“Pilih melayaniku atau … kuberitahukan pada semua orang kalau kamu Open B.O?”
Sasha terjebak dengan tindakan yang ia ambil tanpa berfikir panjang.
Sasha. Gadis berusia 18 tahun tersebut menolak mentah-mentah bantuan dari Austin, Si Ketua Geng Motor yang merupakan penyebab ayahnya koma dan tak bisa bangun entah sampai kapan. Ia memutuskan untuk Open B.O dan menjual mahkotanya dengan imbalan uang demi membayar biaya rumah sakit Sang Ayah.
Sebelum mahkotanya direnggut, Sasha memutuskan untuk membatalkan transaksi gelap tersebut. Sayangnya, saat ia tahu bahwa Austin lah yang mem-bookingnya, bukan hanya tak bisa membatalkan transaksi tersebut … Austin juga memaksanya melakukan hal-hal yang bertolak belakang dengan kesehariannya.
Penasaran hal apa saja 'kah yang mereka lalui berdua?
Ikuti kisah Sasha dan Austin dengan meng-subscribe novel ini! 💜
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sheninna Shen, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pacar Kak Austin?
..."Sejak kapan aku jadi pacar Kakak?" - Sasha Rodrigoez...
...💨...
..."Sejak ciuman pertamamu ku ambil." - Austin Xaquille Mendes...
...💨💨💨...
POV AUTHOR.
Setelah beradu argumen dengan Austin, Sasha tak mampu lagi menolak permintaan anak majikan orangtuanya itu.
Meskipun tak sudi dan tak terima, Sasha terpaksa mengikuti ke manapun ia di bawa oleh Austin. Demi Robert Rodrigoez! Ayah yang merupakan keluarga terakhirnya.
Saat ini, Sasha sedang duduk di belakang Austin. Tepatnya, ia dibonceng oleh Austin di atas motor Ducati Superleggera V4. Rambut coklatnya yang sempat dikuncir, kini terurai karena ikatan yang terlepas dan berantakan akibat terpaan angin kencang.
Sebenarnya sih, bukan anginnya yang kencang. Tapi Austin mengendarai motornya dengan kecepatan yang tinggi!
"Kakkk! Pelan-pelan! Aku belum siap mati!" rengek Sasha ketakutan. Saat itu ia mencengkeram jaket kulit Austin yang berwarna hitam dengan sangat kuat.
"Peluk aku kalo nggak mau jatuh!" samar-samar terdengar ucapan Austin yang suaranya terhalang oleh helm full face.
"Apaaa?!!!" teriak Sasha tak dengar. Padahal saat itu ia tak menggunakan helm sama sekali. Seharusnya lebih leluasa mendengar karena telinga yang tak tertutup.
"PE-LUK A-KU!" teriak Austin dengan suara yang ia keraskan.
"Ih! Nggak mau!" teriak Sasha enggan. Cukup dengan ia mengepit kedua pahanya ke rangka motor tersebut dengan kedua tangan yang menarik kuat jaket pria itu saja, baginya tak akan ada masalah. Ketimbang ia harus memeluk pria itu.
Gubrak!
Austin sengaja menghentikan motornya mendadak dari kecepatan tingkat tingginya tadi.
"Ughh!!!" ringis Sasha sambil mengelus pelan dahinya yang terbentur ke helm keras milik Austin. Padahal, bukan hanya kepalanya yang terbentur. Sekujur tubuh terutama dadanya ikut terdorong maju menempel ke punggung Austin.
"Sakit?" tanya Austin sambil menoleh ke belakang dan menyingkap kaca helmnya. Ia menyeringai setengah tanpa sepengetahuan Sasha. Karena mulutnya tertutup helm.
"Hemm ... sakit," ringis Sasha. "Kak ... aku pulang naik busway aja ya?"
"Lagian, aku nggak nyaman naik motor tinggi kayak gini pake dress." Sambungnya sambil menoleh ke arah pahanya yang setengah terbuka.
Austin tak mengindahkan ucapan Sasha. Ia kembali menghadap ke depan sambil kedua tangannya ke belakang untuk mengambil kedua tangan Sasha. Kedua tangan gadis itu dengan sengaja ia lingkarkan ke tubuhnya.
"Aku nggak tanggung jawab kalo kamu terbang," celetuk Austin sambil menutup kembali kaca helmnya dan bersiap-siap melaju.
"Terbang? Emangnya aku- ... kyaaaa!!!"
Belum sempat Sasha menyelesaikan kalimatnya, Austin langsung memacu motornya dengan kecepatan tinggi.
Secara spontan, Sasha memeluk tubuh Austin dari belakang sambil menempelkan wajahnya ke punggung Austin dengan mata terpejam.
"Good girl," lirih Austin pelan tanpa terdengar oleh Sasha sambil tersenyum.
...💨💨💨...
"Kita ngapain ke sini, Kak?"
Sasha kebingungan saat ia di bawa masuk ke dalam sebuah toko perlengkapan motor touring.
Lagi-lagi Austin tak menggubris Sasha. Ia menarik tangan gadis itu ke sebuah rak gantung yang tersangkut bermacam-macam model jaket kulit untuk wanita. Kemudian ia mengambil salah satu jaket kulit berwarna hitam.
"Eum ..." Austin bergumam sendiri sambil menempelkan jaket tadi ke depan tubuh Sasha. Ia sedang membayangkan bagaimana jika Sasha mengenakan jaket tersebut.
"Kak, aku nggak mau," tutur Sasha yang mengerti bahwa ia akan dibelikan jaket oleh Austin.
Austin memilah beberapa jaket berukuran S dan memberikan pada pramuniaga toko yang sejak tadi mengikutinya.
Lalu, Austin menarik Sasha lagi ke rak celana. "Ukuran berapa?"
"Nggak mau," Sasha menggelengkan kepalanya.
"Yaudah," Austin mengangguk pelan. Lalu ia menoleh ke arah pramuniaga.
"Mbak, tolong bungkus celana sky denim, cargo, dan beberapa celana model lainnya yang sesuai dengan ukuran pacar saya ini ya."
Sasha terbelalak. "Hah?! Pacar?!"
"Kak!" Sasha menahan tangan Austin. "Sejak kapan aku jadi pacar Kakak?"
Austin mendekatkan bibirnya ke telinga Sasha. Lalu ia berbisik dengan sangat pelan. "Sejak ciuman pertamamu ku ambil."
"Ih!" Sasha langsung bergidik ngeri sembari beringsut mundur menjauhi Austin.
"Ck!" Austin hanya menyeringai.
Lagi-lagi, tangan Sasha ditarik oleh Austin. Kini, mereka berdiri di sebuah tempat yang penuh dengan berbagai model helm.
Austin mengambil sebuah helm full face berwarna hitam. Helm tersebut sangat mirip dengan helm hitam miliknya. Austin memakaikan helm tersebut ke kepala Sasha.
"Gimana? Sempit nggak?" tanya Austin sambil memastikan ukuran helm itu cocok atau tidak di kepala Sasha.
"Kak ... aku nggak mau," Sasha memelas dengan wajah yang menunjukkan bahwa ia benar-benar tak nyaman.
"Kamu harus terbiasa. Kalau nggak, aku nggak bakalan biayain pengobatan Pak Robert. Gimana?" tutur Austin sambil melepaskan helm dari kepala Sasha.
Sasha menggigit bibir atas dan bawahnya ke dalam mulut. Ia menghela nafas berat sembari bahunya ikut menurun.
...💨💨💨...
BERSAMBUNG...
tp sejauh q membaca ceritamu semua bagus-bagus 👍😀
lanjutin dong novel2 nya,
semoga segera di lanjut, karena sudah mampir nech