Adnan dan Adara. Dua sahabat yang terpisah karena bencana yang melanda dan konflik antar aliansi negara di Bumi. Sedang Cosmo yang merupakan torus perdamaian, kini tidak bisa mencegah perang yang akan terjadi.
Bagaimana nasib mereka? Berhasilkah Adnan menyelamatkan sosok yang penting baginya?
Sebuah kisah bagaimana dua sahabat memperjuangkan cinta dengan berbagai konflik yang terjadi di sekitarnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yuni_Hana, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
PHASE 7 . USAHA
“Kau menemukan sesuatu di bawah?” tanya seorang pemuda di dalam kokpit pada lawan bicara di balik panggilan.
“Sebuah kamp,” jawab lawan bicaranya—seorang pemuda berambut cokelat.
“Hm? Kamp?”
“I-iya.”
“Jadi,aku tadi melepas racun ke sana?”
“Iya, Adnan.”
Adnan, pemuda berambut hitam yang tengah berada di kokpit burung besi miliknya mengernyit. Dia kembali fokus pada kemudi dan membawa pesawatnya bermanuver di langit sebuah kamp pengungsian. Tentu saja, dia bahkan tak menyadari jika sasarannya kali ini adalah kamp pengungsian tempat di mana orang terkasihnya berada.
“Apa sudah cukup?” tanyanya kembali pada pemuda bersurai cokelat. Pemuda itu bergeming tak menyahut. “Erick?”
“Ah, maaf.” Erick tersentak menimpali.
“Ada apa?”
“Tidak. Bukan apa-apa. Kembalilah ke pangkalan sekarang!” titah Erick sebelum akhirnya Adnan memutar balik pesawatnya menuju ke satu arah.
Pemuda berambut hitam itu sedikit menoleh ke bawah. Asap mulai bergumul tinggi. Padahal, dia hanya menembakkan misil gas beracun saja, tetapi efek yang ditimbulkannya justru membuat ricuh kamp tersebut. Entahlah, yang jelas, untuk dirinya yang kini berada di pihak yang bertentangan dengan kewarganegaraannya membuat dia harus menelan pil pahit. Yah, bagaimana tidak? Bisa dibayangkan bagaimana perasaannya jika harus
membunuh rumpun bangsanya sendiri saat ini.
Kalut.
Sesak menekan dadanya.
“Aku tak pernah menginginkan ini terjadi. Komandan harusnya tahu bagaimana ia harus berpihak dan mengambil keputusan dengan bijak,” pikir Adnan. “Tapi, bagaimana mungkin aku menolak keputusannya jika nyawa Adara mungkin saja di genggamannya kini? Aku tak mau Adara merasakan kesakitan ini. Bahkan jika aku yang harus berkorban untuk kemerdekaan negaraku sendiri. Mungkin ini memang yang terbaik untukku ... dan juga untukmu, Adara.”
***
Batuk beberapa kali terdengar bahkan suara serak lagi-lagi terlontar dari mulut Jo sejak beberapa jam yang lalu mereka sampai di sebuah reruntuhan gedung. Hampir saja Jo muntah jika dia tidak menahan gejolak di perutnya. Sekarang, pemuda ituhanya bisa bersandar lemah di dinding gedung yang sudah penuh dengan retakan itu.
Singkat cerita, Jo membawa serta Jun dan Adara kabur dari kamp saat penyerangan beberapa waktu lalu. Mereka lari tanpa tahu arah. Jo hanya berharap jika dia bisa menyelamatkan adik dan gadis yang bahkan tidak pernah disangka bisa bertemu dengannya. Beruntungnya, masih tersisa beberapa botol obat penawar—Jo tidak tahu sebutannya apa—sehingga Jun bisa disembuhkan.
“Kakak tidak apa-apa, ‘kan?” Jun mendekati tubuh Jo yang semakin lemah. Napas pemuda itu kian memburu bersama degup jantungnya. Keringat dingin sudah mulai mengucur deras sejak beberapa menit yang lalu. “Kakak minum obatnya, ya?”
“Kau harus meminumnya juga, Jo.” Adara mengambil sebuah botol mungil dari dalam ransel yang dibawa Jo.
“Tidak. Tidak usah,”ucap pemuda itu.
Jo membuang muka, menghindari botol tersebut dan berusaha bangkit sekuat tenaga. Namun, lagi-lagi dia ambruk. Lunglai dan mati rasa mulai merambati sendi indera geraknya perlahan.
Adara mendengkus. “Sudah kubilang, kau harus meminumnya!”
“Kak, diminum obatnya.” Jun menyahut cemas. Netra bulat gadis kecil itu mulai berkaca-kaca menatap Jo.
Adara menggigit tepi bibirnya. Merasakan betapa sulit situasinya kini. “Kau harus meminumnya, Jo. Jika tidak—”
“Jika tidak?” Jo menyela sembari meringis mengontrol napasnya yang kian sesak. “Kau sendiri belum meminumnya sejak tadi. Aku hanya bawa lima dan kau harus minum dua botol jika tak mau efek gas beracun tadi menyakiti tubuhmu.”
Gadis itu tersentak. Bibirnya terkunci sekejap.
“Berikan aku satu saja!” ucap Jo seraya merebut kasar botol mungil di genggaman Adara dan bergegas meneguk habis isinya.
Beberapa menit pemuda itu bergeming, mengatur ritme napas dan degup jantung. Pikirannya kian merumit, tetapi dia berusaha untuk mengabaikan hal tersebut. Bagi Jo, tidak seharusnya seorang pria turut kalut terbawa
perasaan jika sedang bersama wanita, atau bahkan anak-anak. Setidaknya, dia harus berani dan mampu membawa Adara dan Jun ke spot lain di wilayah yang sudah seperti neraka abadi ini.
“Aku akan mencari air,” ucap Adara sembari bangkit.
“Kau mau cari ke mana, huh?” sahut Jo. “Jangan pergi sendirian! Kau tak tahu jika selama ini aliansi barat telah mengirim pasukan untuk menyerang rumpun aliansi timur yang masih hidup secara sembunyi-sembunyi. Tak ada suara dalam penyerangan dan itu cukup berbahaya. Jadi,jangan ke mana-mana selagi aku mengatur napas, Adara.”
“Lalu apa yang harus kulakukan?” lirih gadis berambut hitamitu. Setengah menunduk untuk menunjukkan betapa cemas dan takut dirinya saat ini.
Jo memandang gadis itu, meresapi setiap detik rasa yang tersalur padanya. Embus napas panjang menyembul dari kedua lubang hidungnya sesaat kemudian. “Duduklah!” pintanyalirih. “Ada banyak hewan liar yang berkeliaran di luar sana. Duduklah di dekatku jika kau tak ingin mereka memancing orang-orang licik itu kemari.”
Adara berbalik dan memandang Jo getir. Jun sudah tertidur dalam pelukan hangat kakaknya itu. Untuk sekian kalinya, Adara kembali kalut melihat situasi ini. Da menoleh keluar, melihat senja yang kian meluas. Disusul kicau burung yang tengah terbang di langit.
Gadis itu tertunduk. Sirat harap kembali meraut di rupanya. Dia kembali mengigit tepi bibir. Perasaannya teramat kacau, mengharapkan seseorang yang tidak tahu keberadaannya kini.
“Adnan. Kau di mana?” batinnya kalut.
***
Adnan duduk tepat di sebelah jendela kaca tebal yang bisa membuat dirinya memandang kekosongan ruang tidak terbatas di luar sana. Hanya ada padang tandus dengan beberapa runtuhan bangunan masih terlihat. Berbagai tanaman dan pohon masih bisa tumbuh dan bertahan hidup dengan sisa-sisa zat gizi di sana. Masih berjarak beberapa bulan sejak bencana mega itu terjadi dan wilayah ini sama sekali belum terlihat perkembangan yang pasti untuk bangkit dari keterpurukan, bahkan ditambah dengan kuasa aliansi barat yang berhasil menduduki beberapa
bagian.
Pemuda berambut hitam itu masih mengenakan setelan militer usai melaksanakan tugas. Tidak bisa menolak dan juga tidak bisa dianggap pasrah. Adnan melakukannya semata-mata karena dia sendiri pun tidak ingin dua aliansi yang selalu dilanda kontra itu menghakimi dirinya. Memegang identitas dua kewarganegaraan adalah yang tersulit untuk saat ini dan hal itu harus benar-benar disembunyikan jika tidak ingin situasi semakin kacau.
Lagi. Ingatannya mengenang pada sosok seorang gadis. Ya, gadis yang dikenalnya sejak lama. Seseorang yang dia kasihi dan tidak tahu keberadaannya kini. Adnan menunduk, meratap pada secangkir kopi susu hangat di depannya. Matanya menyelisik setiap gelembung busa yang masih tersisa di sana.
“Adnan?”
Seseorang mengurai lamunannya. Adnan menoleh, menatap seseorang yang memanggil namanya. “Erick?”
“Kau sedang apa?” Erick bertanya sembari menempatkan dirinya di kursi yang berseberangan dengan kursi milik rekannya itu. “Akhir-akhir ini kau banyak melamun,” imbuhnya.
Adnan terdiam. Dia mengangguk lemah membenarkan pernyataan Erick.
“Kau masih memikirkannya?” tanya pemuda berambut cokelat itu lagi.
Adnan mengangguk kembali. Dibalas anggukan pula oleh Erick.
“Aku sedang mencari data yang valid mengenai warga negaramu yang masih hidup. Seharusnya, mereka mengirimnya ke Cosmo untuk pendataan. Tapi, aku sama sekali tak menemukannya,” papar Erick sedikit ragu. “Apa aliansi timur merencanakan sesuatu untuk mengubah keadaan?”
Pemuda berambut hitam itu masih bergeming.Iris birunya masih menatap cangkir di depannya.
“Adnan?”
Erick mengerutkan kening, mencoba untuk memahami setiap jengkal pemikiran rekannya. Semenjak peristiwa besar itu, Adnan jauh lebih sering mengunci mulut dan seakan menyembunyikan sesuatu darinya. Padahal jelas-jelas dia tahu mengenai identitas asli pemuda itu.
Apa ... karena ini menyangkut Adara—gadis yang selalu diracau olehnya?
***