NovelToon NovelToon
Dokter Bedah Level Dewa

Dokter Bedah Level Dewa

Status: tamat
Genre:Perubahan Hidup / Sistem / Dokter / Tamat
Popularitas:483.5k
Nilai: 4.9
Nama Author: Novi

Ardi Pratama pernah menjadi dokter bedah yang menjanjikan — sampai ia dijebak masuk penjara, diceraikan istrinya, dan kehilangan hak asuh kedua anaknya. Keluar dari balik jeruji dengan tangan kosong, yang tersisa hanyalah foto lusuh Gatra dan Sari yang selalu ia genggam.

Tapi di malam paling gelap dalam hidupnya, di tengah operasi transplantasi jantung yang nyaris gagal, sesuatu yang mustahil terjadi — sebuah panel virtual muncul di hadapannya.

[Sistem Modifier Aktif]
[Poin Modifikasi: 100 PM]
[Upgrade skill tersedia. Pilih sekarang.]

Satu klik. Skill bedahnya melonjak dari Pemula ke Lanjutan. Jantung pasien yang sekarat kembali berdetak.

Sejak malam itu, Ardi bukan lagi dokter biasa.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Novi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 12

Bab 12: Topeng yang Runtuh

Besok kita akan lihat siapa yang malu.

Keesokan malamnya, ballroom yang sama terasa berbeda.

Lampu masih hangat. Karpet masih tebal. Logo PT Surya Perkasa Group masih berdiri besar di samping panggung. Tapi bagi Ardi, semua ornamen itu kini tampak seperti kain penutup di atas meja operasi. Indah di luar, busuk di bawahnya.

Rudi berjalan di sampingnya sambil merapikan kerah. “Lo yakin mau buka semuanya malam ini?”

“Kalau tidak malam ini, mereka akan pakai nama palsu itu untuk memukul lebih banyak orang.”

“Gue cuma tanya. Bukan mencegah. Jujur, gue pengin lihat muka Hendro.”

Fajar berjalan beberapa langkah di belakang mereka. Wajahnya tenang, tapi sebelum masuk ballroom, ia berkata, “Ardi, pastikan semua yang kamu pakai malam ini bisa dipertanggungjawabkan.”

Ardi mengangguk. “Saya punya jejak pencarian, database publikasi, konfirmasi kontak internasional, dan satu verifikasi dari IDI.”

Fajar berhenti. “IDI?”

“Saya minta bantuan lewat jalur Pak Hartono. Mereka belum bicara resmi sebagai institusi, tapi ada senior yang bersedia ikut video call kalau diperlukan.”

Fajar menatapnya lebih lama. “Kamu benar-benar tidak datang untuk bertanya.”

“Saya datang untuk memastikan.”

Di dalam, Rangga sudah berada di barisan depan. Dewi tidak terlihat malam itu. Hendro duduk di sisi panggung dengan jas rapi, wajahnya berusaha tampak percaya diri. Dr. James Regan berdiri dekat layar, tersenyum kepada tamu-tamu yang menyalaminya.

Seminar lanjutan dimulai dengan slide yang lebih agresif.

James berbicara tentang “standar global” dan “kesenjangan kemampuan rumah sakit daerah”. Beberapa kalimatnya tampak diarahkan ke Ardi tanpa menyebut nama.

“In advanced cardiac surgery, confidence without international exposure is dangerous,” katanya dalam bahasa Inggris. “A surgeon must know his limits.”

Beberapa orang menoleh ke Ardi.

Rangga tersenyum.

Moderator membuka sesi tanya jawab.

Ardi berdiri.

Kali ini, tidak ada bisik ringan. Semua orang menunggu. Setelah pertanyaan semalam, mereka ingin melihat apakah dokter dari Soetomo itu akan dipermalukan atau justru membuat panggung berguncang.

“Dr. James,” kata Ardi, menggunakan bahasa Inggris yang tenang, “you mentioned your paper on pediatric parallel heart transplantation published in the European Journal of Cardiothoracic Innovation, volume 18, issue 4. Could you explain the key data from that paper?”

James tersenyum. “Of course. The paper discusses general outcomes—”

“How many patients?”

James berhenti. “Excuse me?”

“Number of patients. Follow-up duration. Mortality rate. You cited the paper as your own.”

Ruangan menjadi sunyi.

James mengedip. “I don't remember the exact number. It was a collaborative paper.”

Ardi menekan remote kecil. Fajar yang berada di meja teknis memberi isyarat ke operator hotel. Slide di layar berubah.

Hasil pencarian jurnal.

Tidak ada volume 18 issue 4.

Tidak ada artikel dengan judul yang James klaim.

Tidak ada nama James Regan.

“Jurnal itu tidak memiliki volume yang Anda sebutkan,” kata Ardi dalam bahasa Indonesia agar seluruh ruangan menangkap. “Judul paper itu tidak ada di database Scopus, PubMed, maupun arsip penerbit yang Anda cantumkan.”

Bisik-bisik langsung pecah.

James memucat. “This is a misunderstanding. Maybe the archive is not public.”

Ardi mengganti slide.

Tangkapan layar institusi Eropa yang disebut di brosur.

“Institusi ini juga tidak memiliki departemen dengan nama yang Anda tulis. Nama departemennya salah. Alamat email korespondensi di CV Anda menggunakan domain umum, bukan domain rumah sakit.”

Rangga berdiri. “dr. Ardi, ini acara ilmiah. Jangan jadikan forum ini serangan pribadi.”

Ardi menoleh. “Justru karena ini acara ilmiah, semua kredensial harus bisa diverifikasi.”

Hendro ikut berdiri setengah. “Kamu bukan panitia. Kamu tidak punya hak menginterogasi pembicara.”

Sebuah suara dari belakang memotong.

“Kalau pembicaranya palsu, semua peserta punya hak tahu.”

Dokter Hasan masuk ke ballroom.

Ia tidak datang dengan rombongan, tidak membawa drama. Tapi kehadirannya cukup membuat beberapa dokter senior duduk lebih tegak.

Hasan berjalan ke depan. “Saya menerima pesan dari Dokter Fajar. Saya datang karena nama AATS tidak bisa dipakai sembarangan.”

Rangga mengatupkan rahang.

Ardi mengangkat ponselnya dan menghubungkannya ke layar.

Wajah seorang perempuan paruh baya muncul di video call. Rambutnya rapi, kacamata tipis, tatapannya tenang namun tajam.

Fajar berbisik pada Rudi, “Profesor Sri Mulyani.”

Rudi langsung menutup mulut.

Di layar, perempuan itu berkata, “Selamat malam. Saya Profesor Sri Mulyani Hartono dari IDI, divisi kardiotoraks. Saya sudah diminta memeriksa nama dan profil yang diklaim pembicara malam ini.”

Ballroom langsung hening.

Sri Mulyani melanjutkan, “Berdasarkan daftar anggota yang dapat kami verifikasi melalui kontak resmi, tidak ada anggota AATS aktif dengan profil yang sesuai dengan Dr. James Regan yang hadir dalam acara ini. Klaim publikasi yang dikirim kepada saya juga tidak dapat ditemukan.”

James duduk.

Benar-benar duduk, seolah lututnya tiba-tiba kehilangan tugas.

Ardi menatapnya. “Dr. James, apakah Anda masih ingin menjelaskan?”

Keringat muncul di dahi James. “I was invited as an independent consultant. The organizer prepared the profile.”

Semua mata berpindah ke Rangga.

Rangga mengangkat tangan. “Ini pasti kesalahan administratif dari tim. Surya Perkasa Group hanya sponsor.”

“Sponsor yang mencetak nama palsu di spanduk, brosur, undangan, dan materi presentasi,” kata Ardi.

Hasan berdiri di samping Ardi. “Saya tidak peduli politik sponsor. Tapi saya bisa mengatakan satu hal sebagai ahli bedah jantung: pertanyaan teknis yang diajukan dr. Ardi semalam hanya bisa dijawab oleh orang yang benar-benar memahami operasi. Pembicara ini tidak menjawabnya.”

Ia menoleh ke hadirin.

“Saya pernah melihat dr. Ardi di meja operasi. Kemampuannya jauh di atas orang yang malam ini bersembunyi di balik gelar palsu.”

Kalimat itu memukul lebih keras daripada semua slide.

Beberapa dokter mulai mengangkat ponsel. Ada yang merekam. Ada yang berbisik menyebut AATS, IDI, penipuan, sponsor.

Hendro mundur setengah langkah.

Rangga menatap Ardi dengan mata dingin. “Kamu puas?”

Ardi menatapnya balik. “Belum. Tapi malam ini cukup.”

James berdiri dengan wajah kacau, meraih tasnya, lalu berjalan cepat menuju pintu samping. Tidak ada yang menahannya. Tidak perlu. Semua orang sudah melihat.

Rangga mencoba tersenyum kepada tamu, tapi senyum itu pecah sebelum terbentuk. Ia pergi lewat pintu utama dengan langkah kaku. Hendro menyusul dari jauh, tidak berani terlalu dekat, tidak berani terlalu jauh.

Di belakang mereka, ballroom meledak dalam bisik-bisik.

Nama Ardi berpindah dari satu mulut ke mulut lain.

Bukan lagi mantan napi.

Bukan lagi dokter yang baru dapat SIP.

Malam itu, ia menjadi dokter yang menjatuhkan topeng palsu di depan lima puluh lebih saksi.

Setelah acara bubar, Ardi berdiri di lobi hotel sambil menyimpan kembali dokumen di tasnya. Ponselnya bergetar.

Nomor tidak dikenal.

Ia mengangkat.

Suara perempuan dari video call tadi terdengar langsung, tanpa perantara layar.

“dr. Ardi Pratama?”

“Ya, Bu Profesor.”

“Saya Profesor Sri Mulyani Hartono. Saya melihat rekaman lengkap acara tadi. Yang menarik bagi saya bukan hanya keberanian Anda membongkar penipuan.”

Ardi terdiam.

Sri Mulyani melanjutkan, “Pertanyaan klinis yang Anda ajukan semalam bukan pertanyaan dokter biasa. Saya ingin berbicara dengan Anda secara pribadi.”

1
Visitor6812
benar...belum married udah sekamar aja...udah itu koq gak pernah shalat kalo Islam atau ke gereja kalo kristen..
Visitor6812
baru kali ini baca novel online authornya sangat kompeten baik dalam segi penulisan yg tdk pernah salah,pemaparan kisah yg seolah nyata,jika penulis tidak tau jelas mengenai dunia kedokteran mustahil bisa menceritakan hal berkenaan dgn kedokteran lumayan detail dan bagus.....dan yg paling utama novel ini berkualitas jauh dari bahasan esex2 murahan
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
burem kim🤣🤣🤣🤣
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
cerita seperti ini yang berkualiti.. 👍
♉ ᴹᴬsih ᴸᴬgi saYang Aim
keren banget ceritanya
Sisca Zippo
menyala dr ardi 😍👍
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Sisca Zippo
seruu auto pake google translate 😄
Te HUTU
👍👍
Te HUTU
👍
Dadang Ruminta
💪thorrrr
Rusli Kocu
gak usah sok sokan bahasa inggrislah emang semua ngerti
Halik M
membaca dialog menggunakan bahasa asing,mata jadi berkunang² ngga tau artinya ,cuma bisa pasrah saja🤣🤣
Nofal Fauzi
MasyaAllah, ceritanya makin seru saja
Visitor6496
lanjt
TIEL
mampir novel gua cuy
Yaya Rusdaya
pake bahasa indonesia donk thor
Yusri Pasilia
yeeee Indonesia Menang....hahaha
seperti menonton langsung teganggg brooo🤣🤣🤭🤭🤭
Yusri Pasilia
kerennn
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!