Ini adalah buku lanjutan dari buku sebelumnya, mengisahkan perjalanan seorang Nova Arvena untuk menjadi seorang kultivator muda terkuat dan membawa kedamaian bagi seluruh mahluk hidup yang ada.
Bagaimana kisahnya, silahkan simak cerita lanjutan ini, semoga teman-teman suka!
kali ini season ke 2 akan menggunakan alur cepat, dan banyak harem.
JANGAN LUPA LIKE DAN KOMENNYA TEMAN-TEMAN😇
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mochamad Fachri, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31. Formasi Array
Gelombang manusia yang bergerak dari dalam Kota Tujuh Bintang tampak seperti lautan hitam yang tidak memiliki ujung. Dari jalan utama, gang-gang sempit, rumah-rumah penduduk, paviliun dagang, hingga bangunan bertingkat yang memenuhi bagian dalam kota, satu demi satu sosok keluar dengan gerakan kaku sebelum bergabung bersama puluhan ribu orang lainnya.
Mata mereka telah berubah sepenuhnya menjadi hitam, wajah mereka tidak lagi memperlihatkan emosi, sementara energi kegelapan yang sangat tipis terus merembes keluar dari bagian belakang kepala mereka dan membentuk benang-benang tak kasatmata yang terhubung menuju tujuh menara raksasa di seluruh penjuru kota.
Lin Xue yang berdiri di garis depan merasakan telapak tangannya mulai dipenuhi keringat dingin. Sepanjang hidupnya sebagai seorang pengembara dan murid Sekte Awan Biru, ia pernah menghadapi kawanan monster spiritual, kelompok bandit kultivator, bahkan beberapa kali hampir kehilangan nyawa ketika menjalankan misi sekte, tetapi menghadapi puluhan ribu manusia yang tidak boleh dibunuh merupakan keadaan yang sama sekali berbeda.
Pedang di tangannya mampu membelah tubuh seorang kultivator Ranah Mortal Bumi dengan mudah, tetapi sekarang setiap ayunan harus dikendalikan sedemikian rupa agar tidak mengenai titik vital, sesuatu yang jauh lebih sulit ketika lawan tidak mengenal rasa sakit dan terus bergerak meskipun tulang mereka telah patah.
"Gu Shen! Jangan gunakan teknik tombak penghancur!" teriak Lin Xue ketika melihat energi spiritual mulai berkumpul di ujung tombak pria bertubuh besar tersebut. "Jika seranganmu mengenai kerumunan, puluhan orang bisa mati sekaligus!"
Gu Shen yang telah bersiap melepaskan tekniknya langsung mengumpat pelan sebelum menarik kembali sebagian energi spiritualnya.
Ia memutar tombak panjang di depan tubuh, menciptakan bayangan lingkaran yang menghantam enam penduduk sekaligus dan melemparkan mereka beberapa meter ke belakang. Namun, bahkan sebelum keenam orang itu menyentuh tanah, belasan sosok lain telah melompat melewati tubuh mereka dan kembali menerjang tanpa sedikit pun keraguan.
"Aku tahu! Tetapi jika terus seperti ini, kita yang akan mati karena kehabisan energi!"
"Kalau begitu jangan banyak bicara!" Yan Mei membalas dari atas batu besar sambil melepaskan tujuh anak panah spiritual secara berurutan.
Setiap anak panah melesat dengan lintasan melengkung yang sangat akurat, menembus bagian pakaian para penduduk dan menyeret tubuh mereka menuju dinding kota sebelum menancapkannya di sana.
Dalam beberapa tarikan napas, lebih dari dua puluh orang telah tergantung pada dinding tanpa mengalami luka serius, tetapi wajah Yan Mei sama sekali tidak menunjukkan rasa puas karena jumlah tersebut bahkan tidak sebanding dengan gelombang manusia yang terus keluar dari gerbang.
"Aku mulai membenci kota ini!"
Qin Yu yang berada di sisi kanan tidak memiliki kesempatan untuk menanggapi. Kipas giok di tangannya bergerak semakin cepat, menghasilkan puluhan bilah angin yang sengaja ia tumpulkan menggunakan kendali energi spiritualnya.
Setiap bilah angin menghantam persendian para penduduk dan membuat tubuh mereka kehilangan keseimbangan, tetapi teknik seperti itu membutuhkan konsentrasi yang jauh lebih besar dibanding serangan mematikan biasa.
Keringat mulai membasahi pelipisnya, sementara napasnya perlahan menjadi berat karena ia harus terus mengatur kekuatan setiap serangan agar tidak secara tidak sengaja memenggal kepala seseorang.
Yun Xi berdiri paling dekat dengan Nova. Pedang tipis di tangannya bergerak seperti ranting pohon willow yang tertiup angin, lembut tetapi sangat akurat.
Cahaya hijau zamrud membentuk puluhan kelopak bunga di sekeliling tubuhnya, kemudian setiap kelopak berubah menjadi jarum energi yang menembus titik-titik tertentu pada tubuh para penduduk.
Begitu jarum tersebut mengenai sasaran, meridian di bagian kaki dan tangan mereka langsung terkunci, membuat tubuh mereka jatuh ke tanah tanpa mampu bergerak meskipun kesadaran mereka masih berada di bawah pengaruh Teknik Benang Kesadaran Iblis.
"Teknik Penyegel Meridian Seratus Bunga..." Lin Xue sempat melirik Yun Xi dengan tatapan kagum.
Namun Yun Xi tidak memiliki waktu untuk menjawab. Tatapannya sesekali beralih kepada Nova yang masih berdiri di tengah lingkaran perlindungan mereka.
Cahaya keemasan di bawah kaki pemuda itu semakin terang, tetapi berbeda dengan Array yang ia ciptakan di lembah sebelumnya, kali ini garis-garis rune tidak langsung membentuk sebuah lingkaran sempurna. Setiap rune justru bergerak perlahan seperti makhluk hidup, menyebar menuju tujuh arah berbeda sebelum berhenti beberapa meter dari tubuh Nova.
Di dalam kesadarannya, Nova sama sekali tidak mendengar suara pertempuran yang berlangsung di sekelilingnya. Seluruh pikirannya telah tenggelam ke dalam lautan rune emas yang memenuhi lautan jiwa.
Ribuan pola Array muncul dan menghilang dengan kecepatan luar biasa, masing-masing memiliki susunan yang begitu rumit hingga hanya dengan mencoba memahaminya saja membuat kepalanya terasa seperti akan terbelah.
Warisan Batara Agung memang telah tertanam di dalam jiwanya, tetapi memiliki sebuah warisan dan benar-benar menguasainya merupakan dua hal yang sangat berbeda. Sebelumnya, tubuh Nova hanya mengikuti ingatan yang muncul secara naluriah, sedangkan sekarang ia mencoba membangun sebuah Array berdasarkan pemahamannya sendiri.
"Jangan mengejar bentuknya."
Suara Tian Long tiba-tiba terdengar di dalam lautan jiwa.
Nova yang sedang berdiri di antara ribuan rune sedikit membuka matanya. "Apa maksudmu?"
Tian Long menatap pola-pola emas yang terus bergerak di sekitar mereka sebelum perlahan mengangkat satu tangan.
"Kesalahanmu adalah mencoba meniru Array milik Batara Agung secara sempurna. Kau lupa bahwa tingkat kultivasimu bahkan belum mencapai sepersekian kecil dari kekuatannya dahulu. Jika kau memaksakan diri menciptakan Array dengan susunan yang sama, bukan hanya energimu yang akan habis, lautan jiwamu juga bisa hancur sebelum Array itu terbentuk."
Nova mengerutkan kening. "Lalu apa yang harus kulakukan?"
"Gunakan otakmu."
Wajah Nova langsung berubah datar.
Tian Long tertawa kecil ketika melihat ekspresinya. "Batara Agung memberikan warisan kepadamu, bukan memintamu menjadi tiruan dirinya. Array adalah susunan hukum yang dibentuk berdasarkan tujuan penciptanya. Jika tujuanmu hanya memutus hubungan tujuh menara dengan para penduduk, mengapa kau harus menciptakan Array sebesar kota?"
Kalimat itu terdengar sederhana, tetapi sesuatu tiba-tiba bergetar di dalam pikiran Nova. Tatapannya langsung beralih kepada tujuh rune yang sebelumnya ia pisahkan. Sejak awal, ia terus berpikir untuk menghancurkan formasi kegelapan yang menyelimuti Kota Tujuh Bintang, padahal Yun Xi telah menjelaskan bahwa formasi tersebut memiliki tujuh sumber energi berbeda.
Jika ia tidak mampu menghancurkan seluruh formasi sekaligus, maka dirinya hanya perlu menciptakan sesuatu yang mampu mengganggu hubungan antara ketujuh sumber tersebut.
Nova menutup kedua matanya. "Begitu rupanya..."
Tian Long tersenyum tipis.
Dalam dunia nyata, perubahan langsung terjadi. Tujuh rune yang sebelumnya bergerak tidak stabil mendadak berhenti. Cahaya keemasan yang memancar dari tubuh Nova perlahan meredup, membuat Yun Xi yang berada di belakangnya langsung menoleh dengan ekspresi cemas karena mengira teknik Nova telah gagal. Namun sebelum ia sempat berbicara, ketujuh rune itu tiba-tiba bergetar bersamaan dan berubah menjadi tujuh garis cahaya yang melesat menuju langit.
WUUUUNG!
Suara dengungan berat menggema di seluruh Kota Tujuh Bintang. Ketujuh garis emas berhenti pada ketinggian ratusan meter, kemudian masing-masing membentuk sebuah simbol kuno berbentuk lingkaran yang ukurannya tidak lebih besar dari telapak tangan.
Dibandingkan simbol mata hitam raksasa yang menyelimuti seluruh kota, tujuh simbol emas tersebut terlihat begitu kecil dan tidak berarti, bahkan pemimpin Lembah Iblis Hitam yang berdiri di atas menara ketujuh sempat terdiam sebelum tertawa keras.
"Hahahahaha!"
Suara tawanya diperkuat oleh formasi dan menggema hingga ke setiap sudut kota.
"Hanya itu?"
"Kupikir pewaris teknik kuno yang menghancurkan ritual kami akan menunjukkan sesuatu yang lebih mengesankan!"
Nova perlahan membuka kedua matanya. Darah tipis mengalir dari sudut hidungnya akibat tekanan pada lautan kesadaran, tetapi wajahnya justru terlihat jauh lebih tenang dibanding sebelumnya. Ia mengangkat tangan kanan dan membentuk satu segel terakhir, kemudian mengarahkan jari telunjuknya menuju langit.
"Siapa bilang..."
"...aku sudah selesai?"
Jari Nova bergerak, ketujuh simbol emas langsung menghilang.
Pemimpin Lembah Iblis Hitam terdiam. Namun, satu tarikan napas kemudian, wajahnya berubah drastis.
"APA?!"