Bagaimana jika jiwamu bertukar dengan orang yang sangat kamu benci, pria yang selalu mengolok-olok mu karena penampilanmu yang culun?!
Denada seorang siswi berkacamata tebal dengan kawat gigi dan buku ditangannya, Si Empat Mata adalah julukan yang sudah melekat dengannya. Habis habisan merasakan Bullying di Sekolah baik dari teman wanita ataupun pria. Seorang pria yang sangat ia benci bernama Rendra juga sering ikut mengerjainya.
Tiba-tiba mendapatkan accident dan bertukar jiwa dengan Rendra, semua kehidupan menjadi berputar sekarang?!
Bagaimana Denada menjalani kehidupan barunya dengan memakai tubuh pria, dan Rendra yang harus merasakan menstruasi untuk pertama kalinya?!
Read More...
Si Empat Mata Reborn.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Vietha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
08 | Mengembang...
Kelanjutan cerita kemarin...
"Heeeii... "
Saat perdebatan sengit antara Denada dan Rendra semakin mencekam tentang bagaimana nasib mereka sekarang, tiba-tiba dari kejauhan terdengar suara teriakan memanggil. Sontak mereka berdua terhenti dan langsung menoleh ke sumber suara.
"Wiis, gila... lagi asik gak ngajak gue lo!"
Ternyata itu Lisa and the geng yang datang, Lisa yang dari kejauhan melihat Rendra dipikirannya sedang menindas Denada tentu saja tertarik ingin bergabung. Ia datang mendekat sambil menggigit apel di tangannya dan langsung merangkul pundak Rendra di sana.
[Wey, apaan nih Lisa ngerangkul gue, astaga iya dia kan ngira gue Rendra, hihi lumayan nih kesempatan]
Benak Denada berfikir dan batinnya bergumam saat ini, Ia langsung membalas rangkulan Lisa di bahunya sambil menaikkan sebelah senyumnya menatap Rendra yang asli.
[Nadaa... Gue tau isi otak lo, sengaja lo ya manfaatin badan gue]
Rendra di sana yang memperhatikan gelagat Denada sedang berakting menjadi dirinya otomatis membuat darahnya mendidih seketika, Ia mengepalkan tangan dan menatap tajam Denada di hadapnya sampai membuat kacamata besar itu berembun.
Kraawuk... Krawuukk... Krawuuk...
Bunyi kunyahan apel dari Lisa terdengar jelas saat Ia datang mendekati Rendra yang kini sedang kepanasan di tubuh Denada, entah nasib sial apa lagi yang akan di dapatkannya saat ini, kenapa Lisa harus datang di saat genting seperti ini pikirnya, seharusnya nanti saja kalau mereka sudah bertukar kembali.
"Nada sayang ikut bentar yuk!!"
Lisa kini memulai aksinya, baginya belum sempurna satu hari kalau tidak mengerjai Denada. Ia beralih kini merangkul pundak Denada yang dipikirnya, ditambah bantuan gengnya berkerumun di sana.
Seperti seorang tahanan Rendra tentu tak dapat berkutik dalam tubuh si cupu ini, Ia dibawa geng Lisa pergi menepi ke toilet sekolah.
"Hihihi... "
Denada yang sebenarnya otomatis cekikikan melihat Lisa membawa Rendra, Ia berakting menggunakan tubuh Rendra dengan baik sesuai permintaannya tadi, berjalan dengan gagah sambil mengikuti rombongan Lisa and the geng dari belakang.
[Sial lo Nada (˵•̀෴•́˵) Mata Empat, #$!@... Pinter banget lo aktingnya]
Rendra yang kini berjalan dengan tubuh Denada dibawah kekuasaan Lisa and the geng sesekali menoleh kebelakang menatap tajam Denada yang dilihatnya petantang-petenteng memakai tubuhnya, tentu saja membuat umpatan dalam benak semakin menjadi-jadi.
❀༺🪷༻※※※༺🪷༻❀
Saat ini di Toilet Sekolah.
Lisa dengan cepat melepaskan Denada yang dipikirannya dan mendorongnya ke tembok. Toilet sedang sepi saat ini, pas sekali waktunya.
Bruuukkk...
Mereka berkerumun menatapi Rendra yang masih bersemayam di tubuh Denada. Tatapan gadis-gadis pembully itu tiba-tiba membuat Rendra menelan ludah, padahal biasanya Ia ikut ambil bagian dari kesenangan ini pikirnya, namun kenapa sekarang malah sial begini.
[Gak bisa, gua gak bisa diginiin, emangnya gue si cupu apa!]
Gumam Rendra dalam hati saat sudah di kepung seperti ini, Ia kemudian menatap balik Lisa and the geng sambil membelalakkan matanya.
"Woy, percuma lo pada nangkep gue, udah gue bilang gue Rendra, lo pada salah sasaran!" ucap Rendra seketika dengan suara wanita.
Namun tiba-tiba,
"Bahahahahah... "
Denada yang kini mulai nyaman berakting dengan tubuh Rendra seketika tertawa mendengar itu,
"HAHAHAHA... "
Disusul juga oleh gelak tawa Lisa and the geng. Mereka semua kini memenuhi ruang toilet dengan gelak tawa, tentu saja membuat Rendra yang asli semakin tersudut. Entah harus bagaimana lagi sekarang pikirnya.
"Wah beneran gesrek otaknya habis kecelakaan kemarin ini Lis, gimana ini dilanjut gak?!" saut salah seorang geng Lisa di sana.
"Ya lanjut lah... "
Lisa and the geng kemudian kembali mendekati Rendra, Denada hanya berdiri menyaksikan sambil menahan tawanya dari depan, sesekali Ia menjulurkan lidah mengejek Rendra di sana.
[Wleee, rasain lo, gimana rasanya jadi gue kemarin]
Batin Denada terus bergumam, rasanya bahagia saat ini, walaupun di depan sana yang dikerjai itu tubuhnya tapi kan yang merasakan itu Rendra pikirnya, tak apa lah sesekali.
[Nadaa... Awas lo, tunggu aja pembalesan gue!]
Rendra yang tak bisa bergeming lagi hanya bisa berumpat dalam hati sambil menatap tajam Denada dari kejauhan. Lisa and the geng kini sudah mengepungnya dan tengah lincah mencoret-coret wajahnya dengan lipstik lagi seperti sebelumnya. Uppss, kali ini ditambah tompel besar melekat di pipi.
"Hahahaha... "
Setelah puas dengan aksinya Lisa and the geng tentu saja langsung keluar dari sana.
"Yuk cabut, gue serahin sama lo Ndra sisanya!" ucap Lisa sambil memberikan spidol hitam ke tangan Rendra yang sejatinya adalah Denada.
❀༺🪷༻※※※༺🪷༻❀
Setelah Lisa pergi...
"Bahahahaha... "
Gelak tawa Denada terdengar renyah saat ini, mereka tinggal berdua sekarang tak ada seorangpun di sana. Denada mulai melangkah maju mendekati Rendra sambil menahan geli perutnya.
"NADAAA... "
Amarah Rendra sangat terlihat jelas dengan menyebut tegas nama Denada, merdu sekali bunyinya. Sontak dengan cepat Ia menarik tangan Denada di hadapannya dan langsung menyandarkannya ke tembok.
Rendra berpose dengan meletakkan sebelah tangannya di tembok tepat disamping badan Denada. Situasi yang romantis jika dilihat orang sebenarnya, namun malah membuat Denada makin tertawa geli karena melihat wajahnya dari dekat dengan lukisan indah yang dibuat Lisa tadi.
"Hahaha... "
"Tunggu lo ya, urusan lo sama gue belum kelar!"
Rendra yang menyadari gelak tawa Denada seketika beranjak dan melihat kaca di sana.
"Hiii... serem amat!"
"Hahahaah... "
Denada masih terus cekikikan sembari Rendra membersihkan wajahnya dengan air keran di sana. Tak lama mereka berdua keluar dari kamar mandi.
❀༺🪷༻※※※༺🪷༻❀
Saat ini di Koridor luar.
"Puas lo ya ngetawain gue!" cecar Rendra langsung tanpa ampun.
"Ya puaslah, gimana rasanya jadi gue dikerjain?! Tau kan lo sekarang, hahaha!"
"Emang dasar Mata Empat... "
"Apaa?!"
Mereka adu sengit lagi kini di Koridor depan toilet. Denada sekarang mulai mendapatkan keberanian menghadapi Rendra tak seperti dulu saat ia masih menggunakan identitas si cupu.
Saat ini dengan sigap Denada mendekati Rendra lagi pelan-pelan sambil memepet dirinya. Posisi badan Rendra yang besar tentu membuat badan kecil Denada yang asli keberatan, seketika Rendra terjatuh di sana.
"Aaau... Sial, sakit woy!" cecar Rendra.
Nampak oleh Tyo dari kejauhan Denada ditindas lagi oleh Rendra sampai terjatuh ke lantai, segera Tyo mendekat.
"Nada... Rendra jangan main fisik lah, ini cewek lo ni gimana sih!"
Seketika Tyo membantu Denada si cupu yang dikiranya sedang kesakitan. Ia memegangi kaki Denada, mm bukan bukan ini Rendra yang kesakitan.
Melihat aksi heroik Tyo di depan matanya, Denada yang saat ini tegap berdiri dengan tubuh Rendra kembali senyum tak jelas, Ia mulai melamunkan hal lain melihat perhatian yang diberikan Tyo. Sontak membuat sesuatu di dalam celana menjadi mengembang.
[Anj*ng, mikirin apa ini cewek, kok jagoan gue bangun!]
❀༺🪷༻※※※༺🪷༻❀
Lanjut di Next Bab...
siapa yg datang...nada kah..??
author memang suka bikin penasaran
trus ciuman lagi tukar lagi
ternyata masih dipertimbangkan ya🤭🤭