Selama bertahun-tahun kehidupan gadis kecil berusia 16 tahun itu sangat buruk. Selain dikurung di sebuah loteng sempit, dia juga dijadikan bank darah oleh keluarganya. Tidak sampai di sana, Alleta juga dijebak oleh keluarganya untuk melayani lelaki tua hanya demi keuntungan perusahaan ayahnya.
Hingga pada malam itu, dia berhasil melarikan diri dari tragedi yang akan menghancurkan hidupnya dan bertemu dengan pria dingin yang mengubah kehidupannya yang suram.
Akankah Alleta bisa hidup bahagia setelah mengikuti pria itu dan lepas dari keluarganya?
Dan apa yang terjadi jika Alleta tahu kalau orang yang selalu dia anggap keluarga ternyata bukan.
Bisakah dia menemukan keluarga aslinya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon selenophile, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
Sudah seminggu lebih Alleta tinggal di kediaman barunya dan semua penghuni di sini sangat baik terhadapnya. Tetapi, dia jarang bertemu dengan pria yang telah menyelamatkannya, kata bunda kak Axel sedang sibuk mempersiapkan kepindahan perusahaannya ke Indonesia.
Dia juga sudah mencari tahu informasi keluarga ini dari beberapa pelayan yang sudah lama bekerja di sini. Tuan James merupakan pemimpin perusahaan besar CARTER grup. Pada masanya dia berhasil mengembangkan perusahaannya menjadi perusahaan internasional, tapi karena sudah tua akhirnya dilanjutkan oleh anak tertuanya, Luke.
Tuan James memiliki empat orang anak, tiga laki-laki, satu perempuan. Anak pertama ayah angkatnya, Luke Carter yang merupakan pewaris CARTER grup dan sudah memiliki istri, yaitu Laura yang sekarang menjadi bunda angkatnya. Yang kedua Jason Carter, namun sayangnya beliau tewas bersama istrinya dalam kecelakaan mobil yang merenggut nyawanya dan hanya menyisakan seorang anak laki-laki.
Sedangkan yang ketiga, yaitu Elena Carter seorang desainer ternama yang dijuluki sebagai wanita besi. Selain sifatnya yang tegas dan galak dalam hal pekerjaan, wanita ini juga masih lajang di umurnya yang sudah kepala tiga. Dan sekarang dia berada di luar negeri karena pekerjaan.
Dan yang terakhir Axel Jonathan Carter, anak terakhir dari tiga bersaudara. Di umurnya yang ke 26 tahun ini dia sudah mendirikan perusahaannya sendiri semasa kuliah di luar negeri. Bersama sahabatnya yaitu Sean yang sekarang menjadi asisten, mereka mendirikan perusahaan kecil yang bergerak di bidang game menjadi perusahaan terkenal hanya dalam kurun waktu 6 tahun.
Alleta sangat mengagumi keluarga ini, mereka sangat hebat di bidangnya masing-masing. Alleta juga berharap besar nanti, dia ingin sukses seperti mereka. Tidak mungkinkan dia terus tinggal di sini dan membebani mereka, dia ingin membalas semua kebaikan mereka terhadapnya.
Tapi, masalahnya dia tidak pernah sekolah, membaca saja dia tidak bisa. Sejak kecil dia terkurung di loteng itu, kalau keluar pun itu pergi ke rumah sakit untuk diambil darahnya.
Dia seperti burung yang terkurung di dalam sangkar yang tidak bisa mengepakkan sayapnya untuk terbang bebas di udara.
Saat Alleta sedang merenungkan nasibnya, sebuah suara menjengkelkan masuk ke gendang telinganya.
"Woi bocil pagi-pagi udah ngelamun. Bangun waktunya sarapan."
"Berapa kali aku bilang jangan panggil aku bocil! Kita itu seumuran,"geram Alleta menatap marah pada pria yang bersandar di kusen pintu.
"Wlee… wlee bocil, bocil,"ledek Nathan semakin menjadi sambil memeletkan lidahnya.
Semenjak kedatangan bocah ini hidupnya yang membosankan sedikit berwarna, Nathan seperti memiliki mainan baru. Sehari saja dia tidak membuat bocah ini kesal rasanya seperti ada yang kurang. Dan mulai sekarang hobinya bukan lagi olahraga melainkan mengganggu bocah ini.
"Kau! Awas ya." Alleta segera turun dari ranjang dan mengejar makhluk menyebalkan itu.
"Kabur!"
"Berhenti!"
°°°°°
Di lantai bawah semua orang sudah berkumpul di meja makan sambil menyaksikan aksi kejar-kejaran dua bocah ingusan seperti tokoh kartun Tom and Jerry.
"Aku bilang berhenti!"teriak Alleta kesal.
"Gak mau, wlee…,"ledek Austin sambil menggoyangkan pantatnya.
Mereka sangat bersyukur saat melihat gadis kecil itu tidak lagi takut dan waspada seperti sebelumnya. Apalagi sekarang suasana kediaman ini terasa ramai oleh tingkah mereka berdua yang tidak pernah akur. Atau lebih tepatnya Austin yang selalu menjahili Alleta.
"Oke berhenti bermain, waktunya sarapan."
Ketika Axel sudah angkat bicara mereka tidak berani membantah dan dengan patuh langsung duduk di kursi masing-masing.
"Kamu mau makan apa, sayang?"tanya Laura lembut, bersiap mengambil makanan yang diinginkan Alleta.
"Bunda tidak perlu repot seperti itu, aku bisa sendiri kok."
"Gak papa, ayo Alleta mau makan apa?"tanya Laura lagi.
Karena bunda memaksa Alleta menunjuk lauk pauk yang diinginkannya. "Aku ingin ayam goreng."
"Oke."
"Terima kasih."
Mereka makan dengan khidmat tidak ada yang berbicara saat makan karena itu peraturannya.
"Nathan berapa hasil nilai ujianmu semester ini?"tanya James selepas habis makan.
Ketika ditanya nilai ujian oleh kakeknya raut wajah Nathan merenggut masam. Dan Alleta yang melihat perubahan wajahnya segera mengambil kesempatan untuk membalas dendam.
"Kakek jangan ditanya lagi wajahnya aja masam pasti nilainya buruk,"lontar Alleta tersenyum mengejek.
"So tau lo bocah,"timpal Nathan tak terima sambil melempar tisu bekas ke arahnya. Namun dengan sigap dihadang oleh Axel yang berada dekat Alleta. Di balik tangan besar Axel, Alleta tersenyum mengejek.
"Nathan,"peringat Axel penuh penekan.
"Sorry."
"Jadi nilaimu turun lagi?" James kembali bertanya pada cucu laki-lakinya.
"Maaf Kakek,"jawab Nathan merasa bersalah. Dia terlalu sering mengecewakan kakeknya.
"Lain kali belajarlah lebih serius, Kakek mengatakan ini juga demi kebaikanmu demi masa depanmu kelak,"nasihat James.
"Baik, Kek."
Selesai sarapan mereka bersiap-siap untuk pergi bekerja dan pergi sekolah. Alleta menatap iri Nathan yang sudah rapi dengan seragam sekolahnya.
"Apa kau lihat-lihat?"tanya Nathan sewot saat merasakan tatapan Alleta mengarah padanya.
"Siapa yang lihatin kamu,"kilah Alleta sambil mengalihkan pandangannya karena malu sudah terciduk.
"Kau pasti gak rela pisah denganku, iyakan?"ucapnya dengan percaya diri.
Alleta memutar bola matanya malas dengan tingkat kepercayaan diri pria menyebalkan itu.
"Kalian ini mau sampai kapan terus bertengkar. Dan kau Nathan ini udah hampir telat loh, sana cepat pergi sekolah,"lerai Laura
"Iya, iya."
"Sayang, Bunda sama Ayah pergi kerja dulu. Kamu baik-baik ya di rumah."
"Iya Bunda."
"Dah sayang." Sebelum pergi Luke mengelus puncak rambut putrinya.
"Kakek juga mau pergi jalan-jalan di komplek."
"Hati-hati Kek."
Kini hanya tinggal Alleta dan Axel yang ada di rumah. Alleta menatap bingung kakaknya yang tidak pergi bekerja. Biasanya dia yang paling sibuk di antara semuanya, pergi pagi pulang malam.
"Kakak gak kerja?"
Bukannya menjawab Axel malah menatap Alleta dengan seksama. Pupil matanya yang gelap seperti jurang maut yang tak berdasar.
Ditatap oleh sepasang mata tajam Alleta merasa gugup, jantungnya berdegup kencang.
"Kakak kenapa?"tanyanya gugup.
"Kau ingin sekolah?"
"Kenapa Kakak bisa… ups." Alleta segera menutup mulutnya yang hampir membocorkan keinginannya.
Axel tersenyum simpul dengan tingkah polos gadis kecilnya, telapak tangannya yang lebar menepuk kepala Alleta pelan.
"Kau bisa membohongi semua orang, tapi aku tidak bisa. Kakak akan mendaftarkanmu di sekolah Nathan."
"Tu-tunggu! Kakak sekolah itu sangat terkenal bagaimanapun aku tidak pernah sekolah. Aku tidak ingin mempermalukan kakak."
"Kalau begitu bagaimana dengan homeschooling, Kakak akan menyewa guru untukmu dan kau bisa belajar di rumah,"saran Axel.
"Pasti mahal untuk menyewa seorang guru. Tidak, aku tidak mau membebani kakak lagi. Cukup seperti ini saja, aku tidak papa."
"Membebani apa, kau tidak perlu berpikir seperti itu di dalam otak kecilmu." Axel menjentik kening Alleta pelan.
"Sejak aku membawamu ke sini itu sudah menjadi tanggung jawabku, mengerti?"lanjutnya.
"Iya…." Alleta mengangguk paham, sudut mulutnya tak bisa menahan lengkungan ke atas, tersenyum begitu manis.
perasaan udh 1bln lebih gk up'lg