NovelToon NovelToon
Dendam Dan Cinta

Dendam Dan Cinta

Status: tamat
Genre:Romantis / Cintapertama / Berondong / Dosen / Nikahmuda / Tamat
Popularitas:117.3k
Nilai: 5
Nama Author: Ding-dong

Evan adalah anak hasil dari hubungan gelap ibunya dengan seorang pengusaha sukses bernama Devano Mahendra. Setelah ibunya meninggal karena ditabrak,, Evan terpaksa harus tinggal bersama keluarga ayahnya yang tidak lain adalah tinggal bersama ibu tirinya dan juga saudara tiri laki-lakinya.

Tinggal bersama ibu dan saudara tirinya Evan selalu mendapatkan siksaan,,, dia memiliki tetangga bernama Serli yang juga bernasib sama dengan dirinya yaitu anak dari hasil hubungan gelap dan mereka pun menjadi teman. Serli juga sering disiksa oleh ibu tirinya dan juga saudara tiri perempuannya.

Suatu malam,, saat Evan di kejar dengan ibu tirinya dia dengan terpaksa melompat ke sungai,,, dan semua orang mengira dia sudah meninggal tetapi dia masih tertolong,,, beruntung ada saudara ibunya yang menolong dirinya dan juga merawat dirinya hingga dewasa.

Dia kembali setelah menjadi pengusaha sukses,, Evan mengganti namanya menjadi Stevan.Tujuan utama dia untuk membalas dendam pada orang-orang yang telah menyakiti dirinya. Dan pada saat itu dia kembali bertemu dengan teman masa kecilnya yaitu Serli. Wanita yang sebenarnya dia tidak ingin temui tapi juga dia rindukan.

Bagaimana pertemuan mereka?

Bagaimana pembalasan dendam Stevan?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ding-dong, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak asing di matanya,,,,

Serli dan Dika langsung saling pandang begitu kedapatan langsung sama orang yang sedang mereka gosip kan.

Stevan masih berdiri sambil melihat Dika dan Serli.

"Kenapa kalian langsung diam? dasar yah tukang gosip,, nggak benar lagi yang kalian gosip kan,," ucap Stevan sambil menggelengkan kepalanya melihat Dika dan Serli.

"Hmm siapa bilang kita lagi bergosip,, kita nggak lagi bergosip kok dan kita langsung diam tuh karena terkejut dengan kedatangan kamu yang tiba-tiba tau," ucap Serli sambil melihat Stevan.

Ya ampun Serli udah kedapatan masih aja ngeles,, memangnya dia bodoh apa,, batin Dika sambil melihat Serli yang lucu menurutnya.

"Massa,, aku udah dengar semuanya dan mengerti semuanya kalau kalian sedang menggosipkan aku masih aja ngeles," bisik Stevan di telinga Serli yang secara refleks mendapatkan dorongan kuat dari Serli.

Astaga bar-bar sekali dia,, hampir saja aku jatuh, batin Stevan.

"Jangan dekat-dekat dengan aku,, ambil kesempatan dalam kesempitan banget sih kamu," ucap Serli.

"Hmm nggak tuh,, kamu aja yang kegeeran," ucap Stevan lagi.

"Ishh dasar,," ucap Serli.

"Dasar apa? memang benar kan yang aku katakan," ucap Stevan lagi.

"Nggak lah," ucap Serli cepat.

"Terserah kamu saja yang intinya jangan gosip kan aku lagi,, dan juga aku belum menikah jadi jangan berucap sembarangan,," ucap Stevan.

"Hmmm massa bisa saja kan kamu berbohong,, jangan-jangan wanita tadi istri kamu atau jangan-jangan wanita tadi pacar kamu,, dia hamil dan kamu tidak mau tanggung jawab terus dia jadi seperti itu deh,, jujur saja kamu," ucap Serli.

Astaga Serli bisa-bisanya dia berucap seperti itu,, batin Dika dengan penuh keheranan pada Serli.

Stevan lagi-lagi menggelengkan kepalanya sambil melihat Serli.

"Nggak usah nuduh-nuduh deh,, nggak ada bukti juga kamu," ucap Stevan.

"Iya Serli benar yang dia katakan kamu jangan nuduh-nuduh sembarangan kalau nggak ada bukti,, nanti dia keberatan kamu juga yang repot tahu nggak,," bisik Dika pada Serli.

Hmm benar juga yang dikatakannya Dika,, tapi aku sangat penasaran apa yang terjadi pada wanita itu,, wanita tadi terlihat sangat kasihan,,, dan nih orang juga nggak asing banget wajahnya,, batin Serli.

"Iya aku tau kok,, maaf tadi udah terlanjur kepo," bisik Serli kembali pada Dika.

"Nggak usah bisik-bisikan di depan aku," ucap Stevan sambil melihat Serli dan Dika.

"Mau-mau kita dong,," ucap Serli dengan santainya.

"Mana ponsel kamu?" ucap Stevan pada Serli yang langsung membuat Serli dan Dika mengernyitkan dahinya bingung.

"Hei, mana ponsel kamu?" ucap Stevan lagi karena Serli masih tampak kebingungan begitu mendengar ucapan Stevan.

"Buat apa ponsel aku?" tanya Serli.

"Kamu lupa sama apa yang kamu lakukan pada mobil aku? sehingga kamu bertanya pertanyaan bodoh seperti ini?" ucap Stevan lagi yang langsung membuat Serli menepuk jidatnya sendiri.

"Aku nggak lupa kok santai aja aku ini orang yang bertanggung jawab banget,, tapi nggak usah nomor ponsel aku dong," ucap Serli.

"Iya benar yang dikatakan Serli,, atau ini nomor ponsel aku saja yang kamu ambil," ucap Dika cepat yang memang tidak ikhlas kalau nomor ponsel Serli ada pada Stevan.

"Aku hanya butuh nomor ponsel kamu,, aku nggak butuh nomor ponsel orang lain lagian kamu yang menabrak mobil aku bukan orang lain, jadi nggak usah kegeeran kamu, aku minta nomor ponsel kamu hanya untuk masalah mobil saja,, jadi kamu nggak usah mikir macam-macam,, kamu bukan tipe aku tau," ucap Stevan.

"Ishh siapa juga yang bakalan mikir macam-macam,, kegeeran banget kamu," ucap Serli lagi.

Dasar cerewet,, batin Stevan sambil melihat Serli.

"Ini ponsel aku, ambil nomor ponselku cepat,, biar kamu senang,," ucap Serli lagi sambil memberi ponselnya pada Stevan.

Stevan pun langsung mengambil ponsel Serli lalu segera memasukkan nomor ponselnya dan segera menghubungi nomornya.

Setelah itu Stevan kembali memberikan ponsel Serli.

"Hmmm takut banget sih aku nggak ganti rugi,, aku tuh nggak begitu kok orangnya tenang saja," ucap Serli sambil mengambil ponselnya kembali dari tangan Stevan.

"Iya Serli nggak seperti itu kok orangnya,, lagian kamu kan terlihat kaya dengan kekayaan kamu itu,, kamu bisa membeli mobil baru," ucap Dika.

"Hmmm biarpun aku bisa membeli mobil baru tapi aku nggak mau membiarkan orang yang salah bebas begitu saja dari tanggung jawabnya,, jadi dia harus tanggung jawab,, dia harus membiayai kerusakan mobil aku itu," ucap Stevan sambil melihat Serli.

"Iya,, iya nggak usah ribut seperti itu,, Dika kamu juga jangan berbicara seperti itu,, benar kok yang dia katakan,," ucap Serli sambil melihat Dika.

Sementara ayah Serli sedang mendengarkan percakapan dokter dan Sisil karena kebetulan mereka dirawat di dalam ruangan yang sama.

"Dimana suami kamu Nona?" tanya dokter itu pada Sisil.

"Apa kamu bisa menghubungi dia? aku ingin bicara dengan suami Nona," ucap dokter itu lagi sambil melihat Sisil.

Ayah Serli terus mendengarkan pembicaraan mereka sambil kepalanya diperban.

"Kenapa kamu ingin berbicara dengan dia?" tanya Sisil yang terlihat kesakitan dan juga khawatir.

"Anakku,, apa yang terjadi pada anak aku?" ucap Sisil yang semakin khawatir.

"Tolong selamatkan anak aku,, aku nggak mau anak aku kenapa-kenapa," ucap Sisil lagi pada dokter itu.

"Yah makanya aku menanyakan suami Nona,, aku ingin menanyakan apa yang terjadi karena dari hasil pemeriksaan luka-lukanya sepertinya tidak disengaja," ucap dokter itu lagi.

"Apa Nona bisa mengatakan yang sebenarnya,, tidak usah takut Nona," ucap dokter itu lagi sambil melihat Sisil.

"Sudah selesai pak,, anda bisa menebus obat lalu pulang ke rumah,," ucap perawat itu begitu sudah selesai mengobati kepala ayah Serli dan juga sudah berikan perban.

"Terima kasih," ucap ayah Serli.

"Iya pak," ucap perawat itu lagi sambil tersenyum lalu segera ingin beranjak dari hadapan ayah Serli namun ayah Serli menahannya.

Perawat itu pun langsung menoleh kepada ayah Serli.

"Iya ada apa pak?" tanya perawat itu.

"Bisakah saya pinjam kertas dan polpen? saya ingin menulis sesuatu," ucap ayah Serli.

"Oh itu tentu bisa pak,, tunggu yah saya ambilkan dulu," ucap perawat itu.

"Iya,, terima kasih sebelumnya," ucap ayah Serli.

"Iya pak," ucap perawat itu lalu segera pergi mengambilkan polpen dan kertas buat ayah Serli.

Sementara di waktu yang sama...

"Oke kalau begitu sudah jelas semuanya,, aku tunggu pertanggungjawaban kamu, jangan pernah sekali-kali niat untuk kabur," ucap Stevan pada Serli.

"Yah nggak lah," ucap Serli cepat.

"Bagus," ucap Stevan lalu segera pergi ke tempat Sisil lagi.

Namun langkah Stevan terhenti tiba-tiba begitu dia tidak sengaja menjatuhkan kalung liontin nya yang sedang berada di dalam kantung celananya ketika dia ingin mengambil ponselnya.

Serli langsung melihat ke arah kalung itu yang sangat tidak asing di matanya.

############

Mampir ke novelku yang lain juga yah judulnya...

- AKU BUKAN PELAKOR

- SEORANG PELAYAN

- CINTA PRESDIR TAMPAN

klu nggak nemu di pencarian,, tinggal klik fotoku aja,, semuanya novelku ada di profil

Makasih sebelumnya buat yang sudah baca🙏😊😊😊

1
Anonim
Kok gk ada lanjutannya lagi
Yohana Alvin
nanti stevan jodoh dgn serli.
koyah mukoyimah
dasar ibu tiri durjana emang slm ini biaya hidup anda dr mn kalau bkn serli yg kerja nah bwt anak kebanggaanmu saja mnt sm serli..dasar ibu tiri g guna 😠
koyah mukoyimah
ya ampun serli knp mulut'y bocor bgt sih jd cwe kesel deh denger'y ntar kalau s dimas ngeh bs gagal kn bwt bls dendam..tu mulut kg ada rem'y bgt sih
koyah mukoyimah
dihhh kepo dasar g tau diri kamu diandra 😡
koyah mukoyimah
tuh kan bnr kalau diandra suka sm cwo kaya stevan..
koyah mukoyimah
jgn2 cwo yg si inginkan diandra stevan lagi..
19
lanjut dong ka seru banget😍
Nur halimah
Ini cerita mirip kaya film thailand,, sila dan mingta
Wiwik Jozz
😂😂 stevan alasan aja tuch orang
Rudy
mna lg
Manal
lanjutkan steve
Manal
lanjut
Patimah Patimah
lanjut thor
Hasti Umasugi
lanjut tor
🤬🤬🤬
OTOR follback yaa🙏🙏
Tugi Yono
lanjuut
fhira"vhiyol3t
lanjut dong
fhira"vhiyol3t
lanjut
fhira"vhiyol3t
Diandra mungkin kamu saat ini merasa di atas awan tapi jangan lupa klo di atas itu ata kata jatoh,jatoh itu kan sakit
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!