NovelToon NovelToon
Obsesi Sang Pemikat

Obsesi Sang Pemikat

Status: tamat
Genre:Berondong / Duniahiburan / Komedi / Tamat
Popularitas:1.9M
Nilai: 5
Nama Author: Septira Wihartanti

Seri Kisah Cinta Kaum Metropolitan

Wana sebal dengan rivalnya, karena ia diejek dikatai Eiger, sesuai merk tas favoritnya yang sudah ia pakai sejak SMA. Si Rival menggunakan Birkin berharga miliaran ke kampus.
Jadi, untuk mendapatkan tas yang sama dan membuat si Rival mengakuinya, Wana bermaksud mencari uang dengan mencari sugar daddy.
tapi dia ingin tetap perawan.
di saat itu ia bertemu Artha, pria indo Canada yang alih-alih dilirik Wana sebagai Sugar Daddy potensial, Wana malah minta dikenalkan ke relasi Artha untuk berburu Daddy.
Sementara Artha sebenarnya memendam perasaan pada gadis yang usianya lebih muda 33 tahun darinya ini.

simak juga tips nyeleneh dari Wana mengenai banyak hal.
Ingat, ini NOVEL KOMEDI, jadi serius tak wajib disini, ketawalah saat tak ada orang di sekitarmu.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Septira Wihartanti, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Si Perayu

"Halo," sapa seorang pria saat melihat Wana. Tidak tampan, biasa saja dengan wajah ramah, keturunan Tionghoa dan usianya sekitar pertengahan 40an. Wana menoleh dan mengangkat alisnya.

"Mbaknya dari perusahaan mana?" tanya pria itu.

"Saya keponakan Pak Artha,"

"Oooh, jadi dari Kanada ya?"

Wana mengernyit. Dia lupa yang itu. Tidak mungkin dia mengaku dari Kanada dengan tampang khas Indonesia seperti ini. Apalagi bahasa Inggrisnya acak adut. "Bukan, saya masih saudara jauh dari ibunya Pak Artha, karena saya anak dari sepupu, sebut saja saya keponakan Pak Artha,"

Pria itu mengangguk mencoba mengerti, namun Wana masih melihat keraguan di matanya.

"Ooh pantas bisa duduk di bar. Karena yang bisa duduk di sini biasanya orang-orang VIP," desis pria itu sambil memesan cocktail.

"Hem," Wana menyesap Champagnenya sedikit. Manis dan sedikit beralkhohol. Minuman yang feminin, ia jadi merasa lebih cantik dari yang tadi-tadi. "Jadi saya tadinya dianggap mencurigakan, nih?"

"Haha, Nggak lah mbak!" Pria itu tergelak. "Mbaknya paling mencolok diantara tamu-tamu yang datang, saya pasti tahu kalau ada wanita secantik kamu, tapi saya malah belum pernah lihat kamu dimanapun, jadi pasti kamu bukan karyawan kami,"

Ditilik dari kalimatnya, sepertinya pria ini punya jabatan yang tidak terlalu tinggi karena jarang ada Boss yang mengenal satu persatu karyawannya. Mungkin dia dari bagian SDM, atau divisi yang berkaitan dengan para karyawan, juga bisa jadi serikat pekerja.

Atau hanya pria mesum yang suka memperhatikan cewek muda dan fresh.

"Karena Pak Artha terkenal tidak suka wanita. Mungkin orientasi seksualnya berbeda dengan kami,"

Wana hampir saja tersedak.

"Makanya kamu disini sangat mencolok, karena kamu satu-satunya wanita muda di sini," sambung pria itu.

Kalau begitu, keberadaan Stela sengaja disembunyikan dari masyarakat dong ya? Apa tujuan Om Artha?

Tapi sudahlah itu urusan rumah tangga orang lain.

"Ohiya, Nama saya Leo, saya Wakil Pak Artha di Opal Corp," Pria itu mengulurkan tangannya.

"Wana, mahasiswa semester 6 di Univ. Saktimandraguna, sedang berjuang demi mempertahankan beasiswa. Saya kesini dalam rangka belajar, Om," desis Wana sambil menjabat tangan Leo.

"Hebat, kamu sudah punya gambaran masa depan. Jadi kamu kesini untuk melihat-lihat konsep manajemen perhotelan?"

"Anggap saja begitu, walaupun sebenarnya masih banyak sekali yang harus saya pelajari," Wana mengangkat bahunya.

Ia dan Om Artha sepakat untuk mengatakan kalimat-kalimat ini, untuk menjaga nama baik.

"Kalau begitu, boleh saya ajak kamu minum di beranda?" tanya Leo sambil mengulurkan tangannya.

"Wah, boleh juga," Wana pun menyambut tangan Leo.

*

*

Artha menyingkir ke area merokok.

Gila! Sesak juga rasanya!

Lampu blitz, pertanyaan nyeleneh yang tak ada hubungaannya dengan proyek, hingar bingar suara, senyum palsu orang-orang.

Ingin rasanya ia pulang sekarang juga.

Dengan menghela napas ia membuka kancing teratasnya dan melonggarkan dasinya. Jasnya ia letakkan diatas salah satu sofa, lalu merogoh kantongnya dan menyulut rokoknya.

Matanya yang sendu, menatap jendela di depannya. Kegelapan malam Jakarta, tanpa bintang.

Tertutup tingginya gedung-gedung.

Kebosanan melandanya.

Lalu pria berusia 54 tahun itu mengernyit.

Rasanya kok ada yang terlupa, tapi apa ya? Sesuatu yang membuatnya tersenyum, tertawa lepas, hal yang sudah lama tak dilakukannya.

Oh iya, mana Mak Lampir?! Harusnya dia datang tapi dari tadi aku tidak melihat gadis bawel itu.

Maka Artha menoleh ke kanan, ke kiri, ke belakang, tidak terlihat.

Nggak mungkin si Wana ketiduran kan? Pikir Artha mengernyit.

Dan saat Artha ke beranda, terlihatlah senyuman sumringah Wana.

"Astaga, cantik sekali," gumam Artha reflek. Dan kulit Wana semakin bersinar. Serasi dengan gaun pink lembutnya. Saat pertama melihatnya, Wana bagaikan berlian jatuh di tengah lumpur. Sekarang lebih-lebih lagi, menyilaukan mata!

Yang begini minder sama Stela?! Jelas anaknya itu tak ada apa-apanya dibandingkan dengan kecantikan Wana.

Lalu, siapa yang diajaknya berbicara di beranda.

"Waduh!" gumam Artha langsung.

Itu Leo. Wakil Presdirnya!

Walaupun wajahnya Leo biasa saja, tapi mulutnya berbisa, paling jago kalo rayuan maut ke wanita, punya beberapa belas pacar, 2 istri yang dinikahinya secara tidak sah, dan seorang istri sah yang sudah bodo amat sama tingkah laku suaminya!

Juga... Memiliki kecenderungan seksual yang mengarah ke tali-temali dan ikat mengikat.

Terlihat Leo menggandeng tangan Wana menjauhi beranda. Jarak mereka dengan Artha dipisahkan oleh lantai. Wana berada di Lobi 1, Artha di Lobi 2, namun masih bisa melihat ke beranda bawah.

Artha pun langsung menghubungi ponsel Wana, berniat menyuruhnya mencari target lain.

Tidak diangkat!

"Argh!" keluh Artha sambil mematikan rokoknya dan keluar dari smoking room dengan terburu-buru, untuk mengejar Wana.

*

*

"Di sini ruang meeting. Belum jadi seratus persen, tapi nanti konsepnya batu alam ala zaman neolithikum. Jadi semumet-mumetnya meeting, penyewa masih bisa merasa cozy," jelas Leo sambil berdiri di tengah ruangan.

"Begitu ya Om? Kalau mumet meeting sih biasanya tidak memperhatikan ruangan, yang ada hanya pekerjaan. Bagaimana kalau ditambah sofa empuk agar tidak terlalu monoton? Paling tidak yang mumet bisa mengistirahatkan diri,"

"Wah, hebat juga ide kamu! Saya akan masukan ke anggaran," kata Leo.

Wana sebenarnya tidak tertarik dengan tema ruangan atau pun pembagian yang terjadi di hotel itu. Untuk apa juga dia peduli? Masalahnya sekarang dia lapar.

Sudah itu saja.

Korsetnya dipasang dengan kaitan paling sempit agar dadanya bisa membumbung. Rasanya tulang rusuknya mau retak! Tapi demi kecantikan, sakit sedikit tak apa.

Apanya yang 'sedikit'?! Elaah menyiksa ini sih!! Keluh Wana dalam hati sambil memaksakan rona wajahnya yang disetting seakan terpukau. Gara-gara korset ia jadi tidak bisa makan, minum pun hanya sedikit karena kesempitan.

Makanya Wana memberi ide sebuah sofa empuk di ruang neeting. Karena ia sekarang saat ingin berbaring di sofa sambil makan Indomie porsi dobel pakai keju segunung!

Wana menatap sosok Leo. Dilihat dari ikat pinggang dengan logo H nya sih Leo sepertinya kaya raya, dan senyuman ramahnya menandakan kalau perilaku pria ini begitu lembut.

"Ugh!" gumam Wana.

Sial! Aku malah jadi sesak napas. Plis deh, ini belum seberapa dibandingkan Ratu dan Putri zaman Marie Antoinette! Masa begini saja kau tak tahan Wanaaaaa!

Wana mengomeli dirinya sendiri. Masalahnya ruangan meeting itu belum beroperasi dan aliran udaranya tidak selancar di luar tadi.

"Kamu tak apa?" tanya Leo.

"Eh? Kenapa Om?"

"Sepertinya wajah kamu agak pucat,"

Belum makan dari pagi saking sibuknya perawatan, gumam Wana dalam hati. "Masa sih Om? Saya biasa aja sih," ujar Wana.

Leo tersenyum menatapnya, "Kamu ini, cantik sekali ya ternyata kalau dilihat di ruangan terang seperti ini," pria itu mendekat.

"Om ini terlalu baik memujinya,"

"Kamu juga cerdas ternyata, saya tidak menyangka wanita semuda kamu memiliki pemikiran sedetail itu,"

Wana mulai pusing, ia ingin segera keluar dari ruangan sempit itu. Mana bau kimia dari dinding dan perabotan baru-nya masih menusuk hidung. Beneran sakaw kayaknya dia! Mabok cat!

Tak disangka Leo sudah berdiri di depannya, dengan jarak saat dekat.

"Kamu kepanasan?" tanya Pria itu sambil menyingkap helaian rambut di dahi Wana.

"Eh?" tiba-tiba Wana rasanya linglung.

"Sampai keringatan begini," Leo mengelus pipi Wana.

Tapi kenapa Wana rasanya tak kuasa menghindar?

Pandangannya mulai buram. Sepertinya sebentar lagi dia pingsan.

1
LOVE U TOO¹
aku tihbkalo gak bemu novel enak pasti balik keaini.. aampe udah lebih 10 kali bCanya ini novel..
Mia Mustofa
mbuh lah, yg baca jd ikutan sableng ini mah
Maya Ratnasari
SBMPTN Thor, kebalik tu BM nya
Yuyun
au ahhh😄😄😄
Hana Nisa Nisa
🤣🤣🤣🤣
ahjuma80
suka sm om silver satset
ahjuma80
aku ko senyum senyum ya
ahjuma80
nemu aja ni si madam ilmu per baby an, survei ya dam
ahjuma80
kelar lo kevin
ahjuma80
wana mahluk langka om
ahjuma80
wkwkwk betul wana masih panjang jalan menuju kaya
ahjuma80
wkwkw boleh lah madam aku catet tips dan triknya
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
lu bilang pelakor tapi lu nya main api kalau gak sinting goblok juga ya lu yun
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
kan kan mulut nya sih kagak bisa ngerem dah tau kebenarannya nyaho kan gak dpet apa"
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
keren mbak mala gak menye" , buang laki yg gak tau terimakasih tuh mbak
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
wah 😮 , edyan
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
lu cari masalah ama konglo si kev 🤭
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
loh ehh kog 🤭
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
kagak ada takutnya ya lu kevin
☠𝒜𝐿𝓊𝓃🪡
duh eilah dah posesif aje ini om silver
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!