"Mommy tidak mau tahu Alex, Nikahi dia...!
karena dia sedang mengandung cucu Mommy. Dan kau akan tahu akibatnya jika Daddymu tahu semua ini!" Ancam sang Mommy.
"Aku akan menikahimu hingga anak itu lahir, setelah itu kita berpisah." Alex.
"Baiklah, saya setuju Tuan." Ucap lntan menatap Nanar.
Arinda lntan Ranaya atau lntan, terpaksa harus menikah dengan Alexander Mark Jameson. Lelaki yang dingin dan tak punya hati. lni semua ia lakukan hanya karena anak yang di kandungnya.
5 Tahun berlalu lntan kembali dipertemukan dengan orang yang pernah memberinya cinta, sekaligus menorehkan luka.
"Aku sangat mencintaimu lntan. Dari dulu, sekarang, nanti dan selamanya, beri aku kesempatan untuk mengurangi rasa luka yang pernah aku beri"
Akankah lntan kembali pada cintanya itu?
Yuk Kepoin mereka jangan lupa dukungannya ya 🤗🤗🤗
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon chacha shyla, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KSI Part 7
lntan benar-benar di buat bingung dengan sikap Alex yang tiba-tiba saja berubah manis. Bagaimana tidak lelaki itu begitu memperhatikan nya dari segala hal, bayangan kan saja saat turun dari mobil ia harus di gendong ala bridal style oleh suaminya itu. Dan mata lntan kini menyapu seluruh penjuru rumah tanpa berkedip, karena la baru pertama kali melihat rumah yang begitu mewah dan luas itu, bahkan mungkin dia akan tersesat, jika berjalan di tempat itu.
"Tuan apa benar ini rumah Anda, dan apa kita akan tinggal di sini?" tanyanya begitu Ia tiba di dalam rumah.
"Ya, kau benar sekali, tapi hanya untuk sementara hingga anakmu itu lahir," ucap Alex, membuat lntan seketika terdiam.
"Apa kau lapar? dan butuh sesuatu?" tanya Alex, ketika selesai membaringkan tubuh istrinya di atas ranjang yang berukuran king size di kamar pribadi miliknya itu. Dengan cepat lntan menganggukkan kepalanya, karena Ia memang benar-benar sangat lapar, karena sejak semalam tak ada makanan yang bisa masuk ke perutnya.
"Baiklah, kau istirahat saja dulu di sini. Aku akan turun untuk mencarikan makanan untukmu," Alex pun beranjak hendak pergi.
"Apa kau ingin makan sesuatu yang kau sukai?" tanya Alex kembali membalikkan tubuhnya sambil menatap Intan dan mendekat sedangkan satu tangannya kini berada di atas pucuk kepala wanita itu sambil mengelusnya dengan lembut, dan itu membuat Intan merasa begitu nyaman dan terharu.
"Apa Boleh saya minta sesuatu Tuan?" tanya lntan sedikit ragu.
"Tentu saja boleh, apa kau tidak dengar Kata Dokter tadi, jika ibu hamil menginginkan sesuatu berarti Itu tandanya bayinya yang menginginkannya."
"Benarkah?" tanya Intan dengan mata yang berbinar.
"Asal kau tidak menyuruhku pergi jauh dari sini apalagi memanjat pohon mangga untukmu di malam hari, karena jujur aku tidak bisa memanjat pohon tapi kalau memanjatmu aku bisa." kelakar Alex dengan berbisik di telinga lntan dan itu membuat intan seketika tersipu malu bahkan kini wajahnya sudah bersemu merah.
"Saya tidak akan menyuruh Tuan untuk memanjat pohon di malam hari kok, Saya hanya ingin Tuan memesankan sate untuk saya dan Makanlah bersamaku karena saya ingin makan dari suapan tanganmu Tuan." Ucap Intan jujur.
"Apa hanya itu?" tanya Alex ingin memastikan. "Iya hanya itu Tuan." Jawab Intan.
"Baiklah, Tunggu Aku ya!" Alex pun segera melangkah pergi namun tiba-tiba ia berbalik dan mendaratkan sebuah kecupan di pucuk kepala Intan.
Cup.
Dan lagi-lagi itu membuat Intan terkejut. 30 menit berlalu sate yang dipesannya pun tiba, Alex pun segera membawanya naik ke lantai dua.
"Maafkan aku sudah membuatmu menunggu lam__" Alexa tidak jadi melanjutkan kalimat saat menatap Intan yang kini sudah terlelap dalam tidurnya. Alex pun perlahan berjalan mendekat.
"Apa kau sudah tidur?" tanya Alex dengan rasa bersalahnya.
"Bangunlah, kau harus makan dulu, kasihan bayimu dia akan kelaparan dia juga butuh nutrisi, dan kau juga butuh tenaga." Ucap Alex membelai lembut wajah istrinya itu, perlahan Intan pun membuka matanya.
"S-sejak kapan T-Tuan ada di sini?" tanya Intan pada Alex dengan gugup, bagaimana tidak lelaki itu begitu dekat dengan wajahnya, bahkan hembusan nafasnya begitu lembut dan hangat menerpa wajahnya, membuat Intan susah untuk bernafas, bahkan untuk menelan ludahnya sendiri sangatlah sulit. Entah mengapa jantungnya pun berdegup begitu kencang di saat lelaki itu menghipnotisnya dengan tatapan penuh kelembutan tidak seperti beberapa waktu yang lalu.
"Aku minta maaf padamu kalau makanannya telat Kamu jangan marah ya!" ucap Alex yang kini tengah menggenggam jemari tangan wanitanya itu.
"T-tuan, mana bisa Aku marah padamu kau sudah banyak membantuku justru aku berterima kasih padamu karena disaat aku tidak punya siapa-siapa kau ada untukku dan anakku ini." Ucap Intan sambil mengelus perutnya yang terlihat sedikit menonjol itu.
"Sudahlah, Ayo sebaiknya sekarang kamu makan dulu kasihan bayimu nanti akan marah karena kau tidak memberinya makanan dengan cepat.
Biarkan Aku Yang Akan menyuapimu kau duduk saja."
"Tapi Tuan…"
"Apa kau masih akan membantahku? Bukankah tadi kau memintanya padaku?" "Tidak tuan…aku tidak akan membantah mu," jawab Intan sambil menggelengkan kepalanya.
"Good girl…" ucap Alex sambil mengelus kepala wanita itu, Alex pun mulai menyuapi Intan sesuap demi sesuap.
"Tapi Tuan belum makan, Tuan juga pasti sangat lapar," Intan pun merasa tak enak hati.
"Nanti saja, setelah kau selesai makan." Ucap Alex. Dan Tanpa disadari Intan habiskan makanannya dalam porsi besar.
"Tuan, sudah aku sudah kenyang, perutku sudah tidak muat lagi, sekarang biarkan aku menyuapimu juga Tuan," ucap lntan menawarkan diri.
"Kau tidak perlu melakukan itu,! aku bisa makan sendiri," mendengar ucapan Alex Intan pun langsung merasa sedih dan tiba-tiba saja air matanya mengalir, Alex yang melihatnya pun hanya bisa menarik nafas panjang.
"Baiklah, sekarang Lakukanlah apa yang ingin kau lakukan padaku!" ucapnya karena dia tidak ingin melihat wanita di depannya itu menangis hanya karena ingin menyuapinya saja.
''Sudah, aku sudah sangat kenyang,'' ucapnya.
"Tapi kau makan sedikit sekali Tuan,"
"Tidak apa-apa, dengan melihatmu saja aku sudah kenyang,'' ucap Alex jujur karena Entah mengapa jauh di lubuk hatinya yang paling dalam dia sangat mengagumi wanita itu. Meski pun segala yang ada padanya adalah apa adanya, wanita yang memiliki kecantikan sempurna meski tanpa di poles dengan balutan make up sedikitpun, Intan memang begitu sangat terlihat cantik dan mempesona. Alex pun perlahan menyentuh dadanya Di mana posisi jantungnya yang juga kini tengah berdegup dengan kencang di saat matanya beradu tetapan dengan mata Teduh milik Intan.
"E…Tuan…''
''E…Intan…" ucap keduanya secara bersamaan. Lalu mereka tertawa bersama.
"Apa kau ingin mengatakan sesuatu padaku? Katakanlah, sekarang dan aku akan mengatakan yang ingin aku katakan setelah kau mengatakannya padaku."
"Saya hanya ingin bertanya Tuan kapan Mommy datang?"
"Oh…ya ampun…" Alex menepuk jidatnya sendiri, untung kau menanyakannya padaku, aku hampir saja melupakannya kalau begitu aku pergi dulu bay…" Alex segera memalingkan tubuhnya namun sesaat kemudian ia terlihat berhenti, dan itu membuat lntan begitu senang karena Alex pasti mengingat akan mengajaknya untuk ikut pergi dengannya.
Cup.
"Jaga dirimu, aku akan segera kembali, dan jangan lupa minum obatnya" ucap Alex lalu segera berlalu. lntan masih saja bergeming pada tempatnya karena ia berfikir Alex berbalik dan mendekatinya untuk mengajaknya pergi, namun ternyata harapan nya itu sia-sia saja ternyata lelaki itu kembali hanya untuk memberikannya sebuah kecupan di pucuk kepalanya saja.
"Apa dia itu pelupa? atau sengaja lupa? bukanlah dia sendiri yang telah berjanji ingin mengajakku jalan sekalian menjemput Mommy." Sungut lntan merengut kesal.
lntan pun akhirnya memilih memejamkan matanya dalam keadaan emosi.
lntan merenggangkan otot tubuhnya namun ia tiba-tiba saja di buat terkejut saat merasakan ada tangan kekar yang melinkar di pinggangnya, padahal seingat nya tadi Alex tengah pergi untuk menjemput Mertuanya.
"Apa kau sedang lapar sekarang ini?" tanya Alex saat menyadari lntan terbangun.
"T-tuan kau sudah pulang?"
"Jangan panggil Aku Tuan aku suamimu meski suami sementaramu, tapi kita sedang berada di rumah ke dua orang tuaku, usahakan kita harus mesra di depan mereka."