NovelToon NovelToon
KOK HOROR??? Series.

KOK HOROR??? Series.

Status: sedang berlangsung
Genre:Hantu / Horor / Misteri
Popularitas:82
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak malam itu, hidup Raka berubah drastis. Setelah tak sengaja melewati rumah tua terbengkalai di ujung gang dan merasakan gangguan gaib, ia terus dihantui penglihatan aneh, suara bisikan, dan kejadian tak wajar. Perlahan ia mengungkap rahasia kelam rumah itu—tempat menyimpan kutukan dan korban hilang puluhan tahun silam—sambil berjuang melepaskan diri dari jeratan makhluk yang sudah menandainya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

EPISODE 1: RUMAH DI UJUNG GANG SEPI BAB 1 – Pintu yang Tidak Pernah Terk

Malam itu hujan turun deras memukul atap-atap rumah warga, disertai suara guntur yang menggema hingga terasa mengguncang tulang belakang. Angin berhembus kencang, menerbangkan daun-daun kering dan sampah jalanan yang berserakan di sepanjang Gang Melati—gang yang semakin gelap dan sepi karena lampu jalan yang sudah mati selama tiga hari.

Raka melangkah tergesa, memegang payung yang nyaris robek diterpa angin. Ia baru pulang dari lembur kerja dan terpaksa mengambil jalan pintas lewat gang itu untuk mempersingkat perjalanan pulang ke kosannya. Selama ini ia selalu menghindari gang ini, karena mendengar bisik-bisik tetangga soal satu rumah tua yang berdiri kokoh persis di ujungnya.

“Kata orang, rumah itu sudah kosong lebih dari 20 tahun. Tidak ada yang berani menempatinya, bahkan hanya sekadar lewat di depan pagar besinya yang berkarat,” gumam Raka pada dirinya sendiri, mencoba menenangkan rasa ngeri yang mulai merayapi dada.

Semakin ia melangkah ke dalam, suasana berubah. Suara hujan yang semula riuh perlahan terdengar teredam, seolah-olah ada semacam selubung tebal yang menahan bunyi. Udara terasa lembap, dingin, dan berbau apek seperti tanah basah yang bercampur dengan bau kayu lapuk. Lampu senter kecil di tangannya hanya mampu memancarkan cahaya samar, menciptakan bayangan-bayangan aneh yang bergerak di sepanjang dinding rumah warga.

Sampailah ia di ujung gang. Di sana berdiri rumah dua lantai dengan cat dinding yang mengelupas habis, memperlihatkan struktur kayu dan batu yang sudah keropos. Halamannya dipenuhi semak belukar setinggi pinggang, dan pagar besinya sudah bengkok di beberapa bagian. Namun yang paling membuat jantung Raka berdebar kencang adalah pintu kayu utama rumah itu—terbuka sedikit, menganga gelap seperti mulut makhluk yang siap menelan apa saja yang lewat.

“Mustahil… tadi pagi saya lewat sini, pintunya tertutup rapat,” bisik Raka, suaranya nyaris tak terdengar di tengah angin.

Ia mencoba mempercepat langkah, ingin segera melewatinya. Namun kakinya terasa berat, seolah ada kekuatan tak terlihat yang menariknya untuk menoleh lagi ke arah rumah tua itu. Di detik berikutnya, matanya menangkap sesuatu yang membuat darahnya terasa berhenti mengalir.

Dari celah pintu yang terbuka, tampak sepasang mata yang bersinar redup berwarna keputihan, menatap tepat ke arahnya.

Raka terhenti, napasnya tertahan. Ia mengucek matanya, berharap itu hanya ilusi karena kabut hujan yang mulai turun makin tebal. Namun saat ia membuka mata kembali, sepasang mata itu masih ada—dan kali ini, seolah bergerak makin mendekat ke celah pintu.

“Siapa… siapa di sana?” teriak Raka, berusaha terdengar berani meski suaranya gemetar hebat.

Tidak ada jawaban. Hanya suara derit panjang yang terdengar, seolah pintu kayu tua itu terbuka lebih lebar lagi. Angin berhembus lebih kencang dari arah rumah itu, menerbangkan rambut dan membuat baju Raka menempel dingin di kulitnya. Bersama hembusan angin itu, terdengar suara bisikan samar, sangat pelan tapi cukup jelas masuk ke telinganya:

“Masuklah… Sudah lama kami menunggu…”

Raka mundur selangkah, tubuhnya gemetar hebat. Ia berusaha mengangkat kakinya untuk lari, tapi rasanya seolah ditanam di tanah. Cahaya senternya bergetar hebat, membuat bayangan semak belukar di halaman rumah itu tampak seperti tangan-tangan panjang yang menjulur ingin meraihnya.

“Tidak… aku hanya lewat!” jawabnya dengan suara parau.

Tiba-tiba, terdengar langkah kaki ringan dari dalam rumah. Tak… tak… tak… Bunyinya teratur, mendekat perlahan namun pasti menuju pintu. Bersamaan dengan itu, suhu udara di sekitarnya turun drastis hingga membuat napasnya mengeluarkan uap putih.

Raka akhirnya berhasil melangkah mundur dan berbalik untuk lari sekuat tenaga. Ia tidak berani menoleh ke belakang lagi, hanya mendengar suara langkah kaki itu yang ikut mengikuti, makin cepat dan makin keras, serta suara bisikan yang kini terdengar dari segala arah, memenuhi seluruh ruang di gang itu:

“Jangan lari… Kamu sudah melihatnya… Kamu sudah terlibat…”

Ia terus berlari hingga paru-parunya terasa perih, hingga akhirnya melihat lampu terang dari jalan raya utama. Begitu kakinya menginjak aspal jalan yang ramai, suara-suara itu lenyap seketika. Ia berhenti terengah-engah, tubuhnya basah kuyup bukan hanya karena hujan tapi juga keringat dingin.

Ia menoleh kembali ke arah Gang Melati dari kejauhan. Di sana, kegelapan menyelimuti segalanya. Namun dalam detik itu, ia melihat satu titik cahaya redup menyala di jendela lantai dua rumah tua itu—padahal ia tahu betul, tidak ada aliran listrik yang terhubung ke rumah itu selama puluhan tahun.

Dan ia sadar satu hal: malam itu bukanlah pertemuan yang tidak disengaja. Rumah itu telah memilihnya.

📌 jangan lupa follow,like,dan komen setiap novel di akun ini ya.. 🥰

1
anggita
mulai horor👻
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!