Tidak ada satu pun wanita di dunia ini yang berharap rumah tangganya hancur. Semua wanita akan mengharapkan rumah tangga yang berjalan mulus dan tetap utuh.
Begitu pula dengan Renata, wanita itu mencoba untuk mempertahankan rumah tangganya dengan sekuat tenaga. Menahan sakit caci maki dari mertua, dan juga sakit akibat perlakuan suaminya.
“Apa dengan bersetubuh dan menikah secara diam-diam dengan wanita lain. Baru itu tindakan yang benar? Apa seperti itu, huh, Baji*ngan?!”
Akan tetapi, dia menyerah, saat hadir sosok orang ketiga yang tiba-tiba sudah menjadi madunya. Hatinya sakit, hancur, dan dia pun memberontak, menjadi berani demi mendapat keadilan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon my_el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jalan Keluar
Malam itu berlalu dengan sendirinya. Tanpa suara tanpa kata. Seolah tidak terjadi hal apa pun. Hanya hening dengan pikiran masing-masing yang sama-sama bising.
Keadaan rumah itu semakin dingin tak tersentuh. Padahal ada sepasang suami istri dan satu anak kecil yang menghuninya. Namun, bagaikan tak saling kenal, membuat keadaan rumah itu sepi. Cuma suara celoteh dari Ghea yang menjadi satu-satunya suara yang hidup di rumah itu.
Berhari-hari seperti itu. Bukan Renata tidak mau bertegur sapa dengan sang suami. Akan tetapi, sikap Bagas yang sampai saat ini tak kunjung terbuka membuat dirinya maju mundur untuk berbicara.
Renata cuma tidak ingin mengusik Bagas lagi dan berakhir ribut. Dia sekarang cukup mengerti untuk tidak mengganggu suaminya itu saat memang tidak ingin diganggu. Namun, tenggat waktu untuk bayar cicilan rumah sudah di depan mata.
Bohong rasanya kalau dia tidak khawatir, setelah tahu jika suaminya sedang kesusahan. Terlebih watak suaminya yang keras dan memiliki ego yang sangat tinggi itu sangat mempertahankan harga dirinya di hadapannya. Padahal dia adalah istrinya, bukan orang lain. Entah dari mana nanti suaminya itu akan mendapat tambahan uang, jika tak kunjung mau berbicara padanya.
“Ma ... ma. Mamam,” celoteh Ghea membuat Renata tersadar dari lamunannya.
Wanita itu tersenyum, menundukkan kepalanya dan memakan biskuit yang disodorkan anaknya itu. “Pinter sekali anak Mama. Terima kasih,” ucap Renata gemas.
Ghea mengangguk dengan tertawa lucu menampilkan giginya yang belum sepenuhnya tumbuh. Sedikitnya tawa dan tingkah Ghea menjadi penyembuh di segala kesulitannya.
...****************...
Sejak pulang dari kantor, wajah Bagas terlihat keruh. Pundak yang biasanya selalu tegap itu kini melemah, lesu. Kentara sekali jika pria itu sedang memikul beban yang tak ringan. Helaan nafas panjang selalu dia keluarkan. Sang anak yang mencoba mencari perhatiannya pun, tak digubrisnya. Hanya sesekali dia menoleh ke sang anak untuk memastikan anaknya masih dalam keadaan aman bermain di dekatnya.
Semua itu tidak luput dari pandangan Renata. Setelah semuanya pekerjaan rumahnya selesai dia lakukan. Tanpa basa-basi wanita itu membawa anaknya ke dalam kamar untuk dia tidurkan. Karena kini waktu sudah semakin larut.
Renata menutup pintu kamar anaknya dengan hati-hati. Setelah mengecek berulang jika Ghea sudah benar-benar terlelap dalam tidurnya. Lantas wanita itu menghembuskan nafas beratnya untuk menyeret paksa kakinya menuju tempat suaminya berada.
Masih dalam keadaan yang sama. Suaminya itu masih terlihat sibuk dengan pikirannya sendiri. Akhirnya setelah cukup yakin. Renata menekan egonya untuk lebih dulu menegur sang suami.
Elusan hangat Renata salurkan ke pundak Bagas yang sontak membuat pria itu tersentak kecil dan menoleh ke Renata dengan wajah linglungnya.
Renata tersenyum lembut dan mengambil duduk di sebelah suaminya. “Maaf, aku ganggu kamu lagi,” ucapnya dengan menatap suaminya lembut.
Mendapat perlakuan lembut dan ucapan maaf yang tulus dari sang istri membuat ego Bagas seketika runtuh. Rasa bersalah sejak beberapa hari yang lalu kepada istrinya semakin menjalar di hati pria itu. Namun, kali ini dia tidak akan lagi menjadi pria pengecut dengan menghindari istrinya..
Lantas, Bagas pun menatap wajah sang istri dengan tak kalah lembut. Kedua matanya menyorot ke dalam kedua bola mata sang istri yang menampakkan kerinduan, dan rasa bersalah yang sama dengan dirinya.
“Maaf, aku salah. Sebagai kepala keluarga, seharusnya aku harus bisa berpikir lebih dewasa,” ucap Bagas dengan menyentuh pipi Renata dengan lembut.
Renata semakin menarik lebar senyumannya. Tangannya pun dia tuntun untuk menggenggam tangan sang suami yang kini ada di pipinya. “Kita sama-sama salah. Komunikasi kita memang sangat buruk,” sanggah Renata yang diangguki oleh Bagas.
“Lalu, bisakah sekarang, Mas untuk bercerita. Hal apa yang membuat suamiku ini duduk termenung dengan wajah yang keruh?” Renata mencoba peruntungan dengan memancing suaminya.
Bagas menghela nafas, kemudian kembali menatap istrinya dan tersenyum. “Kamu pintar sekali membuatku luluh, Sayang. Dan aku rasa tidak buruk, jika kamu tahu masalah ini,” ucap Bagas sedikit terkekeh.
Renata mengangguk setuju dengan ikut terkekeh. “Aku akan dengerin keluh kesah kamu, Mas. Bukankah itu gunanya seorang istri? Untuk mendengarkan suaminya dan saling mensupport satu sama lain,” sahutnya dengan dewasa.
“Hm. Kamu benar, Sayang.” Bagas lagi-lagi setuju dengan ucapan istrinya. Sejenak dia meminum kopi yang sebelumnya dibuatkan oleh Renata dan kembali memandang istrinya itu untuk berbicara.
“Di kantor ada masalah keuangan yang dilakukan oleh bawahanku. Sialnya, bawahanku itu sudah berhenti sejak beberapa bulan yang lalu. Itu keteledoran aku juga karena tidak teliti, membiarkan karyawan itu berhenti begitu saja hingga menimbulkan masalah sekarang,” jelas pria itu dengan kesal. Renata hanya diam tak berkomentar, menunggu suaminya itu selesai dengan ceritanya.
Bagas kembali menghembuskan nafas berat. “Dan karena masalah itu juga, aku sebagai ketua di divisi keuangan harus bertanggung jawab akan kerugian itu. Selama tiga bulan ke depan, mau tidak mau gaji aku harus ke potong,” terangnya lagi dengan tertunduk lesu.
Kali ini Renata yang menghela nafas lelah, kemudian mengelus pelan punggung suaminya. Berharap akan suaminya bisa bertahan dan kuat dalam menjalani ujian rumah tangga ini.
“Jadi ... ini alasan, Mas, sampai pinjam uang ke Mama dan Papa?” tanya Renta pelan.
Hal itu sontak membuat Bagas menegakkan tubuhnya, terkejut, menoleh ke sang istri yang masih memamerkan senyum lembutnya. Pria itu jadi teringat ke malam, kepulangannya dari kediaman orang tuanya. Di mana saat itu sang istri tengah menangis pilu tanpa dia tahu penyebabnya.
Bodohnya lagi saat itu dirinya tidak peduli akan keadaan Renata. Dirinya berlalu begitu saja untuk beristirahat di kamar. Pria itu semakin merasa tertampar, bersalah karena tidak becus menjadi seorang suami.
“Kamu tau dari mana? Padahal, Mas baru cerita sekarang,” tanya pria itu dengan cemas.
“Dari Mama,” jawab sang istri dengan tenang. “Mama nelfon aku, dan bilang kalau kamu ke sana untuk meminjam uang," imbuhnya.
"Mama marahin kamu?” tanya Bagas dengan semakin khawatir.
Renata menggeleng kecil. “Mama hanya bilang tujuan kamu ke sana dan ... sedikit nasehat seorang ibu ke anaknya,” ungkapnya jujur.
“Benar begitu?” Bagas lagi-lagi bertanya dengan tatapan menyelidik. Yang hanya diangguki tegas oleh Renata.
Karena memang benar bukan, jika mertuanya itu menasihati dirinya. Ya, meskipun dengan nada yang sedikit tinggi dari ibu pada umumnya.
“Lalu, kenapa Mas gak bilang ke aku tentang masalah kantor? Dan pergi sendiri ke rumah Mama dan Papa, terlebih Mas ke sana untuk meminjam uang?” tanya Renata mengalihkan topik ke semula.
“Aku malu ke kamu, Ren. Keadaan saat itu, kita lagi canggung. Aku belum minta maaf juga ke kamu. Akan tambah malu, jika aku sebagai kepala rumah tangga ngeluh uang ke kamu,” jelasnya lirih.
Benar dugaan Renata, suaminya itu pasti mempertahankan egonya yang tinggi. Padahal, dirinya tidak akan mempermasalahkan hal itu.
“Aku istri kamu, Mas. Kita sudah melihat luar dan dalam masing-masing. Bahkan, kita sudah saling menyatukan. Masalah ini, sudah sewajarnya aku tahu dan ikut membantu. Karena ini masalah bersama, tentang keluarga kecil kita. Rumah ini, aku juga ikut nempatin. Dan gaji kamu, aku juga ikut menikmatinya. Jadi, jika kamu sedang berada di bawah seperti ini, sebisa mungkin aku akan membantu atau memberi saran,” terang Renata panjang lebar membuat Bagas tertegun, merasa tertampar berkali-kali, karena ucapan Renata yang benar adanya.
“Aku gak bakalan diam saja, dan membiarkan kamu mengambil alih semuanya, karena kamu seorang suami. Enggak! Gak gitu, Mas. Rumah tangga ini yang menjalani dua orang, sudah keharusan untuk saling bahu membahu agar tetap berjalan beriringan sampai ke tujuan,” lanjutnya dengan sedikit menyendu terbawa perasaan emosionalnya.
Bagas pun membawa Renata ke dalam pelukannya. Mengelus lembut surai hitam sang istri, dengan sedikit kecupan ringan di puncak kepala sang istri. Pria itu tak berhentinya bersyukur di dalam hati, mendapat seorang istri selembut dan sebijak Renata.
“Makasih, ya, Sayang. Untuk tetap bertahan, dan menerima kekurangan aku. Dan tidak bosan untuk menyadarkan aku,” ungkapnya dengan lirih.
"Iya sama-sama, Mas. Oh iya—“ ucap Renata terhenti dan mengurai pelukan suaminya. “Pakai uang tabungan aku aja, ya, Mas, untuk bayar cicilan bulan ini,” usulnya dengan penuh harap.
“Apa tidak apa-apa?” Bagas berucap ragu.
Renata tersenyum dengan menggenggam tangan sang suami dengan lembut. Lantas mengelusnya penuh kasih sayang. “Tentu tidak apa-apa. Kita adalah suami istri. Pakai semua tabunganku untuk menutupi cicilan rumah, ya,” tuturnya lagi.
Bagas menghela nafas pasrah dan mengangguk. “Baiklah. Tapi ... tidak semuanya. Biar tabungan kamu itu untuk pegangan kamu sewaktu-waktu, ok. Mas tidak mau dibantah,” putus Bagas mutlak saat istrinya itu hendak menyelanya. Hingga wanita itu pun mengangguk lemas, menyetujui keputusan Bagas.
aku harus nyetok kesabaran juga nih bacanya 🥲