Perjalanan Rumah tangga yang harus kandas. Karena Fitnah dan rekayasa dari seorang Ibu mertua. Yang ternyata diam-diam tak menyukai sang menantu. hingga suatu peristiwa membuat Bagas menjatuhkan talak kepada istrinya.
"Baiklah Mas. Ternyata tiga tahun kita bersama, tidak membuat mas percaya. Mas hanya percaya apa yang terlihat oleh mata, tapi tidak mencari tahu kebenarannya dulu. Selama tiga tahun ternyata kesetiaanku kau ragukan, tanyakan pada hatimu Mas. Apa Aku sanggup mengkhianatimu, tapi itu semua percuma. Cintamu ternyata tak sebesar cintaku,tak ada gunanya aku menjelaskan semuanya,selamat tinggal Mas."
Itulah kata terakhir yang Ratih ucapkan sebelum pergi meninggalkan rumah ini. Kini penyesalanku tak berguna, besarnya rasa sesalku tak akan membuat Ratihku kembali!" Jeritan hati Bagas. Kesalahpahaman yang terjadi antara Ratih dan Bagas,disebabkan oleh ibu dari Bagas.
Mampukah Bagas membawa kembali Ratih dalam hidupnya? Dan bagaimana kisah rumah tangga Bagas dan Ratih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naraaulia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab. 7 ingin butik Ratih
"Sakit, yah? Ini tidak seberapa, dari luka yang kamu torehkan kepadaku." Ratih tersenyum mengerikan.
"Kamu wanita iblis, beraninya kamu berbuat kasar kepada ibuku!" teriak seorang lelaki yang tak lain adalah Bagas. Dan tangan yang Ratih retakkan adalah Tangan Bu Mira, mantan mertuanya.
"Ya, aku memang wanita iblis. Saya akan jauh lebih mengerikan,jika berhadapan dengan orang-orang sepertimu dan ibumu." Ratih menatap tajam mantan suaminya, Bagas. Meski cinta masih ada untuk Bagas, Ratih tak ingin terlihat bucin di depan Bagas.
"Kenapa kamu bisa sekasar ini, Ratih? Kenapa kamu berubah?" tanya Bagas memandang sedih kepada Mantan istrinya. Tatapan mata Bagas tak bisa berbohong, kalau kerinduan tampak jelas di sana. Ia merindukan mantan istrinya.
"Semua orang akan berubah, Mas. Jangan mengharapkan sesuatu yang sama di waktu yang berbeda. Kamu tidak tahu siapa aku Mas. Bawa ibumu pergi dari sini, sebelum aku menambah cedera pada tubuhnya," Tegas Ratih.
"Jangan bawa ibu pergi, Gas! Sebelum dia bertanggung jawab dengan cidera Ibu. Jika tidak, maka dia akan Ibu laporkan kepada polisi atas kasus penganiayaan."Bu Mira tersenyum penuh kemenangan, ia mengira akan menang melawan Ratih.
"Silahkan. Silahkan laporkan semuanya Kepada polisi. Itu artinya, Anda juga harus ditahan, karena akan melakukan tindakan pencurian dan perampasan terhadap barang berharga saya." Ratih tersenyum mengejek.
"Asal Ibu tau, aku membuat Ibu cedera karena melakukan perlawanan. Saat Ibu mencoba mengambil barang berhargaku, dan ingin melakukan tindakan kekerasan juga. Itu artinya aku di sini korban, bukan pelaku." Ratih semakin melebarkan senyumannya.
"Kurang ajar! Kamu sangat licik. Awas kamu Ratih!"Bu Mira tidak bisa berkutik karena perbuatan Ratih.
"Dek, bisa kita bicara serius?" tanya Bagas seraya menatap wajah Ratih, yang tampak semakin mempesona.
"Silahkan, mumpung saya berbaik hati," jawab Ratih Cuek.
"Bu, tolong tunggu Bagas di luar ruangan, sebentar yah!" pinta Bagas kepada Bu Mira.
"Tapi... Gas!" Bu Mira keberatan, jika harus menunggu di luar ruangan.
"Nggak usah drama, Mas mau ngomong Apa?" tanya Ratih, seraya melirik Bu Mira yang tampak begitu kesal, namun harus tetap keluar dari ruangan itu.
"Nggak usah basa basi, Mas. Mas Bagas mau ngomong apa?" tanya Ratih seraya duduk di kursi kebesarannya.
"Sejak kapan kamu mempunyai butikini?" tanya Bagas penasaran.
"Kenapa? Apa keberadaan Butik ini sangat mengganggu, Mas?" tanya Ratih, tanpa menjawab pertanyaan Bagas.
"Jawab Ratih, saya harus tau asal usul butik ini. Jika termasuk dalam harta gono gini, maka kita harus membaginya menjadi dua!" Bagas menelisik isi ruangan Ratih, hingga melihat potret seorang gadis cantik yang memakai pakaian serba hitam.
"Aku pastikan butik ini tidak termasuk dalam harta gono gini. Karena Butik ini berdiri jauh sebelum kita menikah," Ungkap Ratih.
"Bagaimana mungkin. Kamu dapat modal dari mana Ratih? Maaf ya, sedangkan Mas mengenalmu adalah gadis miskin yang tinggal di rumah petak," ucap Bagas yang tak mempercayai ucapan Ratih.
"Kamu tidak tau siapa aku, Mas. Saya berkata jujur, jika butik ini memang sudah ada sebelum kita menikah," Jelas Ratih masih dengan sikap santainya.
"Saya tidak percaya! aku akan tetap memasukkan Butik ini ke dalam daftar harta gono gini, dan akan menuntutnya di pengadilan. Asal kamu tau Ratih, aku awalnya ingin mengajakmu rujuk. Tapi, setelah melihat hal tadi, aku menjadi urung untuk rujuk. karena kamu bukan menantu yang baik buat ibuku. Aku juga sempat berfikir kalau Ibu dan Nita hanya merekayasa foto itu, sehingga aku menceraikanmu. Tapi, setelah ku fikirkan lagi, aku sudah mengambil keputusan yang tepat, Ucap Bagas memandang remeh Ratih.
"Sudah selesai mengeluarkan semuanya Bagas? Kalau sudah itu disana pintu keluarnya, silahkan keluar. Karena sampai mulutmu berbusa pun menolak kenyataan ini, tidak akan merubah kenyataan yang ada. Butik ini, memang aku yang membangunnya. Tidak ada sepeserpun uangmu masuk disini. kuharap kamu tidak lupa berapa jumlah uang yang kau berikan setiap bulannya, kepadaku. Bahkan membeli kebutuhan pribadi ku pun tidak bisa, Mas. Kamu Pikir uang sebesar lima juta, bisa memenuhi Kebutuhan rumah tangga selama sebulan itu bisa menutupi. Tidak! Mas. Semua kekurangannya dari hasil butik ini. Ingat! Semuanya berjalan dari awal kita menikah. Jadi, kamu bisa simpulkan sendiri jawabannya. butik ini ada,memang sebelum kita menikah. Jika kamu kekeh ingin menuntutnya, silahkan. Tapi, ku pastikan kamu tidak akan mendapatkan sepeserpun." Ranum tersenyum mengejek seraya membuka pintu ruangannya, mengusir Bagas secara halus.
Sedangkan Bu Mira, tampak menghampiri Anaknya bertanya hal apa yang tengah dibicarakan berdua dengan Ratih di dalam ruangannya.
"kenapa kamu lesu seperti itu, Gas?" tanya Bu Mira seraya menahan sakit pada tangannya.
"Nggak, Bu. Ayo aku antar ke rumah sakit. Tangan Ibu harus mendapat perawatan sebelum bengkaknya makin parah."Bagas lalu menuntun sang Ibu keluar dari butik mantan istrinya. Namun sebuah suara teriakan menghentikan langkah keduanya.
"Tunggu! Serahkan tas selempang Anda," Ratih mengambil tas Bu Mira dengan paksa.
"Aku hanya mau mengambil ini
Ini milik saya yang diambil dalam tasku." Ratih mengambil jam tangan miliknya yang memang Bu Mira sembunyikan lebih dulu.
"Kamu sekarang pasti kekurangan uang kan, Mas. Apalagi akan membawa wanita tua ini ke rumah sakit?" tanya Ratih tersenyum miring.
"Nih, aku memberikan sedikit rezeki ku, agar kamu bisa merasakan hasil keringatku sendiri." Ratih menyerahkan segepok uang merah, sebesar 5 juta rupiah.
Tanpa pikir panjang, dan tak tau malu. Bu Mira sontak merampas uang itu, dan berjalan lebih dulu meninggalkan Bagas, yang tampak begitu malu melihat kelakuan Ibunya.
"Tidak usah merasa malu, Mas. Karena itulah kelakuan Ibumu saat kamu tidak di rumah. Ia bahkan merampas uang nafkah yang seharusnya menjadi milikku, tapi aku diam saja. karena bisa memenuhi semua kebutuhanku sendiri tanpa mau menyusahkanmu. Silahkan keluar! kuharap ini hal pertama dan terakhir kamu datang ke Butikku," ujar Ratih sebelum meninggalkan mantan suami, yang hanya bisa diam tanpa memberi tanggapan atas ucapan Ratih.
Dalam perjalanan ke rumah sakit, Bagas memikirkan ucapan Ratih yang mengatakan kalau Ibunya sering merampas uang nafkah yang diberikan olehnya untuk Ratih. Ingin sekali Bagas bertanya hal itu, namun ia berpikir itu bukan tindakan tepat. Karena Ibunya pasti tidak akan mengakui perbuatannya.
"Gimana Gas? Apa kamu sudah memberitahu Ratih, jika butik itu akan masuk kedalam harta gono gini?" tanya Bu Mira tidak sabar.
"Sudah, Bu. Tapi, Ratih tidak masalah dengan itu, karena Ratih yakin ia akan menang. sebab butik itu sudah berdiri jauh sebelum aku menikah dengannya.
"Ibu tidak mau tau, Gas. Kamu harus mendapatkan butik itu apapun yang terjadi." Bu Mira tampak menahan Emosinya.
1 jam berlalu Bu Mira sudah selesai memeriksakan tangannya, beruntung tangannya hanya retak, tidak sampai patah. Bu Mira berjalan keluar dan menuju toilet Rumah sakit untuk menelpon seseorang.
["Aku membutuhkan bantuanmu, untuk melumpuhkan seorang wanita." Bu Mira berbicara dengan seseorang melalui ponsel.]
["Perkara yang mudah, kirim foto wanita itu, dan di mana posisinya sekarang. Malam ini juga, aku akan membereskannya." Jawab orang itu. ]
Tanpa basa basi Bu Mira mengirim Foto Ratih, dan memberikan alamat butiknya kepada seseorang yang di telpon nya tadi.
"Jangan salahkan aku, Ratih. Jika kamu harus mengalami semua ini, Aku sudah meminta baik-baik tapi kamu sungguh keras kepala. kamu tidak tahu bagaimana caranya aku menyingkirkan Ibunya Bagas," ucap Bu Mira seraya memandang Foto Ratih di ponselnya.
"Bagaimana? Jangan meremehkan ku, hanya karena aku seorang wanita."Ratih tersenyum mengerikan lalu memisahkan k*k* jari orang itu."
good Author