NovelToon NovelToon
CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

CEO DINGIN ITU MEMANJAKANKU

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:1.6k
Nilai: 5
Nama Author: Nacha Adhi

Sejak usia sembilan tahun, Naura harus menelan pahitnya hidup. Setelah kedua orang tuanya meninggal, ia diasuh Paman Surya dan Bibi Rina yang tidak mampu namun terobsesi pada kemewahan. Naura sering disiksa dan dimanfaatkan, dipaksa bekerja keras demi menghidupi dirinya sendiri dan membiayai sekolah. Meski demikian, ia tumbuh menjadi gadis yang kuat, jujur, dan cerdas hingga berhasil lulus kuliah.

Bekerja di sebuah perusahaan swasta pun tidak membuat hidupnya lebih mudah. Atasan iri memfitnahnya, sementara paman dan bibinya terus memeras gaji dengan ancaman. Saat dipecat secara tidak adil dan berjalan dalam kesedihan, ia hampir tertabrak mobil mewah milik Aldo Pratama—CEO muda yang dingin, berwibawa, dan disegani banyak orang. Pertemuan tak terduga itu mengubah segalanya.

bagaimana kisah menarik selanjutnya... ???? lanjut bacanya sampai akhir yaa

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nacha Adhi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 24: Surat dari Masa yang Terlupakan

Surat itu terbungkus amplop cokelat biasa, cap posnya tertera dari sebuah kota kecil di Prancis. Tidak ada nama pengirim yang jelas, hanya tulisan tangan yang agak tua dan sedikit bergetar. Aldo meletakkannya di atas meja, lalu menatap Naura dengan pandangan penasaran sekaligus waspada.

"Surat ini dikirimkan atas perintah seseorang yang sudah lama sakit, dan pesannya harus disampaikan langsung kepada Nyonya Naura Pratama," kata asistennya sambil menyerahkan dengan hati-hati.

Naura membuka segelnya perlahan, mengeluarkan selembar kertas yang sudah agak menguning. Begitu membaca baris pertama, tangannya sedikit bergetar. Aldo segera memegang bahunya, memberikan kekuatan.

"Kepada putri dari pasangan Bapak Rian dan Ibu Sari. Jika surat ini sampai ke tanganmu, berarti aku sudah tidak lama lagi dapat berbicara. Aku adalah adik kandung Ibu Sari, bibimu yang selama ini dikabarkan meninggal dunia saat masih muda..."

Naura menahan napas, matanya terbelalak. "Bibi Laras? Orang tua saya selalu bilang ia meninggal karena sakit saat berusia dua puluh tahun. Tapi ternyata..."

Mereka melanjutkan membaca isi surat itu dengan saksama. Di dalamnya, Laras menceritakan bahwa ia tidak meninggal, melainkan dipaksa pergi diam-diam oleh Widodo saat itu. Ia mengetahui rencana jahat Widodo dan Hartono, sehingga ia dianggap berbahaya dan harus disingkirkan agar tidak membocorkan rahasia. Ia dibawa ke luar negeri dengan identitas palsu, dilarang menghubungi siapa pun, dan hanya bisa hidup dalam keterbatasan.

"Selama puluhan tahun aku hanya bisa mengawasi dari jauh, takut jika menampakkan diri akan membahayakan nyawamu juga. Baru setelah mendengar kabar bahwa semua dalang kejahatan itu sudah diadili dan dipenjara, aku memberanikan diri mengirim kabar ini. Aku menyimpan dokumen penting yang bisa melengkapi kisah warisan keluarga kita, serta pesan terakhir untukmu dan suamimu..."

Di dalam amplop juga terdapat selembar tiket perjalanan dan alamat tempat tinggal Laras saat ini. Ia menyebutkan bahwa kesehatannya sudah menurun drastis, dan ingin bertemu setidaknya sekali sebelum waktunya tiba.

"Kita harus pergi ke sana," kata Naura dengan suara mantap namun penuh haru. "Dia adalah satu-satunya keluarga dekat dari pihak ibu yang masih tersisa. Aku tidak bisa membiarkannya menunggu sendirian."

Aldo mengangguk setuju. "Aku akan atur semuanya. Kita bawa Arka juga, atau dia bisa tinggal sementara bersama Ibu di rumah? Kita pastikan keamanan dan perjalanan kita berjalan lancar."

Setelah mempersiapkan segala keperluan dan mengatur pekerjaan di kantor, mereka berangkat seminggu kemudian. Perjalanan menuju kota kecil itu memakan waktu hampir sehari penuh, namun rasa penasaran dan haru membuat mereka tidak merasa lelah. Sesampainya di alamat yang tertera, mereka disambut oleh seorang perawat yang mengurus Laras.

"Beliau sudah menunggu kedatangan Anda sejak menerima kabar bahwa surat itu terkirim," kata perawat itu sambil mempersilakan mereka masuk ke kamar yang sederhana namun bersih dan nyaman.

Di atas tempat tidur terbaring seorang wanita tua dengan wajah pucat namun tatapannya masih terlihat jernih. Begitu melihat Naura masuk, matanya berkaca-kaca, dan ia mencoba tersenyum.

"Kamu... mirip sekali dengan ibumu saat masih muda," bisiknya dengan suara lemah.

Naura segera mendekat, memegang tangan wanita itu dengan lembut. "Bibi Laras... akhirnya aku bertemu denganmu. Aku tidak pernah menyangka masih memiliki kerabat yang tersisa."

Selama berjam-jam, mereka bercerita tentang masa lalu—tentang kebahagiaan keluarga sebelum kejahatan itu terjadi, tentang rasa takut dan kesepian yang dialami Laras selama puluhan tahun, dan tentang bagaimana ia selalu mendoakan keselamatan keponakannya dari jauh.

Laras kemudian menyerahkan sebuah kotak kayu kecil yang sudah terawat baik. "Di sini ada surat wasiat tambahan yang ditulis oleh ayahmu, juga dokumen tanah dan aset yang disembunyikan agar tidak jatuh ke tangan orang yang salah. Ia memintaku menyimpannya sampai waktunya tiba, saat kamu sudah cukup kuat dan memiliki kehidupan yang aman."

Aldo membuka kotak itu bersama Naura. Di dalamnya terdapat surat tulisan tangan ayah Naura, peta lokasi tanah yang luas di daerah pegunungan, dan catatan bahwa tanah itu dimaksudkan untuk didirikan sebagai tempat perlindungan dan pendidikan bagi anak-anak terlantar.

"Ayahku sudah merencanakannya sejak lama," gumam Naura dengan mata berkaca-kaca. "Dia tidak hanya memikirkan harta untuk keluarga, tapi juga ingin membantu sesama."

"Dan sekarang, rencana itu bisa kau wujudkan," ujar Laras sambil tersenyum lega. "Aku tenang sekarang, tahu bahwa warisan ini jatuh ke tangan yang tepat."

Selama tiga hari mereka tinggal di sana, Naura dan Aldo merawat Laras dengan penuh kasih sayang. Arka yang masih kecil juga mendekatinya dengan polos, membuat hari-hari terakhir wanita itu terasa lebih hangat dan bahagia.

Sebelum meninggal dengan tenang dalam tidurnya, Laras berpesan terakhir: "Jangan biarkan masa lalu yang kelam menguasai hatimu. Gunakan apa yang kau miliki untuk menebar kebaikan, seperti yang selalu diajarkan oleh orang tuamu. Kebahagiaan yang sesungguhnya ada pada kemampuan kita memberi manfaat bagi orang lain."

Setelah mengurus pemakaman dan segala urusan di sana, mereka pulang membawa kenangan baru dan tanggung jawab yang lebih besar. Tanah yang ditemukan itu ternyata berada di lokasi yang indah dan strategis, jauh dari keramaian kota namun mudah dijangkau.

"Apa rencanamu?" tanya Aldo saat mereka duduk membahas hal itu kembali di rumah.

"Kita wujudkan keinginan ayahku," jawab Naura dengan tegas. "Kita dirikan panti asuhan, sekolah gratis, dan tempat pelatihan keterampilan di sana. Tempat itu akan menjadi warisan nyata dari keluarga kita, bukan hanya berupa tanah atau uang."

Aldo setuju sepenuhnya. Mereka segera memulai perencanaan, mengumpulkan tim arsitek, pendidik, dan tenaga sosial yang terpercaya. Proyek ini berjalan dengan dukungan penuh dari seluruh jajaran perusahaan dan masyarakat yang mengetahui tujuannya yang mulia.

Sementara itu, berita tentang penemuan warisan dan rencana mulia itu tersebar luas, mendapatkan apresiasi yang besar dari berbagai pihak. Namun, di tengah kegembiraan itu, muncul satu hal yang membuat mereka kembali berpikir—sebuah tawaran kerja sama dari luar negeri yang kali ini melibatkan pengembangan sumber daya alam di lokasi yang sama dengan tanah milik mereka.

Nilai tawarannya sangat fantastis, bisa melipatgandakan kekayaan mereka dalam waktu singkat. Namun, ada syarat yang tersirat: pengelolaan alam yang lebih berorientasi pada keuntungan semata, yang dikhawatirkan bisa merusak keindahan dan keseimbangan lingkungan di sana.

Sekali lagi, Aldo dan Naura dihadapkan pada pilihan yang menguji prinsip yang mereka pegang teguh. Apakah mereka akan memilih keuntungan instan, atau tetap memegang janji dan tujuan mulia yang telah ditetapkan?

1
elfanaya 💞
kamu udh dpt gaji mending keluar dari rumah yg berasa seperti neraka itu
Kim Borahae
seru😍. semangat terus ya 💪

Btw, saya pun baru mula menulis novel kalau ada masa boleh tinggalkan komen. Tinggal tekan profile saja, terima kasih /Joyful/
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!