NovelToon NovelToon
Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Di Ceraikan,Aku Bangkit Jadi Miliarder

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Penyesalan Suami / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.8k
Nilai: 5
Nama Author: Fahmishodiq Abdullah

Kirana selalu dianggap istri yang "biasa saja" — tak pintar, tak berguna, hanya pantas mengurus rumah. Saat suaminya, Rangga, menceraikannya demi wanita lain di depan keluarga besar, semua orang mengira hidupnya akan hancur.
Mereka salah.
Di balik status "istri biasa" itu, Kirana menyimpan warisan yang selama ini tak pernah ia buka — dan kejeniusan bisnis yang selama ini ia pendam demi keluarga yang tak pernah menghargainya.
Kini, saat Rangga dan selingkuhannya mulai kehilangan segalanya, Kirana justru bangkit sebagai sosok yang tak seorang pun kenali. Pertanyaannya bukan lagi apakah ia akan kembali — tapi apakah Rangga pantas mendapatkan kesempatan kedua.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fahmishodiq Abdullah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

krisis

Pukul delapan pagi, Dimas sudah duduk di ruang rapat kecil kantor Cahaya Abadi Investama, dikelilingi tumpukan berkas laporan keuangan PT Nusantara Kreatif—salah satu klien lama perusahaan yang bergerak di bidang produksi konten digital, sudah bekerja sama dengan Cahaya Abadi Investama sejak dua tahun lalu.

"Jadi apa masalahnya persis?" tanya Kirana, duduk di ujung meja bersama Pak Hadi yang sengaja diminta hadir karena pengalamannya menangani kasus-kasus keuangan rumit di masa lalu.

"Berdasarkan laporan yang mereka kirim semalam," jawab Dimas, membuka laptopnya, "ada selisih dana sebesar 800 juta rupiah yang nggak tercatat jelas alurnya dalam tiga bulan terakhir. Direktur keuangan mereka curiga ada penyalahgunaan dana internal, tapi mereka belum berani menuduh siapa pun tanpa bukti kuat."

Pak Hadi mengernyitkan dahi, mempelajari data yang ditampilkan di layar proyektor. "Ini pola yang familiar. Biasanya kalau ada selisih sebesar ini, tersembunyi di transaksi-transaksi kecil yang sengaja dipecah biar nggak mencolok."

"Saya sudah cek beberapa entri mencurigakan semalam," kata Dimas, menunjuk deretan angka di layar. "Ada belasan transaksi kecil ke rekening yang sama, masing-masing di bawah lima puluh juta, tapi kalau ditotal, jumlahnya mendekati angka yang hilang."

Pertemuan darurat dengan pihak PT Nusantara Kreatif berlangsung siang itu di kantor mereka sendiri, dihadiri langsung oleh direktur utama perusahaan, Pak Yusuf, yang terlihat jelas menahan kegelisahan besar.

"Kami benar-benar khawatir soal ini," kata Pak Yusuf begitu Dimas dan timnya duduk di ruang rapat. "Kalau sampai bocor ke publik sebelum kami temukan pelakunya, reputasi perusahaan bisa hancur, apalagi kami baru saja mau mengajukan pendanaan tambahan ke investor lain."

"Kami akan bantu telusuri ini dengan hati-hati, Pak," jawab Dimas, mencoba menenangkan meski dirinya sendiri merasakan tekanan besar mengingat ini kasus paling rumit yang pernah ia tangani sejak menjabat Kepala Divisi Riset. "Tapi kami butuh akses penuh ke seluruh catatan transaksi tiga bulan terakhir, termasuk siapa saja yang punya otorisasi approval pembayaran."

Pak Yusuf menyetujui permintaan itu tanpa ragu, menyerahkan seluruh dokumen yang dibutuhkan.

Sepanjang sore, Dimas dan timnya—termasuk Rani yang kini sudah semakin terampil membaca pola data keuangan—bekerja keras menelusuri jejak transaksi mencurigakan itu. Setelah berjam-jam analisis, pola yang muncul mengarah pada satu nama: seorang manajer keuangan menengah di Nusantara Kreatif yang punya otorisasi approval untuk transaksi di bawah lima puluh juta rupiah tanpa perlu persetujuan direktur.

"Ini jelas disengaja," kata Rani, menunjukkan pola transaksi yang konsisten muncul setiap akhir bulan, selalu tepat di bawah batas otorisasi yang membutuhkan persetujuan lebih tinggi. "Dia paham betul sistem approval-nya, dan sengaja manfaatkan celah itu."

Dimas menyusun laporan lengkap malam itu juga, memastikan setiap temuan didukung bukti kuat sebelum disampaikan ke Pak Yusuf keesokan paginya.

"Kerja bagus, Dimas," kata Kirana, meninjau laporan final sebelum dikirim. "Ini pekerjaan detektif yang jauh dari sekadar analisis investasi biasa. Kamu tangani ini dengan sangat rapi."

"Saya banyak belajar dari kasus-kasus yang Bapak Hadi ceritain dulu," jawab Dimas, tersenyum lelah tapi puas.

Keesokan paginya, laporan itu disampaikan langsung ke Pak Yusuf, yang segera mengambil tindakan internal terhadap manajer keuangan yang terbukti terlibat. Kasus itu berhasil diselesaikan tanpa perlu bocor ke publik, menyelamatkan reputasi Nusantara Kreatif sekaligus memperkuat kepercayaan mereka pada Cahaya Abadi Investama sebagai mitra yang bisa diandalkan bahkan di situasi krisis.

"Terima kasih banyak, Dimas," kata Pak Yusuf, menjabat tangannya erat. "Kalian benar-benar selamatkan perusahaan kami dari skandal besar."

Setelah krisis itu selesai ditangani, Dimas akhirnya punya waktu untuk bernapas lega—dan mengingat kembali momen yang tertunda di malam perayaan beberapa hari lalu bersama Alya.

Sore itu, Dimas mengirim pesan ke Alya, mengabarkan bahwa krisis mendadak yang membuatnya pergi tiba-tiba sudah selesai ditangani.

"Maaf soal kemarin, mendadak banget. Kasusnya udah selesai sekarang. Kamu ada waktu buat lanjutin obrolan kita?"

Balasan Alya datang cepat, penuh semangat. "Kebetulan aku juga lagi pengen istirahat sebentar dari kerjaan. Ketemu di kafe yang sama kayak dulu?"

Dimas tersenyum membaca pesan itu, merasakan debaran familiar yang sama seperti malam perayaan lalu. "Aku ke sana setelah jam kantor."

Sore itu, saat Dimas tiba di kafe yang sama, Alya sudah menunggu di meja pojok yang sama pula, seolah tempat itu perlahan menjadi tempat spesial bagi mereka berdua.

"Jadi," kata Alya, tersenyum begitu Dimas duduk, "sebelum diinterupsi kemarin, kamu lagi mau bilang apa?"

Dimas menghela napas panjang, kali ini memutuskan untuk tidak membiarkan momen ini terganggu apa pun lagi.

"Alya," katanya, menatap mata perempuan di depannya dengan sepenuh keberanian yang bisa ia kumpulkan, "orang yang belakangan ini terus aku pikirin itu... kamu. Aku suka sama kamu, bukan cuma sebagai klien, tapi sebagai orang yang bikin aku pengen jadi versi terbaik dari diriku sendiri, tiap kali aku ada di deket kamu."

Alya terdiam sesaat, matanya berkaca-kaca, sebelum akhirnya tersenyum lebar, senyum paling tulus yang pernah Dimas lihat sepanjang mereka mengenal satu sama lain.

"Aku udah nunggu kamu bilang itu dari malam perayaan kemarin, Dimas," jawabnya, suaranya bergetar penuh haru. "Aku juga suka sama kamu. Udah dari lama, sebenarnya."

1
Kumbang di taman
semangat selalu 😍
Fahmishodiq Abdullah: terimakasih atas kunjungannya
total 1 replies
Kumbang di taman
sukses selalu Author 👍
Adinda
toko utamanya Kirana atau dimas Dan alya,kalau bisa libatkan toko pemeran utamanya Dan tokoh yang jadi pendamping hidup Kirana,jadi ceritanya makin seru.
Fahmishodiq Abdullah: ok kak masukan saya terima kak,makasih atas masukan dan sarannya
total 1 replies
Detie Kurniawati
cerita yg tak aku pahami ahirnya??
Fahmishodiq Abdullah: terimakasih kak kritiknya,saya akan mencoba memperbaruhinya
total 2 replies
Heny
Hadir thor
Fahmishodiq Abdullah: makasih bang
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!