Dibayangi rasa penyesalan pada kejadian masa lalu membuat setiap malam Kane Serana Sylvester, sang Prince Mafia dan Ceo yang sempurna di bayangi mimpi buruk.
Hingga suatu hari, Elyshia Cassandra atau sosok gadis yang menjadi tokoh dalam mimpi buruknya kembali hadir dalam kehidupan sebagai Flora Levannia, wanita yang mendaftar sebagai calon salah satu karyawannya. Namun, bukan tawaran kerja yang Kane berikan melainkan tawaran untuk menjadi kekasih kontraknya.
Dan di saat bersamaan Kane di hadapkan dengan pernikahan bisnis dengan mantan kekasihnya yaitu Stella Edith Salvatore yang membuat dirinya hidup dalam mimpi buruk sebuah penyesal selama ini.
Apakah Flora akan menerima tawaran menjadi kekasih kontrak dari atasannya itu atau malah menolaknya? Dan Akankah sosok Flora Levannia memang benar Elyshia Cassandra?
Lalu bagaimana dengan pernikahan bisnis yang datang pada Kane dari mantan kekasihnya, Stella?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Phopo Nira, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Akhirnya Setuju
“Tentu saja tidak, sayang! Aku akan mencarimu sampai kita kembali bersama. Maaf ‘yah, sayang! Aku hanya asal bicara tadi,” bujuk Ardion dengan memasang tampang memelasnya.
“Jangan seperti itu lagi! Kane itu memiliki sifat yang sangat mirip denganmu, jadi tidak boleh berkata sembarang.” Sora memberikan peringatan dengan tegas.
“Baiklah, sayang! Aku janji tidak akan asal bicara lagi, tapi bagaimana kalau kita pergi tidur sekarang sekalian membuat adik baru untuk Kane!” goda Ardion pada istrinya.
“Kau ini, … Kane sudah dewasa! Seharusnya dia yang memberikan kita berdua cucu, bukan malah kita yang memberikan adik kecil untuknya,” terang Sora yang tersipu malu dengan perkataan dari suaminya.
“Sudahlah, kita bikin saja dulu!”
Tanpa buang waktu Ardion langsung menggendong istrinya ala bride style dan membawanya kembali ke ranjang mereka. Sementara orang tuanya sedang berusaha membuatkan adik kecil yang lucu untuknya, Kane sendiri malah tengah asyik sendiri bermain dengan hewan peliharaannya.
Kane memiliki tiga hewan binatang peliharaan sekaligus yang di beri nama Wolfy, Tiger dan Lion. Ketiganya memang termasuk binatang buah yang berbahaya bagi manusia.
Dimana Wolfy merupakan seekor harimau benggala dewasa, sedangkan Tiger merupakan seekor singa afrika dewasa dan Tiger merupakan serigala putih.
Pasti banyak yang merasa heran kenapa namanya seperti terbalik. Suka-suka Kane saja ‘lah, karena dia yang memelihara, merawat dan memberikannya makan setiap hari. Dan setelah lelah bermain, Kane akhirnya tidur bersama dengan ketiga hewan peliharaan itu sejenak.
Sebab tak lama kemudian, mentari pagi mulai menyingsing menandakan Kane untuk kembali melakukan pekerjaannya di perusahaan.
Kane langsung saja kembali ke kamarnya untuk bersiap berangkat ke kantor. Tak perlu waktu lama, Kane kini sudah siap dengan setelan jas mahalnya. Tidak lupa sebuah arloji ternama terpasang indah di tangan kirinya.
“Morning, Kane!” Sapaan hangat langsung terdengar ketika Kane berjalan melewati ruang makan.
“Morning, Mom! Morning, Dad!” sapa Kane balik yang berjalan menghampiri Ardion dan Sora, tidak lupa dia mendaratkan kecupan manis di wajah kedua orang tuanya.
“Apa mau sarapan?” Sora menawarkan seperti biasanya.
“No, Mom! Kevin sudah berjanji akan mentraktirku makan nanti di kantor,” tolak Kane dengan lembut.
“Kalau begitu Kane berangkat sekarang, Mom!” pamit Kane sembari meninggalkan kecupan di pipi mamahnya sebelum pergi.
“Bye, Dad!” Sedangkan pada Ardion, dia hanya melambaikan tangannya saja.
Begitu keluar dari mansion mewahnya, Kane langsung di sambut oleh kedua sahabatnya yang sudah menunggunya. Benar, Kevin dan Jaxon bekerja pada perusahaan Kane. Dimana Kevin mendapat posisi sebagai asisten pribadi Kane, sedangkan Jaxon sebagai pengawal pribadinya.
“Selamat pagi, Tuan muda!” sapa Kevin dengan senyuman cerahnya.
“Sialan kau!”
Bukannya membalas sapaannya, Kane malah mengumpat pada Kevin karena merasa di permainkan. Benar, meski mereka semua bersahabat tapi mereka bisa membedakan cara bersikap.
Ketika sedang bekerja di perusahaan, Kevin dan Jaxon akan selalu menjaga cara bicara dan sikapnya kepada Kane layaknya karyawan yang menghormati atasannya.
Begitu juga ketika mereka sedang menjalankan tugas dalam klan, keduanya akan memanggil Kane dengan sebutan Tuan muda. Sementara diluar itu, baik Kevin maupun Jaxon akan memperlakukan Kane seperti persahabatan pada umumnya saling mengejek dan menghina atau sebagainya.
“Hahahahaa, … Menggemaskan sekali,” tawa Kevin pecah melihat wajah kesal Kane.
“Sebaiknya kita berangkat sekarang kalau tidak mau telat datang ke perusahaan,” ujar Jaxon mengingatkan.
“Kau benar, Jax! Kita masih memiliki kesempatan untuk membuatnya jatuh miskin dalam sekejap. Hahahaha, ….”
Akhirnya Kane menemukan kesempatan untuk membalas Kevin, Jaxon bahkan tak kuasa menahan senyumannya melihat Kevin yang tampak langsung pucat begitu mendengar rencana Kane.
Tidak ingin berlama-lama dengan pertengkaran kecil mereka, Kane segera masuk ke dalam mobil mewahnya. Begitu juga dengan Kevin yang duduk di samping Kane sembari membacakan jadwal Kane setiap harinya.
Sedangkan Jaxon duduk di samping Hunter, sang supir kesayangan Kane yang sering di jadikan lawan balapan mobil mereka.
...****************...
Setibanya di perusahaan Sylvester Group, kedatangan Kane langsung di sambut para karyawannya. Semua karyawannya akan langsung membungkuk memberi hormat ketika Kane bersama dengan Asisten dan pengawal pribadinya berjalan melewati mereka.
Seperti biasa, Kane akan selalu menebarkan senyuman tampannya pada setiap karyawan yang menyapanya begitu juga dengan Kevin dan Jaxon.
“Vin, apa saja jadwalku untuk hari ini?” tanya Kane begitu tiba di ruangannya.
“Anda akan menghadiri beberapa pertemuan dengan klien penting terkait proyek baru yang sedang berjalan. Lalu, _....”
“Sudah cukup, hentikan! Batalkan semua janji pertemuannya, aku hanya akan tetap mengerjakan apa yang ada di kantor sekarang. Aku sedang malas untuk pergi keluar,” potong Kane yang sudah merasa malas lebih dulu ketika membayangkan dia harus berpindah tempat beberapa kali untuk menemui kliennya.
“Ba-baiklah! Aku akan menjadwalkan ulang semua pertemuannya,” ujar Kevin yang merasa sedikit aneh dengan sikap Kane hari ini.
“Bagus, kau boleh pergi sekarang!” kata Kane yang sudah mulai focus dengan dokumen yang ada di depannya.
...****************...
Sementara di dalam sebuah bus, Flora sudah memikirkan matang-matang dengan keputusannya untuk menerima tawaran dari Kane untuk menjadi kekasih kontraknya selama 6 bulan.
Namun, Flora tidak sebodoh itu untuk menerima tawaran itu begitu saja. Dia sudah menyiapkan persyarat apa saja yang harus dia bicarakan dengan Kane begitu dia tiba di perusahaan Sylvester Group itu.
“Benar, pengobatan Ibu lebih penting di bandingkan harga diriku saat ini! Lagi pula yang dia tawarkan hanya menjadi kekasih kontrak selama 6 bulan dan bukan menjadi istrinya. Sepertinya ini tidak ada masalah, selama aku menetapkan peraturan yang jelas selama kontrak berlangsung,” batin Flora yang tengah menimbang semuanya dari segala sisi.
Sepanjang perjalanan menuju ke perusahaan milik Kane, Flora terus saja melamun. Hingga tanpa sadar bus yang dia naiki sudah berada di halte tepat di depan perusahaan besar milik Sylvester Group.
Sama seperti sebelumnya, Flora aka menyakinkan dirinya sendiri sebelum melangkahkan kakinya masuk ke dalam perusahaan tersebut.
“Kau pasti bisa, Flo! Ingat demi kesehatan dan kesembuhan itu, kau harus sedikit merendahkan harga dirimu,” ujar Flora pada dirinya sendiri.
Dengan memantapkan langkah kakinya, Flora berjalan masuk ke dalam perusahaan besar tersebut. Tidak lupa dia menanyakan pada resepsionis yang berjaga agar tidak tersesat untuk menemui orang terpenting di perusahaan terbesar di negaranya itu.
“Permisi, bisakah aku bertemu dengan Tuan Kane?” tanya Flora dengan penuh sopan santun pada petugas resepsionis.
“Aah, … Dengan Nona siapa? Tunggu, … Bukankah kau wanita yang saat itu datang untuk wawancara? Lalu kenapa kau ingin menemui Ceo kami?” tanya Resepsionis itu sesuai aturan yang berlaku di perusahaan.
Bersambung, ....