Keira Hartono tidak pernah menyangka bahwa malam sebelum pernikahannya, dia akan memergoki tunangannya sendiri — Brandon Liem, pewaris Liem Group — sedang tidur dengan adik tirinya, Celine.
Tapi Keira bukan wanita yang bisa diinjak dua kali.
Alih-alih menangis dan memohon, dia mengambil ponselnya, merekam segalanya, dan memberikan ultimatum pada kedua keluarga:
*"Ganti pengantin prianya, atau ganti pengantin wanitanya."*
Pilihan jatuh pada Reynard Liem — kakak Brandon yang dikenal seluruh Jakarta sebagai pewaris yang "sudah gila" setelah kecelakaan mobil yang menewaskan kakeknya. Dia duduk di kursi roda, tidak bisa berbicara dengan benar, dan menghabiskan hari-harinya bermain Rubik sendirian di pavilion belakang rumah.
Semua orang menertawakan Keira. *"Menikahi orang gila demi balas dendam? Kasihan sekali."*
Tapi Keira tahu sesuatu yang tidak diketahui siapa pun.
Dia tahu bahwa tiga tahun dari sekarang, Reynard Liem akan bangkit kembali — lebih kuat, lebih kejam, dan lebih berkuasa dari sebelumnya. Yang perlu dia lakukan hanyalah menjaganya sampai saat itu tiba. Setelah itu, cerai, dan mereka berdua bebas.
Rencananya sempurna.
Sampai dia mulai jatuh cinta pada suaminya.
Sampai dia menyadari bahwa di balik tatapan polos dan kata-kata cadel itu, ada sepasang mata gelap yang mengawasinya — dengan obsesi yang tidak pernah dia sangka.
*"Kei mau pergi dariku? Tidak boleh."*
*"Selain di sisiku, kamu tidak boleh ke mana pun."*
Ternyata, Reynard Liem tidak pernah gila.
Dan dia tidak pernah berencana untuk melepaskannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lumisse, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 31
Bab 31: Premiere
Malam pertama Hanya Kamu tayang, Keira tidak bisa duduk tenang.
Ia sudah mematikan laptop, lalu menyalakannya lagi. Sudah membuka televisi, lalu mengecilkan volume. Sudah menyuruh Naomi tidak menelepon sebelum rating keluar, tetapi setiap dua menit ia tetap menatap ponsel seolah layar itu bisa memberinya jawaban lebih cepat.
Di sofa Pavilion, ia memeluk bantal abu-abu sampai sudutnya tertekuk.
"Kei," panggil Reynard dari samping.
"Hmm?"
"Bantal sakit."
Keira menunduk. Benar. Jemarinya mencengkeram bantal itu terlalu kuat.
Ia melonggarkan tangan, lalu menarik napas. "Aku baik-baik saja."
Reynard menatapnya dengan wajah yang jelas tidak percaya.
Di layar televisi, iklan terakhir sebelum episode pertama masih berjalan. Tagar Hanya Kamu sudah naik sejak sore, sebagian masih karena orang ingin mengejek. Ada yang menulis bahwa mereka menonton hanya untuk membuktikan drama kecil BC Entertainment akan gagal. Ada yang membuat lelucon soal Keira menikah dengan Tuan Muda Liem lalu tiba-tiba dapat slot Rajawali TV.
Keira membaca semuanya.
Setiap komentar buruk dulu terasa seperti pisau. Sekarang ia tahu cara memegang gagangnya.
Naomi sebenarnya menawarkan untuk menonton bersama di Pavilion. Rio juga sempat mengusulkan nobar kecil di kantor bersama tim inti. Keira menolak semuanya. Ia tidak sanggup melihat wajah timnya kalau episode pertama gagal menarik penonton. Ia bisa menghadapi hinaan dari orang asing, tetapi belum tentu bisa menghadapi mata Naomi yang kecewa atau Rio yang diam karena terlalu sopan untuk mengatakan strategi mereka salah.
Maka ia memilih sofa tua di Pavilion, teh hangat yang sudah dingin, dan Reynard yang sejak sore terus bertanya apakah televisi bisa dimarahi kalau menayangkan iklan terlalu lama.
"Tidak bisa," jawab Keira waktu itu.
"Kalau rating jelek?"
"Rating tidak bisa dimarahi juga."
"Kalau orang jahat?"
Keira sempat menatapnya, lalu berkata, "Orang jahat boleh."
Reynard tampak puas dengan aturan itu.
Tetap saja, saat logo Rajawali TV muncul dan musik pembuka Hanya Kamu mengalun, jantungnya memukul dada seperti orang mengetuk pintu dari dalam.
"Rey, kamu tidur saja," katanya tiba-tiba.
"Tidak mau."
"Ini akan lama. Rating keluar tengah malam."
"Rey temani."
"Kamu baru sehat."
Reynard menatapnya beberapa detik, lalu dengan patuh menggerakkan kursi rodanya ke arah kamar. Keira merasa bersalah melihat punggungnya menjauh, tetapi ia juga tidak ingin Reynard ikut tegang karena pekerjaannya.
Ia kembali menatap layar.
Episode pertama dimulai dengan adegan Livia berjalan di bawah hujan, membawa koper murah, wajahnya kosong tetapi matanya penuh luka. Keira tahu adegan itu. Ia melihatnya saat syuting, saat editing, saat color grading. Ia bisa menghafal dialognya.
Namun malam ini berbeda.
Malam ini adegan itu bukan lagi miliknya saja. Adegan itu sedang masuk ke ruang tamu orang-orang yang membencinya, meragukannya, dan diam-diam menunggu untuk dibuat percaya.
Sepuluh menit pertama, social media masih ramai mengejek.
Lima belas menit, beberapa komentar mulai berubah.
Kok opening-nya rapi?
Livia bagus juga.
Aku kira bakal norak, tapi ini sinematografinya niat.
Keira menggigit bagian dalam bibir.
Saat adegan konfrontasi pertama Livia muncul, timeline meledak. Potongan dialog yang kemarin sengaja dilepas sebagai bahan perdebatan kini punya konteks penuh. Orang-orang yang dulu memaki nepotisme mulai bertanya siapa penulisnya, siapa sutradaranya, siapa aktris itu.
Lalu akun gosip yang kemarin paling keras menuduh BC berjalan lewat koneksi ikut mengunggah klip itu.
Caption-nya berubah total.
Ternyata drama yang sempat kontroversial ini punya kualitas produksi di atas ekspektasi.
Keira menatap kalimat itu sampai matanya perih.
Mereka tidak meminta maaf. Tentu saja tidak. Akun seperti itu tidak pernah mengaku salah. Mereka hanya mengganti arah angin dan berpura-pura sejak awal berdiri di tempat yang benar.
Tetapi di bawah unggahan itu, penonton tidak sebodoh yang mereka kira.
Kemarin akun ini yang hujat, sekarang ikut promosi?
Kalau bagus bilang bagus saja, tidak usah malu.
Aku nonton buat nyinyir, malah keterusan.
Ponsel Keira bergetar.
Naomi: KAK, KOMENTARNYA BALIK!
Rio: Jangan balas apa pun. Biarkan organik.
Evan: Aku tidak mau bilang kau benar dulu sebelum angka keluar, tapi sial, kau mungkin benar.
Keira tertawa pendek, tetapi tawanya pecah di tengah.
Ia tidak sadar Reynard sudah kembali sampai sebuah tangan pelan-pelan menyentuh punggung tangannya.
Keira menoleh.
Reynard duduk di lantai karpet, bukan di kursi roda. Kursi rodanya ada di belakang sofa, tetapi ia sudah turun sendiri dan bersandar ke lutut Keira dengan Rubik di pangkuan.
"Rey, kamu turun sendiri?"
"Pelan."
"Kamu bisa jatuh."
"Tidak jatuh."
Ia mengambil tangan Keira, meletakkannya di atas kepalanya, lalu menunduk seperti meminta dielus.
"Kei tegang," katanya.
Keira ingin memarahinya, tetapi jari-jarinya sudah bergerak mengusap rambut Reynard.
Gerakan kecil itu menenangkan dirinya lebih daripada menenangkan Reynard.
Episode pertama selesai dengan adegan menggantung. Musik penutup belum habis ketika ponsel Keira bergetar tanpa henti. Pesan masuk seperti hujan.
Naomi mengirim voice note penuh teriakan.
Rio mengirim tangkapan layar komentar kritikus drama.
Evan mengirim satu kata: tunggu.
Keira menunggu.
Lima menit.
Sepuluh menit.
Lalu telepon Evan masuk.
Keira mengangkatnya dengan tangan dingin. "Van?"
Di seberang, Evan tidak langsung bicara. Yang terdengar hanya napasnya, lalu suara orang-orang di belakangnya yang berseru.
"Rating awal keluar," katanya akhirnya.
Keira menutup mata. "Berapa?"
"Dua koma satu."
Keira tidak bergerak.
"Kei?"
"Ulangi."
"Dua koma satu. Dan tagar kita nomor satu."
Bantal yang sejak tadi dipeluk Keira jatuh ke lantai.
Di sisi lain telepon, Evan masih bicara cepat. Ia menyebut angka share, grafik menit ke menit, dan nama program lawan yang tertinggal. Keira tidak menangkap semuanya. Yang ia dengar hanya satu hal: penonton tidak pergi setelah lima menit pertama. Mereka bertahan. Mereka memilih tinggal.
Rio masuk ke panggilan berikutnya tanpa menunggu izin.
"Keira, episode dua harus kita dorong besok pagi. Jangan biarkan media membingkai ini sebagai keberuntungan satu malam."
Naomi menyusul dengan panggilan video yang penuh wajah basah. Di belakangnya, beberapa staf BC melambaikan tangan di kantor, sebagian masih memakai jaket karena mereka sengaja lembur menunggu angka.
"Kak, mereka tepuk tangan di kantor!" Naomi terisak sambil tertawa. "Pak satpam juga ikut nonton!"
Keira menutup mata lagi. Gambaran kantor kecil itu, orang-orang yang memilih percaya padanya saat belum ada jaminan apa pun, menghantamnya lebih keras daripada angka rating.
Di layar ponsel, notifikasi masuk semakin liar. Nama-nama yang dulu tidak pernah membalas pesan Keira kini mengirim selamat. Media hiburan meminta wawancara. Akun gosip yang kemarin menyerang mulai mengunggah potongan adegan dengan caption kagum yang terdengar seperti mereka tidak pernah ikut memanaskan api.
Komentar penonton berubah menjadi arus yang deras.
Aku minta maaf sudah ikut hujat.
Episode dua kapan?
Livia harus naik kelas.
BC Entertainment siapa? Ini perusahaan baru tapi gila rapi.
Keira membaca, lalu membaca lagi. Huruf-huruf di layar tiba-tiba kabur.
"Kau benar," kata Evan di telepon. Suaranya lebih pelan daripada biasanya. "Kau selalu benar."
Kalimat itu seharusnya membuatnya bangga.
Namun yang pecah dari dada Keira justru tangis.
Ia menutup mulut, mencoba menahan suara. Air matanya jatuh ke punggung tangan Reynard. Reynard langsung mengangkat kepala.
"Kei?"
Keira menggeleng. "Aku tidak apa-apa."
Tetapi tangisnya semakin deras.
Ia tidak menangis karena angka dua koma satu. Ia tidak menangis karena trending pertama. Ia menangis karena untuk pertama kalinya setelah terlahir kembali, ada sesuatu yang ia bangun sendiri berdiri di depan dunia dan tidak runtuh.
Di kehidupan yang lalu, semua orang mudah sekali mengatakan ia gagal. Istri gagal. Anak gagal. Kakak gagal. Perempuan yang ditinggalkan.
Malam ini, jutaan orang menonton karyanya.
Dan karya itu menjawab untuknya.
Reynard naik sedikit, meraih kotak tisu di meja, lalu menyodorkannya. Ketika Keira mengambil tisu dengan tangan gemetar, ia menepuk punggung Keira perlahan. Tidak bicara banyak. Tidak bertanya mengapa. Ia hanya ada di sana.
Keira menunduk dan menempelkan dahinya sebentar ke rambut Reynard.
"Rey," bisiknya.
"Hmm?"
"Aku berhasil."
Reynard menutup mata. "Kei berhasil."
Di apartemen lain, Celine menatap layar ponselnya tanpa suara. Kak Wulan berdiri di sampingnya, wajahnya kaku. Mereka baru saja melihat akun gosip yang mereka bayar ikut memuji Hanya Kamu agar tidak tertinggal arus.
"Ini hanya episode pertama," kata Celine akhirnya.
Kak Wulan tidak menjawab.
Brandon mengirim pesan bertubi-tubi, menanyakan mengapa Seribu Tahun belum masuk pembicaraan sebesar itu padahal promosinya lebih mahal. Celine mematikan layar.
Namun ponsel lain di meja tetap menyala. Komentar penonton masuk tanpa henti, membandingkan ekspresi Livia yang pecah di episode pertama dengan potongan teaser Seribu Tahun yang menampilkan Celine tersenyum cantik tanpa beban.
Ada satu komentar yang membuat Celine menggigit bibir sampai hampir berdarah.
Keira kehilangan tunangan, tapi malah dapat suami dan karier yang lebih bagus. Kadang semesta tahu cara membalas.
"Matikan," bisik Celine.
Kak Wulan mematikan tablet tanpa berkata apa-apa.
Di Pavilion, Keira akhirnya berhenti menangis. Matanya merah, hidungnya sedikit tersumbat, tetapi senyumnya lebih terang daripada semua lampu ruangan.
Ponselnya bergetar sekali lagi.
Nomor asing.
Pesannya hanya satu kata.
Selamat.
Keira mengerutkan alis.
Reynard yang masih bersandar di lututnya melihat layar itu. Dalam sekejap, kelembutan di matanya menipis.
Jari Keira berhenti di atas layar.
"Siapa ini?" gumamnya.
Reynard tidak menjawab.