NovelToon NovelToon
Dendam Berdarah Sang Mafia

Dendam Berdarah Sang Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Cinta Seiring Waktu / Penyesalan Suami
Popularitas:3.7k
Nilai: 5
Nama Author: Alia Chans

Malam itu, Akila Georgina kehilangan segalanya.

Tunangan yang dicintainya ternyata berselingkuh dengan adik tirinya sendiri. Belum sempat pulih dari pengkhianatan itu, Akila kembali dijadikan kambing hitam atas kecelakaan yang merenggut nyawa seorang wanita bernama Natalie Hartawan.

Dan putra wanita itu adalah William Hartawan—mafia kejam yang dikenal sebagai The Reaper.

William yakin Akila adalah penyebab kematian ibunya.

Maka ia menjadikan Akila istrinya. Bukan karena cinta, melainkan demi dendam.

"Mulai hari ini, kau adalah istriku. Dan hidupmu menjadi harga atas kematian ibuku."

Namun, semakin lama William mengenal Akila, semakin ia menyadari bahwa wanita yang ingin ia hancurkan ternyata hanyalah korban dari permainan orang lain.

Dendam perlahan berubah menjadi rasa memiliki.

Sementara Akila mulai dihadapkan pada satu pilihan: tetap membenci pria yang memaksanya masuk ke dalam pernikahan itu, atau mempercayai hati yang diam-diam mulai luluh?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alia Chans, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 5

William melangkah masuk ke dalam sana. Sekalipun ada banyak penjaga, tapi tak ada satupun yang berani menghalangi jalan William.

Tatapan William langsung bertemu dengan Antonie yang tengah belajar berdiri bersama Amel.

Berjalan? Tidak! Bagi William, Antonie sangat pantas jika mati saja bukan Natalie.

William melangkah cepat, ia dorong Amel tanpa ragu membuat Antonie pun ikut tersungkur saat Amel jatuh dengan cara yang kasar.

"WILLIAM!" Marah Antonie saat melihat Amel meringis.

Amel tak menyangka kalau William akan berlaku seperti itu padanya.

Senyum miring William terbit mendengar teriakan penuh emosi milik Antonie.

"Kenapa kau harus hidup Antonie? Kenapa kau masih bisa bernafas sedangkan hidupku semakin hancur saat kehilangan Mommy ku!" Ucap William menatap Antonie muak.

Emosi milik William terlihat sangat jelas, kebenciannya sudah semakin mendarah daging terhadap Antonie.

"Sialan!" Umpat William melihat Antonie malah mendekati Amel dan membantu perempuan itu. Ini bukan karena William cemburu tapi karena ia jijik melihat tingkah dua manusia itu.

William melangkah mundur, bukankah didikan Antonie juga yang membuat William kini menjadi keras?

Maka lebih baik ia bunuh saja Antonie dan istri jalangnya itu.

William meraih satu bangku yang ada di belakangnya, ia akan melemparkan benda itu ke arah Antonie tapi tiba-tiba Hanum datang lalu memeluk William.

"Cukup William, cukup. Mau bagaimanapun dia tetaplah Daddy mu. Grandma mohon jangan seperti..."

"Daddy? Kau bilang dia Daddy ku? Dia tidak berduka sama sekali atas kematian istrinya sendiri! Mungkin dia akan menangis jika jalang ini mati!" Ucap William menunjuk Amel dengan kasar.

Amel mengepalkan tangannya. Antonie mencoba berdiri tapi detik itu juga bangku dibanting dengan kasar oleh William membuat Antonie mengeraskan rahangnya.

"Pergilah William! Jika kau datang hanya untuk merusuh maka..."

"Antonie, bukankah aku diciptakan memang untuk menjadi iblis? Kau lupa seperti apa dulu kau bertingkah? Kau selalu membuat Mommy menangis karena terus bermain dengan banyaknya jalang, dan didepan mataku kau tak ragu membela jalang itu. Kau seolah paling berkuasa. Dasar sialan!" Ucap William.

Hanum benar-benar tak kuat menghadapi kehidupan antara Antonie dan juga William. Hubungan mereka sangat buruk dan tak akan pernah mungkin berakhir dengan baik.

Yang paling fatal bagi Hanum adalah Antonie menikahi kekasih dari William.

Antonie bangkit berdiri, ia dibantu oleh Amel.

"Itu kehidupan aku menyukainya, lalu soal kematian Natalie sudah jelas kalau itu takdir. Tidak seharusnya malam itu ia ikut bersamaku, dia yang pergi denganku. Kami kecelakaan..."

"Tutup mulutmu bajingan! Aku akan mendoakanmu berumur panjang, namun aku bersumpah bahwa kau tak akan pernah memiliki kebahagiaan diusiamu yang panjang kelak. Kau mengacaukan aku dan Mommy selama ini. Bahkan sampahmu ini kelak akan meninggalkanmu!" Ucap William menatap Antonie dan Amel bergantian.

William menjauhkan Hanum yang memeluknya.

Tatapan kebencian itu tak habis sampai disana.

"William jangan mengemudi saat kau sedang..."

"Tenang saja, aku tak akan mati sebelum melihat penderitaan Antonie." Ucap William memotong ucapan Hanum.

Dengan langkah tegas, William meninggalkan kediaman Antonie. Ia tidak peduli dengan teriakan Hanum yang memanggil namanya berulang kali. Yang ia pedulikan hanyalah satu hal: balas dendam.

---

Di dalam mobil, suasana hening dan mencekam. William duduk di kursi belakang dengan tatapan kosong namun penuh amarah. Tangannya mengepal erat, urat-urat biru tampak jelas di kulit tangannya yang putih.

Reno yang duduk di kursi depan bersama sopir hanya bisa diam. Ia tahu betul bahwa William sedang berada dalam kondisi emosi yang sangat tidak stabil. Satu kata salah saja bisa berakibat fatal.

Setiba di Mansion, William langsung masuk ke ruang kerjanya. Ia duduk di kursi besar di balik meja kayu mahoni, menatap layar komputer yang menampilkan foto-foto Natalie—ibunya yang kini telah tiada.

"Reno!" Panggil William dengan suara datar namun penuh otoriter.

Reno segera melangkah masuk, membawa sebuah tablet di tangannya. Sebagai asisten pribadi William, Reno sudah terbiasa dengan segala macam situasi dan tuntutan atasannya yang kejam.

"Tuan," ucap Reno dengan hormat.

"Katakan," ucap William datar, matanya tidak lepas dari layar komputer.

Reno menarik napas dalam-dalam. Ia tahu informasi yang akan ia sampaikan akan membuat William semakin marah.

"Kejadian malam itu direncanakan oleh Tuan Antonie sebelum kecelakaan tuan. Sedangkan gadis yang—" Reno menghentikan ucapannya sejenak, ragu untuk melanjutkan.

William langsung menoleh, tatapannya tajam seperti pisau. "Kenapa?!" Ucap William tak suka menunggu. Suaranya naik satu oktaf, membuat Reno sedikit bergidik.

Reno menelan ludahnya susah payah. "Semua bukti dan rekaman CCTV sudah dibersihkan oleh Tuan Antonie, sehingga sulit untuk ditemukan," ucap sang asisten dengan hati-hati.

"SIALAN!" William membanting tinjunya ke meja. Benda-benda di atas meja bergetar dan beberapa di antaranya jatuh ke lantai. Matanya memerah, bukan karena menangis tapi karena kemarahan yang membara.

"Antonie... bajingan tua itu," geram William. "Dia pikir dia bisa membersihkan semua jejaknya? Dia pikir aku akan diam saja?"

Reno hanya bisa terdiam, menundukkan kepalanya. Ia tidak berani menatap mata William saat ini.

William bangkit dari kursinya, berjalan mondar-mandir di ruangan itu. Pikirannya melayang ke gadis yang semalam berada di mobilnya. Gadis yang ia bawa ke hotel dan tiduri. Gadis yang dengan berani pergi meninggalkannya pagi-pagi buta tanpa sepatah kata pun.

"Siapa gadis yang berani meninggalkan ku itu," ucap William dalam hati, matanya menyipit tajam.

Ia masih ingat betul bagaimana gadis itu menciumnya tanpa izin di dalam mobil. Bagaimana tubuhnya yang hangat menyatu dengannya. Dan bagaimana keesokan paginya, gadis itu sudah menghilang tanpa jejak, meninggalkan seprai berbintik merah dan bau parfumnya yang masih tertinggal di bantal.

"Aku tidak mau tahu, cari sampai dapat meskipun kau harus mengorbankan waktu tidur mu," ucap William tak berperasaan pada Reno. "Aku ingin tahu siapa dia, dari mana asalnya, dan apa hubungannya dengan kecelakaan malam itu."

Reno mengangguk cepat. "Baik, Tuan. Aku akan mengerahkan semua orang untuk mencari identitas gadis itu."

"Dan satu lagi," tambah William dengan nada mengancam. "Aku ingin semua bukti yang sudah dibersihkan Antonie ditemukan kembali. Aku tidak peduli berapa banyak uang yang harus dikeluarkan atau berapa banyak orang yang harus disiksa. Cari sampai dapat!"

"Baik, Tuan," Reno kembali mengangguk.

William berbalik menghadap jendela besar yang memperlihatkan taman Mansion yang luas. Tangannya meremas erat ujung jasnya.

"Aku bersumpah atas nama ibuku," bisik William pelan. "Aku akan menghancurkan semua orang yang terlibat dalam kematiannya. Antonie, Amel, dan siapapun yang berusaha melindungi mereka. Mereka semua akan merasakan penderitaan yang sama seperti yang aku rasakan."

Ia menoleh ke arah Reno. "Gadis itu... jika dia terlibat dalam rencana Antonie, maka dia juga akan merasakan amarahku. Tapi jika dia tidak terlibat..." William berhenti sejenak, matanya menerawang jauh. "Jika dia tidak terlibat, aku masih ingin tahu mengapa dia berani pergi begitu saja."

Reno mengangguk paham. "Tuan, apakah ada instruksi lain?"

William menggeleng pelan. "Kau boleh pergi. Dan pastikan tidak ada yang menggangguku sampai aku menemukan jawaban yang aku cari."

Reno segera keluar dari ruangan dengan langkah tergesa-gesa. Ia tahu betul bahwa William sedang dalam kondisi yang sangat berbahaya. Satu kesalahan kecil saja bisa membuatnya kehilangan nyawa.

---

Di ruangan lain di Mansion yang sama, Akila masih sibuk membersihkan kekacauan yang William ciptakan. Tangannya yang mulus kini penuh dengan luka kecil akibat terkena pecahan kaca. Namun ia terus bekerja tanpa mengeluh.

Sari, pelayan tua yang baik hati, kembali mendekatinya dengan membawa sekotak P3K.

"Nona, setidaknya biarkan saya merawat luka di tangan Nona," bujuk Sari dengan lembut.

Akila menatap tangan Sari yang mengulurkan kotak P3K. Untuk pertama kalinya, ia merasa ada seseorang yang benar-benar peduli padanya. Namun ia masih ragu.

"Tapi CCTV..." ucap Akila ragu.

Sari tersenyum bijaksana. "Jangan khawatir, Nona. Saya sudah bekerja di sini selama 20 tahun. Saya tahu di mana titik buta CCTV di mansion ini. Tidak ada yang akan melihat."

Akila akhirnya mengangguk pelan, membiarkan Sari merawat lukanya. Air mata mulai menggenang di matanya, namun ia menahannya.

"Terima kasih, Sari," bisik Akila lirih.

Sari hanya tersenyum dan mengusap pelan kepala Akila. "Nona gadis yang baik. Saya yakin suatu hari nanti, semuanya akan baik-baik saja."

Akila tidak menjawab. Ia hanya menunduk, menatap gelang pemberian Natalie di pergelangan tangannya.

'Aunty Natalie,' bisiknya dalam hati. 'Putramu sangat membenciku. Tapi aku tidak bisa membencinya. Karena dia adalah bagian darimu.'

---

Bersambung

1
Adinda
coba diperhatikan lagi nama tokohnya biar gak salah
Alia Chans: oke kak 🙏🥲
total 1 replies
Adinda
valen bukannya aqila
Nayla Syberia
Sebenernya bagus sih,cuman entah knp si William tetep ga berubah yaa,kek iblis gitu berwujud manusia,mungkin para pengikutnya bakal sungkem kalik yaa.
Yaa sejauh ini sih bagus² aja ceritanya, semangat yaa buat kakak penulis nya
Alia Chans: Makasih buat saran nya
Btw kan sifat William mencerminkan judul novel nya ya kak🤭🤭
total 1 replies
mary dice
sangat rumit ckckck
Alia Chans: ..🤭🤭🤭
total 1 replies
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
penggemar_Uangkecil?!
👍👍
penggemar_Uangkecil?!
👍
Nelson Sihombing
Dah di curi, kasih makan pun tak
Haryati Atie
harus nya akila bisa ambil kepercayaan william dh dia percaya bru kabur akila.
Alia Chans: Ini lagi ngajari Akila hal sesimpel itu🤭
total 1 replies
Nelson Sihombing
suka karakter Akila
Haryati Atie
thourr tipo ya jdi vallen .
Alia Chans: Sorry atas ketidaknyamanan nya, soalnya seingatku Valen tadi😭😭
total 1 replies
Gita ayu Puspitasari
kok jadi Valen kak
Mia Camelia
suka nih sama sisi posesif nya wiliam ke akila🤭
lanjut thor😄
Alia Chans: siap kak🤭/Smile//Smile/
total 1 replies
nurulmarisa
seru banget ceritanya 😘
Alia Chans: Thank you kak🙏🏻
total 1 replies
penggemar_Uangkecil?!
crazy up kak
Alia Chans: Ditunggu ya 🤭/Slight//Slight/
total 1 replies
penggemar_Uangkecil?!
👍👍👍
🔵🌹 Widian🧕
nah ...jadi sial kan mengolok-olok kakak sendiri.
duhh...moga Akila bisa terselamatkan .
Alia Chans: emm gimana ya...🤭🤭
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!