Niken Asmara,gadis manis berusia 18 tahun.Harus mengubur cita citanya untuk kuliah karena mengalami kesulitan ekonomi.Dia melamar kerja sebagai ART dirumah keluarga Baskoro,keluarga paling kaya di Jawa Barat.
Dirumah itu,Niken bertemu dengan Julian Baskoro,putra tunggal Tuan Baskoro.Pria tampan berusia 30 tahun yang berprofesi sebagai seorang pengusaha.
Julian hobi bergonta ganti pacar,dia seorang playboy kelas kakap yang lihai memainkan hati perempuan.Sifat nakalnya itu muncul setelah dia diselingkuhi oleh kekasihnya sendiri.
Diam diam,Tuan Baskoro memiliki rencana untuk menjodohkan Niken dengan Julian.Dia menganggap Niken adalah calon istri terbaik untuk Julian.
Bagaimanakah kelanjutan kisah Niken dan Julian?
Apakah rencana Tuan Baskoro untuk menjodohkan mereka berdua membuahkan hasil?
Follow IG : Fatmawati 1472
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon YoungLady, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 7
...🍂🍂🍂Happy reading🍂🍂🍂...
Dua minggu berlalu sejak Niken dan Julian pindah rumah,Baskoro tidak pernah menelfon putranya.Sekedar untuk menanyakan kabar mereka berdua,atau sedang apa mereka disana.Baskoro takut mengganggu keromantisan pengantin baru,walaupun hatinya diserang oleh rasa rindu pada Julian dan Niken.
Tanpa Niken,suasana rumah jadi sepi.Makanan yang Baskoro makan terasa hambar karena dimasak oleh tangan yang berbeda.Sadar tidak sadar,posisi Niken dirumah itu bahkan jauh lebih berharga daripada anak anak Baskoro sendiri.
Niken selalu pandai membuat Baskoro tertawa dengan tingkah lucu dan gaya bicaranya yang khas.Dia benar benar merasa kehilangan selepas kepergian perempuan muda itu.
Malam hari,diruang tv.
"Ayah,aku perhatikan akhir akhir ini Ayah jadi sering melamun.Apa Ayah sedang ada masalah?"Tanya citra.
"Tidak,Ayah tidak sedang ada masalah.Ayah hanya sedang rindu pada Julian dan Niken saja,"sahut Baskoro sambil memasang wajah sedih.
"Ngomong ngomong soal Julian dan Niken,apa Ayah berpura pura sakit tempo hari untuk menjebak mereka berdua agar mau menikah?"Citra mencoba untuk mengorek informasi lebih dalam.
"Iya,benar,"Baskoro menjawab pertanyaan Citra dengan jujur.
"Sepertinya gadis itu orang yang baik,apa Ayah tidak takut akan menghancurkan masa depannya?Ayah tau kan,bagaimana Julian?Dia tidak bisa setia dengan satu orang perempuan saja,dia seorang pemain,"
"Justru karena Niken gadis baik,Ayah menjodohkan Julian dengannya.Ayah berharap Julian juga akan terbawa jadi orang baik,"
"Bagaimana kalau harapan Ayah tidak terwujud?Bagaimana kalau ternyata hidup Niken jadi hancur dan berantakan gara gara Julian?"
"Ayah tidak kepikiran sampai ke situ,"
"Ayah harus memikirkannya,Ayah harus punya plant B untuk menjaga Niken dari watak buruk Julian,"
Pernyataan Citra sedikit menyudutkan Baskoro,seolah olah jika terjadi sesuatu pada Niken maka Baskoro lah yang harus bertanggung jawab.Citra bersikap seperti itu karena dia juga seorang perempuan,dia bisa memahami perasaan Niken dengan jelas saat ini.
Tapi,jauh disudut hati Baskoro yang paling dalam.Pria tua itu masih menyimpan setitik kepercayaan kalau Julian akan berubah,dia masih memiliki nilai kebaikan dalam hidupnya meskipun terlihat samar.
***
Sementara itu dikediaman barunya,Niken terlihat tengah sibuk berkutat memasak didapur.Julian meminta Niken untuk membuatkannya soto ayam.Meskipun sudah malam,Niken tetap saja melaksanakan perintah dari suaminya itu.
Dia memang tipe perempuan penurut,jarang membantah atau melawan perintah Julian.Mungkin karena sifat itu juga Julian menaruh sedikit perhatian pada Niken.Hanya sedikit,tidak banyak.Sekedar untuk membalas budi atas ketulusan dan kepatuhan Niken saja.
"Bos,sotonya sudah siap.Panggil Bruno juga untuk makan bersama kita"seru Niken.
"Iya,"sahut Julian singkat.
Tak lama,Julian dan Bruno datang.Air liur mereka hampir menetes saat mencium aroma lezat dari masakan buatan Niken.
"Dimakan sampai habis ya,aku sudah susah susah membuatnya,"celoteh Niken.
"Tenang saja Nona,kita punya tukang makan disini,"celetuk Bruno sambil melirik kearah Julian.
"Apa kamu sedang mengejek majikan mu ini secara tidak langsung?"Julian menatap Bruno dengan tatapan tajam.
"Tidak Tuan,saya mana berani meledek Tuan,"Bruno menundukkan pandangannya.
"Berhenti mengintimidasi orang lain,cepat makan!"Omel Niken.
Kring...Kring...Kring...
Ponsel Julian berdering,Julian menunda makannya untuk mengangkat telfon yang sepertinya lumayan penting.
"Ada apa Sarah?"Tanya Julian lirih.
"Aku rindu padamu,bisa tidak kita bertemu?Aku sedang ada di kota M sekarang,"ucap salah seorang kekasih gelap Julian.
Sebenarnya Niken bisa mendengar dengan jelas ucapan wanita j@l@ng dari balik telfon itu,tapi Niken bersikap cuek bebek.Niken tidak memiliki perasaan pada Julian,jadi apapun yang ingin pria lakukan ya lakukan saja.
"Sekarang?"Julian melirik kearah Niken.Wanita itu terlihat santai seolah tak mendengar apapun.
"Iya,aku akan mengirim alamat Hotelnya padamu,"ucap Sarah.
"Oke."Julian menutup telfon dan kembali menyantap makanannya.
Berbeda dengan Niken yang terlihat biasa biasa saja,Bruno sedikit geram mendengar obrolan nakal Bosnya itu.Bisa bisanya dia masih menemui kekasih liarnya setelah resmi menyandang gelar seorang kepala keluarga.Dan Niken,kenapa dia diam saja?Apa dia tidak menyukai Julian?Kalau tidak suka,kenapa mereka berdua menikah?
Berjuta tanda tanya menghujam otak Bruno secara bergantian,membuat pria berumur 25 tahun itu dilanda sakit kepala sebelah.
Makanan di piring sudah habis,Julian pergi keluar rumah begitu saja bahkan tanpa berpamitan pada Niken.Niken juga malas berpura pura bertanya kemana pria itu akan pergi dan jam berapa dia akan pulang kerumah.
Niken membereskan meja makan,tanpa diminta Bruno membantu Niken mencuci piring.Itu sebagai ungkapan terimakasih Bruno kepada Niken karena dia sudah diberi semangkuk soto dengan rasa enak.
"Kenapa jadi kamu yang mencuci piringnya?"Tegur Niken.
"Tidak apa apa Nona,lagi pula saya sedang tidak memiliki pekerjaan,"
"Baiklah,terimakasih sudah mau membantuku.Selesai cuci piring,tolong kunci semua pintu dan jendela ya.Saya mau pergi tidur,"Niken melempar senyum kecil pada Bruno.
"Iya."
Bruno semakin bertanya tanya,disaat seperti ini perempuan itu masih bisa tersenyum?Apa dia tidak merasakan cemburu,sakit hati atau kecewa dan sebagainya?Sepertinya tebakan Bruno benar,kalau Niken tidak menyukai Julian.
Niken terduduk lemas diatas ranjangnya,dia menangis sambil menahan sesak didada.Bukan karena sakit hati atau cemburu,melainkan karena merasa malu pada Bruno.
Didepan asisten pribadinya itu,Julian dengan teganya menginjak injak status Niken sebagai seorang istri.Dia tidak menghormati Niken,tidak menghargai keberadaan Niken disana.
"Saat ini,Bruno mungkin sedang mengasihani aku dalam diam.Entah sampai kapan aku bisa bertahan dalam ikatan rumah tangga yang menyengsarakan ini!"Batin Niken.
Tidak mau terlalu larut dalam kesedihan,Niken naik keatas ranjangnya.Dia menarik selimut dan bersiap untuk pergi tidur.
Pagi hari,Niken membuka pintu.Dia mendapati Julian sedang tidur sambil duduk di kursi teras.Entah jam berapa dia pulang,baik Niken maupun Bruno tidak ada yang mendengarnya.
"Ada apa Nona?"Tanya Bruno yang melihat Niken berdiri mematung didepan pintu rumah.
"Tuan Julian tidur di teras,"
"Benarkah?Saya pikir dia tidak akan pulang,jadi saya tinggal tidur,"
"Biarkan saja dia tidur di kursi,jangan bangunkan dia!"
"Tapi Nona,"
"Aku bilang,biarkan saja!"
"Iya Nona,"
Niken kembali masuk kedalam rumah,Bruno mengikuti dari belakang.
Sebenarnya Bruno merasa kasihan pada Julian,tapi dia tidak berani membantah perintah Niken.Saat Julian terbangun nanti,dia pasti akan langsung memberikan hukuman ekstrim pada Bruno.
Bersambung...