NovelToon NovelToon
Dipecat Dan Dicampakkan Aku Jadi Juragan Desa

Dipecat Dan Dicampakkan Aku Jadi Juragan Desa

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Dikelilingi wanita cantik / Mengubah Takdir
Popularitas:6.8k
Nilai: 5
Nama Author: kiyoe

Dipecat dari pekerjaan kota dan dicampakkan oleh kekasihnya dalam satu hari membuat Aditya Pratama, seorang pemuda yatim piatu, tidak punya pilihan selain pulang ke desa untuk mengolah tanah warisan orang tuanya yang sangat luas. Namun, usaha perkebunan dan peternakannya berujung kegagalan total hingga uang tabungannya ludes tak bersisa. Di tengah rasa putus asa dan kebingungan menghadapi masa depan, sebuah fenomena gaib memberinya pencerahan berupa Sistem Perkebunan dan Peternakan yang mengubah tanah gersangnya menjadi ladang emas serta menarik perhatian wanita-wanita cantik di sekitarnya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kiyoe, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8

Klak! Klak!

​Suara parang yang membelah bambu terdengar nyaring sejak pagi buta di halaman belakang rumah.

​Adit mengusap peluh di lehernya sambil mengumpulkan potongan bambu yang sudah dibelah dua.

​"Bambunya mau dibikin setinggi apa ini, Dit?" tanya Bang Sopo sambil terus mengayunkan parangnya.

​"Setinggi dada orang dewasa saja cukup, Bang, yang penting rapat," jawab Adit sambil menumpuk bambu-bambu itu.

​Bang Jarwo datang dari arah dapur membawa sebaskom ubi rebus dan teko berisi teh hangat.

​"Istirahat dulu, ini Paman bawa sarapan seadanya buat ganjal perut," ucap Bang Jarwo sambil meletakkan bawaannya di atas tikar.

​Mereka bertiga duduk melingkar di bawah pohon mangga dan mulai memakan ubi rebus itu dengan lahap.

​"Kalau pagar ini selesai, setidaknya babi hutan tidak bisa sembarangan masuk," kata Bang Jarwo memecah keheningan.

​"Bukan cuma babi hutan, Bang, babi ngepet dari kota juga harus kita waspadai," sahut Bang Sopo sambil tertawa sinis.

​Adit tersenyum kecil mendengar candaan Bang Sopo yang menyindir preman suruhan tengkulak pasar.

​"Saya sudah siapkan kawat berduri juga, Bang, nanti kita pasang di bagian atas pagarnya."

​"Bagus itu, Dit, biar kapok siapa pun yang berani lompat masuk ke tanah kita," dukung Bang Sopo bersemangat.

​Setelah sarapan singkat, mereka kembali melanjutkan pekerjaan membuat pagar mengelilingi lahan sayuran baru.

​Pekerjaan itu memakan waktu seharian penuh karena area lahan yang cukup luas.

​Saat matahari mulai terbenam, pagar bambu kokoh dengan kawat berduri di atasnya akhirnya selesai berdiri mengelilingi kebun.

​"Alhamdulillah selesai juga akhirnya," ucap Bang Jarwo sambil memijat pinggangnya yang pegal.

​"Terima kasih banyak ya, Bang Jarwo, Bang Sopo, hari ini tenaga kalian terkuras habis," kata Adit penuh rasa syukur.

​"Santai saja, Dit, kita kan sudah seperti keluarga sendiri," balas Bang Sopo sambil menepuk pundak Adit.

​Malam itu, Bang Jarwo dan Bang Sopo memutuskan untuk menginap di rumah panggung menemani Adit.

​Mereka tidur di ruang tengah beralaskan tikar pandan tua yang sudah agak rapuh.

​Suara dengkuran Bang Sopo terdengar sangat keras bersahutan dengan suara jangkrik di luar rumah.

​Namun Adit tidak bisa memejamkan matanya sama sekali malam ini.

​Perasaannya tidak enak dan pikirannya terus terbayang ancaman dari Pak Kumis.

​Adit bangkit dari kasurnya perlahan dan berjalan mengendap-endap menuju jendela belakang rumah.

​Dia mengintip dari celah papan kayu ke arah kebun sayuran yang gelap gulita.

​"Sistem, aktifkan Peta Analisis Kesuburan Lahan," bisik Adit dalam hati.

​[Mengaktifkan Peta Analisis Kesuburan Lahan.]

​Layar biru transparan langsung muncul di depan pandangan Adit.

​Peta tiga dimensi itu menunjukkan warna hijau terang di area lahan sayuran barunya.

​Namun tiba-tiba, Adit melihat ada dua titik merah kecil yang bergerak perlahan mendekati area hijau tersebut.

​"Titik merah apa itu? Bukankah itu artinya tanah mati?" batin Adit kebingungan.

​[Peringatan: Terdeteksi bahan kimia beracun tingkat tinggi mendekati area lahan subur.]

​Adit membelalakkan matanya membaca peringatan dari sistem.

​"Ada yang membawa racun ke kebunku!" desis Adit dengan rahang mengeras.

​Adit segera berbalik dan menggoyangkan bahu Bang Sopo dengan kuat.

​"Bang Sopo! Bangun, Bang! Ada orang di luar!" bisik Adit setengah berteriak.

​"Hah? Ada apa, Dit?" Bang Sopo terbangun dengan wajah kebingungan sambil mengucek matanya.

​"Ada orang mencurigakan masuk ke arah kebun sayur kita, Bang."

​Mendengar kata kebun, Bang Sopo langsung melompat berdiri dan mengambil goloknya yang tergeletak di samping bantal.

​Keriuhan itu membuat Bang Jarwo ikut terbangun dengan wajah panik.

​"Ada apa ini ribut-ribut malam-malam?" tanya Bang Jarwo dengan suara serak.

​"Ada maling di kebun, Bang Jarwo, ayo kita tangkap," jawab Bang Sopo dengan mata melotot marah.

​Mereka bertiga segera menyelinap keluar lewat pintu belakang rumah tanpa menyalakan lampu senter.

​Keresek! Keresek!

​Suara injakan kaki pada daun kering terdengar samar dari arah pagar bambu.

​Adit memberi isyarat agar kedua pamannya merunduk dan berjalan mendekati sumber suara dengan sangat pelan.

​Di bawah cahaya bulan yang redup, Adit melihat dua siluet pria berpakaian serba hitam sedang jongkok di luar pagar.

​Satu orang memegang tang kecil untuk memotong kawat berduri.

​Orang yang satu lagi menggendong jerigen besar yang dihubungkan dengan selang penyemprot.

​"Ayo cepat sedikit potong kawatnya, keburu ada yang bangun nanti," bisik salah satu pria itu dengan nada kesal.

​"Sabar dulu bos, kawat ini alot banget, tangan saya sampai lecet," jawab temannya yang memegang tang.

​"Pak Kumis sudah bayar kita mahal buat nyiram racun rumput dosis tinggi ini ke kebunnya."

​"Iya bos, saya tahu, kalau lahan ini hancur besok pagi kita bisa langsung foya-foya di kota."

​Darah Adit langsung mendidih mendengar percakapan kedua preman tersebut.

​Tebakannya benar, Pak Kumis benar-benar berniat menghancurkan sumber penghidupannya.

​Bang Sopo yang juga mendengar hal itu sudah tidak bisa menahan emosinya lagi.

​Sring!

​Bang Sopo mencabut goloknya dari sarung kayunya dengan cepat.

​"Woi! Maling tengik! Sedang apa kalian di sana!" teriak Bang Sopo menggelegar memecah keheningan malam.

​Kedua preman itu terlonjak kaget sampai tang yang dipegang salah satunya jatuh ke tanah.

​Klotak!

​"Gawat, bos, kita ketahuan!" teriak pria yang lebih kurus dengan suara gemetar.

​Adit langsung berlari menyalakan senter besarnya dan menyorotkannya tepat ke wajah kedua preman itu.

​Cahaya terang yang menyilaukan membuat kedua preman itu menutup wajah mereka dengan tangan.

​"Jangan coba-coba lari atau golok ini melayang ke leher kalian!" ancam Bang Sopo sambil melangkah maju mendekati pagar.

​Bang Jarwo ikut maju sambil memegang kayu balok yang cukup besar.

​"Siapa yang suruh kalian meracuni kebun saya?" tanya Adit dengan nada dingin dan menusuk.

​Preman berbadan besar yang menggendong jerigen itu mencoba bersikap berani.

​"Bukan urusanmu, anak kampung! Kalian berani macam-macam, kami habisi kalian berdua!"

​Preman besar itu mencabut sebuah pisau lipat dari saku celananya dan mengacungkannya ke depan.

​"Oh, mau main kasar rupanya kau, preman kota kampungan!" ejek Bang Sopo tanpa rasa takut sedikit pun.

​Bang Sopo meludah ke tanah lalu menendang pagar bambu dengan keras.

​Brak!

​Suara tendangan itu membuat kedua preman mundur selangkah karena kaget dengan tenaga Bang Sopo.

​"Buka pintu pagarnya, Dit, biar Abang cincang mereka jadi pakan lele," kata Bang Sopo dengan seringai mengerikan.

​Melihat parang besar yang mengkilap di tangan Bang Sopo, nyali kedua preman itu langsung menciut.

​Mereka sadar bahwa menghadapi orang desa yang sedang marah dan memegang senjata tajam adalah tindakan bunuh diri.

​"Lari, bos! Lari!" teriak preman kurus sambil berbalik badan.

​Preman besar itu juga ikut panik dan langsung melempar jerigen racunnya sembarangan ke tanah.

​Bruk!

​Air racun yang berbau sangat menyengat tumpah membasahi rerumputan di luar pagar.

​Kedua preman itu lari terbirit-birit menembus semak belukar menuju jalan desa yang gelap.

​"Hei! Jangan lari kalian pengecut!" teriak Bang Sopo bersiap mengejar mereka.

​"Sudah, Bang Sopo, biarkan saja mereka pergi," cegah Adit sambil menahan lengan pamannya.

​"Loh, kenapa dibiarkan, Dit? Mereka itu hampir bikin hancur kebun sayurmu!" protes Bang Sopo kesal.

​"Mengejar mereka ke dalam hutan gelap terlalu berbahaya, Bang, lagipula tujuannya sudah gagal," jelas Adit menenangkan.

​Bang Jarwo mendekati jerigen yang terjatuh dan mencium baunya dari kejauhan.

​"Astaga, baunya tajam sekali, ini racun rumput paling keras, Dit."

​Bang Jarwo menutup hidungnya dengan ujung kerah bajunya.

​"Kalau cairan ini sampai disiram ke sayuranmu, bukan cuma tanamannya yang mati, tanahnya juga bakal rusak bertahun-tahun."

​Adit menatap genangan racun di luar pagar itu dengan pandangan gelap.

​Dia menyadari betapa kejamnya persaingan di dunia bisnis pertanian ini.

​"Pak Kumis benar-benar sudah kelewatan batas," batin Adit penuh amarah.

​"Mulai sekarang kita harus adakan ronda malam giliran, Dit, tidak bisa dibiarkan lepas begini," usul Bang Sopo sambil memasukkan goloknya ke sarung.

​"Iya, Bang, saya setuju, keamanan kebun ini harus jadi prioritas utama kita sekarang," jawab Adit menyetujui.

​Mereka bertiga kemudian menimbun tumpahan racun itu dengan tanah agar tidak menyebar ke mana-mana.

​Setelah memastikan area sekitar benar-benar aman, mereka kembali ke dalam rumah dengan perasaan waspada.

​Adit duduk di sudut ruang tengah sambil menyenderkan punggungnya ke dinding kayu.

​Ting!

​[Pemberitahuan Sistem: Misi Darurat Berhasil Diselesaikan.]

​[Anda telah berhasil menggagalkan sabotase dari pihak musuh dan melindungi Lahan Sayuran Unggul.]

​[Kualitas Panen Masa Depan terselamatkan.]

​[Hadiah Misi Darurat: 500 Poin Pengalaman dan 1 Kamera Pengawas CCTV Bertenaga Surya Tak Kasat Mata.]

​Mata Adit langsung berbinar membaca rentetan pemberitahuan dari sistem tersebut.

​"Kamera CCTV tak kasat mata? Ini benar-benar hadiah yang paling aku butuhkan saat ini," gumam Adit pelan.

​Dia segera membuka inventaris sistem dan mengecek detail barang barunya.

​[Kamera Pengawas CCTV Bertenaga Surya Tak Kasat Mata: Dapat dipasang di mana saja tanpa bantuan kabel.]

​[Kamera ini tidak dapat dilihat oleh mata manusia biasa dan langsung terhubung dengan layar sistem di benak Tuan.]

​Adit tersenyum tipis membayangkan betapa canggihnya alat tersebut.

​Dengan adanya kamera ini, dia tidak perlu lagi terjaga semalaman penuh untuk memantau kebunnya dari maling atau preman.

​"Pak Kumis, kalau kau berani mengirim orang lagi, aku akan pastikan kau masuk penjara dengan bukti yang kuat," batin Adit penuh tekad.

​Malam itu menjadi titik balik bagi Adit untuk tidak lagi menganggap remeh orang-orang di luar sana.

​Kesuksesan yang datang terlalu cepat selalu membawa rasa iri dan dengki dari orang lain.

​Adit memejamkan matanya, berencana memasang kamera itu keesokan paginya di titik tertinggi pohon mangga.

​Hari esok pasti akan jauh lebih sibuk, karena bibit sayurannya akan segera menunjukkan pertumbuhan ajaibnya.

1
Astiana 💕
cerita mu sungguh keren Thor, walaupun aku lagi sibuk nulis juga, tapi nyempetin banget baca cerita mu yang ini.😁
kiyoe: heheh harus semangat terus pokoknya kak
total 3 replies
adib
saran dikiit...

hasil panen terlalu OP..
harga terlalu enggak bgt.. pace cepet.

sy jadi agak kurang menikmati..
utk nextnya bs dipertimbangkan saran supaya lebih bisa dinikmati
kiyoe: terimakasih kak adib untuk saran nya ☺️🙏
total 1 replies
adib
beneran udah bucin ma riana..ayam grade SS cm dihargai 150rb.. telur jg cm segitu.. hadeehh
kiyoe: heheh iyaa kak soalnya dia yang membantu Adit dari 0 hingga menjadi sangat sukses 😂
total 1 replies
Astiana 💕
mampir Thor,
😁 jadi keinget film sopo Jarwo baca nama nya.
kiyoe: hehehe makasih kak udah mau mampir hehe 🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!