sebagian dari kisah ini terinspirasi dari kejadian nyata..
Armala Anggun, ingin menguji takdir, sejauh mana takdir mempermainkan kehidupan cintanya.
Menikah dengan seseorang yang bahkan dia tidak tau namanya, apalagi rupanya. tapi dia berusaha menerima laki-laki asing itu sebagai suaminya.
Jemicko Putra Nawar, dan Gama Maziantara Gundala, sama-sama memendam perasaan
kepada Mala. keduanya terus berusaha mendekati Mala.
diantara mereka, siapakah suami Mala yang sebenarnya?
Follow
Ig ➡️ makee949
fb ➡️ Si (Mak Ee)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mak Ee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
part 5.
Mala perlahan membuka matanya. dia mengedarkan pandangannya keseluruh ruangan. melirik infus yang tergantung disampingnya, kemudian dia menyadari kalau sedang berada disebuah kamar rumah sakit.
dia merasakan tenggorokannya nyeri, juga dadanya. samar teringat, bahwa semalam dia muntah cukup banyak. mungkin itu yang menyebabkan rasa nyeri di dada dan tenggorokannya.
"Anggun.! kau sudah bangun?"
seorang pria tengah berdiri dihadapannya dengan mata berbinar. sesungging senyum sumringah bertengger di bibir tebalnya.
Mala mengedarkan pandangannya mencari sosok yang bernama Anggun. tapi pria aneh itu terus menatap kearahnya dengan senyum anehnya.
"hei.! aku bicara denganmu.!" kata pria itu menunjuk kearah Mala. kemudian tanpa dipersilahkan langsung duduk didekat ranjang.
"siapa pria sok akrab ini? kenapa dia memanggilku Anggun?" bathin Mala. dia mencoba mengingat-ingat, dimana tepatnya dia pernah bertemu dengan pria itu. tapi Mala tidak teringat apapun tentang pria itu.
"anda siapa?" tanya Mala. suaranya terbata karna dia merasakan nyeri ditenggorokannya.
"apa? kau sudah lupa padaku? wahhh,, seharusnya aku melaporkanmu ke polisi saja."
mendengar kata 'polisi' mengingatkan Mala akan sosok pria galak pemilik mobil bersuara aneh itu.
Mala memandangi pria itu dari kepala hingga kaki. penampilannya benar-benar berbeda. kali ini gaya berpakaiannya lebih santai. kaos lengan pendek agak ketat berwarna abu-abu dipadu dengan celana jeans selutut, membuatnya nampak sangat berbeda.
"oooh,, kau... sedang apa kau disini?" gaya bicara Mala berubah jadi santai.
"aku sedang ada urusan, dan tanpa sengaja aku melihatmu disini." kata Gama berbohong.
padahal sebenarnya Gama memang sengaja datang untuk mencari Mala, untuk mengembalikan kartu identitas Mala yang terjatuh waktu itu, dan dia mendengar bahwa Mala sedang berada dirumah sakit.
"kau sudah bangun?" pertanyaan Micko mengejutkan Mala dan Gama yang serentak mihat kearah Micko.
Micko berjalan melewati Gama dan meletakkan kantong plastik berisi buah dan botol air mineral di meja disamping ranjang.
"bagaimana keadanmu? sudah lebih baik?" tanya Micko kepada Mala tanpa mempedulikan Gama yang sedang mengerutkan dahinya merasa terganggu dengan kehadiran Micko.
"i,, i,, iya. mas Micko kenapa ada disini juga?"
"apa kau lupa siapa yang menggendongmu kemarin?"
"apa mas Micko yang membawaku kesini?" Mala benar-benar tidak mengingatnya.
"wahh,,, sudah kuduga. pasti ada yang salah dengan isi kepalamu itu." jawab Micko ketus.
"anda siapa?" tanya Micko kepada Gama. dia menatap tidak suka kepada Gama.
"aku,? suaminya." jawab Gama spontan. membuat Mala membelalakkan matanya.
"orang ini pasti gila." gumam Mala.
"apa kau sudah menikah?" tanya Micko mengintimidasi.
"i,, i,, iya,, oh,, maksudku, tidak, ah.! ada apa dengan kalian ini? membuatku pusing saja. lebih baik kalian pergi, aku mau iatirahat."
"kau tidak dengar? dia menyuruhmu pergi" kata Micko menatap tajam Gama.
"hei.! kalian itu kita berdua, artinya kau juga harus pergi, bukan aku saja." hardik Gama tidak terima.
kedua pria itu saling mendengus kesal kemudian keluar dari ruangan itu. sementara Mala melanjutkan tidurnya.
Micko sedang duduk di kursi didepan ruangan Mala. dia tidak ingin mengganggu Mala. sedangkan Gama pergi entah kemana.
nampak sepasang pria dan wanita paruh baya sedang bingung mencari seseorang. si pria itu melongok ke setiap kamar dan kembali berjalan saat tidak menemukan orang yang mereka cari.
"mala.!" teriak bude saat melihat Mala yang sedang berbaring dan langsung menghampirinya.
"kamu kenapa nduk? kok bisa masuk rumah sakit." tanya Bude yang nampak panik.
"Mala keracunan susu bude, Mala kurang teliti saat meminumnya, ternyata sudah kadaluarsa."
"yaampun,, kamu ini. kenapa tidak menelfon bude saja, malah telfon ayahmu yang jauh, untung ayahmu segera menelfon kami dan memberitahu."
"maaf bude, Mala tidak sempat menghubungi bude."
"ya sudah, yang penting sekarang kamu sudah baik-baik saja."
bude menyuruh pakde untuk mengurus administrasi Mala. dan pakdepun segera mengurusnya. tapi petugas bilang bahwa biaya perawatan Mala sudah dilunasi.
pakde sangat penasaran. tapi mengurungkan niatnya untuk bertanya kepada Mala. yang terpenting sekarang Mala segera pulih seperti sedia kala.
"Mala, aku permisi dulu ya. aku ada kelas." ujar Micko memberanikan diri menyela obrolan pakde dan bude bersama Mala.
Mala hanya mengangguk. kemudian Mickopun pergi menghilang dari pandangannya.
"siapa itu?" tanya bude kepo.
"kakak angkatan bude. dia yang sudah membawa Mala kesini." jelas Mala.
samar-samar Mala teringat. semalam ada seseorang yang terus berada disampingnya. menyeka keringat yang keluar di dahi Mala. apa itu Micko?
ah. melihat perangainya yang dingin tidak mungkin Micko seperhatian itu kepada Mala. cara bicaranya saja sudah menandakan bahwa dia tidak begitu menyukai Mala.
Micko membawanya kerumah sakit, pasti juga cuma karna kasihan saja, mengingat mereka tetangga kos.
tapi di ingatan Mala, ada sentuhan lembut yang tak berhenti menyeka dahinya.
dia sengaja mungkin ngawal kamu tuh makanya ngikutin trus balik lg 🤣