NovelToon NovelToon
Cintai Aku

Cintai Aku

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Seiring Waktu / Orang Disabilitas
Popularitas:8.2k
Nilai: 5
Nama Author: elaretaa

Di balik senyum ceria Nadia, tersimpan ketangguhan luar biasa. Meski ia tidak bisa bicara dan berasal dari keluarga sederhana, kecerdasannya membawa Nadia meraih beasiswa di universitas swasta ternama.

Namun, dunianya yang begitu sempurna seketika runtuh saat kedua orang tuanya tewas dalam kecelakaan tragis. ​Demi masa depannya, Nadia membalut lukanya dengan senyuman. Sayangnya, badai kembali datang seolah tidak membiarkan Nadia hidup dengan tenang, hingga ia bertemu dengan seorang pria yang membantunya dari kejamnya dunia.

Bagaimana cerita selanjutnya? Apa yang terjadi pada Nadia? Siapakah pria yang membantu Nadia?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 14

Ruang kantor Pak Johan terasa lebih dingin dari biasanya, suara detak jarum jam dinding beradu dengan helaan napas berat sang manajer yang duduk di balik meja kayunya. Asap cerutu tipis membumbung tinggi, menciptakan atmosfer yang makin menghimpit dada Nadia.

​Nadia berdiri kaku di tengah ruangan, jemarinya meremas kuat kain celana panjangnya. Di atas meja kerja Pak Johan, tampak beberapa pecahan gelas kristal yang dikumpulkan dari ruang VIP 7 semalam.

​Pak Johan membanting berkas di atas mejanya dengan keras hingga membuat Nadia tersentak pelan.

​"Nadia! Kamu tahu siapa yang kamu perbuat semalam?" bentak Pak Johan dengan nada tinggi, artikulasi bibirnya sangat jelas memperlihatkan rasa amarah yang membuncah.

​"Tuan Anjas itu tamu penting di sini!"

​Nadia mendongak, matanya yang jernih menyiratkan ketakutan sekaligus rasa tidak terima. Dengan cepat, ia meraih papan tulis kecil di dalam apronnya dan mengetik kalimat dengan jemari bergetar.

​[Pak, saya tidak memulainya. Tuan Anjas yang mendorong saya dan menarik kerah kemeja saya dulu, saya hanya menjalankan tugas mengantar minuman.]

​Pak Johan membaca tulisan itu, lalu terkekeh sinis sambil mengibaskan tangannya kasar.

​"Saya tidak peduli siapa yang mulai, Nadia! Di tempat ini, tamu VIP selalu benar! Kamu itu cuma pelayan, tugasmu adalah membuat tamu senang, bukan buat masalah!" seru Pak Johan.

​Pak Johan bersedekap dada, menatap Nadia dari atas ke bawah dengan pandangan dingin. "Kalau bukan karena mengingat pesan Mila dan fakta bahwa kamu tidak bisa berbicara, saya sudah menendang kamu keluar jalanan detik ini juga!" bentaknya.

​Nadia menundukkan kepalanya dalam-dalam, menahan rasa panas yang merayap di balik kelopak matanya. Ia merapatkan bibirnya sekuat tenaga, membiarkan hinaan dan rasa ketidakadilan itu menumpuk di dalam dadanya. Ia tidak boleh kehilangan pekerjaan ini, tidak sekarang, di saat perutnya kosong dan listrik rumahnya sudah menunggak.

​"Sebagai hukuman atas kekacauan yang kamu buat dan untuk mengganti rugi gelas kristal yang pecah, shift kamu hari ini diperpanjang! Selama satu minggu ini, kamu tidak boleh pulang jam tiga pagi. Kamu harus bersihkan seluruh area hall, lorong, sampai toilet umum sendirian sampai jam tujuh pagi!" lanjut Pak Johan dengan nada tak terbantahkan

​Nadia tertegun. Bekerja nonstop dari jam delapan malam hingga jam tujuh pagi, sebelas jam kerja fisik tanpa henti, tentu akan menguras seluruh stamina fisiknya yang memang sedang menurun. Namun, tidak ada pilihan lain baginya.

​Nadia menarik napas panjang, mengumpulkan sisa-sisa ketegaran di dalam jiwanya. Ia mengangkat kepalanya, mengatupkan kedua tangannya di dada, lalu memberikan anggukan pelan tanda menerima hukuman tersebut tanpa bantahan.

​Malam pun berganti dengan keheningan yang melelahkan, jam dinding menunjukkan pukul setengah 4 pagi. Dentuman musik house yang tadinya memekakkan telinga kini telah padam total, lampu-lampu glamor matikan dan berganti dengan lampu remang operasional, para pengunjung dan mayoritas staf pelayan telah pulang ke rumah masing-masing.

​Di tengah kesunyian gedung megah yang kini tampak lengang dan kotor itu, Nadia berjuang sendirian.

​Dengan ember berisi air sabun dan tongkat pel di tangannya, Nadia menyapu serta mengepel setiap jengkal lantai berkarpet dan keramik yang lengket oleh tumpahan minuman keras. Punggungnya terasa pegal luar biasa, pelipisnya dibasahi keringat dingin dan napasnya mulai tersengal.

​Setiap kali rasa lelah dan kantuk yang teramat sangat menyergap, Nadia akan berhenti sejenak. Ia memejamkan mata, memegangi dadanya, lalu membayangkan wajah hangat Ayah Herman dan senyuman penuh kasih Ibu Sintia.

​'Nadia kuat... Nadia bisa melewati ini. Demi Ayah dan Ibu di surga,' bisiknya dalam hati.

​Nadia memaksakan sudut bibirnya untuk tertarik ke atas, membentuk senyuman manisnya kembali, sebuah mantra ajaib yang selalu memberinya energi untuk terus melangkah maju.

Beberapa saat kemudian, Nadia berpindah melangkah menyusuri lorong VIP di lantai dua. Ketika ia sedang memeras kain pel di dekat sudut tangga, sebuah langkah kaki yang mantap dan teratur berbunyi memecah keheningan lorong.

​Nadia refleks membalikkan badan. ​Dari arah kantor manajemen di ujung lorong, muncul sosok pria jangkung berkemeja hitam dengan lengan yang tergulung rapi. Aksa melangkah dengan tenang, menenteng jas mewahnya di satu tangan, sepertinya pria itu baru saja menyelesaikan urusan bisnis tertutup dengan pemilik utama klub hingga larut malam.

​Langkah kaki Aksa terhenti ketika matanya menangkap sosok gadis ringkih yang sedang memegang tongkat pel di tengah lorong yang sepi.

​Aksa memperhatikan penampilan Nadia, rambut bergelombangnya sedikit berantakan ditumpuk keringat, wajahnya yang pucat pasi memancarkan kelelahan yang luar biasa, namun kemeja putihnya tetap terkancing rapi hingga batas leher.

​Nadia yang menyadari kehadiran Aksa segera menegakkan tubuhnya. Merekam kembali kebaikan pria itu semalam, Nadia meletakkan tongkat pelnya, lalu menangkupkan kedua tangan di depan dada dan memberikan bungkukan badan yang sangat dalam serta penuh rasa hormat.

​Aksa menatap Nadia dengan pandangan pekat yang sulit diartikan, ia melirik jam tangan mewahnya yang menunjukkan pukul lima lewat seperempat pagi lalu beralih menatap ember dan kain pel di tangan Nadia.

​"Kenapa kamu masih di sini?" tanya Aksa dengan suara beratnya yang tenang, artikulasi bibirnya diperlambat secara alami.

​Nadia terpaku sejenak, lalu meraih buku kecil di saku apronnya. Dengan tangan yang agak gemetar karena kelelahan fisik, ia menuliskan kalimat singkat.

​[Saya harus membersihkan tempat ini, Tuan.]

​Aksa membaca tulisan di papan itu lalu dahinya sedikit berkerut, Aksa menatap lurus mata bulat Nadia yang memancarkan kejujuran. Tidak ada raut kemarahan, dendam atau rasa kasihan pada diri sendiri di wajah gadis itu, yang ada hanyalah senyuman pasrah.

​"Masalah kemarin bukan salahmu," ujar Aksa singkat namun tegas.

​Nadia mengulas sebuah senyum tipis yang tulus, jemarinya bergerak mengetik kembali di papan kecilnya.

​[Tidak apa-apa, Tuan. Saya bersyukur masih bisa bekerja di sini, terima kasih banyak atas bantuan dan Tuan semalam.]

​Aksa memandangi gadis di hadapannya cukup lama. Di dunia malam yang penuh dengan kepalsuan, ketakutan dan kebohongan ini, keberadaan Nadia yang polos, tegar dan tetap tersenyum dalam keterbatasannya terasa bagaikan sebuah hal yang sangat langka.

​Tanpa mengucap sepatah kata pun lagi, Aksa merogoh saku kemejanya, mengeluarkan sebuah kartu nama hitam berukir tinta emas yang elegan, lalu mengulurkannya kepada Nadia.

​"Simpan ini, jika suatu saat kamu butuh bantuan atau ada orang yang berniat mencelakaimu lagi di tempat ini, hubungi nomor di kartu itu," ucap Aksa datar.

​Nadia menerima kartu nama tersebut dengan kedua tangannya, ketika Nadia mendongak untuk menyampaikan terima kasih, Aksa sudah berbalik dan melangkah pergi menyusuri tangga, meninggalkan aroma wangi kayu cendana yang menenangkan di lorong yang dingin itu.

​Nadia menggenggam kartu nama itu dan mengulas senyum manis yang hangat. Di tengah kegelapan takdir yang terus menghantamnya, ia tahu bahwa nurani dan kebaikan di dunia ini belum sepenuhnya mati.

.

.

.

Bersambung.....

1
Raisha
kluarga dari pihak Nadia apa gak di kabari & undang ya Thor,kok gak di ceritain? bibinya apa kabar, jadi mo jual rumahnya Nadia? serasa dia ahli warisnya aja,main jual rumah ayahnya Nadia sembarangan, dah kena karmanya lom bik?
Aidil Kenzie Zie
lumayan katanya tapi sampai ludes🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
ada yang masih kangen nich 🤭🤭🤭
Aidil Kenzie Zie
ah akhirnya Aksa mau juga 🥰🥰🥰
erviana erastus
rajin pulang kerumah aksa eh 🤭
falea sezi
lanjut
falea sezi
anak kuliahan klo ada hutang minta bukti. hutang klo asal ngomong gk ada hitam di atas putih itu sama aj nipu😒
falea sezi
moga aja nadia
erviana erastus
ih aksa 🤣 tuh kan terpesona kamu sama nadia makax jgn sok² nolak gtu 🤭 demi apa coba tetiba mau tidur dirumah 🤣
Raisha
moduuuuuuss...kamu dah gak bisa tahan pengin dekat² Nadia kan meski otakmu menolak tp hatimu berkata lain😂😂...untungnya papamu tau & ngerti apa yg kamu inginkan,makanya kamu gak boleh tinggal di rumahnya lagi...sabar Aksa, tunggulah sampai waktunya tiba
Naufal Affiq
buat emosi bacanya
Naufal Affiq
lanjut kak
Naufal Affiq
lanjut kak,seru ceritanya
erviana erastus
kalo jodoh nggak kemana kan aksa🤣
Rizky Manik
Aksa, kau yg ngajak Nadia nikah ya awas aja kalo kau gkbisa cintai Nadia, bakal kukutuk kau jadi batu😏🤣
Raisha
kalimatnya typo lg Thor🙏🤭....bukan "...teman anak Papa..." harusnya "...anak teman Papa..." krn yg othor tulis itu artinya temannya anak Papa pdhal Nadia kan anak temannya Papa,gitu kan maksudnya? Maaf kalo salah 🙏😃
elaretaa: Siap Kak, nanti author revisi lagi ya🙏🙏🙏🙏
total 1 replies
Sartini 02
bagus ceritanya dan selalu ditunggu
elaretaa: Terima kasih atas dukungannya Kak🥰🥰🥰🥰❤️
total 1 replies
Raisha
sampai di bab ini,masih banyak typo Thor 🙏...seperti kalimat "....dg balapan kemeja hitam yg tergulung....", artinya kata "balapan" itu apa?🤔,aku kurang faham. Maaf ya Thor 🙏😃
Raisha: sama² Thor.... terimakasih untuk ceritanya ini, semangat nulisnya ya Thor 🙏😍😂
total 2 replies
Evi Rachmawati
wadidaw aska... uangku banyak....
Aidil Kenzie Zie
E e e Aksa dijodohkan sama perempuan bisu nggak mau ini malah jadi pahlawan terus 🤔🤔🤔
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!