NovelToon NovelToon
Jerat Nurani

Jerat Nurani

Status: sedang berlangsung
Genre:Transmigrasi
Popularitas:370
Nilai: 5
Nama Author: Si tupai yang merokok

Hino dijebak obat oleh Irmi, kenyataannya Hino sudah punya istri bernama Erni. Bagaimana nasibnya, apakah cerai atau mati?.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Si tupai yang merokok, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 10. Hitungan Di Atas Ranjang

Lampu neon di gudang belakang gerai minimarket berkedip-kedip, melemparkan bayangan samar pada tumpukan kardus barang pasokan yang belum sempat ditata. Hino duduk di atas kursi plastik patah, menyandarkan kepalanya yang terasa berat pada dinding semen yang dingin. Jam di dinding gudang menunjukkan pukul sebelas malam, satu jam sebelum toko resmi ditutup. Di tempat sepi inilah, setiap kali audit toko selesai, pikiran Hino selalu merangkak mundur ke malam jahanam satu bulan yang lalu.

Ia mencengkeram rambutnya sendiri, didera rasa sesal yang terus menggerogoti dadanya hingga sesak. Hino mengingat dengan jelas bagaimana rasa lelahnya malam itu dimanfaatkan oleh Irmi. Segelas jamu tradisional yang disuguhkan sang bos dengan dalih penambah stamina setelah shift malam, ternyata menjadi awal dari runtuhnya seluruh hidupnya. Hino mengutuk kelalaiannya sendiri. Mengapa ia tidak menolak? Mengapa ia membiarkan dirinya terjebak dalam kehangatan sesaat di lantai dua kontrakan, sementara di lantai bawah, Erni sedang tidur pulas setelah seharian memeras keringat menjadi pembantu panggilan?

Sekarang, nasi telah menjadi bubur yang berlumur darah. Erni yang hamil dua bulan mendadak berubah menjadi sosok asing yang dingin dan penuh tuntutan, sementara rahim Irmi yang juga menginjak usia dua bulan terus mengunci kebebasannya sebagai kepala toko. Jerat ini terlalu kencang untuk pria yang tidak memiliki modal apa pun selain tenaganya.

"Hino, laporan keuangan harian sudah selesai kuperiksa. Kau bisa pulang sekarang."

Suara Irmi yang muncul tiba-tiba di ambang pintu gudang membuyarkan lamunan Hino. Janda kaya berusia tiga puluh lima tahun itu berdiri dengan gaun sutra birunya, wajahnya tampak kuyu oleh sisa mual yang ia tahan sejak sore. Di balik kemewahan dan keangkuhannya, Irmi sebenarnya didera kepanikan yang sama besarnya. Ia tahu perutnya akan segera membesar dalam beberapa bulan ke depan. Menggugurkan kandungan adalah ketakutan terbesar yang tidak berani ia sentuh, namun mempertahankan bayi ini berarti dia harus siap membagi Hino dengan istri sahnya di bawah atap yang sama.

Hino bangkit, mengambil jaketnya tanpa gairah. "Aku akan mengunci pintu gerbang depan setelah motor keluar, Jeng."

"Jangan panggil aku Jeng jika kita hanya berdua, Hino," potong Irmi pelan, suaranya terdengar goyah namun sarat akan tuntutan. Ia melangkah mendekat, menatap mata Hino yang penuh kelelahan. "Erni sudah mendapatkan kamar depan yang paling besar. Dia sudah mendapatkan kalung emas lima puluh gram dari uang tokomu. Sekarang, giliranmu yang harus membayar hakku di lantai atas. Malam ini jadwalmu tidur di kamarku."

Hino menghentikan gerakannya yang sedang menyandang tas. Dadanya naik turun menahan rasa muak pada situasi yang menempatkan dirinya tak lebih dari seonggok daging yang digilir. "Erni baru saja terlibat keributan dengan Bu Hina tadi pagi, Irmi. Kondisi mentalnya sedang tidak stabil. Bagaimana bisa kau menuntut jadwal ranjang di saat rumah bawah sedang panas?"

"Itu kesepakatan yang kubuat bersama istrimu tadi sore, Hino! Kami bicara berdua dan dia menyetujuinya selama aliran uang toko tidak mandek ke dompetnya!" suara Irmi meninggi, matanya berkaca-kaca oleh perpaduan antara hormon kehamilan dan rasa cemburu yang ia sangkal sendiri. "Erni memilih menjadi benalu yang menguras hartaku, jadi dia harus membayar harganya dengan merelakan suaminya tiga malam dalam seminggu di lantai atas! Kau tidak punya hak suara untuk menolak!"

Hino terdiam, membiarkan keheningan gudang malam menelan keputusasaannya. Ia merasa jiwanya telah mati, digilas oleh kerakusan materi istrinya dan ambisi penguasaan dari bosnya. Tanpa menjawab, Hino berjalan melewati Irmi, menuntun motornya menembus jalanan kampung yang mulai sepi menuju kontrakan bawah.

***

Sesampainya di kontrakan pukul setengah satu dini hari, suasana pekarangan depan tampak sunyi senyap. Kacamata hitam Bu Hina yang pecah ditampar Erni tadi pagi sudah bersih disapu dari lantai teras. Hino melangkah masuk ke koridor bawah, menuju kamar depan yang baru.

Di dalam kamar yang luas dan wangi itu, Erni sedang duduk di depan cermin rias baru, menyisir rambutnya yang panjang. Di atas meja rias, kotak beludru merah berisi kalung emas pemberian Irmi dibiarkan terbuka, memantulkan kilau yang seolah mengejek kemiskinan mereka selama ini.

Erni melirik sekilas ke arah Hino melalui pantulan cermin, wajahnya tidak menunjukkan rasa bersalah, hanya ada tatapan kosong dari seorang wanita yang telah mengunci rapat seluruh rasa cintanya. "Kau tidak perlu sekaget itu melihat kamar ini, Mas. Ini adalah upah yang pantas untuk harga diriku yang robek."

Hino berjalan mendekat, menjatuhkan tasnya ke lantai dengan lemas. Ia menatap istrinya dengan pandangan terluka. "Kau beneran menjual jadwal tidurku pada Irmi demi semua kemewahan ini, Erni? Di mana Erni-ku yang dulu selalu menerima apa adanya meski kita hanya makan dengan lauk seadanya?"

Erni menghentikan sisirannya, berbalik dengan sentakan pelan, menatap Hino dengan mata yang berkilat tajam oleh sisa rasa sakit yang mendalam. "Erni yang dulu sudah mati malam saat kau minum jamu di lantai atas, Mas! Perasaanku sekarang sudah mati. Menyesal pun tidak akan membuat perutku yang hamil dua bulan ini kenyang. Daripada aku menangis di pojokan kamar sempit dan pulang ke kampung sebagai janda melarat, lebih baik aku mengambil semua yang bisa kuperas dari perempuan kaya itu!"

Hino terduduk di tepi ranjang baru yang empuk, namun rasanya lebih panas dari bara api. "Lalu sekarang kau menyuruhku naik ke lantai atas untuk tidur bersama Irmi malam ini? Kau tidak cemburu sama sekali?"

Erni tersenyum sinis, mengancingkan bagian atas dasternya sebelum merebahkan diri membelakangi Hino. "Pergilah naik, Mas. Penuhi jatah wanita janda itu. Tapi ingat, besok pagi saat kau turun, pastikan lembaran uang jatah belanja baruku sudah ada di atas meja rias ini."

Hino melangkah keluar dari kamar depan dengan langkah kaki yang limbung. Jiwanya serasa kosong saat ia menatap anak tangga menuju lantai dua. Di atas sana, Irmi sudah menunggu dengan segala kerumitan rahimnya, sementara di bawah, Erni tidur dengan emas yang melingkari lehernya.

Saat Hino mulai menginjak anak tangga ketiga, sebuah bayangan bergerak di sudut koridor lantai dua yang temaram. Linda berdiri di dekat pagar pembatas tangga, memegang sebuah gelas berisi air putih dengan pakaian santainya. Di tangan kanannya yang lain, ponsel pintarnya berada dalam genggaman yang erat.

Linda menatap Hino yang berjalan naik dengan wajah hancur, lalu melemparkan senyuman sinis yang biasa ia gunakan untuk menilai eksperimen gagal. Dosen sosiologi itu sama sekali tidak berniat ikut campur dalam urusan ranjang terjadwal dua wanita hamil di bawahnya. Namun, ia tahu, rekaman perdebatan panas Hino dan Erni dari celah jendela tadi malam sudah lebih dari cukup untuk menjadi variabel paling mematikan dalam catatannya.

Linda mendekatkan tubuhnya ke arah Hino yang baru tiba di lantai atas, lalu berbisik dengan nada suara yang sangat tenang namun mengunci kewarasan pria itu.

"Barter rahim yang sangat menarik, Hino," ucap Linda, matanya berkilat di bawah kegelapan lorong atas. "Istrimu mendapatkan emas, bosmu mendapatkan jadwal malammu, dan aku... aku mendapatkan seluruh bukti digital yang bisa membuat kerajaan kecil kalian ini runtuh dalam sekali klik jika kalian mulai berani mengusik ketenanganku di kosan ini."

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!