Nadira dengan kesederhanaannya harus menerima kenyataan bahwa perundungan harus ia telan setiap harinya. Gadis itu tidak memiliki cukup keberanian untuk menyangkal hinaan yang dilemparkan padanya. Hingga secercah asa datang padanya saat Farhan dan Tina datang di hidupnya sebagai sahabat, lalu membantunya bangkit dan mengubah takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Niffi., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Unconditional Love 7
"Nadira, ayo kita ke kantin." Tina telah berdiri di samping Nadira, dan meminta sahabatnya tersebut untuk ikut bersamanya ke kantin.
"Sebentar lagi, ya. Aku rapikan buku-bukuku dulu," jawab Nadira.
Nadira bergegas merapikan perkakas belajarnya untuk segera memenuhi keinginan Tina. Nadira melihat ke arah bangku Farhan, dilihatnya lelaki tersebut hanya meletakkan kepalanya di atas meja. Nadira bersama Tina memutuskan untuk menghampiri Farhan, dan berniat untuk meminta Farhan ikut serta bersama mereka berdua ke kantin.
"Farhan." Nadira mengelus lembut bahu Farhan, dan sontak membuat lelaki tersebut mengangkat kepalanya.
"Iya, Nadira," jawab Farhan.
"Kita ke kantin, yuk," ajak Nadira.
"Terima kasih, Nadira. Tapi untuk hari ini aku tidak akan pergi ke kantin." Lengkungan tipis terlukis di bibir Farhan. Lelaki itu juga memberikan tatapan sendu pada Nadira, sebuah tatapan dari netra yang telah membuat Nadira percaya bahwa lelaki di hadapannya tersebut mampu melindunginya.
"Kita bertiga pergi ke kantin bersama, ya. Aku ingin mentraktir kalian hari ini." Nadira memohon.
"Tapi untuk merayakan apa?" Farhan mengernyitkan dahinya tanda penasaran.
"Kita jadikan hari ini sebagai hari resmi kita bertiga bersahabat," tutur Nadira. "Kamu Farhan, kamu adalah orang pertama yang membelaku dari hinaan yang Kesya berikan." Nadira menarik tangan Farhan kemudian digenggamnya sejenak, lalu sesaat selanjutnya beralih menarik tangan Tina. "Kemudian Tina, kamu adalah orang pertama yang membantuku untuk melawan Kesya, walaupun hal itu belum dimulai, tapi usahamu membantuku bangkit adalah hal yang luar biasa untukku," imbuhnya.
"Tapi, Nadira-" ucapan Farhan terpotong.
"Kamu mau ya, Farhan. Kumohon, ini demi aku." Nadira menyatukan kedua telapak tangannya tanda memohon pada Farhan.
"Kita akan ke kantin, sekarang." Keputusan Farhan, menggembirakan.
Nadira bersama Tina dan Farhan, berjalan bersama dan beriringan. Mereka bertiga dapat mendengar jika perubahan penampilan Nadira masih menimbulkan desas-desus di sekeliling mereka. Ada beberapa siswa yang menerima baik perubahan Nadira, dan sebagian juga ada yang menilai buruk perubahan Nadira dengan dalih-dalih yang bertebaran.
Nadira paham jika tidak akan ada cara yang bisa ia lakukan untuk membuat semua orang menyukainya, akan tetapi Nadira mampu untuk mengabaikan semuanya, karena menurutnya selagi apa yang dia lakukan benar, maka tidak perlu susah payah memperhitungkan penilaian orang.
Sampai di kantin yang memiliki ciri khas keramaian, hiruk pikuk kebisingan, dan tak sedikit yang berdesak-desakkan. Nadira tersenyum kecut kala melihat tak banyak jalan untuknya sampai pada penjaga kantin yang menjual bakso sebagai salah satu menunya. Farhan yang melihat ekspresi Nadira yang tampak kecewa, memilih untuk menawarkan diri sebagai pemesan dan menerobos kerumunan.
"Biar aku saja yang pesan, bagaimana?" Farhan meminta pendapat Nadira dan Tina.
"Apa kamu tidak keberatan?" Nadira sebenarnya menginginkan bantuan Farhan, akan tetapi dirinya juga sungkan karena niatnya hari ini adalah memanjakan kedua temannya.
"Ini sama sekali tidak merepotkan, Nadira. Hanya berjalan ke sana, lalu meminta pada ibu kantin agar menyiapkan tiga mangkuk bakso untuk kita," jawab Farhan tanda dirinya bersedia, kemudian dia bertanya, "atau kita akan memesan yang lain?" imbuhnya.
"Tidak, Farhan. Kita memang akan makan bakso hari ini," tutur Nadira. "Terima kasih karena sudah mau membantu," sambungnya, dibalas anggukan pelan oleh Farhan.
Nadira terus menatap punggung Farhan yang kian lenyap terlarut dalam kerumunan massa yang sedang memajukan hak-hak mereka. Tatapan Nadira beredar, berharap tidak ada kedatangan Iblis Apollyon di tengah-tengah kesenangannya bersama kedua sahabatnya.
"Menurutmu Farhan, bagaimana?" tanya Tina.
"Yang ingin kamu ketahui itu, tentang apa?" Nadira yang tidak paham, kembali memberikan pertanyaan.
"Sosok Farhan menurutmu seperti apa? Mulai dari sifat serta fisiknya," terang Tina.
"Aku baru bersamanya di kelas sebelas ini, dan kamu pasti tahu dahulu kehidupanku itu seperti apa," jawab Nadira dengan air muka yang berubah murung. "Aku tidak begitu jauh mengenal Farhan, tetapi yang pasti Farhan adalah sosok yang baik. Jika tentang fisiknya, menurutku Farhan adalah lelaki yang tampan." Kenyataannya memang seperti itu, Farhan adalah salah satu gambaran lelaki yang tampan nan rupawan.
Tina tersenyum mendengar ucapan Nadira. "Benar sekali, kita baru menjadi teman satu kelas adalah di kelas sebelas ini." Tina masih menatap ke arah kerumunan dengan tatapan menerawang. "Sebenarnya aku mengenalmu sejak kelas sepuluh, dan konyolnya aku mengenalmu sebagai boneka hura-hura, karena Kesya dan kedua temannya selalu bersenang-senang dengan mempermainkanmu," sambungnya.
Masa-masa yang kelam, Nadira ingat betul masa-masa itu. Suatu masa di mana dirinya tercipta sebagai protagonis yang lemah. Sungguh Nadira ingin mengubahnya, akan tetapi tak ingin menjadikan dirinya sebagai antagonis dalam kisahnya.
"Maafkan aku, Nadira. Sejak lama aku mengetahui itu, akan tetapi aku tidak mengacuhkannya." Tina menyesal. "Walau sebenarnya aku sangat ingin berteman dan membantumu. Namun rasanya seperti ada sesuatu yang menghalangiku," imbuhnya.
"Yang telah berlalu lebih baik dibiarkan saja, waktu terus berjalan, dan kita dapat menemukan banyak kesempatan," tutur Nadira. "Terima kasih untuk bantuannya, Tina. Mungkin tanpa dirimu, aku akan tetap menjadi boneka hura-hura mereka," sambungnya.
Suasana bising yang mewarnai berbagai desakan di kantin perlahan berkurang. Beberapa siswa telah enyah dari tempat tersebut karena merasa kebutuhannya telah terpenuhi. Nadira merasa tenang, karena selama ini hanya kesunyian yang bersamanya. Sebelumnya sangat jarang sekali Nadira menginjakkan kakinya di kantin, mungkin sesekali pernah, itu pun dapat dihitung dengan jari. Ini kali pertamanya Nadira menuju kantin dengan antusiasme yang tampak jelas dari binar wajah dan gerak tubuhnya.
"Nadira! Ke sini sebentar!" titah Farhan dengan lantang, seraya melambaikan tangan pada Nadira agar gadis tersebut bersedia menghampirinya.
"Kita ke sana bersama?" Nadira meminta pendapat pada Tina, akan tetapi sahabatnya tersebut hanya memberikan geleng kepala sebagai jawabannya.
"Kamu saja, Farhan hanya memanggilmu," jawab Tina. "Aku akan menunggu kalian di bangku sana," imbuhnya sembari menunjuk ke arah meja pelanggan dengan empat kursi yang bertempat di sudut kantin.
"Baiklah, kamu tunggu kami, ya." Nadira menerbitkan senyum manisnya sebelum meninggalkan Tina, lalu beranjak menghampiri Farhan.
Tina tersenyum manis saat menyaksikan kedekatan Farhan dan Nadira. Entah rasa seperti apa yang membuatnya sangat menyukai kedekatan mantan gadis culun yang telah menjelma menjadi bidadari tersebut bersama Farhan. Tina melihat jelas jika kedua sahabat barunya sama-sama memiliki hati yang tulus. Nadira bersama tutur kata ciri khasnya yang lembut dan menenangkan, dan Farhan bersama kesediaannya menjadi sahabat Nadira sejak saat sebelum Nadira mengubah penampilannya.
Semua itu hanya tentang waktu dan rasa. Waktu yang mempertemukan mereka dengan rasa yang sama-sama saling menyayangi. Namun, sebenarnya peran Tuhan tak dapat terlihkan. Karena izin-Nya, suatu hal yang renggang dapat berubah menjadi saling berdekatan, bahkan dengan hal yang mustahil untuk tersentuh sekalipun. Semua itu terbukti dengan kedekatan Nadira, Tina, dan Farhan. Latar belakang kehidupan mereka sangat berbeda. Nadira bersama kesederhanaannya, Tina dengan kemewahan yang menyertainya, serta Farhan dengan apa yang masih disembunyikannya. Semua itu hanyalah hal remeh di mata Tuhan, yang dengan kekuasaannya dapat dengan mudah membalik semesta jika diperlukan.
semangat Thor!!