NovelToon NovelToon
Mengandung Anak Selingkuhan Suamiku

Mengandung Anak Selingkuhan Suamiku

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / Balas Dendam / Penyesalan Keluarga
Popularitas:30.4k
Nilai: 5
Nama Author: Santi Suki

Setelah dua kali mengalami keguguran membuat Vivienne Laurent rela mempertaruhkan segalanya demi satu harapan terakhir. Atas permintaan suaminya, Dominic Ashcroft, ia menjalani program bayi tabung.

Namun, kebahagiaan itu runtuh seketika ketika sebuah pesan datang dari Killian Prescott, pria yang selama ini menjadi musuh abadinya.

"Bayi yang kau kandung bukan berasal dari sel telurmu. Dominic telah menukarnya dengan sel telur Giselle Moreau—selingkuhannya."

Vivienne menolak mempercayainya. Hingga satu demi satu bukti mengungkap kenyataan yang jauh lebih kejam: rahimnya telah dijadikan alat untuk mengandung anak hasil pengkhianatan suaminya.

Akankah Vivienne mempertahankan bayi yang tumbuh di dalam rahimnya atau menggugurkannya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Santi Suki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 1

"Maaf, kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi takdir berkata lain."

Suara dokter terdengar pelan, tetapi setiap katanya menghantam dada Vivienne Laurent seperti palu. Kalimat itu sama dengan kalimat yang pernah menghancurkan dunianya setengah tahun lalu. Kini, kalimat itu kembali merenggut harapan yang susah payah ia bangun.

Vivienne memejamkan mata rapat. Air mata hangat mengalir tanpa henti dari sudut matanya, membasahi pipi yang pucat. Jemarinya yang dingin mencengkeram seprai putih hingga kusut, seolah hanya itu yang mampu menahan tubuhnya agar tidak benar-benar runtuh.

Perlahan, tangan Vivienne bergeser ke atas perutnya. Sentuhan itu begitu lembut, seakan ia masih berharap bisa merasakan kehidupan kecil yang dijaganya dengan sepenuh hati sebulan belakangan ini. Kini rahim itu kembali kosong.

Sesak memenuhi dada wanita berusia 35 tahun itu hingga membuatnya sulit bernapas. Isak kecil lolos dari bibirnya yang bergetar.

"Kenapa?" bisik Vivienne lirih. Kelopak matanya tetap terpejam saat air mata terus mengalir. "Apakah aku memang tidak pantas menjadi seorang ibu?"

Tak ada jawaban. Tak ada suara yang mampu menghapus luka itu.

Ruangan rawat inap terasa begitu sunyi. Hanya bunyi monitor yang berdetak pelan, terdengar seperti hitungan mundur yang mengiringi hancurnya harapan seorang perempuan.

Vivienne memalingkan wajah. Pandangannya jatuh pada jendela kamar yang memperlihatkan langit sore berwarna kelabu.

Sebulan yang lalu, Vivienne sangat bahagia ketika dokter mengatakan dirinya positif hamil. Dia sampai melakukan bed rest karena takut keguguran seperti kehamilannya yang pertama.

Beberapa hari lalu, Vivienne masih membayangkan dirinya menggendong bayi mungil. Ia bahkan sempat berbicara pada janin di dalam kandungannya setiap malam, menceritakan betapa bahagianya ia menunggu hari kelahiran. Kini, semua impian itu lenyap begitu saja.

Pintu kamar perlahan terbuka. Dominic Ashcroft melangkah masuk.

Biasanya pria itu selalu tampil rapi dengan jas yang pas di tubuhnya. Namun kali ini, dasinya longgar, rambutnya sedikit berantakan, dan jas mahal yang dikenakannya tampak kusut. Sorot matanya memerah. Lingkar hitam di bawah matanya menunjukkan bahwa ia pun tidak baik-baik saja.

Begitu melihat Vivienne membuka mata, Dominic segera menghampiri. Tanpa berkata apa-apa, ia menarik kursi ke samping ranjang lalu duduk di sana. Tangannya yang hangat menggenggam jemari dingin sang istri dengan hati-hati.

"Vivi," panggil Dominic pelan.

Vivienne menoleh. Tatapan mereka bertemu.

Mata Dominic dipenuhi rasa khawatir. Sementara, mata Vivienne hanya menyisakan kesedihan yang begitu dalam. Tak satu pun dari mereka mampu mengucapkan kata-kata.

Keheningan itu justru terasa lebih menyakitkan. Bibir Vivienne bergetar. Dalam sekejap, semua usaha untuk terlihat tegar runtuh begitu saja. Ia menundukkan kepala dan menangis sesenggukan.

"Ma-maaf." Suara Vivienne patah. "Maaf, Dominic."

Dominic langsung menggeleng cepat. "Jangan minta maaf."

"Aku gagal lagi." Vivienne menggigit bibir bawahnya agar tangisnya tidak semakin keras.

"Jangan bicara seperti itu," bisik Dominic. "Ini sudah menjadi takdir."

"Aku tidak bisa menjaga bayi kita," ucapnya dengan suara serak. "Aku bahkan tidak bisa melakukan satu hal yang paling kuinginkan— menjadi seorang ibu."

Dominic bangkit dari kursinya. Dengan sangat hati-hati ia memeluk tubuh Vivienne yang masih lemah.

"Kau tidak gagal," bisiknya sambil mengusap rambut panjang istrinya.

"Tapi bayi kita pergi lagi."

"Kau tidak pernah gagal, Vivi."

Suara Dominic begitu lembut, membuat tangisan Vivienne semakin pecah. Ia mencengkeram bagian depan kemeja suaminya erat-erat, seolah takut kehilangan satu-satunya tempat bersandar.

Ini adalah keguguran kedua. Enam bulan yang lalu, mereka pernah merasakan luka yang sama. Saat itu usia kandungan baru menginjak sebelas minggu.

Vivienne mengurung diri selama berhari-hari. Ia berhenti tersenyum, kehilangan nafsu makan, bahkan berkali-kali menyalahkan dirinya sendiri.

"Kalau saja aku lebih berhati-hati. Kalau saja aku tidak terlalu banyak bekerja."

Kalimat-kalimat itu terus menghantuinya hingga membuatnya perlahan bangkit dengan susah payah.

Setelah tahun berlalu sebelum garis dua kembali menghiasi alat tes kehamilan. Hari itu, Vivienne menangis bahagia sambil memeluk Dominic. Ia mengira Tuhan akhirnya mengabulkan doa mereka. Diam-diam Vivienne memilih beberapa nama yang menurutnya indah.

Di lantai dua rumah mereka, sebuah kamar mungil telah dicat dengan warna krem lembut. Sebuah boks bayi putih bahkan sudah berdiri rapi di sudut ruangan. Setiap malam, Vivienne masuk ke kamar itu hanya untuk membayangkan tawa kecil yang suatu hari akan memenuhi rumah mereka.

"Aku capek, Dominic." Suara Vivienne nyaris tak terdengar.

Wanita itu menyandarkan kepalanya di dada sang suami sambil terus menangis. "Aku benar-benar capek."

Dominic mengusap rambutnya perlahan.

"Kalau memang Tuhan belum mengizinkan kita memiliki anak—"

"Aku tidak sanggup kehilangan lagi, tapi aku juga tidak sanggup berhenti berharap," potong Vivienne sambil mengangkat wajahnya yang basah oleh air mata.

Dominic menatapnya lama. Lalu senyum tipis terukir di wajahnya. Senyum yang hangat dan menenangkan.

"Kalau begitu jangan menyerah." Pria berambut cokelat kemerahan itu menggenggam kedua tangan Vivienne dan menatap kedua matanya dengan penuh keyakinan.

"Jika kamu sungguh-sungguh ingin punya anak, masih ada satu jalan lagi."

"Apa?" tanya Vivienne mengerjap pelan.

"Kita jalani program bayi tabung," jawab Dominic.

Vivienne terdiam dan napasnya tertahan. Ia takut berharap terlalu tinggi dan takut kembali kehilangan.

"A-aku takut ga-gal lagi," ucap wanita berparas cantik dengan lensa berwarna biru itu, pelan.

Dominic mengangkat tangan Vivienne, lalu mengecup lembut punggung tangannya.

"Kalau gagal, kita bangkit lagi." Pria itu tersenyum tipis.

"Kalau gagal lagi?" Air mata Vivienne jatuh kembali membasahi pipinya yang mulus.

"Kita coba lagi."

"Kalau tetap gagal?"

Dominic mengusap pipi istrinya yang basah oleh air mata. "Aku tetap memilih hidup bersamamu."

Vivienne menatapnya lekat.

"Bagiku, kau jauh lebih penting daripada siapa pun." Dominic mengelus pipinya dengan ibu jari. "Kau adalah keluargaku. Kau adalah rumahku."

Air mata kembali mengalir di pipi Vivienne. Namun kali ini, di balik rasa sakit yang masih menyelimuti hatinya, muncul secercah kehangatan. Harapan yang tadi hampir padam perlahan menyala kembali.

Dengan bibir yang masih bergetar, ia menganggukkan kepala. "Baik, kita coba."

Vivienne menggenggam tangan Dominic lebih erat.

***

Assalamualaikum. Aku kembali lagi dengan karya baru. Semoga kalian suka. Sebagai dukungan kalian terhadap karya ini, jangan lupa selalu tinggalkan jejak like dan komentar, ya!

1
V3
Good job Vivi 👏
aku suka caramu membalas mereka dg cara halus 👏👏👏
biar mereka JD gembel lg 🤣🤣
V3
keluarga Toxic nih 😡😡😡
yg di otak nya hanya ada uang , uang , dan uang 😡😡😡😡
Uba Muhammad Al-varo
good job Vivienne, semoga apa yang kamu rencana ke Dominic tercapai dan lancar , membuat Dominic sekeluarga menyesal dan menderita
Lisa
Bagus Vivi..balaslah perbuatannya Dominiq pelan²
Kar Genjreng
yakin Viviane mau merawat anaknya si pELaKoR,,,mungkin kelak buat balas balik ga apa apa tergantung didikan nya,,, apabila dewasa biar tau dengan sendirinya si anak itu pasti akan sayang dengan Viviane,,, kalau di gugurin sayang dan dosa. biar bagaimanapun nyawa taruhan nya,,,iya kalau anak nya keluar kalau viviane yang menjadi korban senang malahan Dominic dan si pELaKoR,,,dan Killan juga tidak lepas tangan begitu saja dan Estelle,,, pasti akan ikutan menjaga,,,,
V3
Good job Vivi ,, aku suka cara mu membalas dendam PD mereka semuanya. 👏👏👏
benar-benar halus dan sempurna 👏👏👏
V3
pembalasan yg perfect vivi 👏👏👏
Dini Anggraini
Viviane meskipun kamu mengandungnya jangan pernah mau merawat anak itu bisa jadi boomerang untukmu bila besar dan ketemu giselle anak itu bisa di ajak giselle sama2 mengambil semua hartamu vivianne. 😡😡🥰🥰
V3
buaya buntung lg nyogok Vivi biar tujuan nya berhasil 🤣🤣🤣
Les Tary
pastikan keluarga Dinamic jadi gembel vivi
V3
kudu nya si Dominic yg sllu ngasih uang ke keluarga nya sndri ,, Kok ini mlh uang istrinya yg sllu di berikan.
dasar keluarga parasit 😡😡😡
Nar Sih
rencana yg bagus vivi,semagat buat hancur suami durjana mu
V3
mampoes U .. mau enak nya ja tp sllu nyakitin Vivi 🤦
dasar lintah darat 😡😡
Sugiharti Rusli
pembunuhan karakter si Dominic secara perlahan baru kemudian penjara yang tepat baginya yah,,,
Sugiharti Rusli
karena sepertinya si Dominic sudah merencanakan ini jauh sebelum menikahi nya mungkin yah,,,
Sugiharti Rusli
bagus sih kalo Vivienne tidsk terburu-buru membalas semuanya saat ini juga
Sugiharti Rusli
maksudnya si Malcom yah yang mengangguk nih😁✌
Sugiharti Rusli: eh benar si Killian yah yang mengangguk pelan maksudnya ini dan dia mengerti😇🙏
total 1 replies
@$~~~tINy-pOnY~~~$@
diriku mampir. semangat ye
Eonnie Nurul
meskipun aku kepingin anak tapi aku ya ora Sudi hamil anak selingkuhan suami vi
V3
dan ternyata keluarga nya Dominic sdh mengetahui hubungan nya dg Gissel 😱😱
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!