Sebuah pernikahan karena harus saling saling menyelamatkan nama baik keluarga bukanlah hal yang mudah. Apalagi kedua insan tersebut masih memiliki hati untuk sang kekasih.
Disaat ada hati tercipta, sang kekasih kembali dalam keadaan yang sama sekali tidak bisa di persalahkan. Mungkinkah perceraian akan menjadi pemecahan masalah bagi mereka berdua?
( Akan banyak konflik di dalamnya, skip jika tidak sanggup membacanya..!! )
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon NaraY, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
7. Masih banyak rahasia.
"Arra nggak mau ikut Abang..!!" Dinara menepis tangan Bang Pongge yang menggenggam nya.
"Lalu mau ikut siapa?? Laki-laki b*****t yang sudah membuatmu seperti ini??? Aku memang tidak sebaik Alan.. tapi aku akan mengusahakan yang terbaik untuk kamu dan anak ku." Bentak Bang Pongge.
"Bang Alan tidak pernah membentak Arra, Abang terlalu kasar. Kenapa Abang tidak bisa seperti Bang Alan????" Suara Dinara meninggi beberapa oktaf karena terbawa kesal dengan sikap Bang Pongge.
"Karena saya bukan Alan. Saya Puger.. suami sah mu." Kata Bang Pongge.
Dinara tersenyum sinis, ia mengusap air matanya yang membasahi pipi. Hatinya sakit mendengar setiap bentakan dari Bang Pongge.
"Sebaik-baiknya suami adalah yang mengajari istrinya dengan kelembutan dan kesabaran, tidak kasar seperti Abang." Jawab Dinara.
Mata Bang Pongge berkaca-kaca. Entah bagaimana dirinya bisa meluruskan situasi yang rumit ini. Ada banyak hal yang sulit untuk di uraikan.
"Ya.. saya memang kasar dan tidak sebaik Alan. Saya memang tidak tau aturan dan tidak bisa sebaik Alan memperlakukan perempuan." Ucap Bang Pongge tak kalah sengit. Hatinya sakit karena tidak bisa mengarahkan emosinya.
Alan mendekati Dinara dan menggandeng tangannya.
Seketika itu juga amarah Bang Pongge mencuat. Ia menghantam wajah Bang Alan hingga terjadi perkelahian di dalam cafe. Bang Pongge yang sedang memakai seragam dinas langsung saja mendapatkan perhatian dari lingkungan sekitar.
...
plaaaakk..
Bang Pongge mendapatkan teguran keras dari Danyon. Menggunakan seragam dinas dan membuat keributan di muka umum merupakan tindakan tercela.
"Brutal sekali kamu Ge. Pelipis Alan sampai harus di jahit karena ulahmu. Sebenarnya ada apa denganmu Ge???? Alan sudah bilang kalau dia hanya bercanda menggoda istrimu. Abang tau dia juga salah tapi tidak seharusnya kamu menghantamnya. Dari cctv juga tidak ada yang berlebihan, hanya menyenggol tangan istrimu sebagai candaannya."
"Saya sedang tidak ingin menanggapi hal apapun Bang. Tolong jangan tanyakan hal apapun..!!" Pinta Bang Pongge.
"Tapi kamu harus meluruskan pemberitaan Ge. Banyak warga menyorot mu sebagai tentara dan suami yang buruk karena kasar dengan istrimu." Kata Danyon.
"Terserah orang mau bilang apa. Saya tidak peduli pandangan orang tentang saya, yang penting tidak ada orang yang mencaci maki istri saya." Jawab Bang Pongge kemudian pergi begitu saja tanpa berpamitan bahkan Bang Pongge membanting pintu ruangan Danyon dengan kasar.
Dari luar ruangan Bang Lanang mendengar semuanya, beliau menggeleng kepala gemas dengan kelakuan Bang Pongge. Juniornya itu sangat menyebalkan, terlalu kaku.. tidak seperti Alan yang penyabar dan lembut.
'Pantas Arra tidak betah, masa aku harus membiarkan adik ku menangis seumur hidup karena pria macam Pongge.'
:
Bang Lanang melihat Alan sedang di papah beberapa orang anggotanya. Hatinya terasa iba melihat Alan teraniaya karena sikap arogan Letnan Pongge. Teringat cerita Alan jika Pongge masih memiliki kekasih.
Secepatnya Bang Lanang beranjak lalu segera menemui Bang Pongge di ruangannya.
~
Terlihat wajah kaku dan garang seorang Letnan Pongge. Pria itu masih melamun sembari sesekali menghisap rokok yang masih ada setengah bagian. Panggilan telepon dari sang kekasih di abaikannya. Pikirannya hanya tertuju pada Dinara yang kini telah sah menjadi istrinya.
Di teguknya minuman keras yang menjadi larangan namun Bang Pongge melanggarnya. Hatinya sudah cukup pedih merasakan seluruh permasalahan dunia.
Bang Lanang masuk ke dalam ruangan Bang Pongge tanpa permisi. "Saya mau bicara..!!" Saat itu Bang Lanang melihat Bang Pongge menyimpan minuman di samping mejanya.
"Silakan Bang."
"Sekarang kau terang-terangan menunjukkan kebusukanmu ya Ge..!!" Cibir Bang Lanang mulai tidak respect dengan segala tingkah juniornya itu.
"Ada apa Bang? Ada arahan??" Jawab Bang Pongge masih tenang.
"Tanda tangani surat perjanjian ini. Lepaskan Arra setelah dia melahirkan. Jangan pernah kamu mengakui bahwa yang ada di dalam kandungannya adalah darah dagingmu..!!" Perintah Bang Lanang menyodorkan selembar kertas bermaterai.
"Saya menikahi Arra secara sah Bang dan saya tidak bersedia melepaskan Arra tanpa alasan yang jelas."
"Alasan yang tidak jelas??? Kamu selalu membuat Arra menangis, kamu kasar, selalu membentaknya, kamu juga masih punya kekasih. Apa belum cukup alasan itu??" Ucap tegas Bang Lanang, beliau sungguh tidak ikhlas adik perempuannya tersakiti. "Kamu bisa menghajar Alan membabi buta, bukan tidak mungkin kamu bisa menganiaya Arra. Lihat kelakuanmu.. minum-minuman keras. Berkelahi. Suami macam apa kamu??? Tidak bertanggung jawab dan tidak bisa mendidik."
Tak sungkan lagi Bang Pongge meneguk minumannya di hadapan kakak iparnya.
"Kau ini selalu bersujud tapi tetap kau teguk juga minuman haram itu." Cecar Bang Lanang lagi.
"Baik dan buruknya manusia itu urusan malaikat dan Tuhan." Jawab Bang Pongge. Tangannya mengambil kertas yang ada di hadapannya lalu merobeknya.
"Jangan keterlaluan kamu Ge. Saya tidak akan membiarkan hidup dengan pria bejad macam kamu..!!" Bang Lanang melayangkan bogem mentah tapi Bang Pongge masih bisa menahannya.
"Saya tidak suka beralasan hanya untuk membela diri. Jika manusia buta akan situasi, hanya Allah sebaik-baiknya penolong. Mungkin saya bukan suami yang baik untuk Arra, tapi saya tidak ingin terlihat baik hanya untuk menarik simpati. Abang pernah bilang selalu mengenal saya, jika memang Abang mengenal saya.. tentu Abang tau jawabannya."
Bang Lanang terdiam menatap mata juniornya, memerah dan penuh kepedihan. Jika seorang laki-laki bisa meneteskan air mata tentu ada permasalahan yang teramat pedih untuk di rasakan.
Hati Bang Lanang mendadak melunak. Ia membiarkan Bang Pongge bersandar padanya. Terlihat juniornya itu menahan perasaan yang mungkin sudah terlalu penuh untuk di rasakan.
"Sebenarnya ada apa sih Ge?? Abang bingung." Ia menjauhkan minuman keras saat Bang Pongge kembali mencarinya. "Jangan minum lagi. Cerita sama Abang..!!"
"Tolong percaya saya. Tidak ada sedikit pun niat saya untuk menyakiti Arra."
.
.
.
.
ayooo semangat Dinara minta sepedah listrik roda tiga kayak becak/Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm//Facepalm/