Semua benda di dunia memiliki harga.
Rumah, restoran, perusahaan, bahkan kesempatan yang tidak bisa dibeli dengan uang sekalipun.
Saat hidup Lin Liu berada di titik terendah, sebuah sistem misterius memilihnya sebagai pemilik baru. Sistem itu tidak memberinya uang, kekuatan, ataupun keberuntungan.
Yang diberikannya hanyalah... diskon.
Semakin besar target yang berhasil dicapai, semakin langka kartu diskon yang diperoleh. Dengan satu kartu, sesuatu yang mustahil dimiliki bisa berubah menjadi kesempatan yang berada dalam jangkauan.
Namun, setiap pilihan memiliki konsekuensinya.
Di balik setiap transaksi, tersembunyi rahasia yang membuat dunia tidak sesederhana yang terlihat. Kini Lin Liu harus menentukan apa yang layak dibeli... dan apa yang seharusnya tidak pernah memiliki harga.
Karena ketika segalanya bisa dibeli, batas antara keberuntungan dan keserakahan menjadi sangat tipis.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Notdrick, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 5
Lin Liu menggeledah keranjang sepeda berkali-kali, berharap matanya salah lihat, namun kantong plastik itu benar-benar sudah tidak ada. Jantungnya berdebar kencang, keringat dingin mulai membasahi punggungnya.
"Tidak mungkin... tadi masih ada saat aku berangkat," gumamnya panik, menoleh ke belakang menyusuri jalan yang baru saja dilewatinya, berharap kantong itu terjatuh di suatu tempat.
Dia mengayuh sepeda kembali menyusuri rute yang sama, matanya menyapu setiap sudut jalan, got, dan pekarangan rumah orang, namun hasilnya nihil. Dua ratus ribu rupiah itu, ditambah kepercayaan Su Yan yang baru saja dia dapatkan, terasa menguap begitu saja.
Dengan langkah gontai dan hati yang dipenuhi kecemasan, Lin Liu kembali ke toko, menyiapkan diri untuk menghadapi kemarahan yang mungkin akan diterimanya.
Begitu dia masuk, Ah Long sudah berdiri di dekat meja kasir dengan wajah puas yang mencurigakan, seolah sudah menunggu momen ini sejak lama.
"Kak Su Yan, barang untuk rumah Pak Chen Lei mana?" tanya Ah Long, sengaja bersuara keras agar Su Yan mendengar dari ruang belakang.
Su Yan keluar dari gudang, mengelap tangannya dengan lap kecil. "Lin Liu, kok punya pak Chen Wei belum diantar?"
Lin Liu menunduk, tidak berani menatap mata Su Yan. "Kak, aku tidak tahu kenapa, tapi kantong ketiga hilang di jalan. Aku sudah balik menyusuri rutenya, tapi tidak nemu."
"Hilang gimana ceritanya?" suara Su Yan meninggi, alisnya bertaut curiga. "Itu belanjaan paling mahal, isinya minyak goreng lima liter sama bumbu-bumbu buat acara keluarga Pak Chen Lei besok. Dia sudah bayar duluan!"
"Aku sumpah, Kak, aku tidak—"
"Atau jangan-jangan," Ah Long memotong dengan nada sengaja dibuat penasaran, "kau jual diam-diam? Kan kau lagi butuh uang banget buat bayar utang."
Tuduhan itu bagai tamparan telak. Lin Liu mendongak cepat, menatap Ah Long dengan rahang mengeras. "Aku tidak pernah mencuri! Aku memang butuh uang, tapi aku tidak segitu murahnya buat mencuri barang dagangan orang!"
"Terus kenapa cuma kantong yang paling mahal yang hilang?" Ah Long menyeringai tipis, seolah menikmati situasi itu. "Yang murah-murah tidak ada yang hilang, aneh tidak sih?"
Su Yan berdiri di antara keduanya, wajahnya tegang, terlihat sedang menahan diri agar tidak langsung menuduh sepihak, meskipun keraguan mulai terbaca jelas di matanya. "Lin Liu, aku butuh penjelasan yang masuk akal. Kalau memang kau tidak mencuri, aku akan cari tahu sendiri kebenarannya. Tapi kalau ternyata kau bohong—"
"Aku tidak bohong, Kak," potong Lin Liu, suaranya bergetar antara marah dan putus asa. "Aku tahu ini kelihatan aneh, tapi aku sumpah demi apa pun, aku tidak menyentuh kantong itu setelah keluar dari toko."
Hening sejenak, hanya suara kipas angin tua di sudut toko yang berputar pelan, menciptakan suasana canggung yang mencekam. Su Yan akhirnya menghela napas panjang.
"Aku percaya... untuk sekarang," katanya pelan, meskipun nada suaranya masih terdengar ragu. "Tapi aku harus ganti rugi ke Pak Chen Lei, dan itu artinya bayaranmu hari ini aku potong buat menutupi kerugian."
Lin Liu ingin protes, ingin menjelaskan lebih jauh, namun tidak ada bukti apa pun yang bisa dia tunjukkan. Dia hanya bisa mengangguk lemah, dadanya sesak oleh rasa tidak adil yang menumpuk.
Ah Long melirik jam dinding toko dengan seringai puas yang nyaris tidak tersembunyi, lalu berjalan keluar sambil bersiul kecil, seolah baru saja menyelesaikan sebuah misi rahasia.
Malam harinya, setelah toko tutup, Lin Liu duduk sendirian di trotoar depan toko yang sudah gelap, memeriksa layar sistem yang tiba-tiba muncul di hadapannya.
...[MISI "MODAL AWAL": Rp180.000 / Rp500.000]...
...[WAKTU TERSISA: 26:14:07]...
Angka itu jauh dari cukup. Dengan bayaran hari ini yang dipotong akibat tuduhan Ah Long, dia bahkan semakin jauh dari target. Ditambah lagi, bayangan wajah A-Wei yang mengancam dengan batas waktu sepuluh juta dalam tiga hari terus berputar di kepalanya, membuat dadanya semakin sesak.
Dia menyandarkan kepalanya ke tembok toko, matanya terpejam lelah. Namun tiba-tiba, telinganya menangkap suara langkah kaki mendekat dari arah gang gelap di samping toko—langkah yang terdengar buru-buru, seperti seseorang yang sedang berusaha bersembunyi.
Lin Liu membuka mata, menoleh waspada ke arah suara itu, dan matanya melebar kaget saat mengenali sosok yang muncul dari balik bayangan gang.