"Boleh saya bicara?" tanya Monika sambil mengangkat tangannya. Kedua laki-laki itu menoleh.
"Apa?" tanya dua pria beda warna mata itu.
Monika nyengir sebelum bicara."Apa tidak ada yang bertanya pendapat saya gitu, yang mau nikah kontrak itu saya lho. Bisa bicara lho, masih idup seger buger di sini."
"Yang bilang kamu mayat hidup siapa?" tanya Yoonji balik.
"Kamu tidak ada hak bicara, mau atau tidak kamu akan menerima pernikahan kontrak ini selama satu tahun, gaji kamu tiap bulan 10 juta dengan kompensasi 1 milyar jika kontrak berakhir, paham!"
Monika tak dapat lagi berkata-kata, angka-angka itu berlari dengan riang mengelilingi kepala. Yoonji tersenyum miring, melihat ekspresi gadis itu yang terkejut sekaligus bahagia. "Semua wanita sama saja, kalau dengar uang langsung ijo."
Melamar sebagai OB malah jadi sekertaris, di paksa nikah pula sama yang punya perusahaan.Begitulah mujur Monika Anggraeni, mujur apa buntung kita simak. kisahnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Realrf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Membujuk
Yoonji memijit pelipisnya, gadis ini sungguh sangat keras kepala.
"Aku sudah bilang kau akan tinggal di sini!"
"Dan aku juga sudah bilang, AKU TIDAK MAU!" kali ini Monika berdiri ambil menatap nyalang pada Yoonji.
"Dengarkan aku Mochi, kita sudah tidak bisa mundur lagi sekarang. Di hari aku mengatakan kalau aku akan menikahi mu, maka kita harus menikah, sekarang nenek dan ayahku juga sudah melihatmu, kita tidak bisa mundur!" tegas Yoonji dengan penuh penekanan.
"Itu urusan Anda, dan nama saya bukan Mochi!" Monika melengos pergi, entah bagaimana dia pulang. Jalan kaki juga tak apa, yang penting dia bisa keluar dari tempat mewah ini.
"Kau mau berapa?" tanya Yoonji yang membuat langkah Monika terhenti.
"Bicarakan uang kalau Anda sudah membayar saya untuk jasa makan malam ini Tuan," jawab Monika tanpa menoleh, ia melanjutkan langkah dan hampir membuka handle pintu.
"Aku akan melakukan apa yang kau mau dan memperbaharui kontrak kita," bujuk Yoonji, dia sudah benar-benar tidak bisa mundur,tidak mungkin lagi dia mencari penganti Monika apalagi wanita itu sudah bertemu dengan neneknya.
Monika menyeringai tipis, ia langsung memutar tubuh. Berjalan mendekati Yoonji dengan senyum yang sangat sulit diartikan.
"Ah.. Tuan Min memang paling pengertian. Mari mari silahkan duduk." Monika menepuk-nepuk sofa berwarna putih yang tak berdebu untuk Yoonji duduk.
Pria sipit itu mengerutkan keningnya, melihat sikap Monika yang langsung berubah ramah.
"Ini Apartemen ku."
"Tuan Min tidak boleh terlalu perhitungan seperti itu, bukankah tadi Anda bilang saya akan tinggal di sini? jadi saya harus bersikap ramah sebagai tuan rumah, iyakan Tuan."
"Terserah, sekarang katakan apa maumu?" tanya Yoonji dengan mode serius, dia bukan tipe orang yang suka bertele-tele.
"Duduk dulu Tuan, kita bisa bicara lebih santai jika Anda duduk."
Yoonji pun duduk di sofa yang tadi di bersihkan Monika, sementara gadis itu duduk di sebelahnya tapi dengan jarak aman.
"Emh ... Apa tidak ada kertas sama pena?" tanya Monika sambil celingukan.
"Ambil di sana, lagi paling atas," ucap Yoonji sambil menunjuk meja laci kecil di sudut.
Monika langsung bangkit dan berjalan kearah meja yang dimaksud Yoonji. Setelah mengambil secarik kertas dan alat tulis Monika kembali ke tempat dia duduk. Namun, kali ini gadis itu duduk bersila di lantai, dengan tekun ia mulai menulis sesuatu. Yoonji hanya duduk bersandar sambil memperhatikan calon istri kontraknya itu.
"Selesai! nah Tuan ini daftar yang saya mau, silahkan," ucap Monika sembari tersenyum menyodorkan secarik kertas itu pada Yoonji.
Yoonji mengambil kertas itu, kemudian mulai membacanya. Mata sipit Yoonji bergerak- gerak membaca tiap kata yang Monika tuliskan, gadis itu ingin menaikan gajinya. Jika sebelumnya Yoonji berjanji memberi dia 10 juta sebulan, Monika ingin 20 juta sebulan dan dia ingin melakukan sesuatu di kantor besok, dia juga ingin agar Yoonji memberikan dia izin pulang ke kampung tiga bulan sekali. Dan jika mereka menikah nanti, Monika tidak ingin tinggal sekamar.
"Hanya ini?" tanya Yoonji.
"Emh ... Iya," jawab Monik ragu-ragu dia tidak yakin Tuan Min ini mau menaikan gajinya.
"Ok, deal. Aku akan menyuruh Frederick membuat kontrak resminya besok. Aku harus pulang sekarang," ujar Yoonji seraya bangkit dari duduknya.
"Lalu bagaimana denganku? Aku juga harus pulang, setidaknya malam ini biarkan aku pulang Tuan. Aku harus ganti baju," ucap Monika sambil berjalan mengikuti langkah Yoonji.
Yoonji berhenti kemudian menoleh. "Semua barangmu ada di sini, tidak usah repot kembali ke tempat sempit itu."
"Di sini? dimana?" tanya Monika bingung.
"Cari saja sendiri."
Mendengar jawaban Yoonji, Monika langsung memutar langkah kembali. Wanita itu berniat segera menemukan barang-barang miliknya. Dia yakin tidak sulit bagi Yoonji untuk memindahkan semua milik Monika, ya saat uang bicara apa yang tidak mungkin bisa langsung jadi mungkin.
Setelah cukup lama Monika mencari Monika menemukan beberapa kardus yang berisi barang miliknya idi depan sebuah kamar, di pintu kamar itu juga tertempel sebuah catatan kecil yang mengatakan kamar itu miliknya. Meskipun cuma satu lantai apartemen Yoonji setara dengan lapangan sepak bola, menurut Monika.
Monika pun segera masuk dan menata barang di kamar miliknya itu, lelah sudah pasti ia rasakan. Apartemen ini terlalu luas untuk di tinggali seorang diri. Ada tiga kamar yang pintunya terkunci, ia yakin itu kamar tidur. Sebuah ruangan gym, dapur ruang tengah yang terdapat sebuah grand piano, ruangan seperti bioskop dengan home teater dan ruang tamu. Pasti sangat melelahkan jika membersihkan semua itu sendiri, tapi gaji 20 juta cukup sepadan. Sambil tersenyum memeluk buku gambar usang Monika terlelap.
"Siap?" tanya Yoonji.
"Tentu." Monika merapikan rambut yang terbang terbawa angin.
Yoonji tersenyum miring melihat Monika, wanita itu terlihat tidak sabar untuk masuk kantor pagi ini. Entah apa yang ingin ia lakukan, Yoonji tidak perduli, yang penting gadis itu mau melanjutkan kontrak mereka, ya itu lebih penting.
Monika melingkarkan tangan di lengan Yoonji, keduanya berjalan masuk ke kantor. Semua mata tertuju pada Monika yang berjalan disamping Yoonji, pria es yang terkenal dingin seperti air laut di kutub utara. Selama ini dia tidak pernah terlihat dekat dengan wanita manapun, hanya seorang wanita yang terus mengaku kalau dia adalah tunangan Yoonji, Yura.
Namun, wanita seksi itu juga sering di tolak oleh Yoonji. Meskipun yura sering datang ke kantor bersama Stefanie, tetap saja Yoonji acuh dan tidak pernah memperlihatkan bahwa Yura adalah wanita yang berarti baginya. Berbeda dengan wanita ini, Yoonji bahkan membiarkan dia melingkarkan tangan di lengannya.
Semua karyawan menunduk hormat dan mengucapkan salam saat Yoonji dan Monika lewat, tak terkecuali seorang wanita bertubuh tambun, Elsa. Yoonji sama seperti biasa hanya mengangguk tanpa bersuara.
"Selamat pagi Tuan," sapa Elsa, dia belum sadar jika ada seorang wanita yang tengah mengapit lengan Yoonji manja.
Mata Elsa terbelalak saat ia mengangkat wajah dan melihat Monika tersenyum lebar padanya.
"Sayang, dia yang memecatku kemarin," ucap Monika dengan bersandar manja pada lengan Yoonji. Tentu dengan akting yang luar biasa.
"Ti-tidak seperti itu Tuan, i-ini hanya salah paham saja," kilah Elsa dengan terbata susah payah ia menelan salivanya hingga berulang kali. Dia tidak menyangka jika wanita yang ia pecat dengan kasar adalah kekasih bosnya.
"Dia bohong, salah paham gimana. Kau bahkan menyuruh dua satpam menyeret ku keluar, seperti sampah!" sarkas Monika, mata lentiknya menatap nyalang pada Elsa yang sudah ketakutan.
Yoonji menatap dingin pada Elsa, meskipun seandainya Monika bukan calon istri kontraknya dia juga tidak suka ada orang yang berlaku semena-mena seperti itu di kantornya. Sorot dingin Yoonji membuat lidah Elsa kelu, tak ada keberanian untuk dia membela diri.
"Lalu apa yang harus aku lakukan pada dia?" tanya Yoonji sambil terus menatap Elsa yeng sudah berkeringat dingin hingga membasahi kemeja yang ia pakai.
"Hemmm, aku suka badut suruh dia pake baju badut lengkap dengan wig warna warni keliling kantor gimana? Dia juga belum minta maaf lho sama aku," jawab Monika sambil mengetuk ujung dagunya.
Dahi Yoonji mengerut, ia menoleh menatap Monika dengan satu alis yang terangkat. Hukuman macam apa itu? ingin menolak tetapi Yoonji sudah terlanjur janji akan menuruti kemauan Monika sebagai salah satu syarat konntraknya berlanjut.
"Apa?! tidak Tuan, saya tidak bisa melakukan itu, lebih baik saya di skorsing satu minggu, dan soal kemarin saya sangat menyesal saya minta maaf yang sebesar-besarnya pada Nona," tolak Elsa, bisa jatuh harga dirinya jika sampai melakukan keinginan gadis itu, image yang sudah ia bangun dengan susah payah akan hancur dalam sekejap.
Bibir Monika mengerucut mendengar penolakan Elsa.
perjanjian kalian harus dibatalkan