NovelToon NovelToon
Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Kapten Halim, Istrimu Sudah Tiga Tahun "Menjanda"

Status: sedang berlangsung
Popularitas:74
Nilai: 5
Nama Author: Elara Aisyah

Dianggap "gadis bangkrut yang beruntung", diperlakukan seperti janda selama tiga tahun pernikahan rahasianya. Tapi begitu Renata melepas cincin dan pergi, topeng demi topeng terbuka: peretas nomor satu, putri hilang konglomerat permata, penyelamat nyawa sang Kapten. Saat semua yang menghinanya bertekuk lutut—Kapten Nathan Halim justru jatuh paling dalam, mengejar istri yang telah ia sia-siakan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elara Aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 25

Bab 25

Dua Orang di Pulau Sepi

Renata membuka pintu hanya selebar telapak tangan.

Nathan berdiri di luar dengan satu botol air.

“Apa?”

“Aku ingin memastikan kuncimu berfungsi.”

“Kalau nggak berfungsi, kamu sudah bisa masuk tanpa mengetuk.”

Nathan melihat pengait tambahan terpasang. “Bagus.”

“Hanya itu?”

Ia tampak hendak mengatakan sesuatu, tetapi akhirnya hanya menyodorkan botol. “Kamu hampir nggak minum saat makan malam.”

Renata menerimanya. “Terima kasih.”

Pintu kembali tertutup di antara mereka.

Keesokan pagi, tim mulai bekerja sebelum pukul enam. Hasil pencatatan malam menunjukkan satu upaya akses berhenti tepat setelah jaringan dipisahkan. Pelaku di luar sana mengetahui jalurnya sudah tertutup.

Renata membagi pekerjaan. Xavier dan Liam memeriksa catatan kapal. Tim internal menyalin bukti. Nathan diminta membandingkan nomor komponen dengan arsip vendor Prima.

Selama beberapa jam, ia mengikuti arahan tanpa protes.

“Nomor ini dibuat untuk pasar Asia Selatan,” katanya sambil menyerahkan data. “Unitnya ditarik karena pembaruan sertifikasi. Seharusnya nggak ada di sini.”

Renata memeriksa tanggal. “Ada empat unit yang belum kembali ke gudang.”

“Aku bisa minta audit.”

“Minta salinan resmi. Jangan telepon orang gudang langsung.”

Nathan mengangguk.

Untuk pertama kalinya setelah lama, mereka bekerja berdampingan tanpa bertengkar. Nathan menyiapkan data sebelum diminta. Renata menemukan hubungan antara unit hilang dan izin kapal palsu. Ketika salah satu staf hampir menggabungkan dua salinan log, Nathan menghentikannya karena mengingat aturan Renata.

“Jangan ubah file asli,” katanya. “Buat salinan baru dan catat waktunya.”

Renata menoleh. “Kamu mendengarkan juga rupanya.”

“Aku selalu mendengarkan.”

“Tidak selalu.”

Kalimat itu membuat Nathan terdiam.

Xavier datang membawa makan siang dan melihat keduanya duduk di depan layar yang sama.

“Saya pergi dua jam, kalian sudah bisa bekerja tanpa saling membunuh.”

“Dia akhirnya berguna,” kata Renata.

Nathan seharusnya tersinggung. Aneh sekali, ia malah hampir tersenyum.

Menjelang sore, jalur serangan berhasil dipersempit ke perangkat fisik yang masuk menggunakan identitas vendor lama. Perangkat tersebut sudah dilepas dan disimpan untuk pemeriksaan resmi. Sistem lokasi kembali berjalan dalam lingkungan terbatas.

Renata menandatangani formulir penyerahan perangkat bersama Liam. Xavier meminta hasil awal dikirim ke pusat, tetapi Renata menolak memakai jaringan reguler.

“Kita tunggu jalur terenkripsi tim besok pagi. Lebih lambat beberapa jam lebih baik daripada bukti bocor lagi.”

“Setuju,” kata Nathan sebelum Xavier menjawab.

Renata menoleh kepadanya. “Sekarang kamu membela keputusan saya?”

“Keputusanmu masuk akal.”

“Kemarin kamu menganggap label kabel saya nggak jelas.”

“Aku bisa belajar.”

Ucapan itu terdengar sederhana, tetapi Nathan tidak hanya membicarakan kabel. Renata memahami makna lain di baliknya dan memilih tidak menjawab.

Saat mereka membersihkan meja, Nathan menemukan goresan kecil di jari Renata akibat tepi panel. Ia mengambil kotak pertolongan pertama tanpa diminta.

“Tangan.”

“Hanya goresan.”

“Kuman juga nggak peduli ukurannya.”

Renata membiarkannya menyerahkan plester, tetapi memasangnya sendiri. Nathan tidak memaksa. Perhatian tanpa tuntutan itu jauh lebih sulit ditolak daripada perintah.

Xavier memberi tim waktu istirahat sebelum penyusunan laporan.

Renata memilih berjalan sendiri di jalur kayu dekat pantai. Angin bertiup lebih kencang daripada kemarin. Ia mengangkat tangan untuk menahan rambut, lalu rasa nyeri tipis menjalar dari lengan kiri.

Luka AG2331 memang sudah sembuh, tetapi ototnya kadang masih menegang saat udara berubah.

Ia menekan bagian tersebut.

Nathan yang berjalan beberapa langkah di belakang langsung mendekat. Tangannya terulur ke siku Renata, lalu berhenti di udara.

“Sakit?”

“Cuma pegal.”

“Kita kembali.”

“Saya bisa jalan.”

“Aku nggak bilang kamu nggak bisa.” Nathan menurunkan tangan. “Aku bilang kita kembali.”

Renata menatap kekhawatiran yang tidak sempat disembunyikan di wajahnya. Jika Nathan menunjukkan tatapan itu tiga tahun lalu, mungkin ia akan menyimpannya seperti harta.

Sekarang, perhatian tersebut justru terasa berbahaya.

“Aku mau lihat laut sebentar,” katanya.

Nathan berdiri di sampingnya tanpa menyentuh. Mereka memandang matahari turun di balik air. Tidak ada Cheryl, keluarga Halim, atau kamera. Hanya suara ombak dan jarak satu lengan di antara mereka.

“Kenapa kamu membatalkan perjalanan setelah pernikahan kita?” tanya Renata tiba-tiba.

Nathan tahu perjalanan yang dimaksud. “Prima sedang bermasalah.”

“Cheryl baru pulang ke Jakarta.”

Ia tidak menyangka Renata masih mengingatnya.

“Aku pikir waktu itu nggak penting,” katanya.

“Bagi kamu memang nggak.”

Nathan menatap garis tipis bekas luka di lengannya. “Kalau aku bilang sekarang aku menyesal?”

“Penyesalan nggak mengubah siapa yang menunggu sendirian.”

Angin membawa kalimat itu ke laut, tetapi Nathan merasakannya tetap tinggal di dada.

Malam hari, gangguan listrik singkat membuat vila gelap.

Renata baru keluar kamar untuk mengambil berkas ketika lampu padam. Ia melangkah mundur dan menabrak dada Nathan di lorong sempit.

Tangan lelaki itu refleks menahan pinggang belakangnya agar tidak jatuh.

Napas mereka terdengar terlalu dekat.

Dalam gelap, Renata dapat merasakan panas telapak tangan melalui kain tipis bajunya. Nathan membeku, seolah baru sadar di mana tangannya berada.

Lampu darurat menyala merah beberapa detik kemudian.

Wajah mereka hanya berjarak sedikit. Tatapan Nathan turun ke bibirnya, lalu kembali ke mata.

Renata lebih dulu menjauh.

“Listriknya sudah kembali.”

Nathan menarik tangan. “Aku tahu.”

Mereka berdiri canggung sampai lampu utama menyala.

“Ada lagi?” tanya Renata.

“Aku nggak membawa diffuser dari Puri.”

“Lalu?”

“Aku susah tidur dua malam ini.”

Renata mengangkat alis. “Itu masalahmu.”

Ia membawa berkas masuk dan mengunci pintu.

Beberapa menit kemudian, Renata duduk di teras kamarnya. Laut malam berwarna hitam, hanya dipotong cahaya kecil dari dermaga.

Ia teringat cara Nathan memandangnya di ruang server, tangan yang berhenti sebelum menyentuh lengan, dan napas hangat di lorong gelap.

Jantungnya masih berdetak lebih cepat.

Ia membenci tubuhnya sendiri karena masih mengenali Nathan sebagai lelaki yang pernah dicintainya. Akal sehat dapat mengingat setiap luka, tetapi satu sentuhan hati-hati tetap mampu membangunkan kenangan tentang malam-malam ketika ia berharap pintu kamar terbuka.

Harapan lama tidak benar-benar mati. Ia hanya tidur, menunggu kelengahan untuk hidup kembali.

Jangan berharap lagi, katanya pada diri sendiri.

Kedekatan di pulau tidak mengubah kehidupan yang menunggu di Jakarta.

Sebelum tidur, Renata membuka ponsel. Unggahan baru Cheryl muncul di bagian atas Instagram.

Foto lama memperlihatkan Cheryl dan Nathan berdiri rapat di sebuah pesta, tersenyum seperti dunia hanya milik mereka.

Ada hal yang tidak pernah berubah.

Renata menatap layar itu.

Sedikit demi sedikit, kehangatan di wajahnya menghilang.

Ia menutup aplikasi, tetapi foto itu sudah meninggalkan bayangan lebih gelap daripada laut malam di depannya. Kedekatan sepanjang hari tiba-tiba terasa seperti kesalahan yang harus segera dihentikan sebelum hatinya kembali terluka sendirian lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!