Menikah bukan perkara sepele. Menikah itu perkara dua orang yang saling mencintai dan bertanggung jawab atas keputusan yang telah mereka ambil.
Lalu? bagaimana dengan Nayara yang menikah dengan anak majikan nya yang sangat membencinya.
Setiap hari, Nayara harus menerima hinaan dan cacian dari sang suami.
Akan kah? Nayara mendapatkan cinta nya?
Akan kah Nayara akan bahagia??
yukkkk simakkk
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ceritaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6
Andre membaringkan tubuh Nara di atas tempat tidur ruangan pemeriksaan.
"Sebentar yah tuan, kami akan memeriksa pasien terlebih dahulu" ucap dokter.
"Tolong dok, lakukan apapun yang terbaik" kata Bagas.
Dokter mengangguk membalas ucapan Bagas, lalu suster menuntun mereka untuk keluar dari ruangan Nara di periksa. Agar dokter dan perawat bisa melakukan tugas mereka dengan tenang.
"Semoga nona baik baik saja" gumam Nani penuh harapan.
Andre tidak bergeming, ia hendak kembali ke ruangan ICU. Menurutnya, mama nya lebih utama di bandingkan dengan Nara.
Andre merasa lengan nya di tahan oleh seseorang. Ketika ia menoleh, ternyata papa nya yang melakukan hal itu.
"Kamu di sini aja, tunggu Nara selesai di periksa!"
"Tapi pa, aku mau melihat mama"
"Papa akan menunggu mama mu, kamu tunggu lah Nara" ucap Bagas dengan suara pelan, tapi penuh penekanan.
Huh...
Andre hanya mendengus kesal, rasa benci nya semakin mendalam pada Nara. Gara gara gadis itu ia harus tertahan di sini.
"Awas saja kalau kau sudah sadar nanti!" geram Andre mendendam.
...----------------...
10 menit selesai memeriksa Nara, dokter pun keluar.
"Bagaimana kondisi Nara dok? apa dia baik baik saja?" tanya Nani saat menyadari dokter keluarga dari ruangan.
"Pasien baik baik saja, ia hanya kelelahan dan terlambat makan. Seperti nya sejak pagi pasien belum makan" jelas sang dokter.
Nani bernafas lega, setidaknya sesuatu yang buruk tidak terjadi pada Nara.
"Menyusahkan saja" dengus Andre.
Nani hanya bisa menunduk, ia segera masuk ke dalam ruangan di mana Nara terbaring lemas.
Nara masih belum siuman, kata dokter yang perawat sampaikan pada Nani. Nara akan siuman setelah beberapa jam kemudian.
"Nara, syukurlah kau tidak apa apa" Nani menggenggam tangan Nara, perasaan lega dari kecemasan yang kuat akhirnya berkurang.
"Jaga dia, aku akan melihat mama"
"Baik tuan"
Andre pergi dari sana, ia berjalan cepat menuju ke ruangan ICU.
Saat tiba di sana, Andre melihat papa nya tengah berbicara dengan seorang dokter.
"Pa" panggil Andre
"Baiklah, kita bicarakan nanti saja tuan. Saya permisi dulu" pamit Dokter.
Bagas mengangguk, lalu mengucapkan terimakasih.
"Bagaimana kondisi mama pa?" tanya Andre melirik kearah dalam ruangan ICU.
"Mama kamu sudah melewati masa kritis nya. Bagaimana dengan Nara?" ucap Bagas balik bertanya.
Andre merasa heran dengan orang orang di sekitarnya. Mereka sangat peduli pada Nara yang jelas jelas tidak ada hubungan dara dengan mereka.
"Dia baik baik saja, hanya kelelahan dan terlambat makan saja" jelas Andre.
"Apa kita sudah bisa melihat mama?" lanjut Andre, ia tidak sabar ingin bertemu dengan mama nya.
"Sudah, tapi setelah mama mu di pindahkan ke ruangan rawat inap" jawab Bagas.
Andre mengangguk pasrah, setidak nya ia sudah merasa lega, mama nya sudah melewati masa kritis.
...----------------...
Nara masih terbaring lemas, mata nya masih tertutup rapat.
Di sebelah kanan ranjang, ada Nani dan juga Cika yang beberapa menit yang lalu tiba di rumah sakit.
"Bagaimana keadaan nya?" tanya Cika menatap wajah pucat Nara.
"Dia kelelahan, dan dia juga belum makan. Makanya drop, apalagi setelah melihat kondisi nyonya. "
"Hmm...Dia sangat dekat dengan nyonya, tentu saja dia akan merasa sangat terpuruk dengan semua ini " lirih Cika menghela nafas. Masih terngiang di benak Cika, bagaimana syok nya Nara ketika mendengar kabar tentang Relaina.
"Uhh..."
Nani dan Cika langsung menoleh kearah Nara yang baru saja mengeluarkan suara.
"Nara.."panggil Nani.
Nara melihat ke sekeliling nya, kening nya mengerut.
"Di mana aku?" tanya Nara terdengar lemah.
"Kau ada di rumah sakit Nara, saat di depan ruangan nyonya, kamu pingsan" jelas Nani.
Mendengar penjelasan Nani, Nara jadi teringat dengan majikan nya. Ia memaksakan tubuh nya yang lemah bangkit dari ranjang rumah sakit.
"Nyonya, aku harus melihat nyonya!!"
"Nara, kamu itu baru sadar. Kamu harus beristirahat dulu" cegah Cika. Tapi Nara tidak mau mendengarnya, ia bersikeras ingin pergi dari sana dan pergi ke ruangan Relaina.
"Gak, aku harus melihat nyonya. Nyonya baik baik saja kan? aku harus ke sana sekarang"
Bruk~
Tubuh Nara ambruk di lantai, kaki nya yang masih terasa lemas tidak mampu menahan tubuhnya.
"Nara!!" pekik Cika dan Nani, mereka langsung membantu Nara kembali naik ke atas ranjang rumah sakit.
"Kamu masih lemah Nara, kamu harus memulihkan tenaga mu dulu"
"Tidak Nani, Aku ingin melihat nyonya. Aku mohon bawa aku melihat nyonya. " Cika dan Nani saling melempar tatapan. Melihat Nara yang seperti ini membuat mereka berdua tidak tega.
"Hiks...Aku tidak akan bisa tenang jika belum melihat nyonya, hikss..."
Nani menghela nafas, ia menyuruh Cika untuk mengambil kursi roda.
"Duduk lah di sini Nara, kami akan membawa mu ke ruangan nyonya" kata Cika mendorong kursi roda ke hadapan Nara.
Nara mengangguk cepat, ia tersenyum senang meskipun air matanya masih mengalir.
"Ayo" seru Cika.
Kedua asisten rumah tangga keluarga Andara, mendorong Nara menuju ke ruangan VVIP , tempat Relaina di rawat.
...----------------...
Bagas dan andre duduk di samping ranjang Relaina. Menatap sedih pada Relaina yang masih menutup mata. Wajah nya yang pucat membuat mereka semakin terpuruk.
Kedua pria itu sangat berharap, Relaina segera membuka matanya.
"Mama...Bangun lah, aku di sini. Putra mama" lirih Andre.l sembari menggenggam tangan mama nya.
"Apa mama gak kasian sama aku? aku kangen mama, maaf tadi aku membentak mama...Maaf ma"
"Cih, sekarang baru menyesal kau, kemarin kemarin kemana!" cibir Bagas.
"Udah lah pa, aku malas berdebat" serga Andre.
"Sekarang kau mau durhaka sama papa ha? mau nunggu papa terbaring dulu baru kau menyesalinya?"
"Papa duluan yang mancing" marah Andre.
"Tapi kan tetap saja kau gak boleh melawan!"
Kedua pria itu saling membuang muka, sikap keras kepala dan tidak mau mengalah, membuat keduanya sering bertengkar. Sejak Andre masih kecil, Andre sudah tidak akur dengan papa nya.
Ada saja yang membuat Andre dan papa nya bertengkar. Entah itu mereka yang becanda nya kelewat, entah juga karena Bagas yang iseng pada putranya.
Hanya Relaina yang bisa menyatukan ayah dan anak itu, di saat mereka bertengkar.
Lalu semuanya berbeda semenjak adanya kehadiran Nara. Semua nya berubah, Bagas dan Relaina bisa menjadi lembut ketika sudah mendengar suara nara yang melerai mereka, yang sedang mengomeli Andre.
Akan tetapi, Andre merasa cemburu. Ia tidak tahu jika Nara selalu membela nya di saat ia ketahuan bolos sekolah, minum beer, dan lain lain.
Andre hanya berpikir kedua orang tua nya hanya membela Nara dan Nara.
Rasa cemburu yang berbuah kebencian, akan bertambah di saat Nara selalu mengikuti kemana pun Andre pergi.
Andre juga sering di goda oleh teman teman nya, karena Nara selalu mengikutinya.
Semakin bertambah lah rasa benci di hati Andre untuk Nara. Andre berpikir jika dirinya sering di ejek teman karena kehadiran Nara dalam hidupnya.
Bukan hanya itu, Andre juga merasa risih pada teman teman nya, yang mendekati nya hanya karena ingin dekat dengan Nara.
Entah marah karena banyak teman nya yang ingin dekat dengan Nara, atau entah memang Andre tidak menyukai kehadiran Nara.
...----------------...
Ceklek.
Bagas dan Andre menoleh kearah pintu. Terlihat Nara masuk dengan menggunakan kursi roda yang di dorong oleh Cika, di ikuti oleh Nani dari samping.
Melihat Nara yang datang, Bagas langsung bangkit dan segera menghampiri nya.
"Nara, kamu sudah siuman?" Bagas memeluk Nara penuh kasih sayang, persis seperti anak kandung nya.
"Aku baik baik saja tuan, bagaimana dengan keadaan nyonya?"
Huff...
"Relaina sudah melewati masa kritis nya, tapi ia masih belum sadar" jelas Bagas.
Nara terisak, ia memutar roda kursi rodanya mendekat kearah ranjang Relaina. Meraih tangan kanan Relaina, lalu menggenggamnya erat.
"Nyonya, kenapa anda bisa seperti ini? aku mohon sadar lah"
"Drama" dengus Andre yang segera bangkit dari kursinya, lalu berpindah ke sofa yang sedikit jauh dari ranjang mama nya.
"Jaga mulut kamu Andre!" tegur Bagas.
Nara tidak peduli, ia sudah terbiasa mendengar ucapan Andre yang seperti itu.
Nara terus menggenggam tangan Relaina, hingga ia merasakan sebuah pergerakan dari Relaina.
Nara menatap majikan nya, memastikan jika dirinya tidak salah.
"Nyonya, apa anda mendengar saya??"
Bagas dan yang lain langsung menoleh, mereka kaget melihat Relaina mulai siuman. Kepalanya bergerak menggeleng ke kiri dan ke kana secara pelan.
"Panggilkan dokter!!" teriak Bagas, tangan nya juga menekan tombol darurat agar perawat mengetahui ada panggilan dari setiap kamar yang menekan tombol itu.
Andre segera berlari keluar, ia berteriak memanggil manggil Dokter.
"Dokter!!! Dokter!!!!"
Aku mampir.
Semangat berkarya ya💪🤗