~NOVEL KE 7~
Ini adalah kisah tentang Sundari. kehidupan harmonis nya bersama sang suami, Atmaja, mulai diuji ketika sang suami di PHK dari tempat kerja nya.
Atmaja yang penyayang mulai berubah perangai jadi seorang yang pemarah.
Ditambah Atmaja pun mulai gemar berjudi. Sehingga hutang nya kepada rentenir pun perlahan menumpuk dan kian menumpuk.
Percekcokan pun mulai sering terjadi dalam keluarga kecil tersebut.
Bagaimana kelanjutan kisah nya? mampu kah Sundari bertahan? Terlebih ia memiliki Yuna dan juga calon bayi dalam perut nya.
***
kembali tersebar soundtrack karya mel dlm novel ke 7 ini.
1. "Mama" by Mel di eps. 6
2. "Tidurlah, Nak!" by Mel di eps. 16
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon meli meilia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cemburu
"Ndari?"
Sundari seketika menoleh saat mendengar suara seseorang menyapa nya. Seorang lelaki muda berseragam guru lah yang ternyata menyapa nya tadi.
Sundari mencoba mengingat-ingat, apakah ia mengenal pemuda itu. Setelah mengamati baik-baik wajah nya, Sundari pun akhirnya teringat juga pada identitas lelaki di depan nya itu.
"Tomo?! Kamu ngajar di sekolah ini?" Seru Sundari yang terkejut dengan pengetahuan ini.
Yang dipanggil Tomo lalu mengangguk sambil tersenyum.
"Iya. Aku ngajar di sini sejak beberapa tahun terakhir, Ndar. Anak mu sekolah di sini kah? Siapa nama nya? Kelas berapa?" Tanya Tomo yang kini duduk di kursi belakang kursi Sundari. Dengan begitu, untuk berbincang dengan Tomo, Sundari pun harus agak menolehkan badan nya ke belakang.
"Kelas enam, Mo. Nama nya Yuna. Itu tadi barusan tampil!" Jawab Yuna sumringah.
"Oh Yuna! Gak nyangka. Dia anak kamu toh. Pantas saja kalau aku lihat dia, rasa-rasa ingat sama seseorang. Ternyata kamu ya!" Kekeh Tomo di belakang Sundari.
"Memang nya Yuna mirip aku banget ya?" Tanya Sundari dengan wajah berseri.
"Iya. Mirip banget. Copy an kamu banget Yuna itu, Ndar!" Sahut Tomo mengomentari.
Sundari pun kian sumringah mendengar nya.
"Memang banyak juga sih yang bilang begitu. Heran ya? Padahal biasanya anak perempuan kan kata nya lebih mirip Papa nya ya. Kalau anak lelaki baru mirip Mama nya," ujar Sundari, masih dengan senyuman yang sama.
Membincangkan soal putri nya itu selalu membuat Sundari merasa bahagia. Terlepas dari siapa pun lawan bicara nya. Termasuk juga kepada Tomo.
Sayang nya, seseorang yang duduk di samping Sundari telah salah mengartikan senyuman Sundari saat ini. Dipikir nya saat ini Sundari sedang berbincang mesra dengan lelaki lain.
Tiba-tiba saja tangan Sundari ditarik. Ternyata pelaku nya adalah Atmaja, suami nya sendiri.
"Aduh! Apaan sih, Mas? Pelan-pelan kan bisa!" Tegur Sundari sambil mengusap lengan nya yang tadi sempat ditarik paksa.
"Jaga sikap mu! Gimana pun juga aku ini suami mu! Berani-berani nya kamu main mata sama lelaki lain! Kamu anggap apa aku, hah?!" Kecam Atmaja dengan suara pelan, tepat di telinga Sundari.
Sundari seketika membelalakkan bola mata nya.
"Mas! Siapa coba yang main mata?! Mas jangan ngaco deh!" Balas Sundari tak terima.
Ia pun mengatakan nya dnegan berbisik-bisik pula. Sundari masih memiliki kesadaran untuk tidak bertengkar di muka umum. Ia pun masih memiliki rasa malu.
Di belakang kedua nya, Tomo memandang bingung pada lelaki yang duduk di samping Sundari.
'Seperti nya itu suami nya. Hmm.. beruntung nya lelaki itu bisa menikahi Ndari..' gumam Tomo dalam hati.
Tak lama kemudian, Tomo pun berlalu pergi menuju ruang guru kembali. Ia masih ada pekerjaan menyalin data yang ditugaskan oleh Pak Kepala Sekolah kepada nya.
Sebelum pergi, Tomo semoat berpamitan kepada Ndari dan juga Atmaja.
Tomo meneluk pundak Ndari dan berkata.
"Ndar, aku pamit dulu ya. Maish ada kerjaan soal nya. Mari Mas!" Sapa Tomo dengan ramah kepada Atmaja.
Sayang nya, Atmaja membalas sapaan nya dengan pandangan sengit. Membuat Tomo terkejut dan kebingungan dengan sikao suami nya Ndari tersebut.
'Apa salah ku ya sama suami nya Ndari? Kenapa dia terlihat marah sekali? Apa jangan-jangan dia bisa tahu ya kalau aku punya rasa sama istri nya itu..? Ah.. tapi kan aku tak ada niatan untuk mengganggu pernikahan mereka. Hmm.. sudahlah. Daripada pusing memikirkan hal yang tak jelas, lebih baik aku bergegas menyelesaikan tugas ku!' gumam Tomo dalam perjalanan nya keluar dari Aula.
"Siapa dia? Mantan pacar kamu ya?!" Tuding Atmaja kepada Sundari usai Tomo berlalu pergi.
"Apa an sih, Mas?! Mikir nya kok ya negatif terus ke Adek? Tadi itu Tomo, Mas. Teman SMP aku.." jawab Sundari menjelaskan.
"Dia mantan pacar kamu kan?" Tuding Atmaja berlanjut.
"Siapa juga yang pacaran sama Tomo, Maa. Lagian Adek kan gak pernah pacaran selain sama Kang Mas aja! Gak lama kenal, pacaran, terus langsung diajak nikah sama Kang Mas. Mas ingat kan?" Ujar Sundari mengingatkan sang suami.
"Hmm!" Atmaja menolak mengaku salah.
Lelaki itu malah mengajak Sundari pulang saat itu juga.
"Sudah lah! Ayo kita pulang saja! Mas sudah lapar!" Ajak Atmaja sambil bangkit berdiri.
Sundari menurut tanpa banyak kata. Kedua nya pun akhirnya pulang kembali ke rumah saat adzan zuhur berkumandang lantang melalui speaker di mushola.
***
Sesampai nya di rumah..
"Mas gak mau kamu pakai lipstik lagi kalau keluar rumah! Itu cuma bikin mata lelaki jelalatan tertarik ke bibir mu itu! Bikin mesum!" Titah atmaja sesampai nya ia dan Sundari di ruang TV.
Tanpa menyanggah, Sundari langaung kembali mengiyakan permintaan sang suami. Yah. Walaupun sebenar nya ia kurang menyukai cara dan isi pikiran Atmaja yang sering negatif kepada nya akhir-akhir ini.
"Iya, Kang Mas.." sahut Sundari menurut perintah sang suami.
"Termasuk kalau kamu pergi kerja atau ke warung juga. Gak usah lah pakai-pakai lipstik segala! Bedak aja udah cukup!" Imbuh Atmaja masih dengan emosi meletup-letup.
"Iya, Kang Mas.." jawab sundari dengan wajah yang layu.
Akhir-akhir ini Atmaja memang bersikap kelewat posesif terhadap nya. Seperti kejadian saat bertemu dengan Tomo di sekolah tadi, Atmaja pun pernah menegur Sundari saat ia mengobrol terlalu akrab dengan Pak Kiman.
Pak Kiman adalah tetangga yang tinggal tepat di samping rumah Sundari.
Sundari ingat dengan percekcokan kedua nya terkait Pak Kiman yang berlangsung pada malam-malam sebelum nya.
Flashback.
"Mau apa kakek-kakek itu kemari? Dia habis ngapelin kamu ya?!" Tuding Atmaja saat ia baru saja pulang dari bermain ke rumah teman nya hampir seharian tadi.
"Kakek-kakek gimana sih, Mas? Sebut aja nama nya. Pak Kiman, gitu lho. Beliau kan belum terlalu tua untuk disebut Kakek-kakek," koreksi Sundari seketika.
"Ooh.. jadi kamu masih menganggap kakek-kakek itu cukup bugar begitu, hah? Kau jelas-jelas tahu kalau dia menyukai mu, Ndar. Jadi kenaoa kau masih memberi nya harapan palsu?!" Kecam Atmaja penuh emosi.
"Astaghfirullah, Mas.. istighfar, Mas.. istighfar! Pak Kiman ke sini cuma mau anterin pompa sepeda aja. Kemarin kan beliau pinjam untuk pompa ban sepeda nya yang kempes," papar Sundari menjelaskan.
"Alah! Itu sih cuma alasan dia aja, Ndar. Jangan ketipu deh sama akal bulus nya itu. Mas sudah tahu sedari dulu kalau dia selalu curi-curi pandang lihatin kamu! Dia itu naksir kamu, Ndar!" Tuding Atmaja memberi tahu Sundari.
"Mas berlebihan ah mikir nya. Rasa-rasa nya setiap Pak Kiman ke sini, dia cuma pinjam pompa atau selang air aja kok. Jangan negatif terus dong mikir nya, Mas.. Bisa jadi fitnah lho itu nanti. Hati-hati!" Tegur Sundari mengingatkan.
"Alah! Dikasih tahu malah ngeyel! Mas mau mandi dulu lah! Gerah banget badan Mas ini!" Ucap Atmaja sambil berlalu menuju kamar mandi.
Tinggal lah Sundari yang menatap nya keheranan sambil menggeleng-gelengkan kepala nya berulang kali.
Flashback Selesai.
***
perkedel jagung tapi
semangat menulis 🤗
ma'af baru mampir 😟
semangat, q ksih kmbang sepatu 🌺 y