NovelToon NovelToon
Pedang Penjaga Langit

Pedang Penjaga Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi / Epik Petualangan / Fantasi Timur
Popularitas:2.6k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Jigur

Arga hanyalah pemuda biasa dengan bakat kultivasi terburuk di Kota Awan Biru. Demi menyelamatkan seorang gadis asing bernama Ling Yue, ia rela mempertaruhkan nyawanya.
Pertemuan singkat itu mengubah takdirnya. Sebuah liontin kuno membangunkan roh guru legendaris yang telah tertidur selama sepuluh ribu tahun, sementara pedang tua peninggalan ayahnya ternyata adalah pusaka yang diperebutkan seluruh dunia kultivasi.
Diburu sekte-sekte kuat, kehilangan rumah, dan dipisahkan dari gadis yang mulai mengisi hatinya, Arga memulai perjalanan panjang menuju puncak kultivasi.
Namun tujuannya bukan menjadi penguasa dunia.
Ia hanya ingin cukup kuat untuk menepati satu janji...
"Jangan mati sebelum kita bertemu lagi."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Jigur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6

Kabar burung mengenai tiga kultivator misterius yang diserang hingga hancur di sebuah kios obat pinggiran telah menyebar cepat bagaikan wabah. Tak seorang pun warga kota yang tahu pasti apa yang sebenarnya terjadi. Yang mereka pahami hanyalah satu hal: badai besar yang mematikan akan segera melanda kota mereka.

​Di dalam kios obat yang remang-remang, Arga duduk bersandar pada dinding kayu. Wajahnya masih sepucat kain kafan, sementara napasnya terdengar berat dan putus-putus.

​Paman Darma baru saja selesai membalut sisa luka di dada pemuda itu dengan kain bersih. Pria tua itu menghela napas, lalu menepuk pundak Arga pelan. "Kau tidak perlu menjelaskan apa pun kepada orang tua ini."

​Arga menundukkan kepalanya, menyembunyikan rasa bersalahnya. "Paman..."

​Paman Darma menyunggingkan senyum getir yang penuh kehangatan. "Sejak kecil, kau memang selalu pandai membawa masalah ke kios ini. Dulu, kau pulang dengan wajah babak belur karena berkelahi demi melindungi anak-anak yatim lain. Sekarang, kau malah nekat melawan kultivator tingkat tinggi."

​Arga hanya bisa tersenyum tipis mendengarnya.

​"Tapi..." lanjut Paman Darma, tatapan matanya melembut, "kau tidak pernah membawa masalah karena keserakahan atau niat jahat. Itulah alasan mengapa aku tidak pernah bisa benar-benar marah kepadamu, Nak."

​Sepasang mata Arga seketika memerah, menahan aliran air mata. Selama ini, Paman Darma memang bukanlah keluarga sedarahnya. Namun, pria tua berwajah keriput inilah yang dengan tulus memberinya makan, meminjamkan tempat tinggal, dan mengajarinya meracik obat di saat seluruh penduduk kota mengusir dan mencacinya sebagai anak pembawa sial.

​"Aku... harus pergi dari sini, Paman," ucap Arga lirih namun tegas.

​Paman Darma mengangguk pelan, seolah sudah menduga keputusan tersebut. "Itu adalah pilihan yang paling bijak saat ini."

​"Jika aku tetap nekat bertahan di sini, orang-orang kejam itu pasti akan kembali dengan jumlah yang lebih banyak," lanjut Arga.

​"Dan bajingan-bajingan itu tidak akan ragu untuk membantai seisi kota demi memburumu," sambung Paman Darma dengan nada berat.

​Keheningan yang pekat kembali merayap di antara mereka. Paman Darma kemudian bangkit, berjalan masuk ke dalam kamarnya yang gelap. Tak lama kemudian, ia kembali dengan membawa sebuah bungkusan kain lusuh yang telah berdebu.

​"Ini... adalah peninggalan terakhir milik ayah kandungmu."

​Arga seketika tertegun, matanya membelalak. "Ayahku?"

​Paman Darma menyerahkan bungkusan kain itu ke tangan Arga. "Aku telah menyimpannya dengan sangat rapat selama bertahun-tahun. Kupikir, suatu hari nanti saat kau sudah cukup dewasa, kau akan membutuhkannya."

​Dengan ujung jari yang bergetar hebat, Arga perlahan membuka ikatan kain lusuh tersebut. Di dalamnya, hanya terdapat tiga buah benda sederhana. Sebilah pedang tua pendek yang permukaannya mulai digerogoti karat, sebuah gulungan peta usang yang tepiannya sudah rapuh, dan secarik surat.

​Arga mengambil surat itu, lalu membukanya dengan hati-hati. Goresan tinta di atas kertas kekuningan tersebut sudah mulai memudar dimakan usia, namun baris kalimatnya masih dapat terbaca dengan jelas.

​"Untuk putraku, Arga.

​Jika surat ini akhirnya sampai ke tanganmu, itu berarti aku telah gagal menepati janjiku untuk kembali pulang ke sisimu.

​Jangan pernah membuang waktumu untuk mencariku. Tumbuhlah menjadi orang yang baik dan jujur, itu sudah lebih dari cukup untuk membuatku bangga sebagai seorang ayah.

​Namun... jika suatu hari nanti dunia yang kejam ini memaksamu untuk mengangkat bilah pedang... pergilah menuju Pegunungan Naga Hitam. Di sanalah seluruh jawaban mengenai asal-usul darah dan keluarga kita berada."

​Tidak ada nama tertera. Tidak ada pula tanda tangan yang disematkan. Hanya untaian kalimat sederhana yang sarat akan kepasrahan.

​Arga meremas surat itu erat-erat di dadanya, setetes air mata akhirnya lolos. "Ayah..."

​Paman Darma menatapnya iba, lalu berujar pelan, "Ayahmu datang ke kota terpencil ini saat kau masih berupa bayi yang merah. Ia hanya tinggal di sini selama beberapa bulan, menitipkanmu kepadaku, lalu pergi menembus badai. Sejak malam itu, aku tidak pernah lagi melihat bayangannya."

​Arga menarik napas panjang, mencoba menegarkan kembali hatinya. Sepertinya, untaian takdir memang sedang mendorongnya dengan paksa untuk segera melangkah keluar meninggalkan batas Kota Awan Biru.

​Tepat pada saat itu, liontin giok berbentuk bulan sabit di pinggangnya kembali memancarkan getaran spiritual yang teramat tipis. Suara Guru Tian kembali terdengar di dalam benaknya, meski terdengar sangat lirih dan lelah.

​"Pegunungan Naga Hitam... Hmph, benar-benar tempat yang menarik..."

​Arga tersentak dalam kesadarannya. "Senior Tian? Anda sudah sadar sepenuhnya?"

​"Jiwa tuaku belum pulih benar akibat menggunakan teknik tadi. Namun, aku sangat mengenali nama tempat yang tertulis di surat itu."

​"Apakah tempat itu memiliki hubungan dengan asal-usul ayahku?" tanya Arga mendesak.

​Guru Tian terdiam cukup lama sebelum akhirnya membalas, "Aku belum bisa memastikannya. Namun, satu hal yang harus kau ketahui, Bocah... Pegunungan Naga Hitam adalah salah satu wilayah terlarang yang paling mematikan dan dihindari di seluruh benua ini."

​Arga menurunkan pandangannya, menatap lekat bilah pedang tua yang berkarat di genggamannya.

​Mungkin, selama dua puluh tahun ini ia hanyalah seorang pemuda fana biasa yang tidak berguna. Namun, mulai malam ini... segalanya telah berubah. Ia kini memiliki tujuan hidup yang jelas. Menjadi lebih kuat, bertemu kembali dengan Ling Yue di Benua Langit Utara, dan menembus wilayah terlarang demi mengungkap misteri besar yang menyelimuti keluarganya.

​Sementara itu, di luar gerbang Kota Awan Biru...

​Suara deru roda besi yang membelah keheningan malam terdengar bergemuruh dahsyat. Kereta perang megah milik Sekte Bayangan Darah akhirnya tiba, berhenti tepat di depan jalur masuk utama. Tiga naga banjir yang menariknya tampak menggeram rendah, memancarkan hawa dingin yang mematikan.

​Di atas dek kereta, pria paruh baya berjubah merah tua berdiri tegak, menatap dinding Kota Awan Biru dengan seulas senyuman dingin yang mengerikan.

​"Jika tikus kecil yang menggunakan teknik itu menolak untuk keluar menemuiku..." gumamnya, suaranya mengandung niat membunuh yang absolut.

​"...maka kita hanya perlu membakar habis seluruh kota busuk ini hingga menjadi abu."

​Wush!

​Bersamaan dengan kalimat itu, gumpalan api magis berwarna merah darah yang pekat mendadak berkobar hebat di telapak tangannya, siap untuk dilemparkan dan menghanguskan ribuan nyawa tak berdosa di bawahnya.

1
Was pray
lemah
Was pray
MC nya berhati baik dan punya empati tapi sayang blo'on
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!