Namaku Zoey Park.
Zoey Park dengan segala hal yang aku miliki. Aku cantik, kaya, dan cerdas. Orang-orang iri padaku, tapi aku?
“Kenapa dia harus lahir sebagai anak perempuan?”
Kalimat Ayah membuatku membenci diriku sendiri. Apapun yang aku lakukan tidak akan pernah membuatnya melihatku dan mengakuiku. Parahnya lagi, tidak ada anggota keluargaku yang mendukungku.
Ayah lalu berambisi untuk menjodohkanku!
Aku masih SMA waktu itu, dan entah keajaiban apa yang terjadi, aku berhasil terlepas dari perjodohan itu dan tinggal di luar negeri selama belasan tahun.
Aku sudah bahagia dengan hidupku sampai Ayah muncul di Paris dan menyeretku pulang untuk dinikahkan dengan lelaki yang sudah beristri! Benar-benar tidak masuk akal!
Tapi, ada fakta yang mulai muncul kepermukaan, tentang keluargaku, tentang perjodohan dan tentang maut yang mengejarku.
Aku mulai menyadari bahwa tidak ada orang tua yang benar-benar membenci anaknya.
Gengamlah tanganku, kuatkanlah aku menempuh perjalanan ini...
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AIANA, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 7; Kali Pertama Berbicara dengan Hwang Joon
Aku memijat tumitku yang mati rasa. Berdiri di atas high heals 10 cm lebih dari tiga jam sangat menyiksaku, dan acara seperti ini sejujurnya tidak cocok untukku. Aku duduk di kursi beranda ballroom yang di sewa oleh perusahaan. Pertemuan itu sudah hampir selesai saat aku menyelinap dan duduk di salah satu kursi sambil melepas high heals-ku. Tak hanya kakiku sebenarnya yang sakit, pipiku juga terasa kaku karena terlalu banyak tersenyum menyambut tamu-tamu ayahku.
Seseorang mengambil high heals ku yang kuletakan sembarangan dan menaruhnya tepat di depan kakiku. Aku mendongak dan melihat Hwang Joon yang terlihat juga begitu lelah. Aku menghela nafas, mengatur nafasku agar pikiranku bisa jernih saat menghadapinya.
“Kenapa kau sangat waspada seperti itu? Aku tidak akan menyerangmu begitu saja...” ucapnya sambil tertawa lirih. Ia menyadarkan dirinya di pagar beranda dan mengendorkan dasi yang seolah mencekiknya.
“Aku tahu...” aku menyandarkan tubuhku di kursi yang aku duduki sambil menatapnya tajam.
“Lalu kenapa kau seperti itu?” tanyanya lagi. Jujur ini baru pertama kalinya kami berdua saling berbicara sambil bertukar pandangan seperti ini.
“Aku hanya belum mengerti apa yang kau pikirkan...” jawabku mantap.
“Apa yang ingin kau ketahui Zoey?” tawarannya begitu lucu. Walaupun ia memberitahuku, dari mana aku tahu dia sedang tidak mengarang cerita?
“Kenapa kau menyetujui perjodohan ini?” aku tetap bertanya, menimbang jawabannya.
“Karena ini perjanjian keluarga...” ia menatapku bingung, seolah menyangsikan kecerdasanku, “kau tidak tahu sehingga kau bertanya?”
“Kau tidak mencintaiku kan? Kau jelas-jelas mencintai istrimu...” aku tersinggung juga dengan tatapannya yang meremehkan itu.
“Kau tau ternyata, baguslah. Itu akan lebih mudah kalau kau tau dari awal...” ia mengalihkan pandangannya, “kau ternyata mencari informasi tentangku juga...”
“Kenapa kalian harus bercerai kalau kalian saling mencintai?” aku memotong kalimatnya. Aku tidak perlu menjelaskan dari mana aku memperoleh informasinya.
Hwang Joon tertawa, ia kembali menatapku dengan tatapan iba. Apa-apaan ini maksudnya?
“Cinta tidak harus diikat dengan perkawinan Zoey begitu juga sebaliknya...” ia lalu berjalan mendekatiku, “kau polos sekali...” katanya di telingaku.
Aku mendorongnya, “kau benar, aku memang polos jadi jangan libatkan aku dalam masalah kalian...”
“Kenapa kau tidak mengatakannya pada ayahmu? Kau kan yang tidak setuju, bukan aku...” Hwang Joon kembali mendekatkan wajahnya di telingaku, “aku punya penawaran menarik untukmu Zoey...” aku hanya diam menunggu tawarannya itu.
“Kau cukup menikah denganku, setelah itu kau bebas, kau boleh pergi kemana pun, kau boleh menjadi apapun yang kau mau, dan boleh bercinta dengan siapapun yang kau inginkan...” ia membisikkannya di telingaku. Tak hanya sikapnya namun mambayangkan apa yang dikatakannya juga membuatku bergidik.
“Apa kau sudah gila!” aku mendorongnya dan berdiri.
“Tepat sekali...” ia tersenyum dan memandangku dengan serius, “tanyakan pada dirimu, apa uang tidak membuatmu gila? Uang? Bukan...ini bukan hanya masalah uang Zoey...” Hwang Joon kembali bersadar di pagar beranda dan menatap ke arah ruangan tempat orang-orang pemegang saham itu sedang beramah tamah dan berpesta.
“Ini adalah medan pertempuran Zoey, lihatlah mereka semua tersenyum dan menatap layaknya seekor kucing tak berdaya, tapi di dalam hati mereka semua, mereka adalah harimau yang akan membunuhmu kapan saja jika kau lengah...” Hwang Joon tersenyum pahit, “bukankah kau juga berbisnis di luar sana?”
Aku ikut menatap ruangan itu dan apa yang dikatakan Hwang Joon tidaklah salah. Semakin tinggi kedudukanmu, akan semakin banyak pula orang yang mengincarmu. Aku menatap Hwang Joon dari sudut mataku. Baru kali ini juga aku memperhatikan wajahnya. Ia tidak terlalu tampan tapi garis wajahnya tegas dan tajam. Sorot matanya juga bagai elang, walau dengan jelas aku bisa melihat rasa lelah di sana namun ia tetap terlihat sosok yang tidak mudah dikalahkan. Diusianya yang sudah berkepala empat, aku akui ia masih terlihat menarik.
“Kenapa kau melihatku seperti itu?” tanyanya sambil terkekeh. Senyum tulusnya untuk pertama kali. Aku tidak mengalihkan pandanganku karena ia terlanjur memergokiku.
“Mengamatinya untuk pertama kalinya, selama ini aku belum pernah benar-benar melihatmu...” kataku jujur sambil memberikan senyum yang tulus, “kau pasti ayah yang baik kan untuk anakmu?”
Pertanyaanku hanya dijawab dengan senyumnya. Kami sama-sama terdiam, sibuk dengan pikiran kami masing-masing. Kenapa kami terjebak dalam ikatan yang sangat menyakitkan hati ini?
“Apa kalian sudah saling mengenal?” suara Kak Dany memecah keheningan di antara kami berdua. Aku menatap kakak laki-lakiku itu dengan tatapan tak mengerti.
“Apa perusahaan tidak bisa bekerja sama tanpa adanya pernikahan di antara kami berdua?” aku bertanya untuk pertama kalinya tentang pernikahan ini.
“Itulah perjanjiannya...” Kak Dany memberikan gelas wine kepadaku dan ke Hwang Joon. Ia seolah tahu kalau kami berdua ada di sini dalam waktu yang cukup lama.
“Perjanjian apa?” aku benar-benar tidak mengerti. Bukankah kalau perjanjian antar keluarga bukan perjanjian hukum yang harus dipenuhi?
“Wasiat, itulah perjanjiannya...” Kak Dany menatapku. Aku tidak pernah tahu masalah wasiat ini. Aku beralih pada Hwang Joon.
“Perjanjian antara kakek nenek kita. Itu tertulis dalam wasiat mereka masing-masing. Ayah kita anak tunggal dan tidak ada keturunan dari ayah Hwang Joon yang perempuan, akhirnya wasiat itu menurun ke kita, cucu-cucunya...” jelas Kak Dany sambil menyesap wine di tangannya. Ia baru saja kembali mengambil winenya sendiri.
“Kenapa seperti itu?” aku merasa ini tidaklah adil.
“Mana ku tahu! Kau tanyakan saja ke kuburannya!” kata Kak Dany sedikit meninggikan suaranya, membuatku terdiam dan mengalihkan padanganku.
“Aku tak ingin menikah dengan cara seperti ini...” kataku lirih.
“Lalu apa kau pikir kau bisa menemukan cinta sejati yang akan menerimamu apa adanya? Bahkan setelah keluarga kita tak memiliki apa-apa?” Kak Dany menatapku sinis.
“Sebenarnya apa yang terjadi padamu sih, Oppa? Kenapa kau begitu berubah? Apa salahku padamu?” aku menatap Kak Dany dengan hati terluka.
“Jangan ajak aku dalam pertengkaran keluarga kalian...” Hwang Joon menghabiskan winenya dan meletakkan gelasnya di meja samping tempatku duduk, “jangan lupakan tawaranku tadi...” bisiknya sebelum pamit meninggalkan aku dan Kak Dany di sana.
“Sadarlah Zoey, kapan kau akan sadar? Bukannya kau sangat cerdas?” Kak Dany merangkul pundakku, “kita bukanlah orang yang bisa hidup seperti apa yang kita inginkan...”
“Aku tidak ingin menikah dengan orang yang tidak aku cintai...”
“Kau tidak akan menemukannya kalau kau tidak pernah berkenalan dengan siapapun yang kami kenalkan...” Kak Dany merapikan poniku yang tertiup angin dari beranda, mengudang rasa dingin ke kulitku yang hanya di balut dengan gaun tipis.
“Kau pikir dengan kepribadianmu itu kau bisa bergaul dan bertemu dengan pangeranmu itu? Jangan bermimpi. Kau tak tahu apapun tentang makhluk yang namanya laki-laki...” katanya sebelum beranjak meninggalkanku
“Apa Oppa mencintai Ji Hyun Eonni saat menikahinya?” tanyaku sebelum ia meninggalkanku.
“Tentu saja tidak, tapi aku tak punya pilihan untuk tidak mencintainya...” katanya tanpa membalikkan badannya. Ia lalu berlalu meninggalkanku dalam siluet punggungnya yang kini terasa begitu dingin. Aku tak menyangka bahu yang dulunya begitu hangat menggendongku akan berubah menjadi dingin. Aku merindukannya.
Aku duduk dengan rasa kesepian yang mulai menjalari hatiku yang sudah kecil. Aku tahu, aku menyadari bahwa hatiku sangat kecil dan ciut untuk menghadapi kenyataan ini. Aku begitu mencintai keluargaku hingga aku takut mereka akan melukaiku atau sebaliknya.
Aku meraih wine itu dan meminumnya. Mencoba mengusir rasa dingin yang kini tidak hanya menjalari hatiku tapi juga tubuhku.
***
salam ya dari istri Haechan
🍁Salam hangat dari Chapter Our Love
Mohon dukungan baliknya di Chapter Our Love^^
Dan jangan lupa tinggalkan Like,Komen, dan Bagikan❀~
Salam hangaat❀❀
Wah Dazzling Society...amazing.
Aku mau sok sok an review nih 🤭 (kyak yg ngerti aja dunia tulis menulis, baru jg 6 bln jadi tukang ketik 😅😅, jd aku review sbg pembaca aja ya. kalo jd tukang baca, jam terbang cukup lah 😅😅)
Tema cerita:
Ttg holang kaiyah...tapi berbeza krn detailnya lbh ngena ga asal blg. termasuk ttg perusahaan dan seluk beluknya
Karakter:
Tiap karakter punya ciri khas, penokohan itu jg bisa dilihat bedanya hingga kalimat yg diucapkan atau gerak gerik yg ditampilkan
Alur, plot, konflik dll
Ngalir ga putus. stlh terbuka satu misteri tp kemudian muncul teka teki yg lain. otak kd ikut muter kyk zoey 😅
Tata bahasa
nyaris tanpa typo dan sesuai setting korea. Kak Author sangat paham dgn bahasa n budaya korea jd ga asal omong sharangeo udah otomatis korea gitu ya 😁
Konten dewasa tersembunyi dgn manis tanpa mengurangi efek ke-uwuan-nya 😅 maksudnya bikin baper, para jomblo bisa maksa cariin jodoh saat ini jg 😂😂
Pesan moral:
Banyak...ada cinta pengorbanan, saling mengisi, arti keluarga komplit pokoknya 😎
Intinya aku puas baca novel ini karena berbeda, ga rugi pokoknya.
Last but nit least Daebak Kak Author sarangheyo 😍😍😘😘