"Ren kamu kirim gadis itu jauh dari negara ini," ucap Devano dengan wajah tanpa ekspresi itu saat bicara.
"Gadis yang mana tuan dan apa kesalahannya?" bertanya dengan penuh tanda tanya, karena belum paham atas ucapan tuannya.
"Gadis yang ada di sebelah mobil ini, karena dia membawa penyakit yang menular," melirik sekilas lalu merasakan kembali penyakit itu lagi.
"Penyakit menular apa tuan?" belum paham maksud perkataan tuannya ini.
"Saat aku melihat kearah dia, jantung ku bekerja dua kali lipat dari biasanya. Bahaya sekali penyakit itu, cepat kamu kirim dia jauh dari negara ini,"
Dalam hati Ren " itu bukan penyakit tuan muda tapi anda jatuh cinta namanya, selamat datang di dunia baru menurut anda tuan muda dan selamat menikmati. jika saya menuruti ucapan anda lalu saya sendiri yang akan susah saat anda tau apa arti debaran jantung itu".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Miss el, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ajaran Sesat.
Puas bergosip bersama Ren, bunda pergi menuju dapur untuk menyiapkan makan malam untuk mereka semua.
Walau sudah ada asisten rumah tangga tetap saja bunda ingin menyiapkan sendiri urusan perut untuk semua anggota keluarga.
Bunda hanya ingin selama dia masih bisa bergerak maka urusan perut mereka akan jadi urusan dia.
"Kalian itu suami dan anak bunda jadi sudah seharusnya bunda yang melakukan ini, beda jika kalian anak mbak maka mbak yang akan memasak untuk kalian semua,"
Seperti itu kira-kira ucapan bunda saat mereka melarang bunda untuk memasak, takut kelelahan katanya.
padahal menurut bunda yang melelahkan itu ya perbuatan papa mereka, you know lah ya tidak perlu di perjelas.
Sejak hari itu mereka membiarkan bunda memasak selama tidak membuat bunda kelelahan.
Makan malam.
"Dev kapan kamu mengenal kan calon mantu sama bunda?"
Belum juga makan sudah di kasih pertanyaan yang membuat selera makan Devano hilang.
Alih-alih menjawab Devano lebih memilih langsung makan.
Bukan tidak menghargai tapi dia butuh tenaga untuk menjawab pertanyaan yang tidak mungkin hanya satu jawaban nanti.
Tau sifat bunda-nya yang tidak akan puas jika hanya dengan satu jawaban.
Selesai makan.
"Bunda ngga capek nanya hal sama tiap hari?"
Telinga Devano saja yang mendengar sampai capek saat di lontarkan dengan pertanyaan yang sama.
"Perasaan bunda biasa aja, iya kan Ren,"
Meminta dukungan pada teman gosipnya itu.
Bunda ini mencari kubu pendukung sebelum berperang eh kayak apa saja.
"Betul Bun, masa kalah sama aku Bun,"
Kompor Ren yang merasa ada teman untuk menyadarkan Devano dari sifat bodohnya yang entah datang dari mana?.
"Betul itu kalah kamu sama Ren,"
Ren hanya bisa menertawakan sahabatnya itu dalam hati.
"Kalau gitu dia aja yang jadi anak bunda, aku mundur aja,"
Jengah Devano.
Bisa-bisanya dia orang ini kompak menyerang dirinya dari dua sisi.
Tidak adil sekali, sudah jelas dia sendiri.
Untuk papanya hanya menjadi penonton tanpa bayaran melihat interaksi ketiganya, karena papa lebih mementingkan nasib dia sebelum tidur dari pada ikut yang ada malah rugi.
"Ren kan emang udah jadi anak bunda, gimana sih bisa lupa. inilah efek jika kelamaan jomblo jadi pikun,"
Hah, kenapa dia bisa memiliki bunda seperti perempuan yang sangat dia cintai ini.
Apa papanya tidak salah bawa istri saat acara pernikahan atau dia anak yang tertukar hingga bundanya tega sekali.
Devano lelah tuhan, eh.
"Terserah bunda saja bagaimana bahagia nya,"
Pasrah Devano jika sudah berada di posisi di serang gini.
"Jadi mau bunda jodohkan ya?"
Semangat bunda saat mendengar kata terserah.
"Siapa bilang mau di jodohkan sih Bun, anak bunda ini banyak yang mau tapi aku aja yang nggak mau. masih mencari yang pas,"
Enak saja dia mau di jodohkan.
Oh tentu saja dia akan menolak, dengan segala yang dia miliki sekarang dia tidak mau terkesan tidak laku hingga harus di jodohkan.
Masih bisa mencari sendiri dan yang pasti pas di hati.
"Katanya tadi terserah gimana sih!! atau menunggu gadis yang membuat kamu jatuh cinta pada pandangan pertama itu,"
Selidik bunda melihat anak pertamanya ini.
Saat memiliki tiga anak hanya satu yang laki-laki, dua lagi perempuan yang masih berada di negeri orang menuntut ilmu.
"Jatuh cinta pada pandangan pertama apa sih Bun? siapa yang membuat gosip nggak jelas gitu,"
Mana tau Devano tentang cinta pada pandangan pertama itu.
Kan dia cuma pintar di dunia bisnis dan buta di dunia asmara.
"Gadis yang bisa membuat kamu berdebar itu?"
Masa iya salah dapat gosip? ini Ren yang ngasih tau yang mana keaslian nya bisa di buktikan.
Ren kan punya kerja sampingan sebagai kang gosip sama bunda.
"Itu bukan jatuh cinta Bun tapi gadis itu aja yang memiliki penyakit mematikan, masa iya aku cuma liat bisa membuat jantung berdebar dan sulit bernafas. jatuh cinta bukannya bikin orang bahagia bukan malah menderita,"
Mana tau Devano tentang jatuh cinta, mungkin jatuh dari tangga mungkin dia tau rasa sakitnya.
"Orang yang jatuh cinta memang berdebar melihat gadis yang di suka bukan penyakit mematikan Devano tapi penyakit yang obatnya hanya orang yang bersangkutan,"
Geram sekali bunda sama anak lajang nya yang lama sold out ini.
Udah mulai jatuh cinta eh malah salah arti.
Kapan dia akan memiliki menantu jika anaknya saja seperti ini.
Tukar tambah otak di mana ya? fikir nyeleneh bunda.
"Jangan pernah sesekali pun membodohi ku Bun, aku tau ini pasti bisikan setan dari Ren, jangan di dengar ajaran sesat itu. Lebih baik bunda kembali ke jalan yang benar,"
Bunda melotot saat Devano berkata demikian.
Mana ada dia lagi berada di jalan yang sesat, ini kebenaran yang harus di luruskan.
Dia sama Ren tidak salah ya, otak pintar Devano saja yang tidak sampai kesana mikirnya.
"Anak kurang ajar, makanya kamu lama dapat jodoh kurang ajar sama bunda sih,"
Sungut bunda lepas kontrol tidak lupa melempar kotak tisu ke arah Devano karena kesal.
Bagaimana bisa Devano berkata demikian padahal dia hanya ingin segera memiliki menantu dari anak bujang satu-satunya ini tapi malah kena tuduh masuk ajaran sesat Ren.
"Doa itu yang baik-baik Bun,"
Devano tidak masalah di lempar sama kotak tisu.
"Kamu itu yang seharusnya bicara yang baik sama bunda,"
"Udah Bun jangan marah terus, liat kerutan di wajah bunda keliatan, lebih baik sekarang kita istirahat dan besok kita di salon ya,"
Papa bangun dari duduknya untuk menghampiri bunda yang jika di biarkan bisa lepas kontrol sebentar lagi.
"Ah yang benar pa?"
Cemas bunda sambil meraba wajahnya.
"Awas kamu Devano, harus tanggung jawab untuk biaya perawatan bunda besok,"
Ancam bunda yang ingin Devano bertanggung jawab pada hal yang tidak pernah dia lakukan sama sekali.
Tanggung jawab karena timbulnya kerutan di wajah bunda? itu kan karena masalah usia bukan karena berdebat dengan dirinya.
Kok tiba-tiba dia berubah status dari korban jadi tersangka.
"Itu bunda siapa sih?"
Devano melirik ke arah bundanya yang sudah menghilang di balik pintu ruang makan.
Lalu dia melirik sinis ke arah Ren yang sedang memasang wajah tanpa dosa yang sudah menyulutkan api.
Setelah itu Devano bangkit dari duduknya berjalan ke arah tangga, tujuannya adalah kamar untuk beristirahat.
"Lo yang mengurus kantor besok Ren sebagai hukuman telah membuat bunda timbul kerutan dan menanggung biaya perawatan bunda,"
"Lah kok jadi gue? perasaan papa masih kaya,"