"Slebor banget sih jadi orang?" -Delta
"Emang kayak elo? Udah jalan kek Putri Keraton, muka kayak es batu, mana galak lagi. Gak akan ada cewek yang mau sama lo, gue jamin!" -Alpha
Alpha si cewek slebor dengan bentuk super abstrak. Baju berantakan, rambut diikat asal-asalan dan yang paling penting, dia manusia paling kikir sedunia!
Delta dengan sifat batu dan antisosial, tidak ada yang boleh menyentuhnya karena bisa ditebasnya habis-habisan, wajah dingin dengan aura mencekam di sekitarnya membuat semua orang tidak mau berinteraksi cowok itu.
Hingga Alpha membalikkan semuanya.
"Gue bakal buat lo jatuh cinta sama gue! Ingat itu baik-baik!" -Alpha
"Ogah." -Delta
Ngalahin Sang Raja Es? Emang bisa?
Ice Breaker started
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon blackblue_re, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 6 | Kacang
Hampir seminggu Alpha berusaha mati-matian mendekati Delta namun cowok itu tetap dengan sikap dan pendiriannya. Membawa bekal, menempel setiap hari seperti cicak, dan mengganggunya memang tidak mempan sama sekali.
Yang ada semakin hari Delta semakin kasar membuat Alpha beberapa kali harus tahan dengan ucapan sinis dan tebasan kasarnya.
"Reeef..." panggil Alpha sambil memiringkan kepalanya di atas meja, melihat sahabatnya sedang fokus mengisi absensi kelas.
"Apaan?" dengusnya pendek.
"Asem banget tuh muka, kayak jeruk purut."
"Heh, mending lah. Elo? Muka kusut gitu pasti gara-gara dia," sanggahnya langsung membuat Alpha tertohok.
"Ck!" gusarnya lalu menghela nafas panjang.
"Capek woi! Lo bayangin aja, kemaren bekal yang gue kasih malah dibuang sama dia," cerocosnya dengan mata sayu. Mengingat hal itu hatinya terasa berdenyut. Alpha susah payah belajar memasak dari beberapa hari yang lalu tapi Delta malah membuangnya, dicicipi saja tidak.
"Terus terus?"
"Weh! Lo kira kuis sabun colek apa?!!"
Reff menggendikan bahu seolah tak peduli, yang di sampingnya mendengus samar hingga derap kaki memasuki kelas.
Alpha membuang muka, menenggelamkan wajah di lipatan lengannya. Setelah langkah itu keluar baru ia mengangkat kepala.
"Tuh! Liat aja, jangankan nyapa, ngelirik gue aja enggak!" sungut Alpha mengepalkan tangannya.
"Lo aja yang gak liat," sengah Reff pelan sembari mendelik pada teman sebangkunya yang kini sedang membulatkan bola matanya.
"Ah masa?"
"Masa bodo, buruan lo kejar tuh anak! Biasanya juga belom datang aja udah girang banget lo."
"Ih enggak tuh. Gue kan cuma mau ngerjain dia doang."
"Tapi tadi lo kecewa banget bekal lo dibuang," komentarnya, Alpha merasa dipojokkan.
"Apaan sih? Gue tuh cuma bercanda elah... Ngapain juga," kata Alpha menggantung di akhir kalimatnya. Sebuah langkah derap samar terdengar tanpa mereka sadari.
Hening sejenak hingga Reff membuka suara.
"Perasaan lo gak sebercanda dulu, Alpha."
¢¢¢
Cowok itu menghela napas perlahan, mengeluarkan ponselnya dan larut dalam game di sana. Beberapa hari yang lalu senar gitarnya rusak karena ulah si cewek slebor itu. Delta pun malas memperbaikinya.
Tanpa disadari duduk seseorang di sebelahnya dengan ragu-ragu, tidak seperti biasanya yang langsung berteriak histeris seperti kecolongan tas di sinetron-sinetron.
"De..."
Delta memutar bola mata malas, jenuh dengan manusia di sampingnya yang tak pernah absen mendatanginya setiap saat. Semua cara sudah dia lakukan, baik mengusir dengan baik atau kasar. Cewek itu cuma terus menyengir pepsoden dengan wajah bodo amat.
Terdengar bunyi helaan nafas, Alpha memperbaiki posisi duduknya kemudian melirik Delta.
Ganteng sih, cuman nyebelinnya udah mendarah daging. Batin Alpha mengerucutkan bibirnya.
"Ck! Martabak kacang aja ada yang spesial." Alpha memberi kode walaupun tahu itu percuma.
"Oi jawab kek!" desaknya yang tetap tanpa jawaban.
"Iya deh, gue salah udah rusakin gitar lo. Kan gue udah minta maaf, lagian juga gue gak sengaja."
"..."
"Delta! Lo jadi cowok pekaan dikit kenapa sih? Lo tau gak rasanya dikacangin berkali-kali kayak gini? Masih punya mulut, kan. Tau gak sih rasanya dicuekin mulu, gak enak!"
"Lo aja yang kegatelan."
Jleb.
Matanya mulai memanas, Alpha menggigit bibir bawahnya seraya menstabilkan deru napasnya. Tidak ada beban dalam ucapan Delta, semuanya seperti kejujuran.
"Terus kalau gue berusaha buat deketin lo itu salah?"
"Hm."
"Kalau... Gue suka sama lo juga salah?"
Delta berhenti sejenak, menatap intens manik mata Alpha.
"Bukannya semua itu cuma sandiwara lo aja?" ucap Delta sambil tersenyum sinis, alisnya menukik tajam dengan raut wajah kesal.
"Kalau ini semua cuma permainan lo, lebih baik berhenti. Cuma buang-buang waktu aja, sampai kapan pun gue gak akan suka sama cewek murahan kayak lo," ucapnya dengan sedikit penekanan di kata 'murahan'.
Jleb 2x.
Wajah ceria yang tadi mengiringi langkah Alpha untuk menghampiri Delta kini lenyap. Tidak ada ruang sedikitpun baginya di hadapan Delta, hanya ada harapan kosong dengan tiupan angin yang semakin menipis. Semesta sedang mengujinya, Alpha tidak akan menyerah!
"Gue bukan cewek mura---"
"Terus apa, jalang? Gak usah sok dekat jadi cewek. Asal lo tahu, cewek gatel macam lo bisa dibeli pake uang. Heh, udah murahan gak tahu diri lagi."
Alpha menangis saat itu juga.
Udara yang tadi sangat panas ternyata pertanda hujan deras yang akan membasahi bumi. Di tengah jeda yang panjang, Delta memutuskan pergi meninggalkan Alpha yang kini hanya merunduk sambil terisak.
Apa yang dikatakan Delta menyinggung sisi rapuh dalam dirinya, bukan, Alpha bukan seorang pelacur seperti yang dikatakannya tapi Ibunya.
Tidak lebih dari seorang pelacur yang diperbudak oleh uang.
Kematian yang menyisakan penyesalan di hati Ayahnya hingga Alpha kehilangan keduanya dan terpaksa hidup mandiri untuk melanjutkan kehidupannya dan juga adiknya, Bintang.
"Alpha! Oit lo ngapain ujan-ujanan? Mau jadi artis india kahe apa, ahelaaah... Ini Shah Rukh Khan udah datang neh," ucap seorang cowok sembari membawa payung dengan motif feminim. Terburu-buru dia menghampiri cewek yang kini bertekuk lutut di taman sekolah, langkahnya berangsur pelan.
"Al, balik dulu," ajak Saga dengan senyum teduhnya.
¢¢¢
Sukses selalu thor
tapi gila keren kak karya mu👍👍👍👍❤️❤️❤️❤️❤️❤️❤️