Dunia ini gila? Mungkin benar. Tapi kalau sudah begini, aku mending ikutan gila saja daripada pusing sendiri. Ikuti kisah konyol Bima dan kawan-kawan yang hidupnya selalu diisi kejadian tak terduga dan kelakuan yang bikin ketawa terus!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon WA_19019, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
MAU BERES-BERES,MALAH DISERANG AIR
Sudah beberapa hari masuk bulan puasa, suasana di kantor jadi agak tenang tapi tetap rame obrolannya. Pagi itu udara masih sejuk, matahari baru naik sebentar.
Pak Harun datang sambil bawa kain lap dan ember kosong. “Hari ini kita beres-beres kantor sekalian ya. Sudah agak berdebu, apalagi habis dipakai acara buka puasa kemarin. Cukup sapu, lap, dan siram tanaman saja, gampang kok.”
“Siap! Pasti beres cepat,” jawab Ojak semangat, padahal dalam hati sudah terasa bakal ada saja kelakuannya.
Kami bagi tugas:
• Aku & Ojak: Sapu lantai, siram tanaman
• Nina & Kak Dedi: Lap meja, kaca, susun barang
• Pak Joko: Cek selang air dan saluran pembuangan
Awalnya lancar-lancar saja. Nina dan Kak Dedi sibuk melap kaca yang agak buram kena debu, sebentar saja kelihatan lebih terang dan bersih.
“Nah, begini kan enak dilihatnya,” kata Nina sambil mengelap keringat di dahi.
Sementara itu aku dan Ojak sudah siap dengan selang air panjang buat menyiram tanaman. Pak Joko nyalakan keran, air langsung mengalir deras.
“Gampang nih, tinggal arahkan saja ke tanamannya,” kata Ojak sambil memegang ujung selang dengan percaya diri.
Tapi percayalah, kalau Ojak yang pegang sesuatu, pasti ada saja ulahnya. Baru beberapa menit, tiba-tiba ujung selang terlepas dari genggamannya karena licin kena air.
Air menyembur ke mana-mana ke rumput, ke tembok, dan yang paling parah langsung menyemprot ke jendela tempat Nina dan Kak Dedi sedang bekerja!
“Waduh! Hati-hati dong!” teriak Nina sambil melompat mundur, bajunya kena cipratan sampai basah sebagian.
Kak Dedi juga kaget, kain lapnya terlempar jatuh ke lantai yang langsung jadi becek.
Ojak panik sendiri, berusaha menangkap ujung selang yang melesat ke sana kemari kayak ular air.
“Maaf! Maaf! Licin genggamannya nih!” teriaknya sambil berusaha menahan semburan.
Untung aku cepat tanggap, langsung matikan keran. Semburan berhenti, tapi sekarang halaman depan jadi basah merata, ada genangan air di beberapa tempat, dinding juga ikut basah semua.
“Lihat kan? Katanya gampang, malah bikin banjir nih,” kata Pak Joko sambil datang, kepalanya geleng-geleng tapi sambil ketawa melihat kejadian itu.
Belum selesai soal air, giliran saluran pembuangannya yang ikut rewel. Pak Joko lihat air gak surut-surut, malah makin menggenang. Dicek, ternyata lubangnya tersumbat daun kering dan sampah kecil.
“Wah, ini penyebabnya. Kalau gak dibersihkan, nanti malah merembes masuk ruangan dalam,” katanya sambil jongkok dan mencungkil sumbatan pakai tongkat.
Karena posisinya agak canggung, dia terlalu condong ke depan. Tiba-tiba kakinya terpeleset di lantai yang licin, badannya terhuyung, dan tangannya yang pegang tongkat nyemplung sedikit ke dalam lubang. Untung gak jatuh sepenuhnya, tapi bajunya jadi kotor lumpur dan basah kuyup.
“Ya ampun… ini namanya bersih-bersih jadi kotor sendiri ya,” keluhnya sambil berdiri lagi, wajahnya terlihat lucu sekali.
Setelah itu kami semua bekerja lebih hati-hati. Aku bantu buka sumbatan saluran sampai air lancar mengalir, Ojak dengan malu-malu menyapu genangan air, Nina dan Kak Dedi mengganti kain lap yang kotor, dan Pak Joko berganti baju sebentar.
Butuh waktu lebih lama dari rencana, tapi akhirnya kantor jadi lebih bersih, segar, dan rapi kembali.
Pak Harun datang memeriksa hasilnya, lalu ketawa mendengar ceritanya. “Wah,beres-beres dapat kejadian seru. Tapi yang penting akhirnya beres juga, kan?”
Sore harinya, seperti biasa Sari dan Rara lewat dan singgah sebentar. Begitu dengar ceritanya, mereka berdua ketawa sampai terbahak-bahak.
“Wah, beres-beres kantor jadi seperti kena hujan deras sendiri! Ojak kalau pegang air memang selalu ada saja kelakuannya ya!” goda Rara sambil mencatat lagi di buku ceritanya.
Sari menimpali sambil tersenyum: “Tapi seru juga kan? Kalau semuanya mulus terus, mana ada cerita yang lucu begini.”
Aku cuma mengangguk sambil duduk santai, dalam hati berpikir:
Ternyata hal sesederhana bersih-bersih pun bisa penuh kejadian ya. Mulai dari selang yang lepas sampai Pak Joko yang hampir tergelincir. Tapi justru di situ senangnya setiap pekerjaan, sekecil apa pun, selalu ada saja hal yang bikin kita ketawa dan mengingatnya lama-lama.