NovelToon NovelToon
Cinta Terakhir Sang Kolonel

Cinta Terakhir Sang Kolonel

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Mengubah Takdir
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: Wahyuni Shalina

Dulu, demi ambisi karier militer, Kolonel Victor melepaskan Ayu, cinta sejatinya. Lima tahun berlalu dalam penyesalan, takdir seolah mempermainkan Victor saat keluarganya justru mualaf setelah Ayu telanjur menikah dengan pria lain.

Dipertemukan kembali dalam satuan Markas Militer yang sama. Victor harus menelan pil pahit melihat Ayu yang kini begitu anggun berhijab dan setia pada suaminya.

Namun, takdir tidak pernah benar-benar berhenti berputar. Lalu, sebuah masalah besar telah terjadi. Ketika pertemuan dadakan yang tak pernah Victor bayangkan membuatnya berpikir.

Akankah ini menjadi kesempatan kedua bagi Victor untuk menebus dosa masa lalunya? Sanggupkah ia meruntuhkan benteng hati Ayu yang terlanjur mati rasa akibat kekecewaan masa lalu? Ataukah Victor harus mengikhlaskan bahwa beberapa dermaga memang hanya diciptakan untuk disinggahi, bukan untuk menjadi pelabuhan terakhir?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Wahyuni Shalina, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 13: RETAKNYA SEBUAH PERISAI IMAGINER

Entah sudah menunjukkan pukul berapa jarum jam dinding di ruang tengah saat Ayu akhirnya terbangun. Ketika ia perlahan membuka sepasang kelopak matanya yang terasa sangat berat dan membengkak akibat tangisan semalam, seberkas cahaya matahari yang terik menerobos masuk dengan lancang melalui celah-celah ventilasi jendela kamar. Ini jelas bukan pagi lagi hari rupanya sudah berganti siang. Kelelahan fisik yang luar biasa setelah semalaman penuh terjaga, ditambah dengan guncangan emosional yang hebat, telah memaksa tubuh Ayu untuk beristirahat secara paksa melebihi jam biologis biasanya.

Namun, begitu kesadarannya terkumpul sepenuhnya, hal pertama yang menyambut indra penglihatannya adalah sebuah pemandangan yang paling indah di dunia. Arkan, putra kecilnya, sudah terbangun entah sejak jam berapa. Anak itu duduk dengan tenang di samping posisi Ayu berbaring, menatap wajah ibunya sembari menyunggingkan sebuah senyuman polos yang sangat manis dan bersih.

Ayu yang masih setengah linglung segera mengulurkan tangan kanannya, menempelkan punggung tangannya dengan lembut di atas dahi serta leher Arkan untuk mengecek suhu tubuh sang anak. Detik itu juga, ada rasa lega yang teramat besar menyeruak di dada Ayu ketika merasakan kulit putranya tidak lagi membakar, suhu tubuh Arkan sudah benar-benar kembali ke batas normal.

Melihat ibunya sudah terjaga, Arkan dengan manja langsung menghamburkan tubuh mungilnya ke depan, memeluk erat-erat leher Ayu dengan kedua lengan kecilnya. Ayu membalas pelukan itu tidak kalah erat. Di dalam posisi yang masih saling merebahkan diri di atas ranjang dinas yang sederhana, mereka berdua tenggelam dalam momen kebersamaan yang sunyi antara ibu dan anak.

Sembari mengelus lembut rambut hitam Arkan yang halus dan menghirup aroma sisa minyak telon yang menenangkan, pikiran Ayu mendadak kembali melayang, mengembara ke peristiwa beberapa jam yang lalu. Bayangan sosok Kolonel Victor kembali merajai benaknya. Ayu menghela napas panjang di dalam hati, bagaimana bisa pria itu sama sekali tidak berubah sedikit pun setelah lima tahun berpisah? Victor masih saja tetap sama seperti dulu—pria yang dominan, memiliki kepercayaan diri yang luar biasa tinggi, sedikit nakal, dan selalu suka menggoda sekaligus memojokkan Ayu hingga tak berkutik dengan kalimat-kalimatnya yang sarat akan pesona intimidatif.

Dan benar saja, mengingat bagaimana telisik tajam pertanyaan Victor subuh tadi mengenai suaminya, Ayu mulai menyadari sebuah fakta baru. Sepertinya, Victor memang sudah membaca seluruh situasi domestiknya dengan sangat akurat. Pria itu, dengan segala kekuatan jaringan komandannya, kemungkinan besar telah mencari tahu dan menyelidiki seluk-beluk kisah kehidupan rumah tangga Ayu selama ini dari balik layar. Victor tahu ada yang tidak beres dengan status pernikahan Ayu yang tampak sempurna di luar namun keropos di dalam.

Ting!

Suara denting nyaring dari ponsel Ayu yang tergeletak di atas meja nakas mendadak memecah keheningan kamar, sekaligus membuyarkan seluruh lamunan panjangnya. Ayu perlahan melepaskan pelukan Arkan, memberikan kecupan singkat di pipi gembul putranya sebelum akhirnya meraih gawai tersebut.

Begitu layar ponsel menyala, sebuah notifikasi pesan singkat berbasis enkripsi rahasia tampak masuk dari salah satu nomor asing. Itu adalah pesan dari anak buahnya—beberapa pasang mata-mata terpercaya yang secara mandiri ia bayar dan tempatkan di ibu kota bagian timur untuk mengawasi pergerakan suaminya. Ayu membuka pesan itu dengan perasaan yang mendadak tidak enak. Jantungnya kembali berpacu cepat.

Isi pesan tersebut berupa sebaris laporan teks yang dilengkapi dengan beberapa lampiran foto digital beresolusi tinggi. Begitu membaca baris demi baris laporan tersebut, seluruh persendian tubuh Ayu seolah melosot runtuh seketika. Kenyataan yang tertulis di sana jauh lebih kejam daripada badai demam Arkan semalam.

Ternyata, alasan mengapa suaminya sama sekali tidak mengangkat puluhan panggilan darurat dari Ayu semalam bukan karena pria itu sedang sibuk bekerja atau melayani pasien di bagian administrasi rumah sakit pusat. Suaminya sama sekali tidak mengambil dinas malam di kantornya. Sebaliknya, pria sipil yang masih menyandang status legal sebagai kepala rumah tangga Ayu itu justru tengah menghabiskan malam di salah satu hotel bintang empat di pusat kota, tampak berjalan dengan sangat mesra sembari bergandengan tangan erat dengan seorang wanita.

Ayu memperbesar (zoom-in) lampiran foto yang dikirimkan oleh mata-matanya. Begitu wajah sang wanita terlihat jelas, dada Ayu laksana dihantam oleh palu gada yang sangat besar. Ya, wanita di dalam foto itu adalah sosok yang sangat Ayu kenal di masa lalu, dia adalah mantan kekasih suaminya sendiri sebelum pernikahan mereka digelar.

Wanita yang dulu, beberapa minggu setelah pernikahan Ayu, pernah secara terang-terangan mendatangi Ayu dengan penuh keberanian, memaki-makinya, dan mengatakan dengan suara lantang bahwa Ayu adalah seorang wanita egois yang telah merusak segalanya, karena pada saat itu suami Ayu sebenarnya masih berstatus sebagai sepasang kekasih yang saling mencintai namun terpaksa terpisah akibat perjodohan antara dua keluarga.

Lagi dan lagi, Ayu merasa jantungnya seperti ditusuk oleh sebilah pedang yang sangat tajam dan berkarat. Rasa sakitnya begitu menghujam hingga membuat napasnya sesak. Pertahanan diri yang ia rawat dengan kepura-puraan bahwa suaminya adalah pria baik-baik kini hancur berkeping-keping tanpa sisa. Haruskah ia mengakhiri semua sandiwara pernikahan gila ini?

Namun, kejutan pahit dari laporan mata-matanya tidak berhenti sampai di situ. Kalimat berikutnya di dalam pesan tersebut justru menjadi hantaman telak yang benar-benar menamatkan seluruh riwayat pertahanan emosional Ayu. Sang informan menuliskan sebuah fakta hukum yang mengerikan, bahwa suami Ayu dan wanita masa lalunya itu rupanya sudah lama melangsungkan pernikahan secara siri di bawah tangan, dan dari hubungan gelap yang disembunyikan tersebut, mereka kini telah dikaruniai seorang anak kecil berjenis kelamin laki-laki yang usianya baru menginjak hampir satu tahun.

Tamatlah sudah. Segala narasi indah, kebanggaan semu, dan perisai imaginer yang selama ini Ayu bangun mati-matian di hadapan rekan-rekannya—bahwa ia memiliki rumah tangga yang harmonis dan natural—hari ini resmi runtuh dan hancur lebur menjadi abu. Kenyataan bahwa suaminya telah membangun komitmen suci lain di belakangnya, bahkan telah memiliki darah daging dari wanita lain, membuat harga diri Ayu sebagai seorang wanita sekaligus seorang perwira intelijen Kowad terinjak-injak sampai ke titik nadir paling dalam.

Dengan sekuat tenaga yang tersisa, Ayu mencoba mengendalikan ekspresi wajahnya di depan Arkan. Ia tidak ingin putra kecilnya yang baru saja sembuh melihat kehancuran batin ibunya. Ayu memaksakan sebuah senyuman tipis, lalu mengusap kepala Arkan dengan lembut.

"Arkan... Ibu ke toilet sebentar, ya? Ibu mau buang air kecil dulu, sayang. Arkan main di atas kasur dulu sebentar, oke?" ucap Ayu dengan nada suara yang diusahakan tetap stabil, meski kerongkongannya terasa sangat tercekat.

"Iya, Ibu," sahut Arkan polos, kembali memainkan ujung selimutnya.

Ayu segera bangkit berdiri dari ranjang, melangkah dengan setengah berlari menuju kamar mandi kecil yang terletak di sudut kamar. Begitu kedua kakinya menapak di dalam toilet, Ayu langsung menutup pintu kayu itu dengan rapat dan memutar grendel kuncinya hingga berbunyi klik.

Seketika itu juga, pertahanan dirinya ambruk total. Tubuh tegap Ayu merosot pasrah di atas lantai keramik toilet yang dingin. Ia menekuk kedua lututnya, menyembunyikan wajahnya di sana, dan mulai menangis dengan sejadi-jadinya. Seluruh tubuhnya terguncang hebat oleh luapan rasa sakit, amarah, kecewa, dan kehinaan yang luar biasa. Namun, sebagai seorang wanita yang sadar bahwa ada anaknya yang sedang menunggu di luar, Ayu mati-matian membekap mulutnya sendiri menggunakan kedua telapak tangan. Ia terisak dengan suara yang tertahan di tenggorokan, menghasilkan suara rintihan pilu yang sangat menyedihkan di dalam kesunyian kamar mandi.

Dosa apa yang telah hamba perbuat di masa lalu, ya Tuhan? jerit Ayu di dalam hatinya yang hancur, menatap langit-langit toilet dengan pandangan yang kabur oleh air mata. Kenapa ujian hidup dan pengkhianatan ini datang bertubi-tubi seperti tiada hentinya menghantam kehidupanku?

Kenyataan pahit ini seolah menjadi pembenaran nyata atas sebuah pepatah kuno yang mengatakan bahwa sepandai-pandai menyimpan bangkai, lambat laun baunya akan tercium juga, dan sepandai-pandai seseorang merajut kepalsuan di atas penderitaan orang lain, takdir pada akhirnya akan merobek rajutan itu dengan cara yang paling menyakitkan.

Ayu kini harus menerima kenyataan bahwa istana pasir yang ia bangun dengan kebohongan demi sebuah kata "sempurna" di mata manusia, kini telah tersapu bersih oleh ombak kebenaran, menyisakan dirinya yang berdiri telanjang di atas puing-puing kehancuran harga diri yang tak lagi memiliki arti.

1
Deuis Lina
tentunya punya jurus terakhir ya komandan rencana A gagal pasti ada rencana B
Deuis Lina
duh Arkan kamu bahagianya punya ayah besar yg sangat menyayangi mu
Deuis Lina
wah kekuasaannya keluar tuh ayah besar,,
Deuis Lina
lanjuut
Deuis Lina
makasih upnya
Deuis Lina
aku kasih vote mingguannya kak,,semangat teruuus
Deuis Lina: sama2 kak
total 2 replies
Deuis Lina
mengandung bawang banget ceritanya
Deuis Lina
lanjuuut
Deuis Lina
ayu oh ayu,,,
Deuis Lina
lanjuut,,
Deuis Lina
lanjuut,,
Deuis Lina
kayaknya ada yg senyum merekah nih,,,
Deuis Lina
lanjuut
Deuis Lina
berbalik lah karena ada laki laki yg lebih tulus mencintaimu ayu
Deuis Lina
CLBK ya Bu Intel buang suami yg tak mencintaimu
Deuis Lina
terlalu menyesakan dada bacanya kak,🤣🤣🤣🤣
Deuis Lina
Hem,,
Deuis Lina
kejar lagi bang Victor,,
Deuis Lina
kejar lagi bang Victor,
Deuis Lina
nyesek sekali bacanya,,,
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!