Almahyra seorang anak korban tsunami yang diadopsi oleh seorang dokter lajang bernama Kenzo Takeshi Sato.
Mereka sama-sama memendam perasaan.
Pernikahan Kenzo dengan wanita lain yang bernama Mona tidak bahagia.
Setelah berpura-pura lumpuh dia baru sadar bahwa Almahyra lah yang pantas menjadi istrinya.
Kenzo dan Almahyra diam - diam menikah.
Apakah Mona rela di madu?
Apa yang akan terjadi setelah dia tahu di madu?
Selamat membaca...
Aku tunggu support Anda semua agar aku lebih semangat untuk berkarya.
Love u All.. 😘😘😘
Terimakasih.. 🙏🙏🙏
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon ria aisyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
KEBENARAN TERUNGKAP
Perang dingin antara Kenzo dan Almahyra sudah berlangsung beberapa hari. Saat tertidur Kenzo memimpikan Almahyra sedang menangis. Dalam mimpi itu terlihat Almahyra sedang membawa koper besar dan beranjak pergi sambil menangis.
Kenzo terbangun. Dia sangat merindukan Almahyra. Tapi setiap kali mengingat kejadian di rumah sakit tempo hari, dia menjadi enggan pergi dan berbicara dengan Almahyra. Selain cemburu, Kenzo juga menyayangkan kenapa Almahyra tidak mengabarinya. Bahkan dia memilih di tolong oleh orang lain dan bukan dirinya. Biasanya Almahyra selalu bergantung padanya.
Melihat Mona tidur dengan nyenyak, Kenzo pergi diam-diam ke lantai bawah. Dia berjalan mengendap-endap seperti maling. Kenzo ingin melihat Almahyra tanpa sepengetahuannya. Hatinya sangat kacau memikirkan mimpi buruknya.
Perlahan dia membuka pintu kamar Almahyra agar tidak menimbulkan suara. Matanya melihat sekeliling mencari koper yang ada dalam mimpinya. Tidak ada. Kenzo bernapas lega. Mimpinya tidak akan terjadi.
Dengan masih mengendap-endap Kenzo berjalan mendekati Almahyra. Dia ingin melihat wajahnya dari dekat. Melihat Almahyra bergerak, Kenzo buru-buru menundukkan badannya dan bersembunyi di samping tempat tidur. Jantungnya berdebar. Dia takut Almahyra melihatnya.
Setelah di rasa Almahyra sudah kembali tidur tenang, Kenzo kembali mendekatinya. Dia kecup kening Almahyra sekilas dan mengelus pipinya. Kenzo tidak bisa berlama-lama di kamar Almahyra. Kenzo pergi ke dapur untuk mengambil minum sebagai alibi jika sesampainya di kamar Mona terbangun.
Almahyra membuka matanya ketika Kenzo sudah berlalu. Sejak tadi dia hanya berpura-pura tidur. Almahyra memegang keningnya lalu tersenyum. “Mungkin paman punya alasan tersendiri saat dia mengabaikanku. Aku mencintaimu paman Ken.” Almahyra berbisik lirih lalu kembali terlelap sambil tersenyum.
Sekembalinya dari kamar Almahyra, Kenzo tidak langsung kembali tidur. Setelah meletakkan gelas minumnya, dia pergi mengambil wudhu untuk sholat malam. Hatinya kini kembali tenang setelah mengadukan keluh kesahnya pada Yang Maha Kuasa.
Kenzo dan Mona sama-sama mendapat sip pagi di rumah sakit hari ini. Mereka turun dari kamarnya menuju ruang makan untuk sarapa. Almahyra tidak berada di sana. Kenzo menoleh ke sana ke mari untuk mencarinya tanpa bertanya. Dia masih takut jika mimpinya menjadi kenyataan. Pikirannya kembali tenang saat pandangan matanya melihat sosok Almahyra yang sedang menyirami tanaman di taman belakang.
“Ken, kita belum belanja untuk kebutuhan bulanan kita.” Mona berbicara di sela-sela makannya.
“Kamu bisa belanja sendiri. Aku malas pergi ke tempat rame.” Kenzo tidak suka menemani wanita belanja. Pasti akan sangat lama dan membosankan.
“Please Ken, kali ini aja. Habis dari rumah sakit kita langsung belanja, ya. Janji nggak akan lama.” Mona mengacungkan dua jarinya membentuk huruf V.
“Hmm.” Akhirnya Ken mengangguk setuju.
Mereka berangat ke rumah sakit dengan mobil Mona. Sepanjang perjalanan mereka tidak banyak mengobrol. Mona fokus menyetir sedangkan Kenzo masih terpikir akan Almahyra.
Mona sangat bersemangat hari ini. Setelah menyelesaikan tugasnya, dia berjalan ke ruangan Kenzo dengan riang. Di sana dia mendapati suaminya itu masih berkutat dengan berkas di tangannya.
“Sayang, ada yang bisa aku bantu?” Mona menghampiri Kenzo dan mengecup pipinya.
“Em, tolong kamu tata berkas yang sudah selesai sesuai katalog.” Kenzo menyerahkan beberapa berkas yang sudah selesai dia periksa.
“Baik, Sayangku. Di sana kan?” Mona menunjuk sebuah rak yang berisi banyak sekali berkas.
“Iya. Sekalian kamu rapikan jika ada yang berantakkan.”
“Siap Boss!” Mona sangat bersemangat. Kenzo akhirnya mau memperlakukannya seperti dulu sebelum terjadi pertengkaran hebat di antara mereka. Dia berharap secepatnya dapat menyingkirkan Almahyra dari kehidupan Kenzo.
Sambil menunggu Kenzo selesai, Mona duduk dan memainkan ponselnya. Dia mencuri foto Kenzo yang sedang fokus dengan berkasnya lalu dia unggah ke akun media sosialnya. Di sana Mona menuliskan caption romantis dan emoticon love. Mona benar-benar bahagia hari ini.
“Aku sudah selesai. Kita makan dulu di kantin atau langsung ke mall buat belanja?” Kenzo menata berkas di rak sambil melirik ke arah Mona.
“Kita makan di mall aja, Sayang. Aku kangen makan seafood faforit kita.” Mona menyimpan ponselnya lalu bergelayut manja di lengan Kenzo.
“Iya, biasanya kamu sampai nambah kalau makan di sana,” ledek Kenzo.
“Biarin. Habisnya enak, trus pas lagi laper juga.” Mona berceloteh manja.
“Laper apa doyan?” Kenzo terkekeh. Dia senang sekali melihat bibir Mona yang sudah menyor sedari tadi.
“Ih, gitu ya! Nggak seneng lihat istri doyan makan,” gerutu Mona kesal.
“Seneng sih, biar kamu gemukan dikit.”
“Apa aku terlalu kerempeng sih, Yang?”
“Iya, kamu agak kurusan,” jujur Kenzo. Menurutnya beda banget sama Almahyra yang lebih padat dan berisi. Lagi-lagi bayangan Almahyra melintas di pikirannya.
Mereka melewati perjalanan dengan obrolan ringan dan canda tawa. Setelah memarkirkan mobilnya mereka langsung menuju food court untuk makan siang. Mereka makan seafood di tempat langganan mereka. Kenzo dulu sering mengajak Mona makan di sana.
Setelah selesai makan, mereka lanjut untuk berbelanja. Kenzo sudah kembali bersikap mesra pada Mona. Kenzo berjalan di belakang Mona sambil mendorong troli belanja. Kali ini Kenzo tidak banyak mengeluh dan protes.
Saat sedang berbelanja, Kenzo melihat seseorang yang terasa tidak asing baginya. Kenzo berusaha mengingat-ingat siapa pria itu. Deg. Jantungnya menggelegak terbakar emosi setelah mengingat bahwa pria itu adalah orang yang bersama Almahyra di rumah sakit.
Mona menoleh Kenzo yang berdiri terpaku jauh di belakangnya. Dia lalu mengikuti kemana arah pandang Kenzo. Rio. Mona terkesiap. Dia berpikir untuk mencegah Kenzo bertemu dan berbicara dengannya.
“Sayang, aku udah selesai. Kita pergi ke kasir, yuk!” berlama-lama di sana semua akan menjadi gawat. Kenzo tidak boleh tau atas semua kebohongannya.
“Hmm. Kamu tunggu aku di kasir. Aku akan menemui seseorang terlebih dahulu.” Kenzo menyerahkan troli belanjaan pada Mona.
“Tapi, Sayang. Kamu mau menemui siapa?” Mona masih pura-pura tidak tahu.
“Orang yang sudah lancang bersikap mesra pada Al dan kamu lihat sekarang. Dia terlihat mesra juga dengan wanita lain.” Kenzo menujuk ke arah Rio.
“Sudah Sayang nggak usah di perpanjang lagi masalah ini. Lagian kan semuanya sudah lewat.” Mona berusaha membujuk Kenzo agar mengurungkan niatnya.
“Aku hanya ingin tahu saja, apa tujuannya mendekati Almahyra.” Tidak peduli lagi dengan panggilan Mona, Kenzo pergi mengejar Rio sebelum kehilangan jejaknya.
Kenzo berjalan cepat menghampiri Rio. Dia berusaha menahan emsinya karena tidak ingin menjadi pusat perhatian di sana. Mall pada hari itu cukup ramai pengunjung. Mona mengikutinya dan melihatnya dari kejauhan.
“Bisa kita bicara sebentar?” Kenzo menjajari langkah Rio yang sedang mendorong troli.
Glek.
Rio menelan ludahnya dengan susah payah. Dia tahu siapa sosok berwibawa yang berada di depannya saat ini. Dokter Kenzo. Ayah angkat sekaligus suami Almahyra. Di lihat dari sorot matanya, dia tampak kurang bersahabat.
“Em, selamat siang Dokter Ken. Ada masalah apa ya, tumben sekali Anda mengajak saya bicara?” Rio memberanikan diri untuk bertanya.
“Tidak usah terlalu formal. Aku hanya ingin tahu siapa wanita yang kamu antar ini dan aku ingin kamu jelaskan tentang hubunganmu dengan Al?” Kenzo tidak berbicara keras namun terdengar tegas.
“Dia Chika tunangan saya. Mengenai Al dan aku tidak ada hubungan yang spesial. Kami hanya berteman saja,” jelas Rio.
“Lalu bagaimana bisa kamu bisa membawa Al ke rumah sakit? Apa itu sebuah kebetulan?” tanya Kenzo mengintimidasi.
“Benar. Itu memang sebuah kebetulan. Aku dan Al bertemu di kampus. Al tiba-tiba mengeluh pusing lalu pingsan. Aku langsung membawanya ke rumah sakitmu berharap bisa bertemu denganmu.”
“Ke kampus? Untuk apa dia ke kampus? Kenapa dia tidak bilang dia mau ke kampus?”
“Maaf mungkin Anda terlalu sibuk dengan Dokter Mona sehingga Anda melupakannya.”
Jleb.
Kata-kata Rio memang benar. Ucapannya telak menusuk hatinya.
“Tunggu! Kamu belum jawab, kenapa kamu dan Al tidak mengabariku setelah berada di rumah sakit?”
“Dokter Mona mengatakan jika Anda sedang sibuk. Al nggak mau mengganggu pekerjaan Anda. Sepertinya Anda sedang salah paham padaku dan Al. Harusnya Anda lebih mengenal Al dari pada orang lain.”
Chika yang semula mendengarkan obrolan mereka dari kejauhan, kini berjalan mendekat.
“Sayang, ada apa? Kenapa Dokter Ken bisa berada di sini?” Chika melihat Kenzo dan Rio bergantian.
“Itu, Yang. Dia menanyakan tentang Al yang pingsan waktu itu. Sepertinya dia salah paham padaku,” jelas Rio pada Chika.
“Maaf Dokter Ken. Rio sudah menceritakan semuanya padaku. Kami bertiga bersahabat sejak lama. Jika Rio terlihat sangat dekat dengan Al waktu itu, itu karena kami sudah seperti saudara. Saya harap Dokter Ken tidak salah paham dengan tunangan saya.” Chika membantu Rio menjelaskan semuanya.
Kenzo tertunduk untuk sejenak. Dia merasa jadi suami yang tidak berguna. Bagaimana bisa dia termakan omongan Mona yang jelas-jelas ingin memisahkannya dengan Almahyra.
“Terimakasih atas waktu kalian. Maaf Rio, aku sudah salah paham padamu. Aku pergi dulu.” Kenzo meninggalkan Rio dan Chika tanpa menunggu jawaban mereka.
Kenzo berjalan penuh amarah mendekati Mona. Dia tetap menahan emosinya sampai mereka masuk ke dalam mobilnya. Mona tidak bisa mengelak lagi. Sepertinya Kenzo sudah mengetahui kelicikannya.
“Mona! Sebenarnya kamu wanita atau bukan sih? Melihat Al nggak berdaya kau malah memanfaatkannya untuk membuat rumor yang tidak-tidak tentangnya. Bahkan kamu menghalangiku untuk menemuinya.” Wajah Kenzo terlihat gusar. Rahangnya beradu menimbulkan suara yang membuat orang yang mendengarnya merasa ngilu.
“Maafkan aku, Sayang. Aku sangat cemburu jika melihat kamu berdekatan dengan Al. Aku takut kehilangan kamu.” Mona mulai terisak.
“Harusnya kamu tahu posisiku. Aku juga punya tanggung jawab pada Al. Semakin kamu menghalangiku berbuat adil, maka aku akan semakin menghindarimu.”
“Kenzo plis maafkan aku. Semua ini aku lakukan karena aku sangat mencintaimu.”
“Kamu selalu saja mengulang kesalahanmu, Mona. Kamu selalu saja menyakiti Al.”
“Aku janji, Ken. Aku nggak akan menyakiti Al lagi.” Mona mencoba meyakinkan Kenzo.
“Jalankan mobilnya!” seru Kenzo. Dia malas mendengarkan semua bualan Mona. Kenzo sangat hafal dengan sifat Mona. Dia sangat licik dan ambisius.
Tak ingin membuat Kenzo semakin marah, Mona lebih memilih untuk melajukan mobilnya ketimbang melanjutkan perdebatan mereka. Rasanya setelah ini akan sulit baginya untuk mengembalikan kepercayaan Kenzo padanya. Bukannya menyesal, hati Mona malah semakin sesak karena dipenuhi oleh rasa iri dan benci pada Almahyra.
****
Bersambung...
semoga saja anak q sikapnya gk lemah spt dr. Kenzo karena anak q namanya juga kenzo