Kiara Anindita, seorang anak korban dari perceraian orangtuanya.
Hidup sederhana bersama ibunya membuat dia menjadi gadis yang mandiri bahkan sejak kecil, awalnya dia memang ingin menyalahkan ibunya , kenapa sampai harus bercerai dengan ayahnya. namun setelah mendengar kisah masa lalu dari sahabat ibunya, akhirnya dia sadar.
Dan akhirnya Kiara mau berjuang bersama ibunya untuk hidup yang lebih baik kedepannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon archa92, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
ulangan pertama
~ Tidak ada yang menginginkan perpisahan dari sebuah pernikahan, apalagi harus mengorbankan perasaan buah hati tercinta. Namun semua kembali pada takdir tuhan . ~
Hari ini jadwal ulangan untuk penilaian akhir semester. Aku sudah belajar semalam, di temani ibu dengan berbagai cemilan sehat seperti biasa. Aku tidak ingin membicarakan pembulian yang terjadi di sekolahku hari itu, karna aku yakin pasti ibu sangat sedih jika mendengar aku di bully temanku.
"Bu,do'akan kia ya, supaya ulangan hari ini lancar. " ucapku sambil menyalami tangan ibuku. kata pak ustadz, do'a ibu itu paling mujarab.
"Pasti dong sayang, ibu selalu mendo'akan yang terbaik untuk kia, kia pasti bisa." ucap ibu sambil mencium keningku dengan sayang. aku tidak pernah malu di perlakukan seperti itu setiap hari disini, di depan gerbang sekolahku.
" Ibu langsung aja ga apa-apa ko, kia nunggu Nasya dulu disini, ibu langsung bikin pesanan kan ?" ucapku.
"Iya kia, Alhamdulillah rezekinya Kia lagi. hari ini orderan cukup banyak. " ucap ibu sambil tersenyum.
"Yaudah ibu hati-hati." ucapku sambil melambaikan tanganku.
"iya sayang, ibu pulang dulu. assalamu'alaikum." ucap ibu .
"Wa'alaikum salam" jawabku.
Ibu langsung melajukan motornya untuk kembali ke rumah. sedangkan aku langsung menuju kursi di taman sambil menunggu Nasya datang. Aku kembali membuka buku pelajaran yang akan di ujikan hari ini, sampai suara seseorang mengagetkanku.
"Kamu beruntung ya, ibu kamu kelihatan nya sangat menyayangi kamu." ucap seorang laki-laki yang memakai seragam putih abu. sepertinya anak SMA yang sama dengan sekolahku. karna disini komplit, dari mulai TK, SD sampai SMA.
"Ehh, iya ka, ibu memang selalu seperti itu." ucapku gugup. aku berusaha menetralkan jantungku yang tiba-tiba berdetak kencang karena kaget.
"Iya, aku bisa melihat itu, karena sejak kamu masuk ke sekolah ini, aku sering melihat kamu bersama ibumu di sana." tunjuknya ke arah dimana setiap hari aku turun dari motor ibu, menyalami ibu dan ibu mencium keningku.
"Jadi kakak selalu melihatku setiap hari.?" aku membulatkan mataku tak percaya.
"Hmmm, begitulah." ucapnya santai.
"Ko bisa.? maksudnya kan kakak anak SMU, gerbangnya aja beda, terus kakak kenapa bisa disini.?" tanyaku penasaran.
"Kan setiap hari aku mengantarkan adikku dulu kesini, jadi aku bisa melihat kamu setiap hari dari sini. Biasanya kalau kamu sudah datang, aku langsung pergi, jadi kamu ga pernah liat aku disini." jawabnya.
"Emang Ade nya kelas berapa kak.?" tanyaku.
"Sebenarnya dia udah kelas XII, hanya saja dia itu pendiam, jadi jarang berinteraksi dengan orang lain, dan sering di bully juga sama teman-teman nya. makanya tiap hari aku anterin dia dulu kesini." jawabnya menjelaskan.
"Ehhh, terus kenapa sekarang masih disini.?" tanyaku bingung.
"Abisnya aku penasaran , pengen kenal aja gitu sama kamu. siapa tau bisa dapet tips supaya bisa di sayang juga sama ibuku." ucapnya lirih, terdengar seperti bergumam karna sangat pelan.
"Maksudnya gimana kak.?" aku masih belum bisa mencerna ucapannya.
tiba-tiba,.
"Kiaraaaaaaaaaaaaaa" teriak Nasya. Aku sampai kaget mendengar teriakannya.
"Kalo gitu aku pamit dulu ya, nanti kapan-kapan kita ngobrol lagi." ucap laki-laki itu lalu pergi begitu saja setelah mendengar teriakan Kiara, bahkan aku belum tau namanya siapa.
"Heyy, kamu itu masih kecil, dilarang pacar-pacaran." Nasya langsung berkacak pinggang setelah sampai di depanku.
"Nasya apaan sih.? siapa juga yang pacaran, kakak itu tadi abis nganterin Ade nya , terus ga sengaja duduk disitu bareng aku." Aku ga terima loh ya di bilang pacaran, kenal aja ngga, lagian nih ya, kata ibu ga boleh pacaran. harus sekolah dulu yang bener.
"terus tadi kalaian ngobrolin apa.? kayanya serius banget, kakak itu suka ya sama kamu.?" jiwa keponya Nasya mulai muncul.
"Kamu nih ya, mana ada begitu, dia itu cuman bilang, adenya itu pendiam, sering di bully juga sama teman-teman nya, makanya setiap hari kakak itu nganterin adenya dulu kesini, gitu." aku menjelaskan panjang lebar, biar si kepo Nasya puas.
"Ihh gituuu, kirain kamu udah pacar-pacaran, nanti aku aduin sama ibu lohh." goda Nasya.
"Sana bilangin aja, toh nanti juga aku bakalan cerita ko sama ibu." aku menjulurkan lidahku. puas rasanya membuat Nasya ga susah untuk membalas lagi.
saat Nasya mau buka suara, bel sudah berbunyi. Akhirnya aku dan Nasya langsung bergegas ke kelas untuk mengikuti ulangan hari ini.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
.
Jam sudah menunjukkan pukul 12:00, semua siswa dan siswi sudah menyelesaikan ulangan hari ini. Begitupun dengan aku dan Nasya.
"Kia, hari ini ibu jualan ga.?" tanya Nasya.
"Jualan ko, sepertinya baru selesai orderan pertama, nanti lanjut lagi yang orderan ke dua jam tiga, sama orderan ke tiga abis Maghrib. hari ini kata ibu pesanannya lumayan banyak." jelasku.
"Aku lagi pengen cilgo nihh, aku ke rumah kamu dulu boleh ga.?" tanya Nasya.
"Ya kalo mau jajan boleh lah, asal jangan minta." goda ku .
"Ya beli lah kia, masa minta sihh. lagian hari ini mama lagi ke luar kota, ada meeting katanya. paling pulangnya nanti sore, aku males sendirian di rumah." ucap Nasya sambil cemberut.
"Yaudah ayo, bentar lagi aku di jemput ibu, kamu nyusul aja ya sama pa Jajang." ucapku.
"Ihh ga mau, aku mau ikut sama kamu sama ibu, boleh ya kiaaaa, please." ucap Nasya memohon.
"Ya kalo aku sih ayo aja, tapi nanti kamu sakit ga? naik motor panas loh." godaku, Nasya langsung cemberut.
"Biarin apa kia, kali-kali akutuh pengen ngerasain kaya kamu. di boncengin ibu naik motor." gerutu nasya. aku hanya tertawa melihat Nasya yang sedang manyun.
Aku fikir orang lebih senang jika bepergian memakai mobil, ga kepanasan, ga kena debu. tapi ternyata salah, bahkan ada orang lain yang berharap bisa seperti kita.
Saat keluar gerbang, ibu sudah menunggu di tempat biasa, aku segera menghampiri dan mengalami ibu diikuti Nasya.
"Ehh ada Nasya, belum di jemput.?" tanya ibu.
"Nasya pengen cilgo buatan ibu, Nasya ikut pulang sama ibu boleh ga.?" tanya Nasya.
"Iya boleh dong, nanti ibu bikinin buat Nasya," ucap ibu.
Tak lama kemudian pa Jajang sudah datang dan memarkirkan mobilnya di dekat motor ibu.
"Yaudah ayo, " ucap Nasya bersemangat mendekati motor ibu dan hendak naik, membuat ibu kaget.
"Ehh, Nasya ko mau ikutan naik.? itu pa Jajang udah jemput loh, Nasya sama pa Jajang aja ya, kalo pake motor nanti Nasya kepanasan." ucap ibu sedikit khawatir, takutnya Nasya tidak biasa naik motor, terus kepanasan nanti bisa sakit.
"Ibuuuu, Nasya pengen nyoba naik motor. Nasya bosen naik mobil terus." Nasya mulai merengek.
"Aduhh, gimana ini pa Jajang.?" tanya ibu.
"Yaudah ga apa-apa Bu, lebih baik di turuti saja, dari pada nanti non Nasya sakit karena keinginannnya ga terpenuhi, lebih baik di bolehin aja Bu." ucap pa jajang.
"Yaudah kalo gitu, ayo Nasya ikut di bonceng sama ibu, biar pa jajang mengikuti dari belakang.
Nasya langsung loncat-loncat saking senangnya.
Akhirnya kamipun pulang, Nasya ikut nebeng naik motor, sedangkan pa jajang mengikuti dari belakang.
Nasya baru pertama kali naik motor seperti ini, dia merasakan hal yang berbeda dari biasanya. Aku hanya tersenyum melihatnya.
salken Thor
mampir yaa
Semangat up-nya Thor!
Semoga sukses selalu!