" Tanda tangani surat pengalihan perusahaan Wisesa Grup, kalau tidak mau, kalian semua akan kami siksa "Gertak Vera, ibu tiri Hardiansyah.
Dengan disaksikan istrinya Kiara, Hardiansyah menandatangani pernyataan penyerahan pengelolaan perusahaan.
Juna menantu Hardiansyah mendengar dibalik pintu baja, ia bersembunyi di lorong bersama Alissa istrinya yang baru melahirkan satu minggu.
Aruna Putri Permana yang baru berusia satu minggu dibawa Jono dan Isah, supir serta pengasuh setia keluarga Hardiansyah, mereka telah menunggu Juna yang lewat lorong di rumah kecil disebelah rumah utama sampai dua jam tak kunjung datang, sehingga mereka berpendapat kalau keluarga Hardiansyah telah dibunuh maka untuk menyelamatkan Aruna sebagai keturunan Wisesa, Jono dan Isah lari ke Jogja.
AFfandra cowok tampan anak Ferdiansyah harus pindah sekolah ke Jogja di SMA Aruna sekolah bahkan sekelas dengan Aruna.
Tasya, ikut pindah ke sekolah Ffandra dan sekelas dengan Ffandra juga Runa.
Penasaran? baca ya cerita ku.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Tika77h, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 7 Jono jadi tahu Ffandra anak Ferdi
Affandra POV,
Aku dan Aruna tak menuju kelas, karena tugas Bu Rina sudah di share di grup, kami berdua menuju perpustakaan.
" Jadi bawa kranjang Run," aku mengingatkan setelah dekat dengan tangga.
" Iya, biar nanti enggak capek, abis jauh perpust nya ke klas kita,"ucap Aruna, aku ngambil kranjang dorong di ruangan bawah tangga, Aruna berjalan disebelahku.
" Aruna, kamu sama Ffandra kaya anak kembar," celetuk Rayhan dan diiyakan oleh yang lain ( semua siswa ada atribut nama bordir di hem sebelah kanan), semua orang pada bilang kalau aku lagi bersebelahan dengan Aruna di kira saudara, aku sempat mikir juga, siapa tahu Papa punya saudara karena tidak nurut sama Oma Vera akhirnya ia pergi kaya Papa.
" Run, kok bisa kita dikira bersaudara, coba lihat foto yang kemaren diperbesar sama Sesil apa bener kita mirip," desakku, dan aku sengaja berjalan agak mepet karena Aruna buka galeri dan aku ikut melihat foto itu.
" Masa sih Ffand, saudara jauh kali kita, mereka saja yang suka ngeledekku Ffand," ucap Aruna.
" Coba selfie dulu disini Run," pinta Ffandra, Aruna menuruti.
" Ceklek ceklek ceklek" ada lima kali kami berselfie, kesempatan aku menyosor pipinya yang pose terakhir.
" Apaan kamu Ffand, ku hapus foto jelek," Aruna menonyor lenganku keras, dan bibirnya manyun, untung enggak marah
" Jangan Run, kan itu tadi reflek karena mau ganti pose dengan gerak cepet," bohongku, padahal aku sengaja nyosor mumpung sepi, suasana juga mendukung di taman banyak bunga.
" Ffand, memang kita mirip lho, kali kita saudara ya," ucap Runa.
" Kali kita berjodoh, abis Mama sama Papaku juga mirip Run," aku berani nyeplos gitu, dan dalam hati berharap Runa mendukung omonganku.
" Itu kan kalau sudah suami istri, kaya ayah bundaku juga mirip," jawab Aruna, bibirnya sempat manyun dengan mata dilebarkan, cantik cewek di depanku kaya seorang putri, ya Aruna kaya putri bangsawan keraton.
" Kita juga bisa kan," ucapku,
" Ffand mikir pelajaran saja, jangan mikir yang masih jauh donk," santai ia jawabnya, biasa matanya selalu melebar, tambah cantik juga lucu.
Sampai juga kami ke perpust, aku menuju ke petugas perpust, menulis peminjaman buku paket, Aruna menuju ketumpukan buku paket.
" Run, ambil bahasa Indonesia dulu ya, nanti pas pelajaran berikut ambil lagi," ide konyolku muncul, disetujui juga sama Aruna, juga repot naik turun untuk di bawa ke atasnya.
" Kok lama bener sih ambil bukunya, pada ciuman dulu ya," ledek Sesil,
" Sil, ngomongnya difilter donk, takut kalau ada yang nerima merius bisa konyol beta," tonyor Aruna.
" Iyaaahh, non putri nan cuantiik," seloroh Sesil.
Bagas ambil buku paket langsung di banting di meja.
" Gas, membuat kaget lho," ucap Aruna, Sesil manyun lihat sikap Bagas, kemaren Radhit bilang Sesil suka sama Bagas, Aruna itu hanya jaga perasaan ke Bagas, sebenarnya Aruna perasaan saat ke rumah Bagas, Mamanya merendahkan pada kedua orang tua Aruna, dia sampai wajahnya memerah dan terlihat sangat malu karena Mamanya ngomong di depanku.
" Dhit, apa Bagas enggak dengar saat itu?" tanyaku.
" Enggak, dia lagi ganti baju di kamar," kata Radhit.
Walau otakku lagi flashback tetapi tetap saja membagi satu satu buku paket ke teman teman yang siap siap mau ngerjakan tugas,
" Ffand, waktunya enggak cukuplah untuk bikin cerita, ini tinggal 60 menit," seloroh Meta,
" Cukup Ta, kalau enggak sambil ngobrol," jawabku, Meta tertawa, dan semua duduk manis konsen buat cerita.
" Tet tet tet" bel istirahat pertama,
" Ffand, ke kantin," ajak Radhit
" Aku bawa roti," ucap ku, lalu mengambil tas ransel di bawah kursi, terus mengambil tas plastik di dalamnya.
" Banyak banget Ffand, aku bagi satu satu ya di meja," pinta Vandi dan Radhit, aku mengiyakan.
" Aku sering beli roti merk ini," ucap Noni, aku tak mau cerita kalau roti yang dibawa salah satu usaha Papa, yang sudah terkenal di Jakarta, dan Papa telah buka cabang di Bandung, Jogja dan Solo.
" Donatnya oenaak," sanjung Meli,
" Pulangnya mampir ya," ajak Rika,
" Besok kalau pulang sekolah saja aku ajak makan disitu sekalian," kataku, mereka yang tidak ke kantin pada setuju.
Bagas memaksa ngajak Aruna ke kantin, dan roti ia kasihkan ke Aruna.
" Gas, sudah ada donat, aku enggak ke kantin!" tolak Aruna, Bagas wajahnya merah kaya tomat.
" Sil, ke kantin yuk," ajak Bagas, Sesil tak menolak ajakan Bagas.
" Ffan, Bagas enggak doyan makanan pemberianmu," ucap Radhit, ku abaikan sikap Bagas.
" Aruna, jadi ikut nanti pulang sekolah ke Prambanan," ucapku.
" Iya, cuman aku diantar ayah bunda, nanti yang ikut mobilku Sisi sama Nena.
" Ffan, Aruna kalau kemana mana di kawal ortu," ucap Radhit.
" Besok kalau studi tour ke Bali gimana Run, ayah bundamu ikut juga?" tanya Vandi.
" Nah itu yang ayah bundaku sudah kepikiran mulai sekarang, sudah nembusi ke sekolah katanya boleh,"ucap Aruna, yang mendengar pada tertawa.
" Mau ikut di bus?" ucapku.
" Enggak sih, biasanya bawa mobil sendiri," ucap Aruna.
" Orang tua melindungi banget," kataku.
" Iya, tapi aku seneng seneng saja kok, jadi enggak kepikiran ninggalin ortu!" ucap Aruna.
" Sudah jangan ngobrol saja, neruskan buat cerita lagi," pinta Radhit, karena bel masuk berbunyi. Semua kembali ke kursi masing masing, diam semua konsentrasi.
Dan selanjutnya jam pelajaran terus bergulir, tugas demi tugas mereka langsung kerjakan dan di kumpulkan di meja guru di ruang guru, lalu jam pelajaranpun usai, tentu berdoa dulu baru keluar kelas.
Jadilah 10 anak ke Prambanan di tambah kedua orang tua Aruna.
***
Author POV,
" Murid baru sok sok an, aku harus cari cara agar Aruna khususnya serta yang lain jangan terlalu dekat dengannya," guman Bagas.
" Gas, ayuk ikut mereka," ajak Sesil. Aruna tak mau ngajak karena ayah bundanya tak mau di semprot oleh Mamanya Bagas, Bunda sebenarnya sering dikirimi pesan oleh Mamanya Bagas, dengan kata kata yang menyakitkan.
" Haii Isah namamu, tahu diri donk, tuh anakmu kegatelaan sama anakku, ngaca aah, kayanya aku denganmu tak selevel ," dan masih banyak lagi pesan yang membuat peranakan bundanya Aruna sakit, dan Isah tak mau memberitahu kata kata itu pada Aruna, tujuannya agar Aruna tak membenci pada Bagas.
" Run, jangan pacaran, apalagi dengan Bagas, kaya bunda sama ayah juga tidak pacaran langsung nikah""pesan bunda, Aruna selalu menurut.
" Yang penting sudah saling mengenal ya bund," ucap Aruna.
" Ya tak harus begitu," ucap ayah.
" Maksudnya Yah," desak Aruna.
" Kadang, dijodohkan tahu tahu cocok maka ya terus nikah"" ucapnya.
" Iya, mending yang kaya gitu saja ya Yah," ucap Aruna, Isah dan Jono mengangguk.
Sementara itu, Jono sama Isah selalu berdiskusi kalau sudah lulus SMA Aruna harus diberitahu tentang keluarganya, karena Aruna perempuan, hubungannya dengan wali kalau kelak ia menikah, keduanya sampai sekarang percaya kalau keluarga Hardiansyah di bunuh, sedang Aruna sedang di cari oleh Abimanyu, bahkan Jono dan Isah selalu mengikuti perkembangan Wasesa grup setelah dipegang oleh Abimanyu.
" Mas, Ferdiansyah, tak pernah muncul di media, enggak kaya adiknya Rizky," ucap Isah, dan kedua orang ini ingat betul wajah Ferdiansyah sebaliknya Ferdi tak tahu sama sekali tentang Isah juga Jono,
" Kamu, ingat kan Ferdiansyah tak mau dijodohkan dengan Jelita teman bisnis Hardiansyah," Vera dengan Abimanyu saat perusahaan di pimpin oleh Hardiansyah ikut mengelola cabang cabangnya, karena suami dan istri pertamanya telah wafat.
" Berarti dia sekarang di coret dari pewaris Wisesa grup," ucap Isah.
" Iya, yang aku ingat saat pernikahan Juna sama Alissa saja sudah tak hadir," Isah manggut manggut.
Dan siang ini keduanya mengantar Aruna ke candi, Isah dan Jono hanya berjalan dari kejauhan jadi tak mungkin gabung,
" Paman, minta tolong foto kami," pinta Ffandra, Jono menerima ponsel yang harganya tentu selangit dan Isah maupun Jono memperhatikan wajah Ffandra,
" Ffand kamu bersebelahan sama Aruna, biar terlihat saudara kembar," celethuk Radhit, Isah sama Jono jantungnya deg deg.
" Mas, kok Aruna sama Ffandra mirip," bisik Isah lirih, keduanya sempat gemetar, apalagi Jono saat menyerahkan ponsel ke Ffandra kentara banget tangannya bergerak karena gemetaran.
" Paman kok gemetaran," seloroh Ffandra.
" Iya den, aaannuu enggak pernah pegang hp mahal," bohong Jono,
" Aaah Paman, kata teman teman juga guru guru aku mirip Aruna, bisa berjodoh ya Paman," bisik Ffandra.
" Den, Aruna anak orang tak punya," ucap Jono,
" Papaku, dicoret dari keluarga Wisesa grup karena nekad menikahi Mama ku," ucap Ffandra lirih, entah dorongan apa Ffandra pengin cerita ke Jono, dan Isah sama Jono semakin berdebar debar jantungnya mendengar pengakuan Ffandra, keduanya semakin ketakutan kalau pernah kerja ke Hardiansyah apalagi masih ada keturunannya yaitu Aruna yang menurut kedua orang itu tetap di cari untuk di bunuh, kedua ikut berjalan dengan jarak tak jauh dari Aruna, karena mereka tetap ingin menjaga sampai daraah menetespun akan tetap diperjuangkan.
" Berarti Ffandra anak Ferdi," ucap Isah, Jono mengangguk sangat gusar,
" De, kita pindah saja ke Solo yuk, Aruna pindah SMA yang bagus disitu,"desak Jono.
" Enggak ke Surabaya yang lebih jauh," jawab Isah.
" Kita tak punya aset disana," ucap Jono.
" Terserah kamu saja mas, aku sih nurut saja," jawab Isah.
Jono dan Isah mengikuti setiap langkah Aruna cs menuju ke setiap candi di wilayah ini yang bertebaran di beberapa lokasi, sampai menjelang Maghrib baru pulang, dan Jono mengantar kedua teman Aruna yang ikut mobilnya sampai ke rumah.
Malamnya Jono dan Isah ngajak Aruna duduk di ruang depan tv.
" Run, kamar kamar yang di Solo sudah jadi, kamu pindah ya sekolahnya," pinta Jono.
" Kok tanpa angin tanpa hujan Ayah Bunda ngajak pindah, ngapain, enggak Yah, aku males pindah pindah sekolah," sanggah Aruna.
" Abis disana kan baru perlu ditunggui," ucap Isah,
" Kalau gitu aku yang nunggu kost disini bun," ucap Aruna,
" Ya kami enggak tega sama kamu," ucap Jono lalu diiyakan oleh istrinya.
Jono baru selesai membangun beberapa kamar di Solo dan sudah terisi oleh anak anak kuliah.
Aruna sama Ferdi dan Mia, di mulai dgn keakraban sm Jono dan isah, juga Ffamdra, sehingga hati nya sudah tertata, bahkan sebelum ketemu Juna sama Alissa, Aruna tidak tahu kalau mereka masih saudara.