Sandra tidak menyangka, jika kedekatannya dengan Kinan, justru akan berakibat fatal pada dirinya. Ibu Kinan, Cleo Moren telah menuduh Sandra menggoda suaminya, Raka Prayoga. Sampai tega, berbuat sesuatu yang akhirnya menghancurkan masa depan Sandra.
Mengetahui itu, Raka marah, dan memutuskan menikahi Sandra diam-diam tanpa sepengetahuan Cleo ataupun Kinan.
Namun, seiring berjalannya waktu, Cleo mengetahui pernikahan kedua suaminya, dan mengatur siasat untuk kembali mengambil simpati Raka.
Lalu, bagaimana dengan nasip Sandra?
Akankah Raka memilih kembali padanya?
Atau justru kembali pada Cleo?
Ikuti cerita mereka hingga akhir, hanya di Noveltoon ..
sak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Damaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 7
"Pergi!! Pergi kalian!"
Sandra terus mengacungkan potongan besi pipa yang ia temukan di sudut ruangan, ketika berhasil meloloskan diri dari kebuasan dua pria yang beberapa saat lalu menghadang jalannya. Dengan tubuh gemetar dan rasa takut yang tidak lagi bisa gadis itu sembunyikan. Sandra tetap berusaha melawan meski dengan keadaan mengenaskan.
"Berani satu langkah saja kalian maju! aku akan menusukkan ujung pipa ini ke perutku sendiri, pergi!!"
Teriakan Sandra melengking tinggi, ia benar-benar tersudut melihat dua pria yang sudah bertelanjang dada itu seolah tidak menghiraukan ancamannya, meski ujung pipa yang runcing sudah sangat dekat dengan perutnya.
Di sebuah gudang yang dipenuhi jerami kering entah dimana persisnya tempat itu berada, Sandra tengah memperjuangkan kehormatan yang hendak dirampas paksa kedua pria bejat di hadapannya. Sandra yang sebelumnya tidak sadarkan diri saat dibawa ke tempat itu seketika terbangun begitu merasakan sentuhan-sentuhan menjijikan di sekujur tubuhnya.
"Kenapa kau begitu takut adik manis, kita hanya akan bersenang-senang.. Percayalah," kata salah satu pria disertai tersenyum mesum sambil merentangkan kedua tangannya.
"Berhenti disitu!! Jangan coba mendekat! atau aku tidak akan segan-segan melukai diriku sendiri!!" Sandra memberanikan diri mengancam walaupun jelas kedua tangannya bergetar hebat, dengan sorot mata penuh kebencian gadis itu semakin mendekat ujung pipa ke perutnya. Sampai akhirnya ia terkejut saat sebuah benda menerjang tangannya, sehingga tanpa sengaja Sandra menjatuhkan potongan besi hingga menggelinding menjauh darinya. Melihat Sandra terkesiap tawa mengerikan kedua pria itu menggelegar memenuhi ruangan.
"Tangkap dia!" Pria berpostur lebih besar memberi perintah pada rekannya, membuat Sandra kembali ketakutan dan beringsut mundur.
"Jangan mendekat, pergi!" Sandra mengibaskan tangan melihat pria itu semakin mendekati dirinya.
"Kau semakin menggairahkan saat marah sayang," desah pria itu dengan senyum yang terlihat sangat menjijikan.
Hup
Dalam sekejap tubuh ramping Sandra sudah berada dalam dekapannya, belum juga berhasil meloloskan diri, kini tubuh Sandra justru melayang. Sekuat hati gadis itu meronta namun kekuatan tak berarti apapun.
"Cepat baringkan dia, kita selesaikan sekarang!" Seru pria bertubuh kekar tidak sabaran yang dibalas anggukkan kepala pria yang menggendong Sandra, sebelum akhirnya melempar tubuh Sandra ke atas tumpukan jerami.
"Tolong lepaskan aku, jangan lakukan ini," ucap Sandra mengiba saat kedua tangannya dicengkram kuat oleh pria yang tadi menggendongnya, sementara pria bertubuh besar sudah mengungkung tubuhnya.
"Lepas! Aku tidak mau, TOLONG!!" teriak Sandra sekuat tenaga berharap ada malaikat yang mendengar dan menyelamatkan dirinya dari kebuasan dua pria biadab yang kini kembali berusaha melancarkan aksi mereka.
"Akkkk!! Bajingan, kalian benar-benar biadab," geraman disertai desisan terdengar memilukan keluar dari mulut Sandra saat sesuatu yang besar menerobos, dan menghujam dirinya dengan bringas.
Dua pria yang sudah sangat Sandra hafal wajahnya itu tanpa iba terus memaksakan kehendak mereka secara bergantian. Teriakan bahkan jeritan melengking gadis sembilan belas tahun itu tak lagi di hiraukan. Disaat salah satu diantara mereka berhasil menggagahi Sandra, pria yang lain menahan kedua tangannya agar gadis itu tidak bisa memberontak ataupun melawan.
Langit seolah ikut bersedih melihat kehancuran gadis polos yang kini menjadi pemuas nafsu bejat para manusia laknat. Hujan bercampur petir menjadi saksi akan kebuasan dua manusia jelmaan iblis itu, yang tak menghentikan aksinya meski Sandra sudah tak cukup mampu lagi melawan.
"Awas! Kau terlalu lama." Pria berbadan lebih besar mendorong kasar temannya yang masih bergerak diatas Sandra, dia sudah siap untuk kedua kalinya.
"Kau memang sangat cantik dan menggairahkan, adik manis," ucapnya begitu mengambil alih posisi pria yang kini sudah terkulai lemas setelah menyalurkan hasratnya.
"Akan kubunuh kalian!! Akkk…" Dengan tenaga tersisa Sandra berusaha melepaskan diri dari kungkungan pria di atasnya, namun usahanya kembali sia-sia saat pria yang sudah dipenuhi kabut gairah itu lebih dulu kembali menghujam tubuhnya.
"Bajingan, Manusia laknat!!" teriakan tertahan disertai bulir bening yang terus mengalir deras seolah tak berarti apapun bagi pria berhati iblis yang masih bergerak tanpa lelah.
***
Raka terjingkat bangun sesaat setelah dirinya bermimpi buruk, tangan kekarnya terulur untuk menghidupkan lampu tidur di sampingnya. Pandangan Raka beralih pada benda bundar yang menempel di dinding. Waktu menunjukkan pukul satu dini hari. Entah mengapa tiba-tiba batin pria itu merasa sangat gelisah seperti telah terjadi sesuatu. Setelah mengatur nafas berulang kali, Raka menoleh ke samping kiri, terlihat Cleo tertidur pulas memunggungi dirinya. Merasa kegelisahan semakin melanda hati, Raka beranjak dari ranjang dan keluar dari kamarnya.
"Haahh.." Helaan nafas kasar terdengar begitu berat saat pria yang hanya mengenakan kaos hitam tipis itu menutup pintu kamar dari luar.
Raka berjalan cepat menuju kamar Kinan dan membukanya perlahan begitu tahu tidak terkunci. Helaan nafas pelan terdengar lebih panjang begitu melihat putrinya pulas di bawah selimut tebalnya. Raka kembali menutup pintu dengan perlahan agar kehadirannya tidak mengusik tidur putrinya.
"Ada apa ini.. Kenapa perasaanku begitu gelisah, seperti telah terjadi sesuatu," gumamnya saat berjalan menuruni tangga.
Raka seperti orang linglung saat sudah berada di ujung tangga, bahkan ketika berada di lantai dasar dirinya bingung harus berbuat apa. Dan entah mengapa seolah ada bisikan yang dorongannya untuk segera keluar saat itu juga. Setelah menyugar rambut ke belakang, Raka berbalik melanjutkan langkahnya menuju dapur.
"Sial! Kenapa aku baru mengingatnya sekarang!" Ia langsung berbalik arah saat kakinya nyaris menggapai pintu dapur, sejurus kemudian pria itu sedikit berlari ke kamarnya. Begitu berada didalam kamar, Raka meraih kunci mobil dan jaket kulit, lalu bergegas kembali keluar.
***
Tangis pilu terdengar begitu menyayat hati di keheningan malam. Rasa hancur serta kebencian pada dirinya sendiri tengah Sandra rasakan, karena tidak bisa melawan para bajingan itu saat merenggut sesuatu yang paling berharga dalam dirinya. Sandra meringkuk di atas tumpukan jerami yang menjadi saksi bisu kejadian tragis yang terjadi padanya beberapa saat lalu. Dua manusia laknat itu bahkan dengan tega meninggalkan dirinya seorang diri setelah mendapatkan apa yang mereka inginkan.
"Ibu… lebih baik aku mati saja daripada harus menanggung semua ini. Tidak ada lagi yang bisa aku banggakan. Semua sudah hancur buuu.. Mereka telah merenggutnya. Hiks hiks.. Aku benci diriku yang lemah ini, aku benci!!" Luapan amarah terus Sandra lontarkan, meski dirinya sadar itu tidak akan mampu merubah keadaan.
Beberapa saat berlalu, dengan tangan bergetar hebat Sandra mulai membenahi pakaiannya yang berantakan, lalu perlahan beranjak bangun. Mengabaikan rasa nyeri di bawah sana, gadis rapuh itu terus berjalan tertatih dengan bertumpu pada dinding kayu guna mencapai satu-satunya pintu di gudang itu.
Langkah gontai dengan kaki bergetar terus Sandra paksakan berjalan menyusuri jalan setapak berteman gelap. Rintik air masih tersisa setelah hujan deras bercampur petir beberapa saat lalu, sehingga meninggalkan genangan di sepanjang jalan berlubang. Dengan terseok serta bertelanjang kaki Sandra tetap melanjutkan melangkahnya, walaupun dirinya tidak tahu jalan itu mengarah kemana.
"Hiks hiks… ibu.. Biarkan aku ikut denganmu bu! Rasanya sakit sekali, aku sudah kotor. Aku benci tubuh ini, aku benci setiap jengkal tubuhku yang sudah bajingan itu sentuh! aku benci semua! Aku benci!!" teriak Sandra lantang seraya mengusap kasar wajah juga lehernya. Sampai akhirnya dirinya limbung dan jatuh terduduk di aspal yang basah.
Di kesunyian malam yang hening, ada hati yang hancur remuk karena keegoisan manusia. Disebabkan pikiran kotor yang akhirnya menimbulkan kebencian tanpa iba. Membiarkan sosok tak berdosa menjadi pelampiasan praduga tanpa bukti nyata, sungguh sifat manusia yang masih sering dijumpai. Tidak bisa berpikir rasional sebelum bertindak dan berbuat sesuatu hingga akhirnya merugikan orang lain. Semua karena nafsu, hingga menimbulkan penyakit hati.
CINTA memang indah, tapi tak jarang karena cinta banyak hati terluka. Hanya satu kata, namun memiliki makna yang begitu luar biasa.
'Akankah CINTAmu suci, jika arti kesucian saja tidak pernah kau mengerti..' Batin Sandra berguguk pilu.
jngan terlalu lama update nya thor . jngan sampe ada kecewa tunggu terlalu lama