NovelToon NovelToon
Falling In Love With My Ex Wife

Falling In Love With My Ex Wife

Status: sedang berlangsung
Genre:Penyesalan Suami / CEO / Teen
Popularitas:3.9k
Nilai: 5
Nama Author: neng_86

kisah sepasang suami istri yang menyerah di tahun kedua pernikahan karena terlalu banyaknya pertengkaran diantara mereka.

pernikahan yang diawali dengan sebuah perjodohan antara Seraphina Anastasya dengan seorang pria dingin bernama Dikta Rey Ibrahim membuat keduanya mengalami konflik berkepanjangan dan yang diperparah oleh Dikta yang dengan sengaja tetap menjalin hubungan dengan kekasih pria itu yakni Delara Sasmita yang berujung pengkhianatan oleh Delara dengan berselingkuh dibelakang Dikta.

setelah 5 tahun, Dikta dan Sera dipertemukan kembali karena sebuah kecelakaan yang tidak disengaja oleh Sera sehingga dirinya diharuskan bertanggungjawab atas Dikta.

yuk simak kisahnya...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon neng_86, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

diantara dua pilihan

Sore itu hujan kembali turun, membasahi halaman kampus yang mulai sepi.

Arga yang berniat ingin memberi kejutan kepada Sera berdiri di dekat pintu masuk gedung fakultas, payung di tangan, berniat menunggu Sera selesai mengajar. Ia tak berniat mengganggu, hanya ingin memastikan perempuan itu pulang dengan selamat, terutama saat langit sedang gelap seperti ini.

Namun langkahnya terhenti saat melihat sosok di lorong gedung tak jauh dari sana.

Di sana, berdiri Sera, dengan wajah kesal dan mata yang sembab.

Dan di hadapannya... berdiri laki-laki lain. Laki-laki yang tampan, dengan sorot mata yang penuh emosi dan penyesalan yang mendalam. Arga tak mengenalnya, namun ada sesuatu dari cara laki-laki itu menatap Sera seolah ia adalah pemilik segalanya atas perempuan itu yang membuat jantung Arga berdegup kencang karena cemas.

Arga melangkah perlahan, menyembunyikan tubuhnya di balik pilar besar, tak ingin terlihat. Ia mendengar potongan percakapan itu, suara Sera yang gemetar, dan suara laki-laki itu yang terdengar penuh kepedihan sekaligus kepemilikan.

"Kau masih mencintaiku, bukan? Katakan, Sera!"

"Tak ada yang perlu diperbaiki Dikta... Kau dan aku sudah berakhir... "

Dikta.

Nama itu bergema di telinga Arga, dan seketika dunia seakan berhenti berputar.

Ia tahu nama itu. Ia tahu siapa laki-laki itu. Dikta Rey Ibrahim, mantan suami Sera. Laki-laki yang pernah menghancurkan hati Sera hingga perempuan itu memutuskan bercerai dan menghilang dari kehidupannya selama lima tahun lalu membangun tembok raksasa dihatinya.

Arga meremas gagang payung di tangannya hingga buku-buku jarinya memutih. Dadanya sesak, bukan karena marah, melainkan karena perih. Semua kebingungan Sera selama ini, semua penolakannya untuk melangkah lebih jauh... ternyata bukan tanpa alasan. Dikta telah kembali. Dan ia, Arga, hanyalah orang asing yang berdiri di pinggir kisah cinta yang belum benar-benar berakhir.

Ia melihat Sera berbalik dan berlari menjauh, meninggalkan Dikta yang berdiri terpaku di tempatnya. Sera berlari tanpa melihat ke arah mana, hingga hampir menabrak Arga yang berdiri diam di balik pilar itu.

Sera terhenti.

Wajahnya pucat pasi. Matanya membelalak saat melihat Arga berdiri di sana dengan tatapan yang tak bisa ia artikan. Tidak ada kemarahan yang meledak-ledak, tapi ada kesedihan yang begitu dalam, seakan laki-laki itu baru saja kehilangan sesuatu yang paling berharga.

"Arga..." panggilnya lirih, suaranya tercekat. "Kau... kau melihatnya?"

Arga mengangguk pelan, menelan ludah dengan susah payah. "Dia Dikta, bukan? Mantan suamimu."

Bukan pertanyaan. Itu pernyataan yang pasti. Sera menunduk, air mata kembali jatuh tanpa bisa ia tahan. "Ya... itu Dikta. Dia kembali, Arga. Dia kembali dan... aku tak tahu harus berbuat apa."

Kejujuran itu justru semakin melukai hati Arga. Ia tersenyum getir, menatap wajah perempuan yang dicintainya itu dengan tatapan yang penuh pengorbanan.

"Jangan merasa bersalah, Sera," ucapnya lembut, namun terdengar begitu berat. "Seperti sebelumnya, aku bukan orang yang akan memaksamu memilih saat hatimu sedang terbelah seperti ini. Tapi aku ingin kau tahu satu hal... aku melihat tatapannya padamu. Dan aku juga melihat tatapanmu padanya. Kau belum sepenuhnya melepaskannya, bukan?"

Sera tak mampu menjawab. Ia hanya diam, menangis dalam diam.

"Kau tak perlu menjawab sekarang," lanjut Arga pelan. "Aku hanya... butuh waktu untuk mencerna semuanya. Tolong jaga dirimu baik-baik."

Arga menyerahkan payung di tangannya kepada Sera, lalu berbalik melangkah pergi meninggalkan perempuan itu di tengah rintik hujan, tanpa payung, tanpa perlindungan.

Bukan karena ia kejam, tapi karena ia sadar, selama Dikta masih ada di hati Sera, kehadirannya hanyalah sekadar penghibur sementara waktu. Dan Arga terlalu mencintai Sera untuk hanya menjadi pengganti.

Sera memegang payung itu erat-erat, melihat punggung Arga yang perlahan menghilang di balik tirai hujan. Hatinya hancur. Ia kehilangan ketenangan, ia menyakiti Arga, dan ia terjebak di antara dua perasaan yang sama-sama menyakitkan.

Di ujung lorong, Dikta masih berdiri di sana. Ia melihat semuanya. Pertemuan itu, percakapan itu, dan kepergian Arga. Sebuah rasa bersalah bercampur harapan muncul di hatinya. Namun ia tahu kemenangan ini belum tentu membawa kebahagiaan bagi siapa pun.

Hujan semakin deras, membasahi bumi, seakan langit ikut menangis melihat hati yang sedang terbelah tiga arah. Tak ada yang menang di kisah ini. Setiap orang hanya terluka, dengan cara yang berbeda.

...****************...

Sejak sore itu di kampus, suasana berubah total. Bukan lagi sekadar keraguan di hati Sera, melainkan perang dingin yang diam-diam pecah antara dua laki-laki yang sama-sama menginginkannya. Dikta dan Arga, dua dunia berbeda, satu tujuan yang sama yakni memenangkan hati Seraphina.

Tak ada teriakan, tak ada pertengkaran fisik. Justru di balik kesopanan dan ketenangan yang mereka tampilkan, tersembunyi persaingan yang tajam dan penuh perhitungan.

Arga tidak mundur. Ia justru semakin hadir dalam hidup Sera tanpa memaksa, tanpa menuntut. Setiap pagi, sebelum matahari terbit, sarapan hangat sudah ada di depan pintu rumah Sera, disertai secarik kertas bertuliskan: "Semoga harimu menyenangkan"

Ia tahu Sera sedang bimbang, dan ia memilih menjadi tempat pulang yang aman, bukan badai yang menambah keruh.

Saat Sera mengajar hingga larut, Arga menunggu di mobil, bukan untuk mengintai, tapi untuk memastikan perempuan itu pulang dengan selamat. Jika Dikta hadir dengan kata-kata manis dan janji masa lalu, Arga hadir dengan tindakan nyata dan kesabaran tanpa batas.

Suatu sore, saat Sera sedang membersihkan meja di ruang dosen, Arga datang membawa teh hangat.

"Kau pasti lelah bukan? Ini teh herbal, cocok untuk menjaga stamina dan daya tahan tubuhmu...." ucapnya lembut.

Sebuah perhatian sederhana namun sangat berkesan dihati Sera.

"Arga... Aku..."

"It's okey Sera... Kita jangan bahas itu dulu.. Aku tak ingin kau sakit.. Aku duluan ya... Hati-hati nyetirnya..." lagi, kalimat Arga mampu membuat hati Sera semakin gelisah.

...****************...

Jika Arga melakukan dengan aksi, Dikta juga nggak menyerah meski terus di tolak oleh Sera.

Dikta bukan orang yang mudah menyerah.

Suatu siang, Dikta ingin menjemput Sera di kampus tepat saat Arga baru saja tiba untuk mengajak Sera makan siang. Pertemuan itu tak terelakkan. Di depan gerbang kampus, dua laki-laki itu berdiri berhadapan, satu di kiri, satu di kanan Sera. Udara terasa berat, seketika menjadi sunyi.

Dikta menatap Arga dengan tatapan tajam namun terkendali. "Terima kasih sudah menemani Sera selama aku tidak ada. Tapi sekarang, aku sudah kembali. Dan aku berniat memperbaiki semuanya."

Arga tidak mundur selangkah. Ia menatap balik dengan tenang, tanpa amarah yang meledak-ledak. "Niatmu adalah urusanmu, Pak Dikta. Tapi hati Sera bukan benda yang bisa kau klaim milikmu hanya karena kau pernah memilikinya dulu. Dia manusia. Dia punya hak untuk memilih dan aku akan membiarkannya memilih dengan tenang, tanpa tekanan apa pun."

Kalimat itu bagai tamparan bagi Dikta, namun ia tak bisa membantahnya. Arga tidak menggunakan kekuatan atau status. Ia menggunakan kebenaran.

"Kau pikir kau lebih baik dariku?" tanya Dikta pelan, namun penuh penekanan.

"Aku tidak bilang begitu," jawab Arga tenang. "Tapi aku tidak akan pernah menyakitinya. Dan aku tidak akan pernah membiarkannya merasa terjebak."

Sera berdiri di antara keduanya, menyimak dua laki-laki itu berdebat dan menunjukkan siapa yang terbaik diantara mereka.

Disaat dua laki-laki dewasa itu asik berdebat siapa yang baik, Sera telah lebih dulu melangkah bersama salah satu dosen perempuan yang cukup akrab dengannya.

"Kalian lanjutkan saja berdebatnya, aku mau makan dulu dengan Bu Ismi... Bye..." ucap Sera yang telah berlalu pergi meninggalkan dua laki-laki yang hanya bisa terdiam dan terperangah.

Dikta berdecak kesal. " ini semua gara-gara kau...!"

Arga tak menanggapi dan memilih berlalu dari hadapan Dikta.

bersambung....

1
Dewi Andayani
Aku mampir lagi di karyamu, ya Thor😍...
Ditunggu crazy up nya💪
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!