Kelas Privat Maya: Di Balik Senyum CEO
Di sebuah sudut kota yang ramai, tersembunyi sebuah ruangan kecil yang penuh dengan tumpukan buku dan aroma kopi yang khas. Ruangan itu adalah 'Kelas Privat Maya', tempat di mana mimpi-mimpi sederhana diukir dan harapan-harapan baru tumbuh. Maya, seorang guru privat yang ceria dan penuh semangat, mendedikasikan hidupnya untuk membantu anak-anak dari latar belakang kurang mampu.
Suatu hari, seorang pria misterius datang ke kelas Maya. Pria itu tinggi, tampan, dan berpakaian rapi, jauh dari bayangan Maya tentang seorang ayah atau kakak yang biasa mengantar anak-anaknya les. Pria itu memperkenalkan dirinya sebagai CEO sebuah perusahaan besar, namun sorot matanya yang lelah dan senyumnya yang terpaksa menyiratkan beban yang berat.
Awalnya, Maya mengira pria itu ingin mendaftarkan anaknya. Namun, ia terkejut ketika pria itu berkata, "Aku ingin belajar, Maya. Ajari aku cara tersenyum lagi." Ternyata, di balik kesuksesannya yang gemilang, CEO
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rizaidhan Luthfian, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Teka-Teki anagram dan Jeritan yang Bungkam
Sejak pelemparan batu dan bunga seroja malam itu, kediaman keluarga Tanaya dijaga ketat selama 24 jam. Namun, teror Clarissa Valentina bukan jenis serangan yang bisa dihalang oleh pagar besi atau pos pengamanan. Ia bertarung menggunakan senjata yang jauh lebih merusak: pikiran dan ingatan masa lalu.
Pagi berikutnya, sebuah paket tak dikenal tanpa nama pengirim tiba di meja kerja Kian. Di dalamnya bukan bom atau ancaman fisik, melainkan sebuah papan catur antik berbahan gading yang hanya berisi empat buah catur: Raja Hitam, Ratu Putih, Bidak Hitam yang terbelah dua, dan sebuah kunci tembaga tua berukir angka yang rumit: 19-05-18.
Di bawah papan catur, ada selembar kertas kalkir tipis dengan bait teka-teki yang ditulis menggunakan tinta emas:
"Raja mengorbankan Ratunya di atas papan kepalsuan,
Bidak terbelah menyimpan rahasia tanah kehancuran.
Cari angka di mana darah pertama kali ditumpahkan,
Atau jantung di dalam kandunganmu akan dibuat berhentikan."
Kian mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya memutih di atas meja kerja Tanaya Tower. Di sampingnya, Maya yang berdiri gemetar menatap deretan angka pada kunci tersebut.
"19-05-18..." gumam Maya dengan suara serak. Tangannya meremas gaunnya yang longgar. "Mas... itu bukan sekadar angka. Itu tanggal lahir almarhum Ibu... sekaligus tanggal kematian Ayahku!"
Kian menoleh cepat, matanya membelalak. "Apa?"
"Tanggal 19 Mei 2018..." Maya menelan ludah, air mata emosi menetes membasahi pipinya yang pucat. "Itu malam di mana Ayah ditemukan tewas tenggelam di danau belakang vila lama keluarga Tanaya di Puncak! Waktu itu polisi bilang Ayah serangan jantung... Tapi angka ini... kunci ini..."
Teka-teki Clarissa tidak sekadar menargetkan ketakutan mereka, tetapi membalikkan seluruh pemahaman Maya tentang kematian ayahnya sendiri. Apakah ayahnya dibunuh? Dan apakah keluarga Tanaya—keluarga suaminya sendiri—yang bertanggung jawab atas kematian itu?
Tanpa membuang waktu, di bawah pengawalan ketat dua mobil pengawal, Kian dan Maya meluncur menembus hujan deras menuju Vila Puncak, bangunan tua milik keluarga Tanaya yang sudah dikosongkan dan dikunci rapat selama delapan tahun.
Suasana vila tua itu mencekam. Angin gunung meliuk-liuk di antara pilar-pilar batu berlumut. Daun pintu kayu berdecit nyaring saat Kian mendorongnya terbuka. Bau debu, kayu lapuk, dan wangi bunga seroja yang samar menyengat hidung mereka.
"Mas... aku takut," bisik Maya, mencengkeram erat lengan Kian. Rasa mual khas kehamilan berpadu dengan kepanikan yang membakar dadanya.
"Mas ada di sini, Sayang. Tidak akan ada yang menyentuhmu," tegas Kian, menatap sekeliling dengan pandangan tajam bak elang. Tangannya menggegam erat jemari Maya, menyalurkan kehangatan di tengah dinginnya vila misterius itu.
Mereka menyusuri koridor panjang menuju ruang kerja almarhum Kakek Tanaya di lantai dua. Di sudut ruangan, berdiri sebuah brankas besi tua bertipe pemutar angka manual.
Kian mendekati brankas itu. "Kunci tembaga ini... punya ukiran angka 19-05-18. Tapi brankas ini butuh kombinasi 6 digit."
Maya melangkah mendekat, matanya menatap catur gading yang dibawa Kian dalam tas. Otak gurunya yang terbiasa berpikir logis dan matematis mendadak bekerja keras di tengah tekanan emosi yang meluap.
"Bidak terbelah... Raja Hitam dan Ratu Putih..." bisik Maya. Tangannya gemetar saat mengambil catur dari tas. Ia membalikkan Bidak Hitam yang terbelah dua. Di dalamnya, ada ukiran huruf-huruf aneh: A-R-T-U-P.
"Anagram..." mata Maya membelalak. "Ratu Putih... WHITE QUEEN. Huruf yang hilang dari kata itu... angka urutannya dalam alfabet..."
"Maya, tenang, jangan terlalu memaksakan diri!" panggil Kian cemas melihat napas Maya yang makin cepat dan memburu.
"Tidak, Mas! Kita harus buka brankas ini sekarang!" jerit Maya penuh emosi, air matanya jatuh berderai. "Aku harus tahu apakah ayahku dibunuh oleh keluargamu atau tidak! Aku harus tahu kebenarannya demi anak kita!"
Kian terpaku, hatinya hancur melihat beban emosional yang melumat istrinya. "Maya... demi Tuhan, aku mencintaimu. Apapun yang terjadi di masa lalu, aku—"
"Putar kombinasinya, Mas! 0-5-1-9-1-8!" teriak Maya seraya menangis sesenggukan.
Kian memutar tombol kombinasi brankas sesuai petunjuk Maya: 0 - 5 - 1 - 9 - 1 - 8.
KLIK. BUK.
Pintu besi tebal itu terbuka perlahan.
Di dalam brankas, tidak ada batangan emas atau surat tanah. Hanya ada sebuah rekaman kaset pita tua bersampul darah kering dan sebuah diari berisikan surat pengakuan.
Kian mengambil kaset itu dan memutarnya di tape recorder tua yang ada di atas meja. Suara gesekan pita berbunyi, sebelum suara berat almarhum Ayah Kian terdengar bergema di dalam ruangan yang sunyi:
"Jika ada yang mendengarkan pita ini... artinya Clarissa telah kembali. Kematian Adriana—ayah Maya—bukanlah karena serangan jantung, dan bukan pula pembunuhan oleh keluarga Tanaya. Adriana mengorbankan nyawanya sendiri di danau malam itu... untuk menyembunyikan penawar racun yang disuntikkan Clarissa ke dalam darah ibumu, Kian..."
Maya membeku. Lututnya lemas seketika. "Ayah... berkorban?"
Namun, sebelum mereka sempat mendengarkan rekaman itu hingga usai, suara dentuman keras pintu bawah yang dibanting menghantam ketenangan mereka!
BRAK!
Lampu minyak di koridor luar mendadak mati. Suara langkah kaki berhembus cepat menyusuri tangga, diiringi suara tawa melengking seorang wanita yang dingin dan penuh dendam dari kegelapan koridor:
"Kalian sudah menemukan teka-teki pertamaku... Tapi apakah kau bisa menebak, Kian... di mana aku menyembunyikan Arka saat ini?"
Mata Kian berkilat merah penuh amarah yang meledak. "CLARISSA!"