NovelToon NovelToon
The Legend Has A Risen

The Legend Has A Risen

Status: sedang berlangsung
Genre:Dunia Lain / Fantasi / Light Novel
Popularitas:121.1k
Nilai: 5
Nama Author: felix ehe

Seorang siswa SMA kelas 1 bernama Felix Fortune atau dikenal sebagai Shadow di dunia maya yang dijuluki Bug sekker.
Dia meninggal karena tersetrum aliran listrik dan jiwa dia dipindahkan ke alam baka oleh sang suara misterius,Felix diberi kesempatan untuk hidup lagi tapi bukan di dunia nya melainkan didunia lain yang dipenuhi sihir dan pedang.
Felix menyetujui hal itu dan berkeinginan untuk bersantai tanpa terlibat masalah besar apapun di dunia itu,namun saat jiwa Felix sudah dipindahkan tanpa dia sadari kalau dunia yang dimaksud adalah dunia game OPEN RPG sebagai karakter nya sendiri yaitu Shadow knight yang melegenda, mau tidak mau Felix harus membuat para Sloven hidup damai juga tanpa gangguan manusia.
Perjalanan panjang sang legenda yang ditakuti oleh seluruh ras telah dimulai!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon felix ehe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Membeli Waktu

"Tapi aku tidak akan membahas mengenai legenda lama disini. Itu tidak memiliki kaitannya dengan sekarang. Lagipula kau sendiri yang mengatakan pada dirimu bahwa kau adalah orang dari barat, rumor mengenai legenda ini harusnya tersebar sangat luas disana."

Perkataan Niamh memecah segalanya, aku kembali mendongak menatapnya "Tidak ada kaitannya? bukankah tadi kau mengatakan kalau aku itu-"

Ia tertawa menyela ucapanku "Haha, aku tidak mengatakan kalau kau Dark Mage. Hanya pelayan yang mengatakan itu, bukan aku atau bahkan Zet."

Suaranya terdengar puas, seperti baru saja berhasil menjebakku untuk mengucapkan sesuatu.

Aku mengunci bibirku rapat, ekspresiku datar, pikiranku kosong, tidak yakin dengan apa yang ia bicarakan "Cukup adil," aku bergumam ditelan oleh cahaya, tidak bergerak lagi.

"Tapi satu hal yang pasti," ia kembali berbicara.

"Kau bukanlah bagian dari mereka."

"Bukankah itu hal yang sedari tadi kutekankan?"

Niamh tidak langsung menjawab, tapi dengan cekatan kembali mencoret sesuatu pada buku "Jadi bisa ceritakan sedikit hidupmu? sebelum tiba kemari."

"Aku mercenary dan aku.."

Tatapanku pergi, menatap beberapa pasang wajah, awalnya hening tapi mereka memutuskan untuk pergi kali ini.

Meninggalkanku sendiri, tidak seperti biasanya.

Aku tidak bertanya, tapi juga ragu. Satu-satunya pemandu yang kuandalkan harus hilang tanpa kata.

"Yah.. Aku hidup bersama guruku sendiri, sudah lama meninggal jadi kau tidak bisa menggali informasinya."

"Lokasi tempat ting-"

"Sudah kubakar," jawabku singkat

Niamh kembali diam, ingin bertanya tapi ia hanya tersenyum dan matanya, entah mengapa melotot kearahku saat wajahnya tetap profesional.

Kadang matanya turun pada buku selama beberapa detik, kemudian kembali lagi menatapku

"Jadi elemenmu itu murni atau kau memiliki kontrak iblis, dengan cara berbeda?"

Pertanyaan itu terlalu jelas. Entah apa jawaban yang kupilih, sepertinya pengaruh yang dibawa bisa merubah apa yang akan terjadi.

Mungkin intens, mungkin tidak.

"Aku tidak bisa menjamin hal itu, sejujurnya."

Buku dan pulpen yang ia genggam akhirnya diletakkan, Niamh menyerah, ia menghela nafas "Lalu kau ingin aku meramalnya?"

"Yah.. Aku tidak meminta itu."

Rasa tawa hampir muncul dari mulutku, tapi itu harus berhenti "Irritant!" umpatan kecil mendesis, diiringi dengan sebuah benturan keras muncul tiba-tiba, lentera gemetar, hampir lepas pada rantai yang mengantungnya.

Sinar lentera semakin redup, sesekali berkedip hingga sinarnya turun, hampir mati

Mataku berkedip cepat, tertuju pada sebuah bongkahan batu muncul dan mengerumuni tangan kirinya, membuat meja sedikit retak. Niamh masih menatapku tapi alisnya berkedut dan tangan kiri terus menekan meja secara perlahan.

"Oh maaf, ini hanya batu sampel." suaranya masih tenang seperti biasa, namun tatapannya datar, rahangnya menggertak.

Lagipula dia yang memulainya duluan.

Niamh mengiris sebagian kecil batu dengan ujung kukunya sendiri, membentuk batu kecil dan mencambutnya "Ini, alirkan kekuatanmu kemari." ia mengulurkan batu tersebut padaku.

Tatapanku hanya tertuju pada batu, tidak ada yang aneh. Pelan-pelan mengulurkan jariku kedepan tapi batu itu kembali ditarik, membuatku bertanya-tanya.

"Ada apa?" mataku kembali menatap Niamh.

"Kau menerimanya begitu saja?"

"Karena kau yang memintanya kan?"

"Sepertinya.. kau tidak pernah diajari hal yang krusial dari gurumu ya?"

"Maaf?"

Ia hanya menatap diam pada wajahku, tidak menjawab lagi namun kali ini berbeda. Ia memilih untuk mengiring  batu itu mendekat agar bersentuhan dengan jariku.

Percikan api berwarna keunguan muncul, memantik batu itu hingga akhirnya hilang diserap. Sedikit kekuatanku terserap masuk kedalam, aku ingin bertanya tapi akhirnya Niamh bangkit dari kursi, tangan kirinya sudah bersih tanpa batu. Entah itu masuk kembali kedalam tangannya atau tidak.

"Batu ini akan kuberikan pada seseorang, setidaknya ia cukup lihai dalam mengukur kemurnian seseorang."

Aku tidak meminta itu untuk dijelaskan, tapi Niamh tampak merasa perlu untuk mengatakannya sebelum ia berbalik "Maaf, untuk saat ini kau harus berada di sel khusus terlebih dahulu. Aku tidak bisa membiarkan orang seperti mu dibiarkan berkeliaran di masyarakat."

"Ikuti aku."

*****

"Dan.. Seperti itulah bagaimana aku berakhir disini."

Aku duduk sendirian dalam sel penjara dan terkikik, kedua tanganku masih diborgol, ruangan itu kecil dan tubuhku memakan sebagian besar ruang yang terbatas.

Rose berdiri disana menatapku, tangannya mengencang diantara jeruji besi yang ia cengkeram. Keberadaannya ditemani oleh Zet, bersandar pada tembok dan tatapannya terus memperhatikan wajahku begitu dalam.

Setiap tarikan nafas Rose pelan dan matanya bergetar antara rasa bersalah dan cemas saat menatapku dari balik besi."r  "Maaf kalau aku tidak bisa membantu banyak selain memohon pada Niamh untuk bekerja lebih cepat."

"Jangan terlalu dipikirkan, lagipula tempat ini lebih aman dari yang kukira. Aku bisa tahan disini beberapa hari kedepan?"

Suara keroncongan memecah segalanya, dari perutku, itu mengirim getaran yang cukup kesekujur tubuh

Sedikit nyaring, hingga tatapan Zet sekarang tertuju pada sel penjara.

Mataku bergantian melirik Rose dan Zet, sunyi dan canggung. Tidak ada yang berani berbicara.

"Yah.. Mungkin tidak selama itu?"

Tawaku sedikit lepas, mengisi ruang canggung, sebelum akhirnya senyum tipis tersungging pada wajahnya. Rose merogoh sakunya "Kalau tahu kau akan sedikit lapar, mungkin aku seharusnya membawa  satu porsi makanan?"

Segenggam bingkisan kecil, berisi biskuit berbentuk kotak dengan  warna krim cerah "Cobalah, tidak banyak. Tapi semoga bisa sedikit mengisi perutmu sebelum keluar dari sini."

Tapi sebelum tangan Rose masuk ke jeruji, ia menatap kedua tanganku, diborgol. Rose tidak berbicara, ia melepaskan pita dari bingkisan, jari-jarinya yang kecil ramping meraih satu dari sebagian kotak dan menuntun kotak kedalam jeruji.

Biskuit terlihat lebih menggoda saat keluar dari bungkusnya, tubuhku membungkuk tanpa kusadari tapi berhenti disana. Rose masih menatapku dengan lembut, tapi ada sesuatu yang lain tengah menatapku sekarang dengan tajam.

Mungkin dari seseorang yang sekarang bersandar pada tembok, aku tertahan disana

"A.. Aku bisa melakukannya sendiri kok.."

Rose tidak mendengarkan, tangannya masih melayang diudara dan menungguku untuk menerima biskuit tersebut

"Tapi terimakasih," gumamku, gigitanku menggiring biskuit masuk lebih dalam. Asin, cukup asin untuk sebuah biskuit, sedikit keras dan sulit dikunyah, beberapakali aku mengunyah sudah cukup untuk membuat mulutku kering.

Aku menghabiskan semuanya, menelannya dan mengangguk dengan semangat pada Rose "Ini enak, sungguh."

Ini memang enak, aku tidak berbohong. Setidaknya bagi diriku sendiri, rasa asin menyebar cukup kuat pada permukaan mulut.

"Syukurlah kalau ini sesuai dengan seleramu."

Tangan Rose mengambil kembali beberapa keping sekaligus dan memungutnya dengan mulutku,  "Apa nama biskuit ini?" tanyaku sambil terus mengunyah, aku ingin bertanya tapi tertahan. Perlahan menelannya "Dan dimana aku bisa membeli biskuit ini?"

"Oh? Sebenarnya tidak ada nama untuk biskuit ini karena aku yang membuatnya. Sejujurnya, ini pertamakali aku mencobanya. Orang-orang mengatakan ini enak tapi aku tidak diizinkan untuk memberikan ini keorang lain dan aku harus mengembangkannya lebih lanjut."

Setiap mulut Rose bergerak, tangannya terus mengambil biskuit, menyodorkan kepingan padaku, aku mengangguk, terus mengangguk sebagai satu-satunya respon yang kuberikan saat Rose berbicara.

Bersambung

1
Pembenci MC naif dan lemah
gelap
Pur Wani: bg inpokan cerita yg MC nya ga naif dan lemah
total 1 replies
Pembenci MC naif dan lemah
mantap
Ardi Provision
suruh rahasiakan sama perempuan ya gini deh, jangan bilang2 ya, sekampung pada tahu 😂😂😂😂🤣🤣🤣
Ardi Provision
di cangkul sekalian 😂😂😂😂
saran thoor pakai bahasa baku, dirampok kek
kakek sholeh
hhhhh
kakek sholeh
kek nama pejabat dpr
Muhamad Abdul Ghofur
karya luar biasa untuk aku yang gak buat novel
mmahsun.az
kapan up thor?
Djinn Samaora
noo my religion
farel Ramadhan
bjir lauhul Mahfud 😅
Askipシ︎
semangat thor, ntahlah mau komen apa gatau juga wkwk.. /Sweat/
pembacasetia
eehh jangan2 iblis yg mindahin jiwa tuh
ji ruxue
babi haram, membunuh gk dosa/Smile/
Mayang Sari
terpukaauuuu
๑ ̊ ·٭ᜊ яσυυ ̊ • ࿐
sugoii..
Nurul
Haya Bus
Nurul
preman exp ngak tuh😅
Buana Lukman
bagus
Nino Ndut
cape bacanya..kok kayak bocah alay begini mc nya yak
felix ehe: santai masi eipsode awal....mungkin?
total 1 replies
Felix Fortune
bagus
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!