Siapa sangka, jika pesona dingin seorang dosen mampu memikat hati dua perempuan kakak beradik.
****
Bryan Atmaja, dosen muda yang tampan selalu ketus dan dingin terhadap orang asing. Namun begitu lembut dan penuh kasih terhadap orang-orang yang dia sayangi.
Andin Mulia Pratiwi gadis polos sederhana yang tidak pernah mengenal cinta. Ia dijadikan asdos oleh dosen ganteng bernama Bryan Atmaja, yang pernah mencintai sahabatnya. Andin tidak percaya ketika cinta itu telah berlabuh untuknya.
Dewi Permata Putri, kakak kandung Andin juga jatuh cinta dengan Bryan sejak pandangan pertama. Bagaimana kisah segitiga itu berlangsung?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sensen_se., isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Marah
Andin sedikit mendongak, karena tubuh Bryan lebih tinggi darinya. Ia menatap dengan penuh kejengkelan. Tidak ada senyum sedikitpun nampak pada wajah cantik gadis itu.
"Ayo duduk!" Bryan menarik tangan Andin mengajaknya duduk di kursi yang masih kosong.
Tak lama, pelayan datang mencatat pesanan mereka. Andin diam saja sedari tadi. Ia terus memeluk tasnya, dagunya menopang di atasnya. Wajahnya terlihat sangat kusut dan cemberut.
Karena Andin tidak mengatakan apapun pesanannya, Bryan memesankan makanan yang sama dengannya.
Sebenarnya Bryan tahu kejengkelan Andin padanya, namun ia hanya cuek saja. Keduanya saling diam dalam keheningan. Bryan meraih ponselnya, seru sendiri memainkan game online pada benda itu.
Bertambah kesal lah Andin pada pria di depannya. Tidak ada ucapan basa basi untuk sekedar meminta maaf. Merasa bersalah pun tidak.
Ketika makanan datang, Andin masih cemberut memanyunkan bibir mungilnya. Ia sama sekali tidak mau menyentuh makanan itu walau satu sentuhan saja.
Bryan mulai memakan dengan lahap. Ia menatap Andin sejenak, "Minta disuapin?" celetuk Bryan.
"Tidak!" seru Andin cepat. Ia lalu menarik piring di hadapannya lalu melahapnya dengan penuh emosi. Mata sayunya menatap Bryan dengan kesal.
Bryan menahan tawa sedari tadi, ia menikmati makanan perlahan sambil sesekali mencuri pandang pada gadis di depannya. Yang dipandang sama sekali tidak memalingkan wajahnya barang sedetik pun. Sambil menyuapkan makanan dengan kasar.
'Ndin, sumpah itu muka jangan diimut-imutin gitu napa?' gerutu Bryan dalam hati.
Tak terasa, mereka sudah selesai dengan makanan masing-masing. Setelah meneguk minuman hingga tandas, Bryan menggoda Andin lagi.
"Kamu yang bayar, 'kan?" tandas Bryan meletakkan gelas kosong di depannya.
Andin membulatkan bola matanya sempurna, mulutnya menganga. Wajahnya terlihat merah seperti tomat. Memerah karena marah tentunya.
"Uuuughhh!" Andin mengepalkan kedua tangannya lalu beranjak berdiri dengan kesal. Bryan masih fokus dengan ponselnya.
Saat sudah mulai melangkah, Bryan menarik lengan gadis itu. Tubuhnya terhuyung kehilangan keseimbangan. Tanpa diduga Andin jatuh terduduk ke pangkuan Bryan.
DEG!
DEG!
DEG!
Jantung keduanya berpacu kuat, seolah hendak lepas dari rongga dada mereka. Waktu seakan-akan terhenti seketika. Kedua tangan Andin mencengkeram kemeja yang dikenakan Bryan.
Kedua manik mata mereka saling bertatapan. Gerakan keduanya sama, menatap dengan bergantian. Andin berkedip dengan lembut, membuat bulu mata lentiknya saling bertabrakan dengan indah.
"Ma--maaf, Pak. maafkan saya," ucap Andin gugup beranjak dari duduknya.
Andin merapikan pakaiannya yang sedikit berantakan, lalu sedikit membungkukkan tubuh karena merasa tidak enak. Dia juga sedang merapikan detak jantungnya yang sudan antah berantah.
Bryan menyembunyikan senyumannya. Lalu kembali memasang wajah datar. Kemudian beranjak menuju kasir.
"Duduklah, aku bercanda," ujar Bryan melenggang pergi.
"Eh, nggak apa, Pak. Saya masih punya uang. Saya sudah gajian," sahut Andin cepat.
Andin setengah berlari menuju kasir, betapa terkejutnya dia saat berdiri di depan meja kasir. Ia mengobrak-abrik seisi tasnya. Ternyata dompetnya menghilang. Entah tertinggal atau terjatuh, ia sama sekali tidak mengingatnya. Hanya ada uang recehan sekitar sepuluh ribu rupiah.
"Meja nomor berapa, Mbak?" tanya kasir itu sopan.
"Nomor 16," sahut Andin dengan wajah pucat pasi.
"Totalnya 66 ribu rupiah, Mbak. Mau bayar cash atau debit?" ujar kasir itu.
Andin menelan salivanya susah payah. Tubuhnya terasa panas dingin, kedua kakinya melemas. Lidahnya pun kelu tak mampu mengucap sepatah kata pun.
Bersambung~
Kok pendek thor🙄 Maaf lagi pengen aja😳🤭