Dendam masa lalu menuntut balas. Seorang musuh besar mengincar putri tunggal sepasang pembunuh bayaran legendaris gadis yang telah dilatih menjadi "Ratu Kematian". Namun, rencana itu membentur dinding tebal. Peladen data sekolah elite SMA Garuda Bangsa dilindungi enkripsi militer ketat, menyembunyikan identitas sang target di balik kabut digital.
sementara target baru memulai tahun ajaran baru, sistem mendeteksi enam siswi baru di kelas X-A yang datanya terkunci total. Demi memastikan dendamnya terbalas, sang musuh nekat menculik keenam gadis itu.
Disekap di dalam palka kapal kargo yang gulita, enam gadis asing berbalut almamater merah marun ini terpaksa menekan ego mereka. Insting predator mereka menyatu, mengubah tempat penyekapan menjadi ladang pembantaian demi merebut kembali kebebasan. Malam itu, adalah awal mula The Elite akan terbentuk.
apakah Mereka mampu mempertahankan the elite karna status mereka yang cukup tak biasa?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zayyana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Labirin Kaca Lajur Tengah
Sementara keributan kecil terjadi di barisan belakang antara Aleyna dan Camellia, Pak Sutan melanjutkan pembagian kursi untuk lajur tengah. Kali ini, ketegangan psikologis berpindah ke area yang lebih dekat dengan papan tulis.
"Selanjutnya... Fyrline dan Miya. Kalian berdua menempati meja nomor tiga di lajur tengah," perintah Pak Sutan sembari menandai denah kertasnya dengan pena hitam.
Fyrline Zyornaland yang sejak tadi duduk dengan tenang di posisinya, perlahan merapikan buku sastra tebalnya. Dia membetulkan letak kacamata baca berbingkai tipisnya dengan gerakan ujung jari yang sangat anggun. Di balik lensa bening itu, matanya yang memiliki tatapan sangat tajam melirik ke arah Miya Fynezayn yang sedang berjalan mendekati meja baru mereka.
Miya melangkah dengan keanggunan seorang bangsawan internasional. Tinggi tubuhnya yang seratus tujuh puluh sentimeter dan proporsi tubuh body goals-nya membuat seragam sekolah biasa tampak seperti pakaian peragaan busana. Rambut pirang ikalnya yang disanggul modern bergerak dinamis mengikuti irama langkah kakinya yang konstan dan berwibawa.
"Permisi," ucap Miya dengan aksen luarnya yang kental saat dia menarik kursi di sebelah kiri Fyrline. Dia meletakkan tas jinjing mahalnya ke atas meja dengan hati-hati, seolah-olah meja kayu sekolah itu terlalu kasar untuk menyentuh barang kulitnya.
"Silakan," sahut Fyrline dengan nada suara yang sangat lembut, ramah, dan penuh dengan kepalsuan yang menenangkan. Dia menggeser tumpukan bukunya ke sisi kanan meja, memberikan ruang yang cukup lapang untuk Miya. "Namaku Fyrline. Salam kenal ya."
Miya menoleh, menatap Fyrline selama dua detik dengan pandangan birunya yang sedingin es, mencoba menganalisis motif di balik keramahan gadis kutu buku di sampingnya ini. "Miya. Salam kenal," jawabnya pendek, suaranya terdengar berjarak dan penuh wibawa, membatasi diri agar tidak terseret dalam percakapan remaja lokal yang membosankan.
Fyrline kembali tersenyum manis, lalu menundukkan kepalanya untuk melanjutkan membaca bukunya. Namun, di balik kepalanya yang tertunduk, otak manipulator Fyrline sedang bekerja dengan analisis yang sangat presisi.
Dari jarak sedekat ini, Fyrline bisa mencium bau antiseptik militer yang samar dari tubuh Miya dengan lebih jelas sebuah bau yang sangat dia kenali dari markas sindikat pembunuh bayaran tempat dia dibesarkan oleh Tante Maya. Selain itu, cara jemari Miya mengetuk layar tablet elektroniknya menunjukkan ritme yang biasa digunakan oleh para ahli sandi saat mengetik kode enkripsi, bukan ritme mengetik remaja biasa yang sedang bermain media sosial.
"Gadis pirang ini bukan sekadar anak ekspatriat kaya," gumam Fyrline di dalam hatinya, jemarinya di bawah meja secara tidak sadar meraba letak jarum beracun mikronya yang tersembunyi di balik lipatan rok seragam. "Dia memiliki latar belakang taktis yang sangat kuat."
Miya sendiri tidak tinggal diam. Sembari berpura-pura memeriksa berkas digital sekolah di tabletnya, matanya yang tajam menyapu detail fisik Fyrline dari pantulan layar kaca tablet yang gelap. Dia memperhatikan kerapian sanggul rambut Fyrline—begitu kencang dan presisi, jenis tataan rambut yang sengaja dibuat agar tidak mengganggu pandangan mata saat seseorang harus melakukan gerakan bertarung intensitas tinggi. Dan yang paling mencurigakan adalah ketenangan napas Fyrline; di tengah kelas yang bising dengan suara murid-murid lain, detak napas Fyrline tetap konstan di angka enam puluh embusan per menit sebuah kontrol emosi tingkat tinggi yang hanya dimiliki oleh para profesional terlatih di dunia bawah tanah.
"Gadis kutu buku ini... dia menyembunyikan sesuatu yang sangat besar di balik kacamata itu," pikir Miya, logat asingnya bergema di dalam kepalanya sendiri saat dia menaikkan benteng pertahanan dirinya lebih tinggi lagi.
Kedua gadis itu kini duduk berdampingan di meja nomor tiga lajur tengah, dipisahkan oleh jarak kurang dari tiga puluh sentimeter, namun dipisahkan oleh dinding tak kasat mata yang sangat tebal. Mereka saling mengasingkan diri di tengah kerumunan dunia atas yang berkilau di sekitar mereka. Tidak ada lagi dialog yang keluar dari bibir mereka setelah perkenalan singkat tadi. Mereka berdua fokus pada diri mereka masing-masing, mengamati pergerakan dari sudut mata.