buru-buru mengambil foto itu lalu menyerahkannya. "Ini milik Bapak."

Evan menerima foto tersebut, dan langsung memasukkan kedalam saku jasnya. Foto itu adalah Laura. Untung saja sisi belakang foto menghadap ke atas sehingga Indri tidak sempat melihat wajahnya dengan jelas.

"Terima kasih."

"Sama-sama."

Untuk pertama kalinya, Evan merasa jantungnya berdetak lebih cepat. Hampir saja... Hampir saja Indri mengetahui siapa perempuan di foto itu.

Malam harinya...

Rio masuk ke ruang kerja Evan. "Pak. Dimas mengirim informasi baru."

Evan membaca laporan tersebut.

"Bu Indri mulai memeriksa data lama perusahaan."

Tatapan Evan berubah tajam. "Apa yang dia cari?"

"Belum diketahui." Rio melanjutkan, "Tapi kalau dia terus mencari... bisa saja dia mengetahui hubungan Bapak dengan Laura."

Evan menutup map itu perlahan.

"Kalau saat itu tiba... aku sendiri yang akan mengatakan semuanya."

Rio sedikit terkejut. "Bapak?"

"Aku ingin melihat ekspresinya ketika tahu siapa aku sebenarnya."

Sementara itu...

Di rumah Haris. Indri sedang membantu Laura kecil mengerjakan tugas sekolah.

"Tante."

"Iya?

"Kalau kita berbuat salah, terus minta maaf... apa pasti dimaafkan?"

Pertanyaan itu membuat Indri terdiam. Ia mengusap lembut rambut Laura kecil. "Tidak selalu."

"Kenapa?"

"Karena ada luka yang butuh waktu sangat lama untuk sembuh."

Laura kecil mengangguk polos. "Kalau begitu... tetap harus minta maaf, kan?"

Mata Indri mulai berkaca-kaca. "Iya. Karena meminta maaf adalah bentuk keberanian, meski kita belum tentu dimaafkan."

Laura kecil tersenyum. "Kalau Laura pasti maafin."

Indri memeluk keponakannya erat. Andai orang dewasa memiliki hati setulus anak kecil...

Mungkin hidupnya tidak akan serumit sekarang.

Di apartemennya... Evan merogoh saku jasnya. Ia mengeluarkan foto Laura yang tadi hampir dilihat Indri. Jemarinya mengusap wajah sang adik.

"Tidak lama lagi. Dia akan tahu siapa aku. Dan saat itu... hidupnya tidak akan pernah sama lagi."

Namun setelah mengucapkan kalimat itu, bayangan Indri yang dengan sabar mengajari Laura kecil belajar kembali muncul di benaknya.

Ia memejamkan mata kuat-kuat.

Seolah sedang berusaha mengusir rasa iba yang perlahan tumbuh.

Sayangnya... Semakin ia menolak perasaan itu, semakin sering wajah Indri hadir dalam pikirannya.

Dan tanpa disadari Evan, dendam yang selama ini menjadi api di dalam hatinya mulai bercampur dengan sesuatu yang jauh lebih berbahaya.

1
Eva Karmita
Evan kah...??
semoga saja benar Evan masih hidup... Evan jangan lama" sembunyi nya entar si Indri jadi milik Royco, cepat keluar ya bikin surprise Indri kamu masih hidup...mau ku 😩🤣🤣🤣🤣
Nurlinda: 💃💃💃🕺🕺🕺
total 1 replies
ken darsihk
Rio berbalas pesan dngn siapa ya ??
Eva Karmita
kasih vote untuk Evan .. siap tahu Mak otor berbaik hati buat Evan hidup lagi 😩🤣🤣

sepertinya kecebong babang Evan udah berubah jadi berudu kecil ❤️😁
Nurlinda: 😄😄😄😄😄😄
total 1 replies
ken darsihk
secangkir kopi meluncur thor 😍
Nurlinda: Mamaciii 😘🙏🙏
total 1 replies
ken darsihk
Lanjuttt thor
Aditya hp/ bunda Lia
hamilkan .... bapaknya udah kamu bunbun
Eva Karmita
Indri kamu akan menyesal karena sudah membunuh calon ayah anakmu ...
ken darsihk
Fix Indri hamil anak nya Evan
ken darsihk
Nekat juga Indri kenapa sampai sekeji itu , kenapa juga Indri tidak belajar dari pengalaman yng sudah 2
Eva Karmita
berharap Evan tidak meninggal 😭💔... Indri kenapa kamu kejam sekali,, sekali lagi kamu membuat kesalahan menghilangkan nyawa orang seperti itu 😭...,, berharap semoga saja di rahim mu tumbuh benih Evan waktu itu biar kamu makin merasa bersalah dengan calon anakmu...🥺😔
ken darsihk
Semoga Indri mengurungkan niat nya itu
ken darsihk
Janganlah mengulang kesalahan yng sama Indri , fikir kan dampak nya untuk keluarga mu
Eva Karmita
sudah aku kasih vote ya Mak 🥰🥰
Nurlinda: tengkyu 😘🙏🙏
total 1 replies
Eva Karmita
apa rencana Indri akan berjalan lancar atau Indri berubah haluan.... astaghfirullah semoga Indri tidak berbuat yg membahayakan hidupnya sendiri,, sabar Indri jgn mengambil keputusan yang salah .. ingat masih ada keluarga mu yg bisa di minta tolong atau tidak lebih baik kamu pergi yg jauh saja di mana tidak ada orang yang mengenali mu... biarkan Evan hidup dlm penyesalan seumur hidup nya
Eva Karmita
Evan kalau cemburu ya cemburu aja ngak usah bawa" masa lalu yang pahit ... kasihan Indri selalu jadi bahan hinaan mu van 🥺 ... kalau memang kamu benci yg tinggal kamu jauhi untuk apa kamu dekati hanya menambah luka baru 💔😔 , ingat Van jangan terlalu benci nanti kamu malah sakit hati melihat Indri menjauh
ken darsihk
Indri sudah menderita dan terluka Evan , dan kamu selalu datang menabur kan garam di luka itu 😠😠😠
Aditya hp/ bunda Lia
Tuh denger kamu Evan ... jangan sibuk ajah ngurusin dendam
ken darsihk
He he cemburu kata kan saja bos 😂😂😂
Aditya hp/ bunda Lia
kayaknya cembukor tuh mas Evan 😂
Eva Karmita
mulai ada percikan api kecil di hati Evan 🤣🤣🤣
Nurlinda: 🤫🤫🤫🤫🤫🤫
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!